Para Raksasa dalam Sejarah Blogging: Twitter Sebelum Twitter

Ilustrasi/exabytes.co.id
Sebelum Twitter membuat semua orang merasa harus mempunyai pendapat tentang segala sesuatu dalam 280 karakter, pendapat-pendapat itu sudah beterbangan di internet. Hanya saja bentuknya lebih merepotkan. Seseorang menulis di blognya, orang lain membaca, merasa tersinggung atau tertarik, kemudian menulis bantahan di blog sendiri. Pembaca harus berpindah halaman untuk mengikuti pertengkaran mereka. Tidak ada satu timeline yang menyatukan semuanya. 

Justru karena itulah arsip blog teknologi awal 2000-an terasa aneh ketika dibaca sekarang: percakapannya hidup, tetapi tempat percakapannya tercerai-berai.

Nama-nama yang muncul berulang kali membentuk semacam lingkungan sosial kecil. Dave Winer menulis tentang RSS, blogging, podcasting, dan masa depan internet dari Scripting News. Robert Scoble membicarakan Microsoft, startup, konferensi, dan kehidupan industri teknologi dengan energi yang hampir tidak pernah habis. Jeremy Zawodny menulis dari dalam Yahoo, kadang membahas search, kadang membicarakan hal yang jauh lebih teknis. 

Jeff Jarvis mengomentari media dan Google. Matt Cutts muncul dari sisi Google, terutama ketika perdebatan menyentuh spam dan pencarian. Om Malik bergerak dari blog pribadi menuju jurnalisme teknologi yang lebih serius. Michael Arrington kemudian membuat TechCrunch menjadi tempat orang mencari kabar startup. Nick Denton membangun Gawker dengan naluri yang lebih agresif dan jauh lebih suka mengorek kehidupan orang. Jason Calacanis bergerak di antara blog, startup, media, dan jaringan orang-orang teknologi.

Mereka tidak selalu sepakat. Justru ketidaksepakatan itulah yang membuat ekosistem tersebut terasa seperti komunitas, bukan daftar nama terkenal. Satu orang menulis sesuatu pada pagi hari. Siang harinya seseorang mengutipnya. Sore hari, orang ketiga membantah kutipan tersebut. Malamnya, orang pertama memperbarui tulisannya atau menulis tulisan baru. 

Pembaca yang mengikuti semuanya harus membuka banyak tab browser. Pada koneksi internet zaman itu, proses tersebut bisa terasa cukup lambat. Halaman demi halaman muncul, iklan kecil bergerak, komentar bertambah, dan seseorang di ujung lain dunia sedang mengetik balasan yang belum kita ketahui.

Dave Winer sangat penting dalam kebiasaan semacam itu, karena blog baginya bukan sekadar tempat menyimpan artikel. Scripting News sudah menjadi aliran pemikiran harian yang sangat personal. Ia dapat berpindah dari spesifikasi teknis ke politik internet, kemudian ke seseorang yang baru ditemuinya di konferensi, kemudian kembali lagi ke RSS. Bentuknya tidak seperti majalah. Pembaca datang bukan untuk satu artikel yang selesai dibaca dalam lima menit. Mereka datang untuk melihat apa yang dipikirkan Dave hari itu.

Kebiasaan tersebut kemudian muncul dalam bentuk berbeda pada Robert Scoble. Blog Scoble sering terasa seperti jendela yang dibiarkan terbuka ke tengah industri teknologi. Ia menghadiri konferensi, bertemu orang, menguji produk, menulis tentang Microsoft, lalu kembali menanggapi komentar. Ketika video blogging mulai berkembang, kamera menjadi bagian dari kebiasaan itu. Orang tidak lagi hanya membaca apa yang dipikirkan seorang blogger; mereka mulai mengikuti suara, wajah, perjalanan, dan orang-orang yang ditemuinya.

Jeff Jarvis membawa jenis energi lain. Ia menulis tentang media tradisional yang sedang kehilangan kendali, tentang hubungan antara jurnalisme dan pembaca, tentang Google, dan tentang perubahan besar yang sedang terjadi pada bisnis berita. Ia punya posisi yang menarik, karena berbicara dari dunia media lama sekaligus sangat tertarik pada bentuk media baru. Blog menjadi tempat untuk menguji gagasan sebelum gagasan tersebut masuk ke kolom surat kabar, buku, atau konferensi.

Michael Arrington mengambil model percakapan tersebut dan membuatnya jauh lebih kompetitif. TechCrunch mulai menerbitkan berita startup dengan kecepatan yang membuat media teknologi tradisional kelabakan. Sebuah perusahaan baru didirikan di Silicon Valley, seseorang mendapatkan pendanaan, sebuah produk diluncurkan, seorang pendiri melakukan sesuatu yang dianggap bodoh—TechCrunch akan membicarakannya. 

Arrington tidak menulis seperti editor majalah yang menunggu artikel selesai dipoles. Ia menulis dengan kesadaran bahwa orang lain sedang membaca dan siap menanggapi.

Itu mengubah kecepatan informasi. Seorang pendiri startup tidak lagi hanya menunggu wartawan datang melakukan wawancara. Ia bisa bangun pagi dan menemukan perusahaannya sudah jadi bahan pembicaraan. Kemudian ia mengirim email kepada Arrington. Blogger lain ikut menulis. Pembaca meninggalkan komentar. Pendiri menjawab. Perdebatan berkembang. Beberapa jam kemudian cerita yang sama sudah memiliki bentuk berbeda.

Nick Denton memahami mekanisme perhatian tersebut dengan cara yang jauh lebih kasar. Gawker tidak terlalu peduli dengan kesopanan industri. Denton dan para penulisnya mengejar media, selebritas, editor, investor, dan orang-orang Silicon Valley dengan nada yang sering sengaja menyebalkan. Ketika Gawker menulis sesuatu tentang seseorang, orang tersebut dapat merespons di tempat lain, dan respons itu sendiri menjadi bahan tulisan berikutnya. Mesin tersebut tidak membutuhkan Twitter untuk bergerak.

Jason Calacanis hidup di bagian lain dari jaringan itu. Ia mengembangkan Weblogs Inc. dan kemudian berpindah ke berbagai proyek teknologi, sementara aktivitasnya di sekitar konferensi, startup, dan media membuat namanya terus beredar di antara blogger. 

Om Malik bergerak dari blogging menuju jurnalisme profesional dengan GigaOM, tetapi gaya awalnya tetap membawa ciri khas zaman ketika seorang penulis teknologi dapat membangun hubungan langsung dengan pembacanya.

Google menjadi salah satu topik yang paling sering membuat jaringan itu berisik. Jeremy Zawodny punya hubungan dengan Yahoo. Matt Cutts bekerja di Google. Dave Winer punya pandangan sendiri tentang keterbukaan internet. Jeff Jarvis berbicara tentang perubahan media. Blogger SEO seperti Aaron Wall mengawasi perubahan algoritma dengan kecemasan yang hampir patologis. Satu perubahan pada hasil pencarian dapat berarti penurunan trafik bagi sebuah situs, dan karena itu sebuah komentar kecil dari Google bisa diperiksa berkali-kali oleh komunitas webmaster.

Percakapan tersebut tidak mempunyai satu layar. Itu bagian yang sering hilang ketika sejarah blogging diringkas menjadi kalimat “blogger kemudian digantikan media sosial”. Tidak sesederhana itu. Blog menciptakan struktur sosial yang berbeda. Setiap orang memiliki alamat sendiri. Orang lain harus datang ke sana. Hubungan antarblog dibangun melalui tautan, komentar, RSS, blogroll, dan kebiasaan membaca.

RSS sangat penting dalam cerita ini. Pembaca tidak perlu mengingat puluhan URL. Feed reader mengumpulkan tulisan baru dari blog-blog yang diikuti. Pagi hari seseorang membuka agregator dan melihat Dave Winer menulis sesuatu, Jeremy Zawodny memperbarui blog, Om Malik menerbitkan berita, dan blogger lain menanggapi tulisan semalam. Secara mekanis, pengalaman tersebut tidak jauh dari timeline. Perbedaannya terasa dalam bentuk fisik: tulisan-tulisan itu masih memiliki rumah masing-masing.

Twitter kemudian menghapus kebutuhan untuk berpindah rumah. Semua suara mulai muncul di satu tempat. Balasan berada di bawah tulisan yang sama. Retweet mempercepat penyebaran. Trending topic mengubah percakapan kecil menjadi tontonan massal. Blogger yang dulu membutuhkan domain sendiri kini hanya perlu membuka aplikasi dan mengetik.

Ketika arsip lama dibaca sekarang, perubahan itu terasa sampai ke bentuk kalimat. Tulisan Dave Winer bisa panjang, berliku, kadang teknis. Scoble bisa menulis sesuatu yang memancing komentar. Arrington bisa menerbitkan berita yang belum selesai sepenuhnya. Orang lain mengutipnya dengan tautan. Tidak ada tombol “quote tweet”. Tidak ada notifikasi yang terus menyala di sudut layar. Tidak ada angka yang menunjukkan berapa orang sedang membaca percakapan tersebut.

Yang tersisa hanyalah halaman-halaman tua, tanggal publikasi, beberapa komentar yang masih bertahan, dan tautan yang kadang sudah mati.

Membuka satu arsip membawa kita ke arsip lain. Dari Dave Winer ke Robert Scoble, dari Scoble ke Microsoft, dari Microsoft ke Google, dari Google ke Matt Cutts, dari sana ke Yahoo dan Jeremy Zawodny, kemudian ke TechCrunch dan Michael Arrington. Satu nama mengantar ke nama berikutnya. Tidak ada algoritma yang memilihkan urutan.

Pembaca sendirilah yang tersesat.


Related

Internet 2031022368676778314

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item