Pray For Indonesia: Bencana di Tengah Semangat Kemerdekaan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/pray-for-indonesia-bencana-di-tengah.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Di media sosial, Indonesia beberapa hari terakhir tampak seperti sebuah negara yang sedang menyalakan terlalu banyak alarm sekaligus. Satu layar menampilkan bangunan dan jalan di Flores setelah gempa besar. Layar berikutnya memperlihatkan asap dari Kalimantan. Geser sedikit, muncul kabar tentang tanah Jawa yang kering, sumur yang makin susah, sawah yang menunggu hujan.
Kemudian Aceh: bencana yang secara administratif sudah masuk tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, tetapi kehidupan orang-orang di sana belum tentu sudah kembali ke bentuk semula.
Hashtag #PRAYFORINDONESIA kemudian muncul. Kalimat pendek, mudah diketik, mudah disalin, mudah ditempelkan di bawah foto. Ia bisa menjadi doa sungguhan. Ia juga bisa menjadi semacam refleks digital ketika terlalu banyak kabar buruk datang bersamaan dan kita tidak tahu harus melakukan apa selain mengangkat tangan secara simbolis.
Yang membuat rangkaian kabar itu terasa ganjil adalah waktunya. Indonesia baru saja merayakan ulang tahun kemerdekaan, dengan bendera merah putih di halaman sekolah, tiang-tiang jalan, gang kampung, kantor pemerintah, balkon rumah. Pada saat hampir bersamaan, sebagian wilayah negara sedang berhadapan dengan tanah yang berguncang, tanah yang mengering, hutan yang terbakar, dan wilayah yang masih sibuk memperbaiki kerusakan dari bencana sebelumnya.
Flores mendapat pukulan paling keras dalam rangkaian itu. Pada 15 Agustus pukul 04.58 WIB, gempa berkekuatan Mw 7,7 terjadi sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada kedalaman 15 kilometer. BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami; potensi tersebut kemudian dinyatakan berakhir.
Gempa utama berlalu dalam hitungan detik. Tubuh manusia tidak punya tombol untuk menghapus beberapa detik semacam itu. Setelahnya justru muncul pekerjaan yang panjang: memeriksa rumah, mencari keluarga, memastikan bangunan sekolah aman, mengangkut barang, tidur dengan kewaspadaan yang aneh karena lantai bisa bergerak lagi kapan saja.
Sampai 21 Agustus pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat 4.258 gempa susulan, termasuk 31 kejadian bermagnitudo di atas 5 pada rangkaian yang sebelumnya tercatat. BMKG memperkirakan aktivitas susulan masih mungkin berlangsung hingga sekitar empat minggu.
Angka 4.258 punya sifat yang agak kejam. Ia tidak memperlihatkan wajah orang yang terbangun ketika piring bergeser di atas meja. Tidak memperlihatkan anak yang mendengar suara benda jatuh dari lemari. Tidak memperlihatkan seseorang yang mungkin sekarang memperhatikan retakan kecil pada dinding setiap kali terdengar bunyi keras. Statistik gempa memang diperlukan. Statistik hanya tidak tahu rasanya.
Sementara Flores diguncang dari bawah, Kalimantan sedang berhadapan dengan sesuatu yang bergerak dari atas dan menyebar melalui tanah: api. Sampai 19 Agustus, pemerintah mencatat 518 hotspot berkepercayaan tinggi hanya di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Sehari sebelumnya, jumlahnya 109. Kalimantan Barat melonjak dari 15 menjadi 259, Kalimantan Tengah dari 73 menjadi 242.
Angka hotspot tidak boleh diperlakukan sebagai jumlah kebakaran yang persis. Satelit mendeteksi anomali panas; titik tersebut perlu diverifikasi di lapangan. Detail teknis semacam itu sering dianggap mengganggu narasi, padahal justru penting. Bencana sudah cukup buruk tanpa kita membuat datanya ikut kacau.
Kalimantan juga sedang berada dalam kondisi meteorologis yang memang memperbesar risiko kebakaran. BMKG menyebut pada Dasarian I Agustus sebanyak 535 zona musim, atau 76,5 persen wilayah Indonesia, telah memasuki musim kemarau. Kondisi El Niño berada pada intensitas sangat kuat, sementara IOD positif turut mempengaruhi kondisi kering. Titik panas berkepercayaan tinggi terutama terpantau di Kalimantan dan Papua.
Jawa mendapatkan bentuk kesengsaraan yang lebih sunyi. Tidak ada dentuman seperti gempa. Tidak ada dinding yang langsung roboh. Tanah hanya berhenti menerima hujan, hari demi hari, kemudian sumur makin dalam, tanaman mulai menunjukkan perubahan, dan orang menghitung hari tanpa hujan.
Jawa Tengah memberikan contoh yang cukup kasar. Data Stasiun Klimatologi Jawa Tengah untuk 11–20 Agustus menunjukkan seluruh wilayah provinsi berada dalam kategori curah hujan rendah, 0–50 milimeter per dasarian. Pada pembaruan 20 Agustus, beberapa daerah bahkan masuk kategori hari tanpa hujan panjang hingga kekeringan ekstrem. Kecamatan Kaligesing di Purworejo tercatat telah mengalami 111 hari tanpa hujan, Masaran di Sragen 109 hari, dan Jatisrono di Wonogiri 108 hari.
Seratus sebelas hari.
Kalimat itu lebih mudah dipahami ketika dibayangkan sebagai kalender yang dicoret satu per satu daripada sebagai angka meteorologi. Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, masuk Agustus. Keran dibuka. Air tidak datang. Dibuka lagi. Tetap tidak datang. Sawah tidak mengenal hashtag.
Kekeringan juga memperlihatkan sesuatu yang agak tidak nyaman mengenai cara manusia mengenali bencana. Gempa memiliki momen yang jelas: pukul sekian, magnitudo sekian. Banjir memiliki garis air. Kebakaran memiliki asap. Kekeringan bekerja dengan cara yang membosankan. Ia mengurangi sedikit demi sedikit sampai kerusakan baru terasa ketika sudah cukup besar.
Aceh bahkan sedang menghadapi masalah yang berbeda lagi: bencananya sudah lewat dari fase tanggap darurat, tetapi pemulihannya belum selesai. Sejak 1 Agustus 2026, Aceh memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah menyebut layanan pemerintahan, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan aktivitas ekonomi telah kembali berjalan, tetapi pemulihan belum mencapai 100 persen.
Angkanya keras kepala. Sebanyak 3.120 sekolah terdampak bencana hidrometeorologi dan 41 sekolah direlokasi. Target pembangunan hunian tetap mencapai 37.373 unit, sementara pada akhir Juli baru 401 unit, sekitar 4,9 persen, yang telah dibangun. Pada pertengahan Agustus, 18.916 hunian sementara telah dibangun dan 18.874 sudah dihuni.
Jadi ketika seseorang menulis “Aceh sudah pulih”, kalimat itu perlu diberi tanda bintang besar. Pulih dalam arti jalan bisa dilewati? Ya, sebagian besar sudah. Sekolah kembali beroperasi? Ya. Pasar kembali buka? Ya. Orang sudah bisa tidur di rumah permanen yang baru dibangun? Untuk sebagian besar, belum.
Bencana memiliki kebiasaan buruk: ia meninggalkan pekerjaan rumah setelah pemberitaan pindah ke tempat lain.
Media sosial tidak terlalu sabar terhadap pekerjaan rumah semacam itu. Hari ini Flores. Besok Kalimantan. Setelah itu Jawa. Aceh sempat memenuhi layar, kemudian turun karena algoritma menemukan sesuatu yang lebih baru. Tidak ada yang salah dengan perhatian yang berpindah. Otak manusia memang tidak dirancang untuk menahan penderitaan empat pulau sekaligus sepanjang hari. Persoalannya muncul ketika hashtag mulai dianggap sebagai bentuk tindakan yang cukup.
#PRAYFORINDONESIA memiliki nilai emosional. Doa tidak perlu dipermalukan hanya karena ia muncul dalam bentuk hashtag. Orang yang mengetiknya mungkin benar-benar sedang cemas. Orang yang membagikan foto mungkin sedang berusaha membantu informasi tersebar. Ada solidaritas di sana. Tetapi negara tidak bisa bekerja dengan logika hashtag.
Petugas di Flores membutuhkan data kerusakan dan bangunan yang harus diperiksa. Warga Kalimantan membutuhkan pemadaman, pengelolaan gambut, pencegahan kebakaran, penegakan hukum, dan pengawasan kawasan. Petani di Jawa membutuhkan air serta kebijakan yang masuk akal menghadapi musim kering. Aceh membutuhkan ribuan rumah permanen, sekolah, jembatan, sawah, jaringan irigasi, dan waktu.
Doa bisa mengetuk pintu. Setelah pintunya terbuka, orang tetap harus membawa semen.
Mungkin bagian paling aneh dari situasi ini justru terletak pada kenyataan bahwa keempat masalah tersebut tidak sepenuhnya berdiri sendiri. BMKG mencatat 76,5 persen zona musim telah memasuki kemarau, sementara El Niño sangat kuat. Kekeringan memperbesar risiko kebakaran. Kebakaran menghasilkan asap dan kerusakan ekosistem.
Bencana hidrometeorologi sebelumnya meninggalkan pekerjaan pemulihan yang belum selesai. Di tempat lain, masyarakat berhadapan dengan gempa tektonik yang tidak bisa dicegah, hanya bisa dipersiapkan dan ditangani dampaknya.
Satu Indonesia, beberapa jenis kecemasan, kalender yang sama.
Malam hari, hashtag mungkin masih bergerak di layar ponsel. #PRAYFORINDONESIA muncul di antara video pendek, promosi makanan, gosip selebritas, pertandingan olahraga, foto upacara 17 Agustus. Di Flores, tanah masih mungkin bergerak. Di Kalimantan, asap masih bisa naik. Di Jawa, seseorang mungkin sedang memompa sumur yang airnya semakin rendah. Di Aceh, pekerja masih menghitung kebutuhan rumah yang belum berdiri.
Ponsel tinggal diletakkan telungkup.
Besok pagi, orang-orang itu tetap punya pekerjaan.
.jpg)

