Leon Senders dan Radio Perang dengan Baterai Sebesar Batu Bata
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/leon-senders-dan-radio-perang-dengan.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Baterai radio Leon Senders kira-kira sebesar batu bata, dan lebih berat daripada batu bata. Ia harus membawanya melalui hutan Lithuania, sambil membawa senapan otomatis, menyembunyikan identitas Yahudinya, mencari informasi dari penduduk setempat, dan menghindari kemungkinan bahwa sinyal radio yang ia pancarkan akan membantu orang Jerman menemukan tempatnya. Kadang-kadang baterainya mati. Kadang radio tidak mau mengirim pesan. Pernah satu pesan membutuhkan waktu hampir sehari untuk dapat terkirim.
Dalam perang yang sering dibayangkan melalui tank, pesawat dan artileri, pekerjaan Leon bergantung pada benda yang berat, rewel, dan sama sekali tidak heroik bentuknya.
Leon lahir di Vilna pada 19 Maret 1923, ketika kota itu masih berada di Polandia. Keluarganya Yahudi sekuler, dengan simpati kuat terhadap sosialisme. Ia bersekolah di sekolah teknik dan memiliki keterampilan mekanik. Kehidupannya belum mengarah pada dunia intelijen. Ia adalah pemuda kota dengan pengetahuan teknis yang mungkin berguna untuk memperbaiki mesin, bukan untuk mengirim pesan rahasia dari hutan.
Pada 1941, hidupnya dipotong dengan cara yang sangat cepat. Leon sedang pulang dari piknik pabrik di pedesaan ketika mengetahui bahwa Vilna telah dibom Luftwaffe. Ketika ia kembali, kota itu sedang terbakar. Rumah keluarganya rusak, tetapi orang tua dan saudara-saudaranya kebetulan sedang berada di rumah kakek-nenek sehingga selamat dari serangan tersebut. Hari itu juga sekelompok pemuda Yahudi mengajaknya pergi ke Rusia. Ayahnya menyuruhnya berangkat. Pesannya sederhana, “Kau masih muda. Kalau sesuatu terjadi, orang-orang seperti kalian akan jadi sasaran lebih dulu.”
Leon pergi ke timur tanpa mengetahui dengan pasti apa yang akan ditemukannya. Jalur kereta kemudian rusak akibat pemboman Jerman. Ia dan teman-temannya ikut bergerak bersama pasukan Rusia yang mundur menuju wilayah Soviet. Leon akhirnya sampai di Penza, sekitar 400 mil tenggara Moskwa, dan sempat dijadwalkan bekerja di pusat perbaikan traktor. Pemuda yang tadinya belajar teknik mekanik sekarang berada jauh dari rumah, di tengah gelombang pengungsi yang bergerak ke pedalaman Soviet.
Ia kemudian berusaha masuk ke divisi Lithuania dalam Tentara Soviet. Usianya jadi masalah. Ia belum cukup umur, sehingga harus memohon agar diterima. Keterampilan teknisnya membantu. Alih-alih dilempar ke garis depan, ia dipilih untuk menjalani pelatihan di Moskwa.
Selama kira-kira setahun, kehidupan Leon berubah secara aneh. Ia belajar Morse, operasi radio, dan cara membaca atau memecahkan pesan telegraf. Ia tinggal di asrama, tidur di ranjang, bersekolah, dan bergaul dengan anak-anak muda lain. JPEF menggambarkan masa itu sebagai semacam kemewahan bagi seorang pemuda yang telah kehilangan rumah dan sedang menyaksikan perang menghabiskan generasinya. Ia mempelajari keterampilan yang kelihatannya sangat teknis, sangat dingin, bahkan membosankan. Kelak keterampilan itu membuatnya jauh lebih berguna daripada senapan biasa.
Pada Oktober 1943, Leon diterjunkan dengan parasut ke hutan Lithuania. Perlengkapannya cukup aneh untuk seorang pemuda yang akan hidup di antara partisan: senapan otomatis dan radio gelombang pendek. Senapan diperlukan untuk membunuh. Radio diperlukan agar orang lain dapat membunuh dari jauh.
Ia dikirim menuju kawasan dekat sebuah persimpangan kereta api yang berada di bawah kendali Jerman. Tempat itu penting karena sistem rel Soviet dan rel Jerman memiliki ukuran berbeda. Pengiriman pasokan harus dipindahkan dari satu kereta ke kereta lain, sehingga persimpangan tersebut menjadi titik yang sangat berharga bagi pengintaian dan sabotase. Leon berada di sana untuk mengetahui apa yang bergerak, kapan bergerak, dan ke mana pergerakannya.
Pekerjaannya membutuhkan lebih dari kemampuan mendengar percakapan. Leon membangun jaringan informan lokal. Ia mencari tahu pergerakan pasukan dan logistik Jerman, kemudian memeriksa informasi dengan membandingkannya dengan laporan dari sumber lain. Bila beberapa informan menyampaikan cerita yang sama, keyakinannya meningkat. Informasi tersebut dikirim kepada militer Soviet melalui pesan berkode. Laporan Leon kemudian digunakan untuk membantu serangan terhadap pengiriman pasokan Jerman.
Ada masalah besar dengan radio: radio memancarkan keberadaan penggunanya. Leon harus terus bergerak agar pasukan Jerman tidak bisa menentukan lokasinya dari sinyal. JPEF mencatat bahwa ia kadang harus berpindah sampai sekitar sembilan mil dari tempat sebelumnya.
Radio itu sendiri menyusahkan. Baterainya besar dan berat. Ketika baterai rusak, Leon mencari baterai lain di desa-desa, menyambungkannya bersama-sama, kemudian mencoba lagi. Kadang transmisi gagal. Kadang ia menghabiskan satu hari untuk mengirim satu pesan. Waktu yang terbuang bukan sekadar masalah teknis. Kelompok partisan bisa bergerak lebih dulu, meninggalkan tempat sebelum Leon selesai, atau mengira ia tidak akan kembali.
Radio perang memiliki ironi yang menyebalkan: benda yang membuat seseorang terhubung dengan pasukannya juga bisa membuat musuh menemukan tubuhnya.
Leon memiliki senjata lain yang tidak terlihat. Ia memutihkan rambutnya dengan peroksida. Ia berbicara dalam bahasa Polandia, Rusia, Jerman, dan Lithuania. Ia mengenakan pakaian petani, kadang pakaian penggembala yang lusuh. Dengan penampilan seperti itu, seorang pemuda Yahudi dari Vilna dapat bergerak di wilayah yang sedang diburu Jerman tanpa segera dikenali sebagai orang yang mereka cari.
Satu kisah yang dicatat JPEF hampir terdengar seperti adegan komedi gelap. Leon sedang berada di rumah seorang petani ketika seorang agen Jerman datang. Agen tersebut sedang mengejar jaringan yang berhubungan dengan Leon, tetapi tidak mengenali orang yang dicari berada tepat di depannya. Ia malah mengusir Leon karena menganggapnya sebagai petani Lithuania rendahan yang mengganggu makan siangnya.
Leon lolos karena penyamarannya berhasil terlalu baik.
Ia juga bertemu kembali dengan beberapa orang yang dikenalnya dari Vilna. Dari mereka ia mendengar cerita tentang ghetto dan pembunuhan massal yang sedang berlangsung. Leon mengaku tidak mampu memahami apa yang mereka ceritakan. Ia bahkan mengatakan bahwa kata “ghetto” terasa seperti sesuatu yang baru baginya. Itu mengandung kekejaman yang khas perang: seseorang dapat meninggalkan sebuah kota sebelum memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi kepada orang-orang yang ditinggalkannya.
Keluarga Leon kemudian tidak terselamatkan. Ayah, ibu, dan adik perempuannya dibunuh Nazi. Kakak perempuannya menjadi satu-satunya anggota keluarga inti yang selamat. Leon, sementara itu, berada di hutan dengan radio di punggungnya, mengirimkan koordinat dan laporan tentang kereta yang membawa suplai bagi orang-orang yang telah menghancurkan keluarganya.
Setelah perang, Leon berakhir di kamp pengungsi di Italia. Di sana ia bertemu Brenda, perempuan yang juga pernah menjadi partisan Yahudi. Mereka menikah dan kemudian membangun kehidupan di Amerika Serikat. Leon meninggal pada Juli 2013.
Puluhan tahun kemudian, ketika diwawancarai untuk arsip USHMM pada 28 April 1988, Leon masih mengingat pekerjaannya sebagai bagian dari kemenangan. JPEF menyimpan wawancara itu bersama arsip kesaksian lainnya.
Radio itu sudah tidak perlu dibawa lagi. Tidak ada lagi baterai sebesar batu bata yang harus dicari di desa, tidak ada sinyal yang harus dikirim sebelum patroli Jerman menemukan sumbernya, tidak ada alasan untuk memutihkan rambut.
Leon Senders sudah tua ketika kisah itu direkam. Suaranya tinggal di pita arsip, sementara pemuda yang pernah jatuh dengan parasut ke hutan Lithuania sudah lama hilang.
Pesan terakhirnya tidak perlu dikirim lewat Morse.
Catatan terkait: Kisah Pencarian Pilot yang Hilang dalam Perang Dunia II


