Al-Saghani, Ilmuwan Pembuat Instrumen Astronomi Paling Dihormati

Ilustrasi milik BSM
Ada sensasi yang menyenangkan dari julukan al-Asturlabi. Julukan itu tidak merujuk pada suku, mazhab, jabatan politik, atau bahkan kota asal. Julukan itu berarti pembuat atau ahli astrolab. Bayangkan seseorang begitu melekat dengan alat ilmiah yang ia kerjakan sehingga alat tersebut jadi bagian dari namanya sendiri. Kita mengenal Abu Hamid Ahmad ibn Muhammad al-Saghani al-Asturlabi bukan terutama sebagai bangsawan, filsuf, atau penyair, tapi sebagai manusia yang hidup bersama lingkaran-lingkaran logam, skala sudut, ukiran angka, dan pergerakan bintang.

Sejarah sering memperlakukan ilmuwan seperti daftar nama dan tanggal. Al-Saghani menjadi korban yang cukup parah dari kebiasaan itu. Bahkan dibandingkan tokoh-tokoh sezamannya, jejak biografinya terbilang tipis. Kita tidak memiliki kisah masa kecil yang dramatis. Tidak ada cerita tentang guru galak atau perjalanan panjang menyeberangi gurun yang tercatat dengan baik. Yang tersisa adalah karya, reputasi, dan beberapa fragmen informasi yang harus dirakit seperti pecahan tembikar.

Nama Al-Saghani menunjukkan hubungan dengan wilayah Saghan atau Chaghaniyan, sebuah daerah di Transoxiana, kawasan Asia Tengah yang sekarang terbagi ke wilayah Uzbekistan dan Tajikistan. Daerah itu pada abad ke-10 bukan pinggiran dunia Islam. Jalur perdagangan, ilmu pengetahuan, dan bahasa, bertemu di sana. Orang-orang bergerak dari Bukhara ke Samarkand, dari Nishapur ke Balkh, membawa buku, instrumen, dan ide. 

Dunia Islam pada masa itu tidak berpusat pada satu kota saja. Ia menyerupai jaringan besar yang hidup. Kadang saya merasa banyak orang modern membayangkan peradaban Abbasiyah hanya sebagai Baghdad. Padahal pusat-pusat ilmu tumbuh di mana-mana seperti gugusan bintang yang saling terhubung. 

Al-Saghani hidup kira-kira pada abad ke-10. Masa itu adalah periode ketika astronomi Islam sedang memasuki tahap yang sangat teknis. Gelombang besar penerjemahan karya Yunani sudah berlangsung selama lebih dari satu abad. Karya-karya Ptolemaios telah diterjemahkan. Para ilmuwan tidak lagi sekadar membaca warisan Yunani; mereka mulai memperbaikinya, mengoreksinya, bahkan kadang membantahnya. Astronomi berubah dari proyek penerjemahan menjadi proyek penelitian.

Di lingkungan seperti itulah Al-Saghani bekerja.

Kita tahu bahwa ia merupakan astronom, matematikawan, dan pembuat instrumen astronomi yang dihormati. Julukan al-Asturlabi menunjukkan spesialisasinya pada astrolab, alat yang saat itu hampir memiliki status magis. Astrolab bukan benda sederhana. Bentuknya berupa cakram logam dengan berbagai pelat dan penunjuk yang dapat diputar. Di tangan orang terlatih, alat itu mampu menunjukkan waktu, menentukan arah, menghitung ketinggian bintang, membantu navigasi, bahkan menyelesaikan persoalan astronomi yang rumit.

Saya pernah melihat foto astrolab abad pertengahan beresolusi tinggi. Permukaannya dipenuhi garis dan angka yang begitu rapat sehingga mata terasa lelah hanya dengan memandangnya beberapa menit. Membuat satu astrolab memerlukan keterampilan matematis sekaligus keterampilan metalurgi. Kesalahan kecil pada pengukiran dapat merusak seluruh fungsi alat. Al-Saghani hidup dalam dunia yang mengharuskan seorang ilmuwan memahami teori sekaligus benda fisik. Ia tidak cukup hanya menulis rumus di atas perkamen.

Salah satu hal yang membuatnya dikenal adalah penyusunan instrumen astronomi yang sangat presisi. Sumber-sumber abad pertengahan memujinya sebagai pembuat alat yang andal. Reputasi seperti itu tidak muncul dari satu karya besar yang tiba-tiba meledak. Reputasi teknis lahir dari ratusan pekerjaan yang dilakukan tanpa kesalahan fatal.

Ada kisah menarik yang sering dikaitkan dengan Al-Saghani. Ia disebut terlibat dalam pembuatan instrumen untuk observasi astronomi di lingkungan istana penguasa Buwaihi, khususnya pada masa pemerintahan Adud al-Dawla. Dinasti Buwaihi saat itu menguasai sebagian besar Iran dan Irak. Mereka terkenal sebagai patron ilmu pengetahuan. Penguasa seperti Adud al-Dawla menginginkan observatorium, perpustakaan, dokter, insinyur, dan astronom berada di sekitar istananya. Bukan karena semua penguasa mencintai ilmu secara murni. Kadang ilmu juga merupakan simbol kekuasaan. Memiliki astronom terbaik berarti menunjukkan bahwa istana adalah pusat dunia beradab.

Al-Saghani bekerja dalam lingkungan yang menuntut ketepatan. Kesalahan astronomi bukan hanya masalah akademik. Kalender bisa terganggu. Prediksi gerhana bisa meleset. Navigasi dapat mengalami masalah. Kita hidup di zaman GPS, mereka hidup di zaman sudut bintang.

Karyanya yang paling terkenal mungkin risalah-risalah tentang astrolab dan instrumen astronomi. Sebagian teksnya masih dikenal melalui katalog manuskrip. Sebagian lagi hilang. Kehilangan semacam itu terjadi terus-menerus dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam. Kadang sebuah buku diketahui pernah ada hanya karena seorang ilmuwan lain mengutip judulnya dua abad kemudian. Rasanya menjengkelkan. Kita tahu seseorang pernah berpikir, menulis, menghitung selama bertahun-tahun, lalu hasil kerjanya menghilang karena kebakaran, perang, kelembapan, atau sekadar kelalaian seorang penyalin.

Al-Saghani juga berhubungan dengan tradisi matematika yang berkembang pesat di wilayah Persia dan Asia Tengah. Astronomi dan matematika pada masa itu hampir tidak dapat dipisahkan. Mengamati langit hanyalah setengah pekerjaan. Setengah lainnya adalah menghitung. Planet tidak bergerak dalam diagram yang rapi di langit malam. Mereka bergerak dalam angka-angka yang harus diolah, diperiksa, dan dibandingkan dengan observasi sebelumnya.

Satu hal yang sering luput ketika membicarakan ilmuwan seperti Al-Saghani adalah aspek fisik pekerjaannya. Kita membayangkan intelektual abad pertengahan sebagai orang yang duduk tenang membaca buku. Kenyataannya lebih kasar. Instrumen harus dibawa ke lokasi observasi. Logam harus dipotong. Ukiran harus dibuat dengan tangan. Pengamatan malam berarti menghadapi udara dingin, angin, dan kelelahan. Mata yang terus menatap titik cahaya kecil di langit selama berjam-jam tentu terasa perih. Punggung pegal. Tangan dingin.

Ada hubungan yang aneh antara astronomi abad pertengahan dan kesabaran. Banyak pekerjaan mereka sebenarnya membosankan. Tidak ada ledakan penemuan setiap minggu. Yang ada adalah pengulangan. Mengukur lagi. Menghitung lagi. Memeriksa lagi. Al-Saghani tampaknya termasuk kelompok ilmuwan yang bersedia menjalani rutinitas itu tanpa mengeluh terlalu banyak.

Namanya juga dikaitkan dengan pengembangan instrumen yang lebih akurat dibandingkan pendahulunya. Dunia astronomi Islam memiliki budaya kompetisi yang sehat dalam hal itu. Setiap generasi berusaha memperbaiki alat generasi sebelumnya. Sedikit peningkatan akurasi dianggap kemenangan besar. Dari luar mungkin tampak remeh. Bagi astronom, selisih kecil dapat berarti banyak.

Saat mempelajari tentang Al-Saghani, saya justru tertarik pada hal yang tidak ia tinggalkan. Tidak ada manifesto filosofis besar. Tidak ada sistem metafisika yang mengubah sejarah pemikiran seperti milik Al-Farabi atau Ibn Sina. Ia tampak lebih dekat dengan sosok insinyur modern: seseorang yang ingin alat bekerja dengan baik, angka sesuai kenyataan, dan pengukuran dapat dipercaya.

Mungkin karena itu namanya tidak terlalu terkenal sekarang. Sejarah menyukai tokoh yang memiliki gagasan besar dan slogan yang mudah diingat. Sejarah kurang ramah kepada orang-orang yang menghabiskan hidup memperbaiki ketelitian sepersekian derajat.

Meski begitu, dunia ilmiah sebenarnya berdiri di atas orang-orang seperti Al-Saghani. Tanpa mereka, teori kehilangan pijakan. Tanpa mereka, observasi berubah menjadi tebakan. Banyak astronom yang lebih terkenal bekerja menggunakan instrumen dan tradisi teknis yang dibangun oleh generasi pembuat alat seperti Al-Saghani. 

Ketika membayangkan sosoknya, yang muncul di kepala saya bukan aula kuliah atau perpustakaan besar. Yang muncul justru meja kerja dengan serbuk logam halus menempel di permukaan kayu, bunyi gesekan alat ukir pada kuningan, lampu minyak yang berkedip pelan, dan seseorang yang memiringkan kepalanya untuk memastikan satu garis kecil pada astrolab benar-benar berada di tempat yang tepat.

Kesalahan setengah milimeter saja mungkin membuatnya mengulang pekerjaan dari awal.


Related

Tokoh 4878318268647448639

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item