28 Days Later, Seorang Pria Terbangun dari Koma di Hari Kiamat

Ilustrasi/kompas.com
Keheningan ternyata bisa lebih mengganggu daripada jeritan. Hampir semua film kiamat sibuk menunjukkan dunia yang runtuh melalui ledakan, lalu lintas yang kacau, orang-orang berlarian, layar televisi yang dipenuhi siaran darurat. 28 Days Later memilih jalan yang nyaris berlawanan. 

Seorang pria bernama Jim terbangun dari koma di Rumah Sakit St Thomas, mencabut infus dari lengannya, berjalan keluar, dan mendapati London seperti kehilangan seluruh penghuninya. Westminster Bridge kosong. Whitehall lengang. Tumpukan uang pecahan dua puluh pound berserakan di trotoar tanpa seorang pun membungkuk mengambilnya. Beberapa kaleng minuman menggelinding pelan tertiup angin. Dunia tidak tampak hancur. Dunia tampak ditinggalkan.

Danny Boyle memahami satu hal yang sering luput dari film-film bertema wabah: peradaban tidak hanya dibangun oleh gedung, jalan raya, atau jaringan listrik. Peradaban hidup karena manusia terus saling mengganggu. Orang mengantre di halte, mengeluh di kasir, membunyikan klakson, bertengkar di pub, mengobrol di bangku taman. Begitu gangguan-gangguan kecil itu menghilang, kota berubah menjadi benda mati. London dalam 28 Days Later bukan kota yang rusak. London berubah menjadi museum yang lupa ditutup.

Pengambilan gambar di pusat kota menjadi salah satu kisah produksi yang hampir sama menariknya dengan filmnya sendiri. Boyle bersama sinematografer Anthony Dod Mantle merekam beberapa lokasi ikonik pada dini hari dengan waktu yang sangat terbatas. Trafalgar Square, Piccadilly Circus, Westminster Bridge—semuanya harus direkam sebelum lalu lintas kembali hidup. 

Kamera digital Canon XL1 yang mereka gunakan saat itu bahkan dianggap terlalu sederhana untuk film layar lebar. Keputusan itu belakangan justru menjadi identitas visual film. Gambarnya kasar, sedikit pecah, kadang tampak seperti rekaman berita amatir. Dua dekade kemudian, tekstur tersebut masih terasa segar karena tidak berusaha terlihat indah.

Film ini sering disebut sebagai kebangkitan genre zombie pada awal 2000-an. Sebutan itu praktis, meski kurang tepat. Orang-orang yang terinfeksi Rage Virus sebenarnya masih hidup. Mereka tidak bangkit dari kematian seperti mayat-mayat karya George A. Romero. Mereka tetap bernapas, darah masih mengalir, hanya seluruh rem emosinya dicabut dalam hitungan detik. 

Alex Garland, penulis naskahnya, tampaknya memang tidak tertarik pada mayat hidup. Ia jauh lebih tertarik pada kemarahan sebagai penyakit. Rage Virus bukan sekadar alat untuk menciptakan monster. Virus itu bekerja seperti eksperimen yang menghapus lapisan-lapisan tipis yang sebelumnya membuat manusia mampu hidup bersama.

Jim bertemu Selena, diperankan Naomie Harris, yang mungkin menjadi karakter paling menarik di sepanjang film. Selena tidak memiliki kemewahan untuk menjadi sentimental. Ketika Mark terinfeksi hanya karena setetes darah masuk ke matanya, Selena membunuhnya beberapa detik kemudian dengan ayunan parang. Tidak ada musik sedih. Tidak ada perdebatan moral yang panjang. Tubuh Mark bahkan belum sempat benar-benar jatuh ketika Selena sudah menarik Jim untuk terus berlari. 

Adegan itu terasa dingin, hampir kejam. Beberapa menit kemudian penonton mulai menyadari bahwa dunia baru memiliki hukum yang sama sekali berbeda. Kecepatan mengambil keputusan lebih berharga daripada kesetiaan.

Alex Garland beberapa kali mengatakan bahwa ia terpengaruh novel The Day of the Triffids karya John Wyndham, tetapi naskah 28 Days Later terasa lebih dekat dengan eksperimen sosial daripada horor murni. Hampir setiap kelompok manusia yang ditemui Jim sedang mencoba membangun ulang bentuk masyarakatnya sendiri. 

Frank dan Hannah mempertahankan keluarga kecil mereka di sebuah apartemen tinggi, lengkap dengan lampu Natal yang masih menyala. Mayor Henry West membangun komunitas militer di sebuah rumah besar dekat Manchester. Selena membangun aturan yang hanya terdiri dari satu prinsip: bertahan hidup lebih dulu. 

Tidak ada yang benar-benar berhasil.

Frank, dimainkan Brendan Gleeson, membawa energi yang berbeda. Kehadirannya membuat film sempat terasa hangat. Ia masih bisa bercanda. Ia masih menyimpan sebotol crème de menthe untuk dirayakan ketika keadaan membaik. Mobil taksi hitam yang dikendarainya melintasi terowongan Blackwall, pom bensin yang kosong, hingga jalan-jalan pedesaan menjadi semacam jeda setelah kepungan beton London. Boyle memberi ruang bagi penonton untuk bernapas. Mata mulai rileks melihat hamparan hijau, langit terbuka, kincir angin yang berputar pelan. Rasa aman itu tidak bertahan lama.

Kematian Frank termasuk salah satu adegan yang paling sederhana sekaligus paling menyakitkan. Seekor burung gagak hinggap di atas papan reklame. Bangkai orang terinfeksi tersangkut di sana. Setetes darah jatuh tepat ke mata Frank. Hanya setetes. 

Boyle tidak memilih ledakan besar atau serangan massal. Hidup seorang ayah berakhir karena gravitasi bekerja sebagaimana mestinya. Brendan Gleeson sempat memeluk Hannah beberapa detik sebelum tentara menembaknya. Adegan itu berlalu cepat. Film tidak memberi waktu untuk berkabung.

Bagian ketiga film sering memecah penonton. Banyak yang menganggap ancaman berubah arah ketika Jim, Selena, dan Hannah tiba di markas Mayor West. Orang-orang terinfeksi justru mulai tersisih oleh sekelompok tentara yang berniat menjadikan dua perempuan tersebut sebagai "hadiah" bagi pasukannya. 

Saya menganggap itulah bagian paling jujur dari seluruh film. Garland seperti sengaja mengingatkan bahwa wabah tidak otomatis menghapus hasrat lama manusia terhadap kuasa. Ketika negara runtuh, seragam masih bisa menjadi alat untuk mendominasi. Mayor West bukan psikopat yang kehilangan akal. Ia memiliki logika sendiri. Pasukannya kehilangan harapan. Mereka membutuhkan alasan untuk tetap hidup. Penjelasan itu terdengar masuk akal beberapa detik, kemudian terasa menjijikkan.

Christopher Eccleston memainkan West dengan cara yang menarik. Ia tidak berteriak-teriak. Ia berbicara pelan, kadang bahkan terdengar sopan. Penjahat yang terlalu sadar bahwa dirinya penjahat biasanya mudah ditebak. West tidak tampak seperti orang yang merasa sedang berbuat jahat. Ia lebih mirip administrator yang percaya semua pengorbanan memiliki harga yang layak dibayar. Tatapan matanya tetap tenang ketika menjelaskan rencana masa depan markas tersebut. Ketenangan seperti itu sering lebih mengganggu daripada kemarahan.

Jim sendiri mengalami perubahan yang tidak selalu dibicarakan ketika orang mengulas film ini. Cillian Murphy memulai cerita sebagai laki-laki yang kebingungan mencari keluarganya. Menjelang akhir, tubuhnya bergerak hampir secepat orang-orang yang terinfeksi. Ia menyelinap melalui lorong rumah besar, menyerang dari balik bayangan, mencungkil mata seorang prajurit dengan ibu jarinya, membunuh tanpa banyak bicara

Boyle bahkan beberapa kali merekam Murphy dengan sudut rendah dan cahaya minim, sehingga wajahnya mulai sulit dibedakan dari makhluk yang sedang diburunya. Selena sempat mengira Jim telah terinfeksi sebelum akhirnya menyadari ia masih manusia. Momen itu lewat begitu cepat, tetapi menyisakan kesan yang aneh. Rage Virus memang tidak pernah masuk ke tubuh Jim. Sesuatu yang lain tampaknya sudah lebih dulu masuk.

John Murphy mengisi film dengan musik yang kini hampir menjadi ikon tersendiri. "In the House – In a Heartbeat" muncul perlahan, berulang, membangun ketegangan tanpa tergesa-gesa. Lagu itu tidak terdengar megah. Ritmenya seperti denyut yang terus memaksa kepala menghitung waktu. 

Beberapa adegan jadi jauh lebih kuat karena Boyle berani membiarkan suara angin, langkah kaki, atau napas para pemain mengambil alih sebelum musik masuk. Telinga terbiasa mendengar ruang kosong. Ketika dentingan gitar Murphy akhirnya muncul, tubuh sudah lebih dulu tegang.

Film ini dibuat dengan anggaran sekitar delapan juta dolar, angka yang relatif kecil bahkan untuk ukuran awal 2000-an. Keterbatasan dana justru mendorong Boyle membuat banyak keputusan yang terasa berani. Kamera digital murah. Kru yang ringkas. Lokasi nyata. Cahaya alami sebanyak mungkin. 

Banyak film pasca-apokaliptik menghabiskan biaya besar untuk menciptakan dunia yang runtuh. 28 Days Later menemukan kiamat di jalan-jalan yang sebenarnya masih berdiri utuh. Mungkin karena itu beberapa gambarnya terasa begitu membekas. Kota tidak berubah menjadi puing-puing. Kota hanya kehilangan manusia yang biasa mengisinya.

Selama bertahun-tahun, orang memperdebatkan apakah film ini benar-benar tentang zombie, tentang wabah, atau tentang kritik terhadap militer. Rasanya pembahasan itu tidak pernah benar-benar selesai. Saya justru terus kembali pada gambar Jim yang berjalan sendirian di Whitehall sambil membawa kantong plastik berisi minuman kaleng yang ia ambil dari mesin otomatis. Jalan selebar itu kosong. Lampu lalu lintas masih bekerja. Tempat sampah masih berdiri di trotoar.

Seekor gagak melintas rendah.


Related

Entertainment 1676190417627937

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item