Buku Pintar Karya Iwan Gayo, Wikipedia Cetak di Era 1990-an
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/buku-pintar-karya-iwan-gayo-wikipedia.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/reddit.com |
Buku itu berat sekali di tangan. Kertasnya tipis, tapi jumlah halamannya brutal. Sampulnya cenderung gelap, biru tua, dengan huruf besar yang terasa sangat percaya diri: “BUKU PINTAR”. Judul yang nyaris arogan. Seolah buku itu berkata; kalau kamu tidak tahu sesuatu, buka aku.
Di banyak rumah Indonesia tahun 1990-an, buku karya Iwan Gayo punya status hampir sakral. Ia bukan novel yang dibaca santai sambil rebahan. Ia lebih mirip lemari informasi yang dijilid. Orang membuka buku itu untuk mencari ibu kota negara, daftar presiden, pengetahuan umum, statistik olahraga, nama gunung, tanggal penting, singkatan-singkatan aneh, nama menteri, bahkan kadang hal-hal yang sekarang terasa absurd untuk dicetak permanen. Nomor telepon penting. Kode kendaraan. Jumlah provinsi.
Ada generasi yang tumbuh dengan keyakinan bahwa pengetahuan itu benda fisik yang berat. Dan Buku Pintar mewakili keyakinan itu dengan sangat sempurna.
Saya masih ingat sensasi membuka buku itu; bau kertas yang agak lembap, suara halamannya yang tipis berdesis saat dibalik cepat, indeks kecil di bawah halaman, huruf-huruf rapat yang terasa seperti tidak memberi ruang bernapas. Mata cepat lelah membacanya. Tetapi ada rasa hormat aneh ketika melihat orang yang mampu menyusun informasi sebanyak itu.
Iwan Gayo konon menghabiskan bertahun-tahun mengumpulkan data untuk bukunya. Ia mendatangi perpustakaan, mengumpulkan kliping, mencatat statistik, mengecek data dari ensiklopedia dan sumber-sumber cetak lain. Semua dilakukan dalam dunia yang belum punya Google, belum punya Wikipedia, belum punya mesin pencari yang bisa memberi jawaban dalam 0,4 detik. Orang sekarang sulit membayangkan betapa mahalnya informasi di zaman dulu.
Hari ini kita mengeluh internet lambat beberapa detik. Dulu, mencari satu data kecil bisa memakan waktu berhari-hari. Dan Buku Pintar lahir dari zaman seperti itu.
Yang menarik, era Buku Pintar sebenarnya tidak terlalu jauh dari era Wikipedia. Wikipedia muncul awal 2000-an. Buku Pintar masih terasa sangat besar di Indonesia pada akhir 1990-an sampai awal 2000-an. Jaraknya pendek sekali secara kronologi. Tetapi secara psikologis, dua dunia itu terasa seperti dipisahkan ribuan tahun. Karena internet mengubah bukan cuma cara mencari informasi, tetapi cara manusia menghormati informasi.
Dulu, informasi punya bobot literal. Orang percaya pengetahuan perlu kerja keras. Perlu perjalanan ke perpustakaan. Perlu mencatat dengan tangan. Perlu membuka indeks alfabetis. Anak sekolah yang punya Buku Pintar di rumah sering dianggap “serius”. Orang tua membelikannya dengan semacam kebanggaan akademik. Sekarang informasi terlalu murah. Begitu murah, sampai orang tidak lagi merasa harus mengingatnya.
Saya kadang membuka Wikipedia, lalu membayangkan bagaimana perasaan Iwan Gayo kalau melihatnya di masa jayanya. Jutaan artikel. Diperbarui terus-menerus. Gratis. Ditulis ribuan orang. Bisa diakses dari ponsel murah sambil duduk di warung kopi. Informasi yang dulu mungkin membutuhkan biaya besar dan kerja bertahun-tahun kini muncul dalam sepersekian detik.
Ada sesuatu yang agak tragis di situ. Bukan karena Buku Pintar kalah teknologi. Semua teknologi akhirnya kalah oleh teknologi baru. Yang terasa aneh adalah kecepatan kematiannya. Buku yang dulu terasa monumental mendadak tampak seperti artefak purbakala hanya dalam satu dekade. Seolah dunia berkata; terima kasih, sekarang minggir.
Saya pernah melihat Buku Pintar bekas dijual di lapak buku loak. Tebalnya masih mengintimidasi. Halamannya mulai menguning. Ada noda kecokelatan di pinggir kertas. Sampulnya lecet. Ketika diangkat, debu tipis beterbangan. Rasanya seperti memegang fosil dari zaman ketika manusia masih percaya fakta bisa ditata dengan rapi dalam satu benda cetak.
Harga bukunya di pasat loak murah sekali. Nyaris seperti harga makan siang biasa. Ironis. Buku yang dulu dibeli mahal dan disimpan dengan hormat kini bertumpuk dekat majalah bekas dan novel rusak.
Internet memang kejam terhadap benda-benda yang dulunya dianggap penting. Kaset VHS. Kamus saku. Direktori telepon. Atlas cetak. Ensiklopedia berjilid. Semua tiba-tiba tampak seperti peralatan dari peradaban yang kalah perang teknologi.
Tetapi saya kira Buku Pintar menyimpan sesuatu yang tidak dimiliki Wikipedia. Yaitu keterbatasan. Dan anehnya, keterbatasan kadang membuat pengetahuan terasa lebih manusiawi.
Wikipedia modern seperti lautan tanpa tepi. Kita masuk mencari satu hal, lalu tenggelam ke ratusan hyperlink lain. Otak bergerak cepat tetapi dangkal. Buku Pintar lebih lambat. Lebih diam. Orang membukanya tanpa notifikasi, tanpa iklan, tanpa tab lain yang mengganggu. Pengetahuan bergerak secara linear. Mata mengikuti halaman demi halaman.
Kadang orang malah menemukan informasi acak yang tidak dicari karena kebetulan melihat halaman sebelah. Internet membuat manusia tahu lebih banyak, tetapi juga membuat perhatian lebih rapuh.
Saya rasa ada alasan kenapa banyak orang generasi lama masih menyimpan Buku Pintar, meski mungkin tidak pernah membukanya lagi. Buku itu bukan cuma alat informasi. Ia simbol dari sebuah era ketika pengetahuan terasa stabil. Fakta dicetak. Disusun. Dijilid. Tidak berubah tiap lima menit.
Wikipedia hidup dalam kondisi permanen edit. Buku Pintar hidup dalam kondisi permanen selesai. Perbedaan itu terasa kecil, tetapi sebenarnya besar sekali.
Lalu ada sisi lain yang lebih menyedihkan; figur seperti Iwan Gayo nyaris tidak mungkin muncul lagi hari ini. Internet modern terlalu cepat dan terlalu kolaboratif untuk memungkinkan satu orang menjadi “pengumpul pengetahuan nasional” dengan aura besar seperti dulu. Sekarang orang yang mencoba membuat proyek serupa akan langsung ditelan mesin pencari.
Google tidak punya wajah manusia. Wikipedia tidak punya aura personal. Iwan Gayo punya keduanya. Dan publik dulu mengenalnya seperti mengenal penjaga gudang informasi nasional.
Anak-anak sekarang mungkin sulit memahami sensasi membuka Buku Pintar untuk mencari sesuatu, lalu merasa puas ketika akhirnya menemukan jawabannya sendiri tanpa bantuan algoritma. Tidak ada autocomplete. Tidak ada rekomendasi video. Tidak ada AI yang langsung merangkum semuanya. Hanya mata, jari, halaman. Kadang pencarian informasi memang lebih lambat, tetapi justru lebih membekas.
Saya juga berpikir tentang betapa fisiknya proses pengetahuan dulu. Orang harus membawa buku berat. Rak buku penting. Perpustakaan penting. Debu buku menjadi bagian dari pengalaman intelektual. Sekarang pengetahuan hampir tidak punya tubuh. Semua mengambang di server. Tak terlihat. Tak tersentuh.
Buku Pintar bisa jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi keras. Wikipedia tidak bisa. Dan mungkin itu sebabnya benda-benda lama seperti Buku Pintar tetap punya semacam kekuatan emosional yang aneh. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan pernah terasa mahal, lambat, dan melelahkan untuk dikumpulkan. Ada manusia nyata yang mengorbankan waktu hidupnya demi menyusun ribuan fakta ke dalam satu buku.
Hari ini, orang bahkan terlalu malas membaca artikel panjang. Kadang saya membuka Wikipedia terkait topik tertentu, lalu sadar sebagian besar informasi yang saya baca mungkin akan lupa dalam beberapa menit. Informasi digital bergerak terlalu cepat melewati kepala. Buku Pintar, dengan segala keterbatasannya, justru terasa lebih membekas karena proses mengaksesnya lebih lambat.
Lambat membuat sesuatu terasa serius. Lalu saya membayangkan Iwan Gayo duduk di meja penuh kertas, kliping, buku referensi, mungkin dengan kipas angin berputar pelan di ruangan panas Jakarta, menyusun fakta demi fakta dengan keyakinan bahwa pekerjaannya penting.
Dan memang penting.
Sampai dunia berubah terlalu cepat.


