Rape of Nanking, Pembantaian dan Perkosaan Massal Tentara Jepang di China
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/rape-of-nanking-pembantaian-dan.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi/japan-forward.com |
Aroma sungai bercampur asap mesiu dan daging busuk memenuhi udara Nanking ketika tentara Jepang masuk ke kota itu. Musim dingin menggigit. Orang-orang berlari membawa buntalan seadanya, seprai, panci, bayi yang terus menangis. Di beberapa jalan, mayat mulai menumpuk bahkan sebelum pembantaian mencapai puncaknya. Kota itu belum benar-benar jatuh, tapi rasa kalah sudah menyebar lebih dulu. Kadang kekalahan memang datang sebelum tentara musuh tiba.
Nanking—atau Nanjing hari ini—waktu itu adalah ibu kota Republik Tiongkok di bawah Chiang Kai-shek. Kota penting. Kota simbolik. Ketika Shanghai jatuh pada 1937 setelah pertempuran brutal berbulan-bulan, jalan menuju Nanking terbuka. Tentara Kekaisaran Jepang bergerak dengan kecepatan yang membuat banyak diplomat asing panik. Mereka sudah mendengar cerita dari kota-kota sebelumnya; penjarahan, pemerkosaan, eksekusi. Tentara Jepang pada masa itu digembleng dalam kultur militer yang menganggap menyerah sebagai aib. Tawanan perang dipandang rendah. Orang China dianggap lebih rendah lagi.
Di Tokyo, propaganda perang menggambarkan invasi ke China sebagai misi pembebasan Asia. Frasa “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya” terdengar megah di poster-poster. Di lapangan, yang muncul malah kompetisi memenggal kepala.
Dua perwira Jepang, Toshiaki Mukai dan Tsuyoshi Noda, bahkan pernah diberitakan surat kabar Tokyo Nichi Nichi Shimbun sedang berlomba siapa yang lebih dulu membunuh seratus orang dengan pedang. Berita itu ditulis seperti laporan olahraga. Ada skor. Ada antusiasme. Sulit memahami bagaimana sebuah masyarakat bisa membaca hal seperti itu sambil minum teh pagi.
Pasukan China sebenarnya sudah porak-poranda sebelum Nanking dikepung. Banyak tentara muda direkrut tergesa-gesa. Sebagian bahkan nyaris tidak punya pelatihan memadai. Ketika Chiang Kai-shek memutuskan mundur dari kota, situasi berubah kacau. Ribuan tentara China melepas seragam dan berusaha menyamar jadi warga sipil. Jepang kemudian memakai alasan itu untuk membantai laki-laki sipil secara massal karena dianggap “mantan tentara”.
Di tepi Sungai Yangtze, dekat Xiaguan, ribuan pria diikat berkelompok lalu ditembaki dengan senapan mesin. Banyak tubuh jatuh langsung ke air. Sungai membawa mayat-mayat itu seperti kayu hanyut. Beberapa saksi asing menulis air berubah gelap dan bau amisnya menempel sampai ke pakaian.
Jumlah korban masih diperdebatkan sampai sekarang. Pemerintah China menyebut sekitar 300 ribu korban tewas. Beberapa sejarawan Jepang nasionalis mencoba menurunkan angka itu jauh lebih kecil. Perdebatan angka sering terasa dingin dan aneh. Orang bisa berdebat apakah korbannya 40 ribu atau 200 ribu sambil duduk nyaman di ruang seminar berpendingin udara. Padahal bahkan 10 ribu korban saja sudah merupakan mimpi buruk yang tak masuk akal.
Kekejaman di Nanking sering dibicarakan dalam angka besar, padahal horornya justru terasa saat masuk ke detail-detail kecil.
Seorang misionaris Amerika, bernama Minnie Vautrin, yang bekerja di Ginling College for Women, menulis di buku hariannya tentang bagaimana perempuan-perempuan muda datang ke kampus dengan pakaian robek dan darah di kaki mereka. Kampus itu dijadikan tempat perlindungan. Kadang lebih dari sepuluh ribu perempuan dan anak-anak berdesakan di sana. Vautrin hampir tiap hari menghadapi tentara Jepang yang mencoba masuk mencari perempuan.
Ia pernah berdiri di gerbang sambil berteriak histeris menghalangi tentara mabuk.
John Rabe, seorang pengusaha Jerman dan anggota Partai Nazi, justru menjadi salah satu tokoh yang membantu menyelamatkan warga China. Ironis sekali. Seorang Nazi menyelamatkan korban pembantaian dari sekutu ideologis Jerman sendiri. Rabe memakai statusnya sebagai warga negara Jerman untuk membentuk “Nanking Safety Zone”, zona aman yang menampung sekitar 200 ribu pengungsi. Diary Rabe penuh catatan yang membuat mata lelah hanya dengan membacanya; perempuan diperkosa di depan keluarga, anak-anak dibacok, rumah dibakar.
Ada bagian ketika ia menulis tentang tentara Jepang yang masuk rumah-rumah pada malam hari sambil membawa lentera. Bayangan cahaya bergerak di dinding, lalu suara jeritan terdengar beberapa menit kemudian.
Pemerkosaan massal jadi salah satu wajah paling mengerikan dari peristiwa itu. Perempuan tua, anak-anak, biarawati, ibu hamil—tidak ada kategori yang aman. Banyak korban kemudian dibunuh setelah diperkosa. Sebagian dimutilasi. Sebagian diperkosa bersama anggota keluarganya sendiri.
Sulit menulis bagian ini tanpa merasa jijik pada spesies sendiri.
Orang sering membayangkan kekejaman perang sebagai ledakan besar, tank, suara tembakan. Kenyataannya sering jauh lebih sunyi. Pintu rumah didobrak tengah malam. Langkah sepatu bot di lorong. Bau alkohol dari napas tentara. Tangisan yang ditahan supaya bayi tidak bersuara.
Tentara Jepang waktu itu sebenarnya tidak seluruhnya monster kartun seperti dalam film propaganda. Itu justru yang membuat semuanya lebih menyeramkan. Banyak dari mereka masih sangat muda. Ada yang menulis surat ke keluarga. Ada yang membawa foto anak. Sistem militer Jepang mengubah manusia biasa menjadi pelaku kekerasan kolektif dengan disiplin brutal dan dehumanisasi yang terus-menerus. Mereka sendiri sering dipukuli atasan. Kultur militernya dipenuhi penghinaan dan penyiksaan internal.
Mesin kekerasan jarang lahir dari ruang kosong.
Sesudah perang selesai, Tribunal Militer Internasional untuk Timur Jauh di Tokyo mengadili beberapa pejabat Jepang. Jenderal Iwane Matsui dinyatakan bertanggung jawab atas pembantaian Nanking dan dihukum mati. Pangeran Asaka, anggota keluarga kekaisaran yang diduga terlibat memberi otorisasi kekerasan, lolos dari hukuman. Politik pascaperang bekerja aneh. Amerika Serikat lebih sibuk membangun Jepang sebagai sekutu antikomunis ketimbang membongkar seluruh pertanggungjawaban perang.
Banyak korban Nanking mati dua kali; pertama oleh pembantaian, kedua oleh penghapusan ingatan.
Sampai sekarang, isu Nanking masih sensitif di Jepang dan China. Beberapa politisi Jepang mengunjungi Kuil Yasukuni, tempat arwah penjahat perang juga dihormati. Buku pelajaran sekolah di Jepang kadang memakai istilah lebih lunak untuk invasi ke China. Di internet Jepang, masih ada kelompok yang menyangkal pembantaian itu sepenuhnya. Mereka menyebut foto-foto mayat sebagai propaganda China.
Ada sesuatu yang sangat dingin ketika orang menyangkal penderitaan yang begitu besar, sambil duduk nyaman di depan layar laptop.
Museum Memorial Pembantaian Nanjing berdiri hari ini di China. Dinding abu-abu besar, patung-patung wajah penuh duka, ruangan dengan foto-foto hitam putih yang membuat tenggorokan terasa kering. Beberapa pengunjung menangis diam-diam. Anak-anak sekolah berjalan berbaris sambil mendengarkan pemandu wisata menjelaskan jumlah korban.
Lalu toko suvenir di luar museum menjual gantungan kunci.
Peradaban manusia memang sering aneh. Kita mampu menciptakan simfoni, teleskop, obat antibiotik, lalu di waktu lain mengikat ribuan orang di pinggir sungai dan menembaki mereka beramai-ramai sampai air berubah merah gelap.
Di arsip foto Nanking, ada gambar seorang bayi duduk sendirian di reruntuhan stasiun kereta. Wajahnya penuh debu. Ia masih hidup ketika fotografer mengambil gambar itu. Tangannya kecil sekali. Entah apa yang terjadi padanya beberapa jam setelah foto itu diambil.
Catatan terkait: Jatuhnya Srebrenica dan Pembantaian Ribuan Orang Bosnia


