Ford Motor Company Berdiri, Kapitalisme Memakan Ekornya Sendiri

Ilustrasi/silodrome.com
Bau oli dan besi panas menempel sampai ke paru-paru. Orang-orang keluar dari pabrik di Highland Park, Michigan, dengan wajah abu-abu karena debu logam. Kemeja kerja mereka keras oleh keringat yang mengering berlapis-lapis. Di musim dingin, napas bercampur asap cerobong. Di musim panas, lantai pabrik terasa lengket. Mesin-mesin terus meraung tanpa peduli siapa yang sedang sakit, siapa yang baru kehilangan anak, siapa yang diam-diam mabuk sejak pagi. 

Di tempat seperti itulah dunia modern benar-benar dibentuk. Bukan di ruang pidato politik. Bukan di universitas. Tapi di lantai pabrik.

Henry Ford sering dipotret sebagai jenius visioner Amerika; lelaki sederhana dengan ide besar yang membuat mobil bisa dimiliki rakyat biasa. Cerita itu setengah benar. Setengahnya lagi lebih kotor dan melelahkan.

Ketika Ford Motor Company berdiri pada 16 juni 1903 di Detroit, mobil masih dianggap barang eksentrik. Mainan mahal orang kaya. Jalan-jalan Amerika bahkan belum siap untuk mobil. Banyak jalan masih berupa tanah keras bercampur lumpur dan kotoran kuda. Di New York awal abad ke-20, bau urine kuda lebih dominan daripada bensin.

Mobil pertama Ford tidak langsung revolusioner. Perusahaannya bahkan nyaris gagal beberapa kali. Sebelum Ford Motor Company benar-benar stabil, Henry Ford sudah berkali-kali bentrok dengan investor, keluar dari perusahaan, lalu memulai lagi. Ia keras kepala dengan cara yang kadang menjengkelkan. Ia yakin mobil harus murah dan diproduksi besar-besaran. Investor ingin laba cepat dari mobil mahal.

Ford tidak tertarik membuat mobil mewah untuk dokter kaya atau pengusaha cerutu. Ia ingin petani di Iowa bisa membeli mobil. Ia ingin mekanik biasa bisa punya kendaraan sendiri. Gagasan itu terdengar absurd pada 1903.

Lalu lahirlah Ford Model T tahun 1908. Mobil itu bentuknya aneh kalau dilihat sekarang. Tinggi, kurus, seperti kereta kuda yang dipaksa berevolusi jadi mesin. Setirnya keras. Mesinnya berisik. Tidak ada AC, tentu saja. Tidak ada power steering. Tidak ada kenyamanan modern. Untuk menyalakannya, orang harus memutar engkol besi di depan mobil. Salah putar, tangan bisa patah karena hentakan balik mesin.

Orang tetap membelinya dalam jumlah luar biasa.

Warna Model T terkenal cuma hitam selama bertahun-tahun. Henry Ford konon pernah berkata, “Pelanggan bisa memilih warna apa pun selama warnanya hitam.” Kalimat itu terdengar lucu sampai kita menyadari maksudnya; efisiensi lebih penting daripada individualitas. Cat hitam lebih cepat kering. Produksi lebih cepat. Untung lebih besar.

Itu inti dunia Ford sejak awal; manusia harus menyesuaikan diri pada ritme mesin.


Lini perakitan bergerak yang diperkenalkan Ford pada 1913 bukan cuma mengubah industri mobil, tapi juga cara manusia bekerja. Sebelum itu, pekerja biasanya bergerak mendatangi barang. Ford membaliknya. Barang bergerak melewati pekerja. Kedengarannya teknis. Dampaknya brutal.

Seorang pekerja di pabrik Highland Park bisa menghabiskan 9 jam sehari hanya memasang baut yang sama berulang-ulang. Baut yang sama. Gerakan tangan yang sama. Ribuan kali. 

Charlie Chaplin kemudian mengejek kegilaan itu lewat Modern Times tahun 1936, ketika karakter pekerjanya sampai mengalami gangguan saraf karena terus mengencangkan baut di ban berjalan. Film itu lucu kalau ditonton sambil santai. Lebih tidak nyaman kalau sadar itu bukan satire berlebihan.

Ford sebenarnya tahu pekerjaan di pabriknya melelahkan dan membosankan. Tingkat keluar-masuk pekerja sangat tinggi. Banyak buruh menyerah hanya setelah beberapa minggu. Tahun 1913, untuk mempertahankan 14.000 pekerja stabil, Ford harus merekrut lebih dari 50.000 orang dalam setahun karena sangat banyak yang kabur.

Orang tidak tahan hidup seperti komponen mesin.

Lalu Ford melakukan langkah yang membuat dunia bisnis gempar; ia menaikkan upah menjadi 5 dolar per hari pada 1914. Hampir dua kali lipat standar saat itu. Surat kabar Amerika heboh. Pengusaha lain marah. Mereka menganggap Ford gila.

Sebenarnya, Ford tidak sepenuhnya dermawan. Ia tahu pekerja yang dibayar lebih tinggi akan lebih stabil, lebih disiplin, dan—ini bagian terpenting—akhirnya mampu membeli mobil Ford sendiri. Kapitalisme mulai memakan ekornya sendiri dengan cara yang elegan. Pekerja pabrik menjadi konsumen produk yang mereka rakit.

Detroit lalu berubah jadi monster industri. Kota itu dipenuhi suara palu pneumatik, lokomotif pengangkut baja, kaca jendela bergetar karena mesin stamping logam. Imigran dari Polandia, Italia, Hungaria, Lebanon, dan kulit hitam dari selatan Amerika, berdatangan mencari kerja. Lingkungan seperti Hamtramck dan Dearborn tumbuh cepat, penuh rumah sempit dan bar murah.

Sungai Rouge dekat kompleks pabrik Ford kadang berubah warna oleh limbah industri. Langit kota sering kelabu bahkan siang hari. Cerobong asap jadi semacam skyline baru Amerika.

Orang suka bicara tentang mobil sebagai simbol kebebasan. Saya selalu merasa itu hanya sebagian cerita. Mobil juga menciptakan keterikatan baru; cicilan, jalan tol, pom bensin, suburbia, kemacetan, ketergantungan minyak.

Ford membantu membangun semua itu.

Henry Ford sebenarnya tokoh yang aneh. Ia bisa sangat inovatif sekaligus sangat sempit pikirannya. Ia membenci serikat buruh. Ia paranoid terhadap intelektual. Ia menerbitkan artikel antisemit di surat kabarnya sendiri, The Dearborn Independent. Tulisan-tulisan konspiratifnya bahkan dikagumi Adolf Hitler.

Orang sering ingin sejarah dibagi sederhana; jenius atau monster. Kenyataannya lebih berantakan. Henry Ford memperluas akses mobil sambil membantu menyebarkan kebencian paranoid. Ia menaikkan upah buruh sambil memata-matai kehidupan pribadi mereka lewat “Sociological Department” milik Ford—tim investigasi yang memeriksa apakah pekerja minum alkohol, berjudi, atau hidup “tidak bermoral”.

Bayangkan pulang kerja dari pabrik, lalu perusahaan tempatmu bekerja ikut mengawasi cara hidupmu di rumah.

Pabrik Ford di River Rouge kemudian menjadi simbol puncak industrialisme Amerika. Kompleksnya sangat besar sampai punya pelabuhan sendiri, pembangkit listrik sendiri, rel kereta sendiri. Bijih besi masuk dari satu sisi, lalu mobil yang telah jadi keluar dari sisi lain.

Semua bergerak terus. Baja cair. Ban karet. Percikan las. Klakson uji coba. Suara rantai logam menyeret komponen.

Orang-orang di dalamnya bergerak mengikuti ritme mesin sampai tubuh mereka sendiri seperti kehilangan tempo alami. Makan cepat. Merokok cepat. Tidur cepat.

Kadang saya berpikir dunia modern masih hidup dalam ritme Ford, meski pabrik-pabrik itu banyak yang tutup. Scroll media sosial, kerja shift digital, target produktivitas, algoritma pengiriman makanan, gudang otomatis Amazon—semuanya masih punya denyut yang mirip lini perakitan. Cepat. Ulangi. Cepat lagi.

Detroit sekarang tidak lagi seperkasa dulu. Banyak pabrik kosong. Cat mengelupas. Rumput tumbuh di parkiran bekas industri. Beberapa gedung tua Ford terlihat seperti kerangka paus raksasa yang ditinggalkan.

Tapi jejak Ford ada di mana-mana. Jalan raya antarnegara bagian. Kota-kota pinggiran. Drive-thru. SPBU 24 jam. Bahkan cara manusia membayangkan hidup dewasa; punya mobil sendiri, keluar rumah sendiri, bergerak sendiri.

Henry Ford pernah berkata bahwa ia ingin “membuka jalan raya bagi rakyat banyak”. Kalimat itu terdengar megah sampai melihat foto-foto buruh pabrik Ford tahun 1910-an; wajah lelah, tangan hitam oleh oli, berdiri rapat di depan ban berjalan yang tidak pernah peduli apakah mereka bahagia atau tidak.

Mesin di pabrik tetap bergerak. Orang yang tidak cukup cepat tinggal diganti.

Related

Peristiwa 695999421008723256

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item