Matthew Gallagher, Satu Orang Mengendalikan Bisnis Jutaan Dolar
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/matthew-gallagher-satu-orang.html
![]() |
| Ilustrasi/nytimes.com |
Seorang pria di Los Angeles membuka laptopnya, menulis prompt, membeli iklan, menyambungkan beberapa layanan perangkat lunak, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama mengendalikan bisnis yang menghasilkan ratusan juta dolar.
Kalimat itu terdengar seperti propaganda Silicon Valley yang terlalu berlebihan untuk dipercaya. Jenis cerita yang biasanya muncul di panggung konferensi teknologi dengan musik elektronik yang diputar terlalu keras dan layar raksasa yang menampilkan kata-kata seperti disruption, scale, dan future. Masalahnya, kisah Matthew Gallagher tampaknya benar-benar terjadi.
Pada 2025, perusahaan telehealth miliknya, Medvi, mencatat pendapatan sekitar US$401 juta. Setahun kemudian perusahaan itu diproyeksikan menuju angka US$1,8 miliar. Jumlah pegawainya bukan 500 orang. Bukan 5.000 orang. Pada sebagian besar periode pertumbuhannya, jumlah manusia yang bekerja penuh waktu bisa dihitung dengan jari satu tangan. Gallagher dan saudaranya, Elliot. Selebihnya adalah perangkat lunak, vendor, kontraktor, sistem otomatis, serta sekumpulan model AI yang saling berbicara satu sama lain.
Saya terus memikirkan detail yang terasa kecil tetapi sebenarnya mengganggu. Selama lebih dari satu abad, ukuran perusahaan hampir selalu dapat ditebak dari jejak fisiknya. Jika sebuah perusahaan menghasilkan ratusan juta dolar, biasanya ia meninggalkan bekas yang jelas di dunia nyata: gedung kantor, parkiran penuh mobil, ruang rapat, departemen SDM, tim hukum, bagian keuangan, lantai layanan pelanggan yang dipenuhi headset dan suara dering telepon.
Medvi terlihat seperti perusahaan yang menghapus sebagian besar pemandangan itu.
Gallagher tidak membangun rumah sakit. Ia tidak merekrut ratusan dokter. Ia tidak menciptakan jaringan farmasi sendiri. Dua perusahaan lain, CareValidate dan OpenLoop Health, menangani banyak urusan yang secara tradisional membutuhkan organisasi besar: dokter berlisensi, pemrosesan resep, pemenuhan farmasi, logistik pengiriman, serta kepatuhan regulasi. Medvi menguasai lapisan yang lebih tipis tetapi sangat strategis: merek, pemasaran, pengalaman pelanggan, dan aliran permintaan.
Banyak orang membaca cerita ini dan langsung menyimpulkan bahwa AI menggantikan manusia. Saya justru melihat sesuatu yang sedikit berbeda. Yang terjadi bukan sekadar penggantian manusia oleh mesin. Yang terjadi adalah pemecahan perusahaan menjadi komponen-komponen yang bisa disewa.
Dua puluh tahun lalu, membangun perusahaan kesehatan berarti membangun hampir semuanya sendiri. Sekarang dokter bisa disewa sebagai layanan. Infrastruktur kepatuhan bisa disewa sebagai layanan. Pengiriman bisa disewa sebagai layanan. Pemrosesan pembayaran bisa disewa sebagai layanan. Komputasi bisa disewa sebagai layanan. AI datang pada saat yang tepat dan mengambil posisi sebagai perekat yang menghubungkan semua bagian tersebut.
Mata saya sering lelah setelah berjam-jam menatap dashboard analitik. Banyak pemilik bisnis mengenali perasaan itu. Angka bergerak terus. Grafik naik turun. Notifikasi masuk tanpa henti. Sebelumnya, pekerjaan semacam itu membutuhkan beberapa manajer operasional. Gallagher menggunakan AI untuk menganalisis performa bisnis, membuat materi pemasaran, menulis kode, menjawab pelanggan, bahkan menghasilkan gambar dan video iklan. ChatGPT, Claude, Grok, Midjourney, Runway, ElevenLabs—nama-nama yang terdengar seperti daftar aplikasi di layar ponsel ternyata berfungsi sebagai bagian dari struktur perusahaan.
Di tengah kegembiraan itu, saya justru tertarik pada kegagalan-kegagalan kecilnya.
Sebuah chatbot layanan pelanggan Medvi pernah mengarang harga obat yang tidak pernah ada. Sistem AI juga pernah mengklaim bahwa perusahaan menjual produk yang sebenarnya belum diluncurkan. Gallagher memilih menghormati beberapa janji harga yang salah tersebut sebelum memperbaiki sistemnya. Kesalahan itu terdengar lucu sampai kita ingat bahwa itu bukan toko kaus atau situs meme. Itu perusahaan kesehatan yang menjual obat penurun berat badan.
Kita hidup pada masa ketika orang terlalu cepat berbicara tentang efisiensi, dan terlalu lambat berbicara tentang pengawasan.
Salah satu ilusi paling populer dalam dunia teknologi adalah keyakinan bahwa semakin sedikit manusia yang terlibat, semakin baik hasilnya. Saya tidak pernah sepenuhnya percaya pada gagasan itu. Banyak proses bisnis memang penuh pemborosan. Banyak rapat memang tidak perlu. Banyak birokrasi memang konyol. Namun manusia sering kali berfungsi sebagai rem darurat. Keberadaan mereka terasa tidak efisien sampai hari ketika sesuatu berjalan sangat salah.
Medvi memberi contoh menarik karena keberhasilannya berjalan beriringan dengan kontroversi. Sejumlah laporan menyoroti iklan afiliasi yang menggunakan identitas dokter yang tampaknya palsu atau dihasilkan AI. Nama-nama seperti "Dr. Matthew Anderson MD" dan "Dr. Spencer Langford MD" muncul dalam promosi yang kemudian dipertanyakan.
Jumlah iklan yang terkait dengan perusahaan itu sempat mencapai ribuan sebelum sebagian diturunkan setelah sorotan publik. Regulator kesehatan dan perlindungan konsumen mulai memperhatikan. Cerita semacam itu membuat saya agak alergi terhadap narasi heroik yang terlalu rapi.
Sebagian orang ingin menjadikan Gallagher sebagai bukti bahwa masa depan adalah perusahaan satu orang bernilai miliaran dolar. Sebagian lain ingin menjadikannya bukti bahwa AI adalah mesin penipuan yang dibungkus presentasi investor. Kedua kubu tampaknya terlalu tergesa-gesa. Yang lebih menarik justru perubahan bentuk perusahaan itu sendiri.
Selama beberapa generasi, kapitalisme identik dengan akumulasi. Perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang mengumpulkan lebih banyak aset, lebih banyak pegawai, lebih banyak gedung, lebih banyak cabang. Logika Medvi bergerak ke arah yang hampir berlawanan. Perusahaan jadi tipis. Kepemilikan digantikan koordinasi. Yang penting bukan memiliki seluruh mesin, tapi mengetahui tombol mana yang harus ditekan.
Saya membayangkan para pendiri startup pada akhir 1990-an. Mereka berburu ruang kantor. Mereka membeli server fisik. Mereka memasang kabel jaringan. Mereka mempekerjakan administrator sistem. Banyak dari pekerjaan itu sekarang lenyap begitu saja ke dalam pusat data yang tidak pernah dilihat pelanggan. Kini giliran sebagian pekerjaan kantor yang mulai menghilang.
Perubahan itu terasa jauh lebih besar daripada cerita tentang satu perusahaan telehealth.
Ketika Sam Altman memprediksi kemunculan perusahaan bernilai miliaran dolar yang dijalankan oleh satu orang, banyak orang menganggapnya sebagai hiperbola khas industri teknologi. Medvi muncul sebagai kandidat yang membuat prediksi itu terlihat tidak lagi mustahil.
Saya tidak yakin apakah model seperti itu akan menjadi norma. Banyak bisnis terlalu kompleks untuk dijalankan oleh dua orang. Banyak industri membutuhkan pengawasan manusia yang jauh lebih ketat daripada pemasaran digital. Dunia fisik tetap keras kepala. Gudang harus dibersihkan. Mesin harus diperbaiki. Pasien tetap jatuh sakit. Truk tetap mogok di jalan.
Meski begitu, sesuatu telah berubah.
Dulu, pertanyaan utama seorang pendiri perusahaan adalah: berapa banyak orang yang harus saya rekrut? Sekarang, pertanyaan itu mulai bergeser. Berapa sedikit orang yang sebenarnya saya perlukan? Perubahan kalimatnya tampak kecil. Dampaknya mungkin tidak kecil sama sekali.
Sementara itu, di sebuah rumah di Los Angeles, layar komputer menyala sampai larut malam. Grafik pendapatan bergerak naik. Sistem otomatis mengirim pesan. Iklan baru muncul di internet. Prompt baru diketik. Dua orang memantau bisnis yang nilainya mendekati miliaran dolar.
Ruangan tetap sunyi. Tidak ada lantai kantor yang penuh percakapan. Tidak ada antrean lift saat jam pulang kerja. Tidak ada ribuan pegawai yang berjalan keluar membawa kartu identitas perusahaan di leher mereka.


