Jatuhnya Srebrenica dan Pembantaian Ribuan Orang Bosnia

Ilustrasi/euronews.com
Mula-mula yang runtuh bukan sebuah kota. Yang runtuh adalah sebuah kalimat.

“Safe Area.” Zona aman.

Dua kata itu dicetak di peta-peta PBB, di laporan diplomatik, di dokumen resmi, dan di kepala puluhan ribu warga Bosnia yang berdesakan di sebuah lembah sempit di timur Bosnia-Herzegovina bernama Srebrenica. 

Ketika perang Bosnia berkecamuk sejak 1992, kota kecil yang sebelumnya nyaris tidak dikenal dunia itu berubah menjadi kantong pengungsi. Orang-orang Muslim Bosnia berdatangan dari Bratunac, Vlasenica, Zvornik, dan desa-desa yang dibersihkan secara etnis oleh pasukan Serbia Bosnia. Mereka datang membawa anak, koper, karung tepung, foto keluarga, dan keyakinan sederhana bahwa jika dunia internasional sudah menyebut sebuah tempat “aman”, maka tempat itu memang aman.

Musim panas 1995 membuktikan bahwa keyakinan semacam itu bisa menjadi jebakan mematikan.

Srebrenica sebenarnya sudah sekarat jauh sebelum direbut. Kota itu dikepung selama bertahun-tahun. Makanan langka. Obat-obatan hampir tidak ada. Penduduk hidup dengan jatah yang tidak cukup. Tentara penjaga perdamaian Belanda, Dutchbat, ditempatkan di sana sebagai bagian dari misi PBB. Mereka berjumlah hanya beberapa ratus orang, dipimpin Letnan Kolonel Thom Karremans. Persenjataan mereka terbatas. Mandat mereka kabur. Mereka berada di tengah perang yang bahkan negara-negara besar tidak benar-benar ingin hadapi secara langsung.

Pada awal Juli 1995, pasukan Serbia Bosnia di bawah komando Ratko Mladić mulai bergerak. Mereka menekan wilayah kantong Srebrenica dari berbagai arah. Desa demi desa jatuh. Pos-pos pertahanan Bosnia runtuh. Dutchbat mengirim laporan demi laporan, meminta dukungan udara NATO. Prosedur birokrasi berjalan lebih lambat daripada gerak tank dan artileri.

Tanggal 11 Juli, kamera televisi menangkap salah satu adegan paling terkenal dalam sejarah Eropa modern. Ratko Mladić berjalan memasuki Srebrenica dengan santai. Tubuhnya besar. Topinya khas militer Yugoslavia lama. Di depannya berdiri kamera. Ia tersenyum. Ia membagikan permen kepada anak-anak. Ia mengatakan bahwa waktunya telah tiba untuk membalas dendam terhadap orang Turki.

Turki yang dimaksud tentu bukan Turki. Yang dimaksud adalah Muslim Bosnia. Lima abad sejarah Balkan, memori Kekaisaran Ottoman, mitologi nasionalisme Serbia, semuanya dicampur menjadi satu narasi perang yang mematikan.

Di Potocari, sekitar enam kilometer dari pusat kota, ribuan warga sipil berbondong-bondong menuju kompleks basis Dutchbat. Jumlah mereka begitu banyak sehingga sebagian besar tidak muat masuk. Orang-orang tidur di tanah, di antara kendaraan, di bawah matahari Juli yang panas. Foto-foto dari hari itu memperlihatkan wajah-wajah yang tampak kehabisan tenaga. Mata cekung. Bibir kering. Anak-anak menangis. Bau keringat bercampur ketakutan.

Mata terasa pedih ketika menonton rekaman-rekaman arsip Potocari. Bukan karena darah. Bukan karena kekerasan yang eksplisit. Justru karena orang-orang dalam rekaman itu masih percaya semuanya bisa diselesaikan. Mereka masih berbicara dengan tentara PBB. Mereka masih mengantre. Mereka masih menunggu prosedur.

Sementara itu, sekitar 10.000 hingga 15.000 laki-laki dan remaja Bosnia memutuskan pilihan lain. Mereka membentuk kolom panjang dan mencoba menerobos hutan menuju wilayah Tuzla yang masih dikuasai pemerintah Bosnia. Rute itu melewati bukit-bukit, jurang, ladang ranjau, dan wilayah yang sudah dipenuhi pasukan Serbia Bosnia.

Kolom tersebut kemudian dikenal sebagai “Marš smrti”—pawai kematian. Banyak yang tidak pernah sampai.

Pasukan Serbia Bosnia menggunakan penyergapan, artileri, pengeras suara, propaganda, dan janji amnesti. Mereka meminta orang-orang menyerah dengan jaminan keselamatan. Sebagian percaya. Sebagian kelelahan. Sebagian terluka.

Mereka yang tertangkap dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. Perempuan, anak-anak, dan orang tua, dimasukkan ke bus-bus deportasi. Laki-laki dan remaja laki-laki dibawa ke tempat lain.

Bagian itulah yang sering diceritakan secara singkat dalam buku sejarah, seolah-olah pemisahan itu hanya langkah administratif. Padahal justru di situlah inti operasinya. Mesin pembunuhan bekerja setelah pemisahan selesai. Korban dibawa ke gudang pertanian di Kravica, ke sekolah di Petkovci, ke lapangan dekat Orahovac, ke bendungan Petkovci, ke peternakan Branjevo.

Nama-nama tempat itu tidak terkenal seperti Auschwitz atau Treblinka. Banyak orang bahkan belum pernah mendengarnya. Tanah di sana tetap terlihat biasa. Rumput tetap tumbuh.

Di gudang Kravica, ratusan tahanan dijejalkan ke dalam bangunan besar sebelum ditembaki dengan senapan mesin dan granat. Di Petkovci, para tahanan dipaksa berbaris sebelum dieksekusi. Di ladang Branjevo, anggota unit militer Serbia Bosnia menembaki kelompok demi kelompok tahanan sepanjang hari.

Salah satu pelaku yang kemudian dikenal luas adalah Dražen Erdemović. Ia mengaku ikut dalam eksekusi massal, dan kemudian menjadi saksi penting di pengadilan internasional. Kesaksiannya dingin dan mengganggu. Ia menceritakan bagaimana kelompok-kelompok tahanan terus berdatangan. Satu kelompok selesai ditembak. Kelompok berikutnya datang lagi. Proses berlangsung berulang kali sampai nyaris mekanis.

Sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki dibunuh dalam hitungan hari. Banyak korban bahkan belum cukup umur untuk disebut tentara.

Sesudah pembantaian selesai, operasi belum benar-benar berakhir. Pasukan Serbia Bosnia mulai menggali kuburan massal. Ketika tekanan internasional meningkat, mereka menggali kembali kuburan-kuburan itu menggunakan alat berat lalu memindahkan jenazah ke lokasi sekunder dan tersier agar bukti sulit ditemukan.

Tindakan tersebut menghasilkan situasi yang aneh sekaligus mengerikan. Satu tubuh bisa tersebar di beberapa lokasi berbeda. Tulang kaki ditemukan puluhan kilometer dari tengkoraknya. Bertahun-tahun kemudian, tim forensik masih berusaha menyatukan fragmen-fragmen manusia melalui analisis DNA.

Pusat identifikasi korban di Tuzla menjadi salah satu proyek forensik terbesar setelah Perang Dunia II. Ribuan kantong jenazah berjajar dalam gudang-gudang pendingin. Nama-nama perlahan kembali kepada tulang-belulang.

Pengadilan internasional di Den Haag kemudian menyebut Srebrenica sebagai genosida. Mahkamah Internasional dan Tribunal Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia sampai pada kesimpulan yang sama. Ratko Mladić dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Radovan Karadžić menerima hukuman serupa.

Putusan hukum tidak mengakhiri pertarungan tentang ingatan.

Bertahun-tahun setelah perang berakhir, penyangkalan masih hidup. Sebagian politisi Serbia Bosnia menolak istilah genosida. Sebagian mencoba mengecilkan jumlah korban. Sebagian lain menerima fakta pembunuhan tetapi menolak kategorisasi hukumnya. Perdebatan berlangsung terus bahkan ketika makam-makam baru masih ditemukan.

Setiap 11 Juli, kompleks memorial di Potocari menggelar pemakaman bagi korban yang baru bisa diidentifikasi. Peti-peti hijau berjajar rapi. Sebagian hanya berisi beberapa tulang yang dapat dicocokkan lewat DNA. Seorang ibu kadang menunggu dua puluh tahun hanya untuk menguburkan satu bagian tubuh anaknya.

Nama-nama korban memenuhi dinding memorial: Almir, Nermin, Hasan, Safet, Fikret, Samir. Ribuan nama. Mata akan lelah sebelum mencapai ujung daftar.

Karremans, komandan Dutchbat yang gagal melindungi kota itu, pernah terekam sedang bersulang dengan Ratko Mladić setelah jatuhnya Srebrenica. Rekaman tersebut menghantuinya selama sisa hidupnya. Sebagian orang melihatnya sebagai simbol pengkhianatan. Sebagian lain melihatnya sebagai potret seorang perwira yang terjebak dalam situasi mustahil. Perdebatan itu masih berlangsung.

Potocari hari ini tampak tenang. Bukit-bukit hijau mengelilingi lembah. Burung-burung tetap berkicau pada pagi musim panas. Jalan raya dipenuhi mobil biasa. Orang-orang membeli roti, mengantar anak sekolah, memperbaiki pagar rumah.

Kompleks bekas markas Dutchbat masih berdiri. Dinding-dindingnya tidak banyak bicara.

Related

Sejarah 238536123414556089

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item