Lelaki Tanpa Nama yang Tersimpan dalam Arsip Perang Dunia II
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/lelaki-tanpa-nama-yang-tersimpan-dalam.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Ada seorang lelaki yang harus mengarang dirinya sendiri sebelum tentara Australia mau menerimanya. Tanggal lahir dibuat berbeda. Tempat lahir diubah. Nama ibu dipalsukan. Nama sendiri pun dibuat tidak benar. Pada lembar Attestation Papers, hampir seluruh identitasnya adalah hasil rekaannya. Ketika Australian War Memorial kemudian menemukan dokumen-dokumen itu dalam penelitian untuk daftar Indigenous service Perang Dunia II, peneliti Danusha Cubillo langsung curiga: orang tidak memalsukan hampir seluruh hidupnya di formulir militer tanpa alasan.
Alasannya ternyata cukup buruk. Ia pernah mencoba mendaftar sebelumnya dan ditolak karena Aboriginal (sebutan untuk penduduk asli/pribumi Australia sebelum kedatangan bangsa Eropa). Setelah itu ia kembali dengan identitas baru. Ia mengambil hidupnya sendiri, mengacak tanggal dan tempat kelahiran, mengganti nama, mengubah cerita tentang ibunya, lalu menyerahkan versi palsu tersebut kepada negara. Negara menerimanya. Seragam diberikan. Ia menjadi tentara.
Bagian yang mengganggu dari cerita ini justru bukan kebohongannya. Tentara sedang berperang; orang mengubah umur agar terlihat lebih muda, menyembunyikan penyakit, atau mengaku memiliki pengalaman yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Kebohongan semacam itu sudah lama jadi bagian dari dunia perekrutan. Yang ganjil di sini adalah alasan mengapa seorang lelaki harus berbohong tentang menjadi dirinya sendiri.
Australia pada awal Perang Dunia II belum menyediakan jalan yang sederhana bagi penduduk asli Australia untuk masuk angkatan bersenjata. Pada 1940, Defence Committee memutuskan bahwa perekrutan Aboriginal dan Torres Strait Islander (penduduk Kepulauan Selat Torres) dianggap “neither necessary nor desirable”. Salah satu alasannya sangat terus terang: dikhawatirkan orang kulit putih Australia akan keberatan bertugas bersama mereka.
Kalimat administratif seperti itu memiliki efek yang sangat fisik. Ia menentukan siapa yang boleh mengenakan khaki, siapa yang boleh menerima senapan, siapa yang boleh berdiri dalam barisan ketika perwira memeriksa seragam. Warna kulit, yang tidak bisa diubah ketika seseorang masuk kantor perekrutan, tiba-tiba jadi semacam dokumen yang lebih menentukan daripada keberanian atau kesehatan.
Para lelaki penduduk asli tetap datang.
Di Lake Tyers, East Gippsland, puluhan lelaki mendaftar pada Juni dan Juli 1940. Edward Leslie “Chook” Mullett dikenal sebagai ruckman terbaik tim sepak bola Lake Tyers; Joe Wandin adalah petinju yang pernah bepergian bersama tim Roy Bell; Noel Ernest Hood adalah juara rover tim sepak bola setempat. Mereka menjalani pemeriksaan medis, mengenakan seragam, berlatih di No. 9 Army Camp di Wangaratta, kemudian dipindahkan ke Caulfield dan Darley. Surat kabar menyambut mereka. Cinesound bahkan membuat film tentang mereka sebagai “the only all-Aboriginal squad in the AIF”.
Pemandangan itu terasa absurd kalau seluruh latarnya diketahui. Negara yang baru saja memutuskan bahwa orang Aboriginal tidak diperlukan dalam tentara ternyata bisa memotret mereka berbaris sebagai simbol patriotisme. Mereka dipuji sebagai orang Australia tertua, memiliki tradisi bertempur ribuan tahun, dan disebut sukarelawan yang mencintai negeri mereka. Kamera bergerak, seragam rapi, tubuh-tubuh muda berdiri tegak. Kemudian administrasi datang membawa pensil.
Pada 24 Maret 1941, para sukarelawan Lake Tyers diberhentikan. Catatan resmi pada berkas mereka berbunyi: “Service no longer required – not due to misconduct or discreditable service.” Mereka tidak melakukan kesalahan. Mereka hanya menjadi terlalu Aboriginal untuk tetap berada di dalam tentara.
Lelaki yang membuat identitas palsu tadi mengambil jalan yang berbeda. Ia tidak berdiri sebagai bagian dari “special platoon” yang mudah dikenali sebagai Aboriginal. Ia menyelinap melalui celah yang diciptakan oleh birokrasi sendiri. Selama identitasnya terbaca sebagai identitas seorang lelaki yang boleh diterima, ia dapat masuk.
Kemudian masalahnya muncul lagi di tempat yang tidak bisa diselesaikan dengan tinta.
Ia pernah menghadapi beberapa court martial. Dalam salah satu persidangan, ia menjelaskan bahwa ia mengalami kesulitan di beberapa unit karena warna kulitnya, dan karena ia adalah seorang “half-caste Aboriginal”, istilah yang ia sendiri gunakan dalam keterangannya.
Ia juga menceritakan sesuatu yang lebih sederhana dan mungkin justru lebih menyakitkan: ketika pergi ke sebuah pub, ia tidak dilayani karena Aboriginal. Ia mengenakan seragam militer. Negara menganggapnya cukup Australia untuk bertempur, tetapi sebuah pub masih menganggap warna kulitnya sebagai alasan untuk menolak segelas minuman.
Ia kemudian dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan “desertion”, tetapi bersalah karena “absent without leave”. Penjelasannya bukan bahwa ia ingin meninggalkan tentara. Ia mengatakan perlakuan berbeda karena warna kulit sudah tidak tertahankan.
Saya suka bagian cerita ini justru karena ia tidak memberi kita pahlawan yang bersih. Lelaki tersebut berbohong. Ia melanggar aturan. Ia bermasalah dengan disiplin. Ia beberapa kali berurusan dengan pengadilan militer. Kalau kisah ini ditulis terlalu rapi, semua kekacauan tersebut mudah disapu ke bawah karpet demi menghasilkan seorang korban yang sempurna. Padahal manusia jarang serapi itu, terutama ketika hidupnya dipaksa bergerak melalui aturan yang tidak masuk akal.
Kebohongan pada Attestation Papers juga menjadi semacam dokumen sejarah yang aneh. Negara menyimpan versi palsu tentang dirinya selama bertahun-tahun, lalu penelitian membongkar kepalsuan tersebut untuk menemukan orang yang sebenarnya. Nama palsu justru membantu mengembalikan nama asli.
Di sinilah pekerjaan Australian War Memorial menjadi penting. Sebelum 1980, formulir pendaftaran militer Australia memang tidak secara rutin menanyakan apakah seseorang pribumi. Akibatnya, identitas pribumi banyak prajurit tidak muncul dalam catatan resmi. Sebagian baru diketahui dari keturunan, arsip keluarga, surat kabar, silsilah, foto, dan penelitian bertahun-tahun kemudian.
Daftar Indigenous service Perang Dunia II yang diterbitkan Memorial pada 2020 masih merupakan dokumen hidup; nama baru terus ditemukan, dan beberapa nama dihapus setelah penelitian menunjukkan bahwa orang tersebut bukan pribumi.
Itu membuat kisah lelaki tanpa nama tadi semakin ganjil. Kita tahu ia pernah berbohong tentang tanggal lahirnya. Kita tahu ia memalsukan tempat lahir. Kita tahu nama ibunya dibuat-buat. Kita tahu ia bahkan menggunakan nama yang bukan namanya. Kita tahu ia pernah ditolak karena pribumi, kemudian mencoba lagi dengan identitas baru.
Kita tahu ia bertugas, mengalami diskriminasi, menghadapi court martial, dan pada akhirnya kisahnya ditemukan oleh seorang peneliti yang sedang mencari orang-orang yang nyaris hilang dari sejarah resmi. Nama lelaki itu sengaja tidak dipublikasikan oleh Memorial untuk menghormati keinginan keluarga dan keturunannya.
Ada ironi kecil yang sulit dilepaskan dari semua ini. Ia berbohong supaya bisa menjadi tentara Australia. Puluhan tahun kemudian, orang lain harus meneliti arsip Australia untuk membuktikan bahwa lelaki tersebut memang pribumi dan memang pernah menjadi tentara Australia.
Birokrasi pertama-tama meminta dia menghapus dirinya dari kertas. Birokrasi yang sama, beberapa generasi kemudian, dipakai untuk mencarinya kembali.
Michael Bell, Indigenous Liaison Officer di Memorial, mengatakan bahwa banyak lelaki Aborigin pada masa perang mengubah nama, tempat lahir, heritage, bahkan nationality, supaya bisa mendaftar. Dalam banyak kasus, setelah mereka berhasil masuk, mereka justru diperlakukan lebih setara daripada dalam kehidupan sipil. Seragam menciptakan semacam ruang sementara tempat warna kulit kadang jadi kurang penting. Begitu seragam dilepas, hukum dan kebiasaan sosial kembali mengambil alih.
Karena itulah cerita tentang satu nama palsu terasa lebih mengganggu daripada daftar panjang angka korban. Angka memberi kita skala. Formulir memberi kita kebiasaan. Nama yang dipalsukan memberi kita tindakan yang sangat kecil: seorang lelaki duduk di hadapan petugas perekrutan, memegang pena, melihat bagian formulir yang meminta siapa dirinya, lalu menulis sesuatu yang tidak benar karena jawaban yang benar bisa membuat pintu tertutup.
Kertasnya masih tersimpan. Identitas palsunya masih terbaca. Nama aslinya, untuk sementara, tetap disimpan dari kita.
Setidaknya kali ini arsip tidak menang sepenuhnya. Ia gagal mengenali orang itu ketika masih hidup sebagai prajurit, lalu bertahun-tahun kemudian arsipnya sendiri menjadi alasan seseorang mencarinya.
Catatan terkait: Perempuan Manipuri dan Pesawat yang Datang Membawa Perang
.jpg)

