Kisah Pencarian Pilot yang Hilang dalam Perang Dunia II

Ilustrasi milik BSM
Selama 71 tahun, keluarga Loren Hintz tahu bahwa ia mati di Italia. Mereka hanya tidak tahu di mana.

Kalimat seperti itu terdengar terlalu sederhana untuk memuat persoalan yang sebenarnya. “Mati di Italia” adalah informasi militer. Sebuah negara bisa mencatatnya, sebuah departemen bisa memasukkannya ke berkas, sebuah makam bisa diberi nama. Bagi keluarga, lokasi kematian mempunyai ukuran yang jauh lebih kasar dan lebih menyakitkan. Italia terlalu luas. Bologna bukan sebuah titik. Bagnarola bahkan belum cukup. Seorang anak ingin tahu tempat ayahnya jatuh, tanah yang menerima pesawatnya, siapa yang melihatnya, apa yang terjadi setelah api padam.

Loren E. Hintz adalah pilot P-47 Thunderbolt dari Charles City, Iowa. Pada 21 April 1945, ia terbang dalam misi di wilayah Bologna ketika pesawatnya terkena tembakan Jerman. Ia berada di bagian belakang formasi, posisi yang membuat pesawatnya lebih mudah jadi sasaran ketika pasukan Jerman sudah mengetahui kedatangan mereka. P-47 itu terbakar dan jatuh di kawasan pedesaan dekat Bagnarola di Budrio. Perang di Italia tinggal beberapa minggu dari keruntuhan Jerman. Hintz tidak sempat menikmati bagian itu.

Di Amerika, kehidupan keluarga bergerak dengan informasi yang sangat sedikit. Gertrude Hintz menerima telegram pada 5 Mei 1945 yang memberitahukan bahwa suaminya hilang dalam tugas. Putra mereka, Martin, lahir pada Juni, setelah ayahnya menghilang. Gretchen, putri Hintz, tumbuh tanpa benar-benar mengenal ayahnya. Keluarga menyimpan sekitar 300 surat yang pernah dikirim Loren, benda-benda yang sekarang terasa sangat berbeda karena penulisnya sudah mati.

Begitulah perang bekerja dari kejauhan: satu keluarga mendapat telegram, satu unit militer mengisi formulir, sebuah pesawat dinyatakan hilang, kemudian kehidupan domestik dipaksa berjalan terus. Tidak ada adegan penutup. Tidak ada seseorang yang datang mengetuk pintu sambil berkata, “Kami menemukan tempatnya.” Berkas militer bahkan memiliki bahasa yang lebih teratur daripada pengalaman orang yang ditinggalkan.

Keluarga Hintz memperoleh petunjuk melalui sesuatu yang jauh lebih membosankan daripada legenda keluarga: dokumen.

Pada 2005, Hans Wronka, cucu Loren, mendapatkan salinan Missing Air Crew Report. MACR memang dibuat oleh Angkatan Udara Darat Amerika untuk mencatat pesawat dan awak yang hilang; laporan semacam ini dapat memuat waktu, lokasi terakhir pesawat terlihat, nama awak, nomor pesawat, kesaksian awak lain, bahkan informasi mengenai parasut yang terlihat. National Archives menyimpan lebih dari 16.000 berkas MACR dalam seri arsip tersebut.

Bagi Hans, laporan itu bukan sekadar dokumen lama. Di dalamnya terdapat semacam peta kecil dan informasi yang, setelah puluhan tahun, bisa dibaca sebagai petunjuk. Ia kemudian memperoleh Individual Deceased Personnel File milik Loren. Ia membeli peta militer kawasan tersebut dari seorang kolektor di Inggris. Foto udara Bagnarola yang dibuat National Archives hanya beberapa hari dari kematian Loren ikut masuk ke meja penelitian. Potongan-potongan administratif yang semula dibuat untuk tentara yang hilang mulai berubah menjadi instruksi pencarian.

Ada sesuatu yang agak aneh dalam proses itu. Untuk menemukan seorang pilot Amerika yang jatuh pada akhir perang, keluarga Amerika membutuhkan bantuan seorang Italia yang bahkan tidak hidup ketika Loren jatuh.

Piero Fabbri, seorang peneliti lokal, menelusuri wilayah Bagnarola dan mencari orang-orang yang masih menyimpan ingatan tentang kecelakaan tersebut. Ia menemukan Aristide Chiesa, yang masih sangat muda ketika Loren jatuh, dan mengingat lokasi pesawat menghantam tanah. 

Informasi semacam itu biasanya dianggap terlalu rapuh oleh sejarah resmi: seorang lelaki tua mengingat sesuatu yang dilihatnya ketika masih anak-anak, tujuh puluh tahun sebelumnya. Dalam pencarian lokasi kecelakaan, ingatan tersebut justru menjadi koordinat yang tidak tercetak di peta.

Pencarian kemudian masuk ke tahap yang lebih ganjil. Tim Fabbri menggunakan alat elektromagnetik untuk menyurvei tanah yang ditunjukkan oleh Chiesa. Hasilnya menunjukkan keberadaan benda logam besar sekitar 15 kaki di bawah permukaan. Penggalian dilakukan pada 2016. Mereka tidak langsung menemukan tulang. Mereka menemukan pesawat.

Bagian-bagian P-47 muncul dari tanah Italia: komponen badan pesawat, selongsong peluru, bagian persenjataan, bahkan mesin besar yang rusak. Sebuah fragmen kaca kokpit ditemukan di antara reruntuhan. Hans kemudian mengenalinya dengan cara yang sangat sederhana dan mengerikan: kaca itu adalah benda yang pernah berada di depan mata kakeknya ketika pesawat tersebut masih terbang.

Penggalian belum berjalan lama ketika sebuah senapan mesin kaliber .50 muncul. Kemudian fragmen tulang. Kemudian dua dog tag.

Pada keduanya terdapat nama yang selama puluhan tahun hanya hidup dalam surat, berkas, makam, dan ingatan keluarga: Lt. Loren Hintz.

Orang dapat membayangkan benda kecil itu terasa berat di tangan, meskipun berat sebenarnya hampir tidak berarti. Logamnya berkarat, tanah masih melekat, tulisan mungkin tidak lagi tampak sempurna. Tetap saja nama itu terbaca. Tujuh puluh satu tahun telah berlalu, dan benda yang dirancang tentara agar identitas seorang manusia tidak hilang justru harus menunggu cucunya datang dari Amerika untuk melakukan pekerjaannya.

National WWII Museum kemudian merekam kesaksian Gretchen Hintz-Wronka. Ia bercerita tentang ayah yang tidak pernah sempat dikenalnya, tentang ibunya, tentang perjalanan ke Italia, tentang pertemuan dengan orang-orang yang menyaksikan jatuhnya pesawat, dan tentang penggalian ketika P-47, dog tag, serta fragmen tulang ayahnya keluar dari tanah. Dalam rekaman itu, perang terasa jauh lebih kecil dan lebih menyakitkan daripada peta Eropa. Seorang perempuan tua sedang berbicara tentang ayahnya.

November 2019, sisa-sisa tambahan Loren dimakamkan di Florence American Cemetery dengan penghormatan militer. Anak-anaknya, Martin dan Gretchen, hadir. Foto resmi Angkatan Darat Amerika menunjukkan mereka berdiri dalam upacara untuk seorang ayah yang meninggal sebelum putranya lahir dan sebelum putrinya sempat mengenalnya.

Bagi negara, proses itu selesai dengan pemakaman. Bagi keluarga, bagian yang paling aneh sudah terjadi tiga tahun sebelumnya, di sebuah ladang dekat Bagnarola. Mereka akhirnya berdiri di tempat yang selama puluhan tahun hanya berupa kata: Italia.

Tanahnya masih ada. Rumah yang pernah terbakar ketika pesawat jatuh sudah menjadi bagian dari sejarah lokal. Pesawatnya sudah tinggal serpihan. Orang-orang yang melihatnya jatuh sudah tua atau telah meninggal. Seorang anak yang lahir dua bulan setelah ayahnya dinyatakan hilang berdiri di sana sebagai lelaki tua.

Di tanah itu, seseorang menemukan dua keping logam kecil. Nama Loren Hintz sudah selesai dicetak di sana sejak 1945. Keluarganya baru membacanya pada 2016.


Related

Sejarah 3108127951129748068

Posting Komentar

Jangan menyisipkan link ke dalam komentar, karena akan ditandai sebagai spam.

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item