Seorang Ibu Telantar, Satu Anak Datang, Tiga Lainnya Entah Kemana

Ilustrasi/kompasiana.com
Pemandangan paling menyedihkan dalam kisah Siti Hendrawati bukanlah ketika seorang perempuan berusia 65 tahun harus masuk panti sosial. Jakarta penuh dengan cerita orang tua yang berakhir di panti. Yang terasa menyesakkan justru satu detail kecil: ia masih memiliki empat anak. Empat.

Bukan seorang diri. Bukan pasangan tanpa keturunan. Bukan lansia yang seluruh keluarganya meninggal dunia. Empat anak masih hidup, masih tercatat sebagai keluarga, masih memiliki hubungan darah yang secara biologis tidak bisa dihapus oleh apa pun. Namun ketika petugas sosial Kecamatan Matraman datang ke Pisangan Baru, Jakarta Timur, hanya satu anak yang hadir. Tiga lainnya bahkan tidak muncul.

Pikiran saya selalu berhenti cukup lama pada bagian itu. Tidak muncul. Bahkan untuk menyaksikan ibunya digendong menuju mobil dinas kelurahan.

Berita itu mencatat bahwa Siti sudah tidak mampu berjalan. Tubuhnya harus diangkat oleh putranya sebelum dimasukkan ke kendaraan yang akan membawanya ke Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3. Dalam foto-foto yang beredar, wajahnya tampak basah oleh kesedihan yang tidak membutuhkan penjelasan panjang. Orang bisa berdebat mengenai ekonomi, mengenai tanggung jawab, mengenai kondisi keluarga yang tidak diketahui publik. Air mata seorang perempuan tua yang sedang meninggalkan rumah tidak memerlukan analisis.

Tubuh manusia punya cara sederhana untuk memahami kehilangan. Dada terasa sesak. Tenggorokan mengeras. Mata pedih. Selesai.

Kasatpel Sosial Kecamatan Matraman, Nur Azizah, menjelaskan bahwa Siti sebenarnya tidak termasuk kategori orang telantar. Secara administratif, ia masih memiliki keluarga. Ia masih mempunyai anak-anak dan kerabat. Ironinya justru terletak di sana. Negara biasanya turun tangan ketika seseorang benar-benar tidak memiliki siapa-siapa. Dalam kasus ini, negara turun tangan karena orang-orang yang seharusnya hadir memilih tidak hadir.

Dokumen administrasi bahkan belum lengkap ketika penjemputan dilakukan. Surat-surat menyusul kemudian. Kondisi Siti dianggap lebih mendesak daripada urusan birokrasi.

Kisah seperti itu selalu memunculkan satu kalimat yang sudah sangat tua dalam masyarakat Indonesia: punya anak supaya ada yang merawat ketika tua.

Kalimat tersebut begitu akrab sehingga terdengar seperti hukum alam. Banyak orang mengucapkannya tanpa berpikir lagi. Orang tua mengatakannya kepada anak. Tetangga mengatakannya kepada pasangan muda. Kerabat mengulanginya dalam acara keluarga. Di berbagai daerah, alasan memiliki anak sering bercampur dengan alasan ekonomi jangka panjang. Anak dianggap investasi sosial. Semacam asuransi hidup yang bernapas.

Masalahnya, manusia bukan deposito.

Seorang anak lahir sebagai individu yang kelak memiliki kehidupan sendiri. Ia tumbuh menjadi orang yang mempunyai utang, pekerjaan, pasangan, anak, penyakit, ketakutan, dan kegagalan sendiri. Dalam banyak keluarga, hubungan antara orang tua dan anak memang tetap hangat hingga usia lanjut. Banyak pula anak yang merawat orang tuanya dengan penuh kasih sampai akhir hayat. Kenyataan itu tidak bisa diabaikan.

Tetapi keberadaan ribuan contoh yang berhasil tidak mengubah satu fakta sederhana: tidak ada kontrak yang menjamin bahwa seorang anak akan menjadi perawat orang tuanya. Tidak pernah ada.

Hubungan biologis sering dibayangkan lebih kuat daripada kenyataannya. Darah memang menciptakan keterikatan. Darah tidak otomatis menciptakan kedekatan emosional. Orang bisa lahir dari rahim yang sama dan tumbuh menjadi orang asing. Orang bisa tinggal serumah selama puluhan tahun lalu saling menjauh tanpa pernah benar-benar bertengkar.

Keluarga sering diperlakukan sebagai sesuatu yang sakral dan otomatis bekerja. Padahal keluarga adalah institusi sosial yang rapuh. Sangat rapuh. Kita hanya jarang mengakuinya.

Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat yang lebih tua. Jumlah lansia terus meningkat. Harapan hidup lebih panjang dibanding beberapa dekade lalu. Generasi yang dulu melahirkan banyak anak mulai memasuki usia senja. Pada saat yang sama, biaya hidup meningkat, harga rumah meningkat, biaya kesehatan meningkat, tekanan ekonomi meningkat. Banyak keluarga muda hidup dari gaji ke gaji.

Keadaan seperti itu menciptakan benturan yang tidak nyaman. Orang tua membutuhkan bantuan. Anak-anak membutuhkan bantuan. Semua orang kelelahan.

Berita tentang Siti Hendrawati memperlihatkan benturan tersebut dalam bentuk yang paling telanjang. Salah satu anak disebut mengaku kesulitan ekonomi. Tiga lainnya tidak muncul. Publik mungkin langsung marah kepada mereka. Reaksi itu mudah dipahami. Seorang ibu yang tidak mampu berjalan ditinggalkan oleh anak-anaknya memang memancing kemarahan. 

Saya tidak tertarik membela mereka. Saya juga tidak puas jika kisah ini hanya dibaca sebagai cerita tentang anak durhaka. Penjelasan itu terlalu mudah.

Empat orang dewasa tidak bangun suatu pagi secara bersamaan dan tiba-tiba memutuskan menelantarkan ibu mereka. Biasanya terdapat sejarah panjang yang tidak masuk ke dalam berita. Puluhan tahun hubungan keluarga. Konflik yang mungkin tidak pernah selesai. Kemiskinan yang berlangsung bertahun-tahun. Kekecewaan yang mengendap. Penyakit. Utang. Kekacauan yang tidak menarik bagi kamera televisi.

Kita tidak tahu detail-detail tersebut. Yang kita tahu hanyalah hasil akhirnya. Seorang perempuan tua harus dipindahkan ke panti sosial karena rumah yang seharusnya menjadi tempat terakhirnya tidak lagi bisa menampungnya.

Bagian yang mengganggu saya justru muncul ketika membayangkan masa lalu. Siti pernah menggendong keempat anaknya satu per satu. Pernah begadang ketika mereka demam. Pernah mencuci pakaian kecil mereka. Pernah memasak makanan yang mereka sukai. Pernah khawatir ketika mereka pulang terlambat. Puluhan tahun hidup seorang ibu biasanya habis dalam pekerjaan-pekerjaan kecil yang tidak pernah dicatat siapa pun.

Tidak ada arsip mengenai berapa kali seorang ibu terbangun tengah malam. Tidak ada statistik mengenai jumlah sendok nasi yang disuapkan selama puluhan tahun. Tidak ada penghargaan untuk semua itu.

Hubungan manusia memang aneh. Kadang puluhan tahun pengorbanan menghasilkan kasih sayang yang bertahan sampai tua. Kadang menghasilkan jarak. Kadang menghasilkan kebencian. Kadang menghasilkan kelelahan yang tidak sanggup lagi ditanggung.

Kenyataan itu terdengar kasar, tetapi jauh lebih dekat dengan kehidupan dibanding slogan-slogan keluarga yang biasa kita dengar.

Mungkin karena itu saya selalu curiga pada argumen bahwa anak adalah jaminan hari tua. Kalimat tersebut menempatkan anak sebagai fungsi sebelum ia menjadi manusia. Seolah-olah tujuan utama kelahiran seseorang adalah memastikan orang tuanya tidak kesepian pada usia 70 tahun. Beban yang terlalu berat untuk diletakkan di pundak bayi yang baru lahir.

Di Pisangan Baru, seorang perempuan bernama Siti Hendrawati meninggalkan rumah menuju Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3. Mobil dinas kelurahan bergerak perlahan. Petugas sosial menjalankan prosedur. Dokumen akan menyusul. Hidup terus berjalan seperti biasa di jalan-jalan Jakarta. Pedagang tetap berjualan. Ojek tetap mengantar penumpang. Orang-orang tetap mengejar jam masuk kantor.

Empat anak masih tercatat dalam kartu keluarga seorang ibu yang sedang menangis di kursi mobil.

Related

Indonesia 8244925768374631671

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item