Martha, Merpati Penumpang Terakhir Setelah Miliaran Saudaranya Mati

Ilustrasi/nhm.ac.uk
Seekor burung mati di sebuah kandang. Tidak ada ledakan. Tidak ada upacara kenegaraan. Tidak ada lonceng gereja yang berdentang. Para penjaga kebun binatang di Cincinnati hanya menemukan tubuh seekor burung betina tua yang terbaring di lantai kandangnya. Mereka mengambil tubuhnya, memasukkannya ke dalam balok es agar tetap awet, lalu mengirimkannya ke Washington untuk disimpan di Smithsonian. 

Nama burung itu Martha. Beratnya kurang dari setengah kilogram. Ia adalah individu terakhir dari spesies Passenger Pigeon, merpati penumpang Amerika Utara yang pernah begitu banyak jumlahnya sehingga manusia kesulitan menghitungnya.

Sulit mempercayai angka-angka yang muncul dalam catatan sejarah tentang Passenger Pigeon. Banyak spesies punah setelah lama berada di ambang kepunahan. Passenger Pigeon justru memulai perjalanannya dari arah yang berlawanan. Ketika orang Eropa pertama tiba di Amerika Utara, jumlah burung itu diperkirakan mencapai tiga hingga lima miliar ekor. Bukan juta. Miliar. 

Pada abad ke-19, mungkin seperempat dari seluruh burung di Amerika Utara adalah Passenger Pigeon. Ahli burung Amerika, John James Audubon, menulis pengalaman yang terdengar seperti cerita fantasi. Saat berada di Kentucky, ia melihat kawanan merpati yang melintas di langit selama berjam-jam. Cahaya matahari meredup. Langit berubah menjadi massa bergerak berwarna abu-abu kebiruan. Audubon memperkirakan satu kawanan yang ia lihat berisi lebih dari satu miliar burung. Angka itu terdengar tidak masuk akal sampai kita menyadari bahwa banyak saksi lain melaporkan pengalaman serupa.

Bayangkan berdiri di hutan Michigan pada pertengahan abad ke-19. Udara dipenuhi kepakan sayap. Suaranya tidak lagi terdengar seperti burung. Suaranya menjadi fenomena cuaca. Daun-daun bergetar. Cabang patah karena terlalu banyak burung yang bertengger. Kotoran mereka jatuh seperti hujan putih. 

Orang-orang yang hidup saat itu tidak menganggap Passenger Pigeon sebagai makhluk langka atau rapuh. Mereka menganggapnya sebagai fakta alam yang permanen, seperti sungai atau musim dingin. Tidak ada yang khawatir tentang kepunahannya, karena kekhawatiran semacam itu terdengar konyol. Bagaimana mungkin miliaran burung bisa hilang?

Dan keyakinan itulah yang membunuh mereka.

Manusia memburu Passenger Pigeon dalam skala industri. Banyak kisah perburuan abad ke-19 terasa hampir brutal secara komikal. Orang-orang menembak ke arah kawanan yang begitu padat sehingga sulit meleset. Jaring raksasa dipasang di lokasi sarang. Burung-burung dipukul dengan tongkat panjang. Anak-anak burung dipanen dari sarang dalam jumlah besar. 

Di beberapa daerah, petani membakar belerang di bawah pohon untuk membuat burung mabuk atau jatuh. Daging mereka dijual murah di pasar-pasar kota. Burung-burung itu berubah menjadi komoditas. 

Ketika jalur kereta api berkembang dan telegraf menghubungkan berbagai wilayah Amerika Serikat, perburuan jadi jauh lebih efisien. Seorang pengamat dapat mengirim pesan tentang lokasi koloni sarang besar di Michigan atau Wisconsin, lalu para pemburu profesional berdatangan dengan kereta api. Teknologi yang sering dipuji sebagai simbol kemajuan ikut mempercepat proses pemusnahan.

Banyak orang membayangkan kepunahan sebagai hasil dari kebencian. Kisah Passenger Pigeon menunjukkan sesuatu yang lebih biasa dan lebih mengganggu; ketidakpedulian. 

Sebagian besar pemburu tidak membenci burung itu. Mereka hanya melihat sumber makanan dan uang. Bahkan ketika populasi mulai menurun drastis pada akhir abad ke-19, banyak pihak masih yakin burung tersebut akan pulih. Logikanya sederhana. Mereka pernah melihat langit dipenuhi miliaran merpati. Pikiran manusia sulit memahami angka sebesar itu. Ketika jumlahnya turun jadi jutaan, banyak orang masih merasa jumlah tersebut tak terbatas.

Sifat biologis Passenger Pigeon memperburuk keadaan. Burung itu berevolusi untuk hidup dalam kelompok yang luar biasa besar. Mereka berkembang biak secara massal. Mereka mencari makan secara massal. Mereka bergantung pada koloni raksasa untuk bertahan hidup. Ketika populasi jatuh di bawah titik tertentu, mekanisme sosial yang membuat spesies itu sukses mulai runtuh. 

Banyak hewan dapat bertahan dalam kelompok kecil. Passenger Pigeon tampaknya kesulitan melakukannya. Ironis sekali. Strategi yang selama ribuan tahun menjadikan mereka salah satu spesies burung paling sukses di planet ini berubah menjadi perangkap ketika manusia mulai mengurangi jumlah mereka.

Catatan-catatan dari masa itu sering terasa seperti laporan tentang kehancuran yang sedang berlangsung tetapi tidak cukup diperhatikan. Ahli burung dan konservasionis mulai mengeluarkan peringatan. Sebagian politisi mengabaikannya. Sebagian pemburu menertawakannya. Pola itu terasa sangat modern. Ketika populasi masih besar, orang menganggap ancaman tidak nyata. Ketika ancaman jadi nyata, kerusakan sudah terlalu jauh. 

Pada 1878, salah satu koloni sarang terbesar yang pernah tercatat ditemukan di Petoskey, Michigan. Para pemburu profesional menyerbu lokasi tersebut. Puluhan ribu burung dibunuh setiap hari selama berbulan-bulan. Banyak sejarawan lingkungan melihat peristiwa itu sebagai salah satu pukulan terakhir yang benar-benar menghancurkan spesies tersebut.

Menjelang pergantian abad ke-20, Passenger Pigeon berubah dari burung paling melimpah di Amerika Utara menjadi barang koleksi. Kebun binatang mencoba mengembangbiakkannya. Para ilmuwan mencoba menyelamatkannya. Jumlah individu yang tersisa terlalu sedikit. Martha lahir di Kebun Binatang Cincinnati sekitar tahun 1885. Nama itu diberikan untuk menghormati Martha Washington, istri presiden pertama Amerika Serikat. 

Ketika masih muda, Martha tidak sendirian. Masih ada beberapa Passenger Pigeon lain di kebun binatang dan koleksi pribadi. Satu per satu mereka mati. Burung jantan terakhir yang diketahui di Cincinnati, bernama George, mati pada 1910. Setelah itu Martha hidup sendirian selama beberapa tahun.

Bagian itu selalu terasa aneh bagi saya. Bukan kematiannya. Tapi kesendiriannya. Kita berbicara tentang spesies yang berevolusi dalam kerumunan yang jumlahnya mencapai miliaran. Burung yang nenek moyangnya terbiasa hidup di bawah langit yang penuh sesamanya hingga cakrawala terlihat bergerak. Burung yang setiap musim kawin mendengar jutaan suara lain dari spesies yang sama. 

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Martha hanya memiliki kandang, penjaga kebun binatang, dan pengunjung yang datang untuk melihat makhluk yang bahkan mereka mungkin tidak sadari sedang menyaksikan akhir sebuah garis keturunan.

Foto-foto Martha masih ada. Ia tampak seperti burung biasa. Tubuh ramping. Bulu abu-abu. Sedikit warna kemerahan pada dada. Mata yang tidak memberi petunjuk apa pun tentang beban simbolis yang nanti ditempelkan manusia kepadanya. 

Kepunahan sering terlihat dramatis dalam ilustrasi modern. Pada kenyataannya, individu terakhir suatu spesies biasanya terlihat membosankan. Seekor katak. Seekor burung. Seekor ikan. Tubuh biologis yang tidak tahu bahwa ia sedang menjadi yang terakhir.

Kisah Martha juga memperlihatkan kelemahan aneh manusia dalam memahami skala. Kita mudah tergerak oleh satu individu. Kita sulit membayangkan satu miliar individu. Ketika membaca bahwa satu burung mati di Cincinnati pada 1914, peristiwa itu terasa kecil. Ketika mencoba membayangkan bahwa kematian tersebut menandai hilangnya miliaran makhluk yang pernah memenuhi hutan dari Ontario hingga Louisiana, otak mulai kehilangan pegangan. Angka-angka terlalu besar. Imajinasi menyerah lebih dulu.

Tubuh Martha sekarang tersimpan di Smithsonian Institution di Washington, D.C. Pengunjung masih bisa melihatnya. Burung itu diawetkan, ditempatkan dalam kondisi terkendali, menjadi artefak sejarah alam sekaligus dakwaan yang diam. 

Banyak spesies punah jauh sebelum manusia sempat mengenalnya. Passenger Pigeon punah di tengah masyarakat yang memiliki surat kabar, kereta api, fotografi, universitas, parlemen, museum, dan jaringan komunikasi modern. Mereka tidak menghilang karena tidak terlihat. Mereka menghilang di depan mata.

Di ruang penyimpanan museum, bulu-bulu Martha tetap utuh. Label identifikasi masih menempel. Pendingin udara berdengung pelan. Pengunjung datang dan pergi. Anak-anak sekolah bergerombol melewati etalase kaca. 

Di luar gedung, lalu lintas Washington terus berjalan, lampu lalu lintas berganti warna, pesawat mendarat dan lepas landas dari Bandara Reagan, sementara seekor burung yang dulu memiliki miliaran saudara tetap berada di tempatnya, diam di bawah cahaya buatan.

Related

Fauna 1378246813969137420

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item