Robert Fred Van Heck, Nama yang Tertinggal di Pantai Tarawa

Robert Fred Van Heck, Nama yang Tertinggal di Pantai Tarawa
Ilustrasi milik BSM
Sersan Robert Fred Van Heck sempat menulis surat kepada keluarganya sebelum berangkat ke Pantai Tarawa. Isinya pendek, tetapi kalimatnya terasa ganjil setelah dibaca bersama apa yang terjadi kemudian: “Don’t count on me coming home this spring as we had planned.” 

Keluarganya belum sempat mengubah kalimat itu menjadi kenangan ketika telegram datang, kira-kira setengah jam setelah mereka membacanya, membawa kabar bahwa Van Heck tewas dalam pertempuran. 

Van Heck lahir di Chicago pada 18 September 1918. Alamat keluarganya tercatat di 2051 Fargo Avenue, Chicago, dan ibunya bernama Vivian Van Heck. Ia masuk Korps Marinir pada 2 Oktober 1940, kemudian menjadi awak amphibian tractor, kendaraan berantai yang dapat bergerak dari kapal menuju pantai dan menjadi bagian penting dari operasi pendaratan Amerika di Pasifik. 

Unitnya adalah Company A, 2nd Amphibious Tractor Battalion, 2nd Marine Division. Guadalcanal sudah dilewatinya. Tarawa menjadi tempat terakhirnya. Kendaraan yang membawanya ke pantai bernama Wabbit Twacks, LVT-1 dengan nomor lambung 13½. Nama itu berasal dari tokoh kartun Bugs Bunny, sementara angka 13 diberi tambahan ½ untuk mengusir kesialan. Ironinya agak kasar: tiga orang di dalam kendaraan itu, Van Heck, Claire E. Goldtrap, dan Calvin Hackler, memang sedang menuju tempat yang membuat angka sial terasa sebagai lelucon yang buruk. 

Pagi 20 November 1943, Wabbit Twacks bergerak menuju Red Beach 1 di Betio, bagian dari Tarawa Atoll yang dikuasai Jepang. Armada pendaratan Amerika menghadapi persoalan yang kemudian menjadi salah satu gambaran paling terkenal dari pertempuran tersebut: air laut ternyata terlalu dangkal untuk memungkinkan kapal-kapal pendarat mendekati pantai. LVT harus menyeberangi terumbu karang dan membawa pasukan melewati ratusan yard wilayah terbuka yang berada di bawah tembakan Jepang. 

DPAA (Defense POW/MIA Accounting Agency, sebuah badan di bawah Departemen Pertahanan AS) menggambarkan pendaratan pertama sebagai fase yang menelan korban Amerika dalam jumlah sangat besar. Di dalam LVT, suasananya tidak heroik dalam pengertian yang biasa dipakai dalam buku sejarah. Mesin bergetar, logam berderak, orang-orang berteriak, laut dan asap bercampur menjadi satu. 

Kapal-kapal Amerika menembakkan meriam ke pulau, sementara dari daratan Jepang menjawab dengan senapan mesin, mortir, dan artileri. Seorang marinir yang berada di salah satu LVT lain mengingat suara tembakan yang begitu keras, sampai suara mesin kendaraan nyaris tenggelam di dalamnya. Beberapa orang muntah sebelum mencapai pantai. Mereka belum bertempur, tetapi tubuh mereka sudah memberi tahu bahwa sesuatu yang buruk sedang menunggu di depan. 

Sekitar pukul 9.10 pagi, Wabbit Twacks mencapai Red Beach 1. LVT itu berhenti di dekat seawall yang tingginya sekitar empat kaki, dengan gundukan pasir di atasnya. Pasukan dari I Company, 3rd Battalion, 2nd Marines, turun dari kendaraan. Van Heck dan Hackler keluar untuk mengoperasikan senapan mesin, sementara Goldtrap sibuk mengeluarkan amunisi. Kendaraan itu berada sangat dekat dengan posisi Jepang, sehingga Hackler bahkan kesulitan menurunkan laras senapan mesinnya. Ia meminta Goldtrap mundur sedikit.

Goldtrap memasukkan kendaraan ke posisi mundur. Sebuah peluru artileri atau mortir meledak tepat di depan mereka. Goldtrap berhenti. Ledakan kedua jatuh di belakang. Kendaraan itu sedang dikurung dalam tembakan silang.

Van Heck melihat apa yang sedang terjadi lebih cepat daripada yang lain. Ia berteriak kepada Goldtrap, “Goldy, they have us in a bracket! Let’s get out of here!” Ketiganya kembali masuk ke kabin. Goldtrap mencoba memundurkan LVT.

Ledakan ketiga menghantam kendaraan.

Hackler terpental dan terluka parah. Ketika asap mulai menipis, ia memanggil Goldtrap dan Van Heck. Tidak ada jawaban. Kedua orang itu berada di sisi kabin yang menerima hantaman langsung dan tewas seketika. Hackler berhasil keluar dengan lengan patah, dan kemudian mengetahui bahwa potongan tulang yang semula ia kira miliknya ternyata berasal dari tubuh Goldtrap.

Bagian itu terasa mengerikan untuk ditulis, karena detailnya begitu fisik. Tidak perlu metafora. Kabin LVT adalah ruang sempit dari logam yang baru saja dihantam ledakan; di dalamnya terdapat tiga awak, dua sudah mati, satu terluka, sementara pertempuran masih berlangsung beberapa meter dari kendaraan. 

Wabbit Twacks kemudian menjadi bangkai kendaraan di Red Beach 1. Kamera Korps Marinir yang mendokumentasikan kehancuran Tarawa bahkan menangkap kendaraan tersebut di pantai. Nama Van Heck kemudian masuk ke dalam administrasi kematian perang dengan cara yang jauh lebih dingin. Catatan menyebut tubuhnya tidak ditemukan. Sebuah makam peringatan dibuat di Cemetery 11, Grave 3, Row 3, Plot 3. 

Ketika operasi pemakaman dan pemindahan jenazah dilakukan setelah perang, makam semacam itu ternyata tidak selalu berarti tubuh benar-benar berada di bawah penanda tersebut. Banyak penanda di Tarawa hanyalah penanda memorial. 

Pada 1946, 604th Quartermaster Graves Registration Company menggali kembali kuburan-kuburan di Betio dan mengumpulkan jenazah yang ditemukan ke Lone Palm Cemetery. Salah satu jenazah yang tidak dapat diberi nama adalah kerangka yang kemudian diberi kode X-265. Pada 1947, jenazah tersebut dikirim ke Hawaii. Pemeriksaan saat itu tidak mampu mengungkap identitasnya. X-265 kemudian dikuburkan di National Memorial Cemetery of the Pacific, Honolulu, Plot E, Grave 855.

Nama Robert Fred Van Heck terus berada dalam daftar orang hilang. X-265 hidup sebagai nomor. Dua identitas itu berjalan sendiri-sendiri selama puluhan tahun.

Pada 2011–2012, seorang mantan pejabat investigasi Departemen Pertahanan, bernama Rick Stone, mulai memeriksa kasus-kasus Tarawa yang belum terselesaikan. Stone menggunakan sistem yang ia kembangkan sendiri, Random Incident Statistical Correlation System, untuk mencocokkan data korban yang belum teridentifikasi dengan jenazah tanpa nama di Punchbowl. Laporannya pada Desember 2011 menyebut X-265 memiliki 93 kemungkinan kecocokan, yang kemudian dipersempit menjadi 20 kemungkinan lebih kuat dan delapan most likely matches. Van Heck termasuk di dalam kelompok tersebut.

Pekerjaan itu tidak langsung menghasilkan nama. X-265 masih menjadi X-265. Pemerintah kemudian melakukan penggalian terhadap sejumlah jasad tak dikenal di Tarawa, termasuk X-265, pada 2017. Sisa-sisa tersebut menjalani pemeriksaan antropologis dan analisis DNA mitokondria. Jenis DNA itu berguna untuk melacak garis keturunan maternal, sehingga hubungan dengan kerabat tertentu dapat diuji meskipun tubuh telah berada di dalam kuburan selama puluhan tahun. Hasilnya mengarah kepada Robert Van Heck. 

Secara administratif, Van Heck dinyatakan accounted for pada 13 April 2023. Detail waktunya agak aneh: informasi publik mengenai proses tersebut baru muncul kemudian, sementara konfirmasi lebih lanjut mengenai kecocokan X-265 dengan Van Heck muncul dalam dokumentasi DPAA pada 2024. Jadi tahun 2023 adalah tanggal resmi identifikasi yang perlu digunakan untuk kronologi, sedangkan 2024 berkaitan dengan konfirmasi dan perkembangan administratif berikutnya. 

Pada akhirnya, keluarga tidak menerima seseorang yang baru ditemukan. Mereka menerima nama yang selama delapan puluh tahun hanya hadir dalam bentuk surat, telegram, catatan militer, sebuah makam peringatan, dan nomor X-265. Jenazah Van Heck kemudian dipulangkan ke Illinois dan dimakamkan di Queen of Heaven Catholic Cemetery, Hillside. Pemakaman tersebut berlangsung pada Januari 2025.

Di Tarawa, Wabbit Twacks sudah lama menjadi bangkai yang ditinggalkan di pasir. Nomor 13½ tidak pernah membawa Van Heck pulang. Yang pulang jauh lebih belakangan justru sesuatu yang selama perang terasa remeh: namanya.

Robert Fred Van Heck.

Seratusan yard dari sana, laut masih datang dan pergi melewati karang Betio. X-265 sudah tidak punya pekerjaan lagi.


Related

Sejarah 5855369738073493088

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item