Duel Bersejarah Alexander Hamilton dan Aaron Burr di New Jersey

Ilustrasi/cicanum.ucr.ac.cr
Dua lelaki dewasa menyeberangi Sungai Hudson pada pagi musim panas untuk saling menembak karena masalah reputasi.

Kalimat itu terdengar seperti ringkasan kisah bangsawan Eropa abad ke-17 yang mabuk kehormatan. Kenyataannya, kedua orang tersebut adalah tokoh paling penting di republik muda yang baru berusia kurang dari tiga dekade. Salah satunya Wakil Presiden Amerika Serikat. Yang lain mantan Menteri Keuangan yang membangun fondasi sistem keuangan negara. Mereka bukan perwira kavaleri yang hidup dalam dunia feodal. Mereka adalah produk Pencerahan, Revolusi Amerika, dan konstitusi modern.

Pagi 11 Juli 1804, mereka tetap membawa pistol. 

Tempatnya bernama Weehawken, New Jersey, sebuah tebing di tepi barat Sungai Hudson yang menghadap Manhattan. Saat ini kawasan itu dipenuhi jalan raya, apartemen, dan lalu lintas metropolitan New York. Pada awal abad ke-19, lokasi tersebut dikenal karena alasan yang berbeda. Weehawken adalah tempat duel. New York melarang duel secara ketat, sehingga banyak orang menyeberang sungai ke New Jersey untuk melakukan urusan yang secara teknis ilegal tetapi secara sosial masih dianggap terhormat oleh sebagian kalangan elite.

Beberapa tahun sebelumnya, putra sulung Alexander Hamilton, Philip Hamilton, juga tewas dalam duel di lokasi yang hampir sama. Detail itu membuat kisah ini terasa lebih suram.

Alexander Hamilton berusia 49 tahun saat berangkat menuju Weehawken. Ia lahir di Karibia, kemungkinan di Pulau Nevis atau St. Croix, dalam keadaan yang jauh dari terhormat menurut standar zamannya. Ia anak di luar nikah. Masa kecilnya dipenuhi kekacauan dan kemiskinan. Dari titik awal yang hampir mustahil itu, ia naik menjadi salah satu otak paling cemerlang dalam Revolusi Amerika. George Washington mempercayainya. Sistem perbankan nasional yang ia rancang membantu membentuk negara baru yang nyaris bangkrut setelah perang.

Hamilton menyukai konflik. Banyak orang cerdas menyukai konflik. Ia menulis dengan ganas, berbicara dengan tajam, dan hampir tidak memiliki kemampuan menahan diri ketika melihat lawan politik yang dianggapnya bodoh.

Aaron Burr juga cerdas. Sangat cerdas. Karier Burr sering tenggelam dalam bayang-bayang Hamilton, tetapi catatan sezamannya menunjukkan seorang politisi yang karismatik, terampil, dan ambisius. Ia pernah menjadi perwira dalam Revolusi Amerika, senator, jaksa agung New York, dan akhirnya wakil presiden di bawah Thomas Jefferson.

Masalahnya, Hamilton dan Burr saling membenci selama bertahun-tahun.

Perseteruan mereka bukan ledakan sesaat. Itu lebih mirip akumulasi racun yang diteteskan sedikit demi sedikit selama lebih dari satu dekade. Mereka bertarung dalam berbagai pemilu. Mereka saling menghalangi karier satu sama lain. Mereka hidup di dunia politik yang jauh lebih personal dibanding politik modern. Surat kabar partisan menghina lawan dengan bahasa yang hari ini mungkin dianggap keterlaluan.

Hubungan keduanya mencapai titik kritis pada pemilihan gubernur New York tahun 1804. Burr mencalonkan diri dan berharap kemenangan tersebut dapat menghidupkan kembali karier politiknya yang sedang merosot. Hamilton bekerja di belakang layar untuk menggagalkan upaya tersebut. Burr kalah.

Luka politik terkadang lebih sulit diterima daripada luka fisik. Kekalahan masih bisa dijelaskan. Penghinaan lebih sulit. Burr membaca laporan bahwa Hamilton pernah menyebutnya sebagai orang yang berbahaya dan tidak layak dipercaya. Burr menuntut penjelasan. Hamilton menolak memberikan permintaan maaf yang memuaskan.

Surat-surat mulai dipertukarkan.

Membaca korespondensi mereka hari ini terasa aneh. Mereka menulis dengan bahasa sopan, panjang, dan formal, sementara inti pembicaraannya sederhana: apakah kita akan saling membunuh atau tidak?

Prosedur duel memiliki aturan sendiri. Masing-masing pihak menunjuk "second", semacam perwakilan atau mediator. Hamilton menunjuk Nathaniel Pendleton. Burr menunjuk William P. Van Ness. Mereka mengatur lokasi, senjata, waktu, dan berbagai detail teknis lain.

Pistol yang digunakan dibuat oleh pembuat senjata terkenal London, Robert Wogdon. Jenis pistol itu sudah terkenal di kalangan petarung duel karena akurasinya.

Fakta-fakta semacam itu sering membuat saya berhenti sejenak. Seberapa besar energi manusia bisa dihabiskan untuk membuat proses saling membunuh jadi lebih tertata? Ada aturan tentang jarak, posisi, aba-aba, bahkan prosedur medis setelahnya.

Fajar masih awal ketika rombongan tiba di Weehawken. Cuaca cukup cerah. Sungai Hudson terlihat tenang. Manhattan tampak di kejauhan.

Hamilton membawa seorang dokter bernama David Hosack. Burr juga membawa dokter, tetapi aturan duel mengharuskan dokter menjaga jarak sampai tembakan selesai.

Banyak perdebatan muncul selama dua abad berikutnya mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam hitungan detik saat duel dimulai.

Satu fakta tidak diperdebatkan: Hamilton terkena tembakan. Peluru Burr memasuki bagian kanan bawah perut Hamilton, merusak hati, diafragma, dan tulang belakangnya. Cedera itu sangat parah.

Perdebatan muncul karena sebagian saksi percaya Hamilton sengaja melepaskan tembakan ke udara. Istilah yang sering digunakan adalah "throwing away his shot". Hamilton sendiri, dalam surat yang ditulis sebelum duel, mengisyaratkan bahwa ia tidak berniat menembak lawannya secara langsung.

Masalahnya, duel berlangsung begitu cepat sehingga rekonstruksi detailnya tidak pernah benar-benar pasti. Telinga manusia tidak bekerja seperti kamera berkecepatan tinggi. Ingatan saksi berubah. Kepentingan politik ikut bermain.

Hamilton jatuh. Dokter Hosack berlari menuju lokasi. Korban masih hidup tetapi dalam kondisi mengerikan. Ia dibawa menyeberangi sungai ke rumah William Bayard Jr. di Greenwich Village.

Rasa sakitnya luar biasa. Catatan para saksi menggambarkan penderitaan yang panjang. Tubuhnya perlahan gagal bertahan terhadap kerusakan internal yang sangat besar.

Keesokan harinya, 12 Juli 1804, Hamilton meninggal. 

New York meledak dalam duka. Puluhan ribu orang menghadiri prosesi pemakamannya. Jumlah itu sangat besar untuk ukuran kota pada masa tersebut. Gereja Trinity menjadi pusat penghormatan terakhir. Pedagang menutup toko. Surat kabar dipenuhi berita kematian. Banyak orang memperlakukan kematiannya seperti tragedi nasional.

Aaron Burr masih hidup. Ironisnya, justru pemenang duel yang kehilangan masa depan.

Karier politik Burr praktis hancur. Ia tetap menjabat wakil presiden untuk sementara waktu, tetapi statusnya berubah menjadi racun politik. Tuduhan pembunuhan bermunculan di New York dan New Jersey. Ia melarikan diri selama beberapa waktu. Nama baiknya tidak pernah pulih.

Beberapa tahun kemudian, ia terlibat dalam skandal yang bahkan lebih aneh: dugaan rencana mendirikan negara baru di wilayah barat Amerika Utara. Ia ditangkap dan diadili atas tuduhan makar. Mahkamah Agung membebaskannya karena kurang bukti, tetapi reputasinya sudah rusak.

Hamilton mendapatkan sesuatu yang jarang diperoleh politisi: kematian yang memperbesar pengaruhnya.

Burr mendapatkan sesuatu yang lebih umum: kemenangan yang menghancurkan dirinya sendiri.

Amerika Serikat terus tumbuh. Kota-kota berkembang. Jalur kereta api dibangun. Perang datang dan pergi. Nama Burr perlahan menjadi catatan kaki sejarah. Nama Hamilton justru semakin besar. Potretnya muncul di uang sepuluh dolar. Biografinya ditulis berulang kali. Sebuah musikal Broadway dua abad kemudian membuat jutaan orang yang tidak pernah membaca sejarah Amerika tiba-tiba mengenalnya.

Weehawken masih ada. Tebingnya masih menghadap Manhattan. Orang-orang datang berfoto di monumen kecil yang menandai lokasi duel. Sebagian besar lalu kembali ke mobil, memeriksa ponsel, dan melanjutkan hari mereka. Sungai Hudson mengalir seperti biasa.

Peluru kaliber besar dari pistol Wogdon tidak pernah ditemukan.

Related

Sejarah 8530208313594517680

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item