Bernard Nutter dan Perang yang Masih Terdengar di Rekaman
https://www.belajarsampaimati.com/2026/09/bernard-nutter-dan-perang-yang-masih.html?m=0
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
“Bill is the hero.”
Bernard Nutter mengucapkan kalimat itu ketika pewawancara bertanya tentang saudara laki-lakinya yang bertugas di Angkatan Udara di Eropa. Nutter sendiri berada di Pasifik bersama Korps Marinir Amerika Serikat. Ia pernah berada di kapal induk ringan USS Independence, bertugas di meriam antipesawat 40 mm, menghadapi kamikaze di sekitar Okinawa, masuk ke Jepang setelah perang, kemudian pulang dengan kereta pasukan melintasi Amerika. Pewawancara sedang mencoba membuatnya bicara tentang siapa yang lebih pantas disebut pahlawan. Nutter memilih saudaranya.
Beberapa detik kemudian ia berkata, “I just went over there and did my job.”
Kalimat semacam itu gampang dilewatkan. Terlalu sederhana untuk sebuah kisah perang. Justru karena itu ia terasa penting.
Bernard A. Nutter lahir di Wilmington, Delaware, dan dibesarkan dalam keluarga yang cukup dekat dengan dunia kerja teknis. Ia belajar di Brown Vocational Tech dan lulus pada Juni 1942. Beberapa bulan kemudian ia mendaftar ke Korps Marinir, bukan karena wajib militer. Serangan Jepang ke Pearl Harbor pada Desember 1941 masih segar dalam ingatannya ketika ia berada di sekolah. Ia mengatakan serangan itu ikut mendorongnya mendaftar. Pada November 1942 ia resmi masuk dinas.
Pelatihan membawanya ke Parris Island, South Carolina, kemudian Norfolk Navy Yard. Di sana pendidikan teknisnya mulai terbentuk. Ia dikirim ke sekolah meriam dan dilatih mengoperasikan sistem kendali tembakan untuk meriam 40 mm. Ketika ditempatkan di USS Independence di Philadelphia Navy Yard, ia menjadi bagian dari kelompok kecil Marinir yang menjaga kapal sekaligus mengoperasikan persenjataan.
Kapal itu memiliki sekitar 75 Marinir. Mereka bukan pasukan pendarat yang hidup di lumpur dan bergerak dengan senapan di tangan. Nutter menjelaskan perbedaan itu dengan bahasa yang agak kasar: pasukan Marinir darat “had a hell of a life”; mereka hidup dalam lumpur, sementara Marinir kapal tidur di ranjang kapal dan mendapat makanan Angkatan Laut.
Kapal tersebut kemudian menjalani shakedown ke Trinidad. Dalam perjalanan, Nutter berlatih menembak dan mempelajari Mark 14 sight, perangkat optik yang membantunya mengarahkan meriam 40 mm. Setelah kembali ke Philadelphia, konfigurasi persenjataan kapal berubah. Senapan mesin kaliber .50 diganti dengan meriam 20 mm. Nutter ditempatkan di Mount 7 sebagai bagian dari tim kendali tembakan 40 mm.
Dari Philadelphia, kapal bergerak ke Kanal Panama, kemudian San Diego, sebelum masuk ke rangkaian operasi Pasifik. Detail seperti itu membuat perang terasa jauh lebih mekanis daripada poster propaganda. Seorang anak muda dari Wilmington mempelajari sebuah alat bidik, menghafal prosedurnya, kemudian duduk di dekat senjata yang harus diarahkan dalam hitungan detik.
Kisah Nutter jadi lebih hidup ketika ia membicarakan Okinawa.
Kamikaze membuat kapal-kapal di wilayah itu terus berada dalam keadaan siaga. Persediaan makanan berubah. Mereka sampai makan K-rations. Ketika pewawancara bertanya tentang kehidupan di kapal dan keadaan saat battle stations, Nutter tidak mengubah suaranya menjadi suara veteran yang sedang memberikan kuliah sejarah. Ia hanya menjelaskan bahwa makanan biasanya bagus, sampai mereka masuk wilayah tempur. Setelah itu, persediaan yang ada harus digunakan.
Percakapan kemudian bergerak ke tempat tidur, makanan, orang-orang yang bertugas bersamanya. Nada bicaranya seperti seorang lelaki tua yang sedang menjelaskan pekerjaan lamanya kepada seseorang di meja makan.
Itulah keanehan terbesar dari rekaman veteran. Peristiwa yang bagi kita sudah menjadi sejarah dunia sering tersimpan di kepala pelakunya sebagai urusan pekerjaan sehari-hari. Meriam harus diarahkan. Pos harus dijaga. Surat harus dikirim. Makanan harus dibagi. Ranjang harus digunakan bergantian. Ketika kapal masuk wilayah kamikaze, seseorang harus berada di posnya.
Nutter bahkan memiliki tugas lain yang sama sekali tidak terdengar heroik: Marinir kapal juga berfungsi sebagai polisi militer di atas kapal Independence. Mereka menjaga brig, tempat para pelaut yang melakukan pelanggaran ditahan. Jika seorang awak kapal pergi ke darat, mabuk, membuat keributan, kemudian dibawa kembali, Marinir yang mengurusnya. Nutter menyebut tempat tahanan itu berada “way down in the bottoms of the ship.”
Jadi orang yang mengoperasikan meriam antipesawat juga bisa menghabiskan sebagian waktunya menjaga tahanan di bagian bawah kapal.
Perang memang penuh pekerjaan semacam itu.
Bagian yang paling saya sukai dari rekaman Nutter justru muncul ketika pembicaraan bergeser pada keluarganya. Ia mempunyai dua saudara laki-laki. Walter bekerja sebagai teknisi sipil di Westover Field, Massachusetts. Bill bertugas di Angkatan Udara dan berada di Eropa. Nutter dan Bill saling berkirim surat melalui V-mail, sistem korespondensi yang mengecilkan surat menjadi bentuk mikrofilm untuk menghemat ruang pengiriman. Surat bisa dikirim pada Juni dan baru sampai berbulan-bulan kemudian, tergantung posisi unit dan jalur distribusi surat.
Mereka tidak bisa menulis semuanya. Informasi tertentu harus disensor. Nutter mengatakan mereka tetap dapat “read between the lines” karena mereka bersaudara. Kalimat itu terasa jauh lebih intim daripada banyak kisah perang yang penuh nama pertempuran. Dua saudara sedang berjauhan ribuan kilometer, masing-masing tahu bahwa yang lain mungkin sedang berada dalam bahaya, tetapi surat yang mereka kirim tidak boleh mengatakan terlalu banyak. Maka mereka membaca sesuatu yang tidak tertulis.
Kemudian pewawancara bertanya siapa yang lebih heroik. Nutter menunjuk Bill. “Bill is the hero.”
Sesudah itu ia merendahkan dirinya sendiri, “I just went over there and did my job.”
Saya tidak terlalu percaya pada kerendahan hati veteran yang sudah menjadi formula. Banyak orang mengatakan hal serupa setelah perang. Tapi pada Nutter, kalimat tersebut terasa cocok dengan seluruh struktur ceritanya.
Ia tidak menceritakan dirinya sebagai manusia yang menemukan keberanian luar biasa. Ia menceritakan sekolah, pelatihan, kapal, meriam, makanan, saudara, surat, tahanan, lalu perjalanan pulang. Bahkan ketika pembicaraan menyentuh Jepang, ia sempat salah mengingat kronologi bom atom. Pewawancara harus membantunya mengurutkan waktu. Nutter sendiri mengakui bahwa ia tidak berada di Jepang ketika bom dijatuhkan.
Karena itulah rekaman tersebut jauh lebih berharga daripada biografi yang sudah dirapikan.
Dalam transkrip, kita mendengar seseorang mengingat dengan cara manusia mengingat: beberapa bagian sangat jelas, bagian lain kabur, nama tempat muncul kemudian, kronologi terselip, ada jawaban yang dipotong pewawancara, ada candaan yang tidak akan pernah masuk ke buku sejarah resmi. Library of Congress menyimpan wawancara video Nutter dalam Veterans History Project, bagian dari koleksi kesaksian langsung veteran Amerika. Rekamannya dibuat bersama Thomas J. Healy dalam proyek Delaware—Voices of World War II.
Nutter kemudian meninggalkan kapal, pergi ke Portland, Oregon ketika kapal Independence dinonaktifkan, bergerak ke Bremerton, Washington, kemudian diberhentikan dari dinas dan naik kereta pasukan menuju Bainbridge, Maryland. November 1945 ia pulang. Saudara laki-lakinya, Walter, datang menjemputnya dan membawanya kembali ke rumah.
Ada sesuatu yang aneh pada adegan terakhir itu. Perjalanan perang yang dimulai dari seorang murid sekolah kejuruan di Wilmington berakhir dengan seorang kakak datang menjemput adiknya dari stasiun.
Tidak ada parade dalam cerita Nutter. Tidak ada adegan kemenangan yang megah. Ia hanya pulang setelah pekerjaannya selesai.
Bertahun-tahun kemudian, seseorang menyalakan kamera dan memintanya menceritakan semuanya.
Nutter duduk di depan kamera. Ia menyebut nama sekolahnya. Ia menjelaskan meriam 40 mm. Ia bicara tentang Mount 7. Ia mengingat V-mail. Ia tertawa ketika membicarakan saudaranya. Ia mengatakan Bill adalah pahlawan.
Rekaman terus berjalan.
Catatan terkait: Leon Senders dan Radio Perang dengan Baterai Sebesar Batu Bata
%20x.jpg)

