Perempuan Manipuri dan Pesawat yang Datang Membawa Perang
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/perempuan-manipuri-dan-pesawat-yang.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Dalam foto sejarah di Imphal, pesawat jauh lebih mudah dikenali daripada manusianya. Sebuah Douglas C-47 berdiri di lapangan udara Imphal, tubuh logamnya memenuhi sebagian latar. Di depannya, perempuan-perempuan Manipuri berdiri dengan pakaian sehari-hari, beberapa membawa keranjang, beberapa mengenakan penutup kepala yang memungkinkan barang dibawa di atas kepala.
Tanah di bawah kaki mereka tampak pucat dan kering. Foto hitam-putih semacam itu biasanya segera dibaca sebagai dokumentasi perang: pesawat, lapangan udara, pekerja lokal, selesai. Padahal justru bagian yang paling manusiawi dari foto tersebut tidak pernah masuk ke dalam caption.
Arsip Australian War Memorial memberi tanggal sekitar Maret 1944 dan mengidentifikasi pesawat itu sebagai C-47 Amerika dengan nomor seri 119469. Keterangan resminya menyebut perempuan-perempuan tersebut sebagai “coolie women employed on an airfield on the Imphal Plain”, pekerja yang dipekerjakan di lapangan udara untuk mendukung pengiriman persediaan dan perlengkapan kepada pasukan di wilayah depan. Foto lain dari rangkaian yang sama memperlihatkan mereka menyaksikan C-47 yang sedang berangkat dan mengangkat debu ketika bergerak menuju penerbangan berikutnya.
Kata “coolie” sekarang terasa kasar, dan memang ada alasan mengapa kata tersebut mengganggu. Ia mereduksi manusia menjadi kategori tenaga kerja kolonial. Caption itu tidak menyebut nama seorang pun. Tidak disebut apakah perempuan yang berdiri paling depan bernama Thokchom atau Yumkhaibam, dari desa mana ia datang, berapa usianya, apakah ia sudah menikah, apakah ia mempunyai anak, atau apakah ia sedang menunggu upah untuk membeli beras. Arsip membutuhkan mereka sebagai pekerja. Kehidupan mereka sendiri rupanya tidak dianggap perlu untuk dicatat.
Dokumen Inggris yang sama bahkan memperlihatkan cara pandang yang lebih terang-terangan. Perempuan Manipuri digambarkan sebagai “cheerful and gaily-clad” yang akan bekerja sambil tertawa untuk memuat dan membongkar pesawat.
Kata-kata itu terdengar ringan karena ditulis dari tempat yang aman: seseorang melihat sekelompok perempuan, melihat pakaian mereka, melihat mereka bekerja, kemudian menuliskan suasana hati mereka dalam satu kalimat. Tidak ada orang yang bisa mengetahui dari foto apakah tawa tersebut lahir dari kegembiraan, rasa malu, kelelahan, percakapan di antara sesama pekerja, atau sekadar kebiasaan manusia untuk bercanda ketika pekerjaan sedang berat.
Foto tersebut diambil di tengah salah satu medan perang paling brutal di Asia pada 1944. Imphal merupakan pusat pertahanan Sekutu melawan serangan Jepang dari Burma. Ketika jalur darat diputus, pesawat transport jadi sangat penting. C-47 membawa persediaan dan perlengkapan yang tidak dapat lagi dikirim melalui jalan biasa. Foto lain dari rangkaian yang sama menunjukkan pasukan India memuat meriam 25-pounder ke dalam Dakota RAF; foto berikutnya memperlihatkan sebuah Jeep dimasukkan ke C-47 Amerika yang sama, nomor 119469.
Perhatikan urutannya. Meriam masuk. Jeep masuk. Persediaan masuk. Pesawat terbang. Perang terus bergerak.
Perempuan-perempuan di lapangan bekerja di sela semua itu.
Keterangan arsip National Archives memberi gambaran yang lebih jelas tentang kondisi mereka. Foto-foto tersebut menunjukkan perempuan Manipuri bekerja dan berbicara bersama tentara, pesawat, serta teknologi militer di sebuah lapangan udara. Sebagian perempuan tampak sangat muda. Beberapa mengenakan pakaian dan gaya rambut yang menurut peneliti mungkin menunjukkan bahwa mereka baru menikah. Dalam satu foto, mereka terlihat berada dekat tangki bahan bakar pesawat. Caption militer menyebut ketertarikan mereka pada long range petrol tanks (tangki bahan bakar yang dipasang pada pesawat).
Ada sesuatu yang agak ganjil pada detail “baru menikah” itu. Bahkan ketika arsip mencoba mengatakan sesuatu tentang perempuan, perhatian masih mudah bergeser ke penampilan mereka. Mereka dicatat sebagai pekerja, sebagai perempuan yang menarik secara eksotis, sebagai orang yang berpakaian cerah, sebagai tenaga yang berguna. Kehidupan pribadi mereka tetap berada di luar kamera.
Padahal perang mengubah kehidupan perempuan Manipur dengan cara yang jauh lebih kasar daripada sekadar membuat mereka memperoleh pekerjaan di lapangan udara.
Perempuan memang telah lama memegang peranan ekonomi penting dalam masyarakat Meitei. Ima Keithel, pasar besar di Imphal yang secara tradisional dijalankan oleh perempuan, menjadi salah satu pusat kehidupan ekonomi kota. Mereka sudah terbiasa bekerja dan memperoleh penghasilan. Perang mengubah jenis pekerjaan yang tersedia. Pekerjaan manual untuk militer Sekutu relatif baik bayarannya, tetapi sejumlah perempuan kemudian mengingat bahwa mereka merasa malu melakukan pekerjaan kasar tersebut.
Malu menerima uang karena pekerjaan terlalu kasar. Pada saat yang sama, perang sedang merusak sumber penghasilan yang sebelumnya tersedia. Itulah bagian yang tidak pernah terlihat dalam foto pesawat.
Khuraijam Nimaicharan Singh, yang kemudian memberikan kesaksian tentang masa perang, mengingat perempuan membawa batu, lumpur, dan berbagai bahan untuk pembangunan jalan setelah traktor meratakan permukaannya. Mereka turut mengerjakan lapangan udara segala cuaca yang sangat penting bagi pertahanan Imphal.
Pekerjaan mereka tidak berhenti pada mengangkat keranjang di depan Dakota. Tubuh mereka juga menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur yang memungkinkan mesin perang tetap berfungsi.
Ketika musim kering datang, masalahnya debu. National Archives mencatat bahwa di Kangla, sebuah landasan fair-weather dekat Imphal, ratusan pesawat transport dapat mendarat setiap hari sehingga debu yang terangkat kadang membentuk kabut yang menghalangi pandangan. Foto perempuan-perempuan dengan keranjang di depan pesawat justru sangat bagus untuk memperlihatkan kondisi tersebut. Debu bukan sekadar latar. Debu masuk ke mata, hidung, rambut, pakaian. Ketika C-47 bergerak, orang yang berdiri di dekatnya mungkin harus memalingkan wajah atau menutup mata.
Kemudian musim hujan datang dan debu berubah menjadi lumpur.
Perang juga berarti kelaparan, pengungsian, hilangnya rumah, terganggunya pasar, serta hilangnya kebebasan bergerak. Kesaksian perempuan Manipur yang dikumpulkan kemudian menunjukkan bahwa kehidupan sipil di Imphal sama sekali tidak bisa dipisahkan dari perang. Yumkhaibam Manjuri mengingat perempuan yang tidak dapat pergi ke pasar selama berbulan-bulan karena pertempuran, dan akhirnya menjual seks untuk mendapatkan uang, kemudian pulang merawat anak-anak mereka.
Detail semacam itu terasa sangat jauh dari foto enam perempuan yang tampak tenang di depan pesawat. Mereka mungkin memang sedang tenang. Itulah masalah foto.
Kita melihat enam orang berdiri. Arsip melihat enam pekerja. Tidak satu pun dari keduanya memberi tahu kita apa yang terjadi pada mereka ketika pulang.
Perempuan Manipuri juga tidak otomatis menjadi pendukung Inggris hanya karena mereka bekerja untuk mesin perang Inggris. National Archives sendiri memperingatkan agar foto-foto tersebut tidak ditafsirkan sebagai bukti bahwa para perempuan itu mendukung tujuan Sekutu. Mereka bekerja karena pekerjaan tersebut tersedia dan dibayar. Dalam perang, alasan seseorang mengangkat karung tidak selalu memiliki hubungan dengan bendera yang terpasang di pesawat.
C-47 nomor 119469 mungkin terbang membawa Jeep, bahan bakar, persediaan atau peralatan ke pasukan di depan. Perempuan-perempuan itu membantu membuat penerbangan tersebut mungkin. Seorang fotografer kemudian menekan tombol kamera. Negatif film dicuci, diberi nomor, dimasukkan ke dalam arsip. Puluhan tahun kemudian seorang peneliti membuka kotak dan menemukan mereka lagi.
Yang hilang justru bagian terbesar dari cerita. Nama mereka. Suara mereka. Apa yang mereka katakan ketika pesawat mulai menghidupkan mesin. Apakah mereka menutup telinga ketika baling-baling mulai berputar. Apakah mereka tertawa karena seseorang membuat lelucon. Apakah mereka membenci pekerjaan itu. Apakah upah hari itu cukup membeli beras.
Kita tidak tahu.
Foto terakhir dalam rangkaian tersebut memperlihatkan C-47 bergerak di atas lapangan. Debu naik begitu tebal sampai tubuh beberapa perempuan hampir larut ke dalamnya. Pesawat akan terbang membawa sesuatu yang dibutuhkan pasukan. Perempuan-perempuan itu tetap di tanah, menunggu pekerjaan berikutnya.
Caption berhenti di sana. Nama-nama mereka juga.
Catatan terkait: Julian dan Frieda, Kisah Cinta yang Melewati Perang dan Murka Nazi
.jpg)

