Julian dan Frieda, Kisah Cinta yang Melewati Perang dan Murka Nazi
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/julian-dan-frieda-kisah-cinta-yang.html
![]() |
| Ilustrasi milik BSM |
Pada suatu pagi, seorang lelaki Polandia yang bekerja di sebuah pertanian di Austria mungkin hanya sedang memikirkan pekerjaan yang harus diselesaikannya: memberi makan ternak, mengangkat sesuatu, membersihkan kandang, atau pekerjaan lain yang menjadi bagian dari hidupnya sebagai pekerja paksa. Ia tidak datang ke Austria untuk mencari cinta. Ia bahkan tidak datang atas kemauannya sendiri.
Namanya Julian Noga.
Beberapa tahun kemudian, lelaki yang sama akan berjalan menuju kamp konsentrasi Flossenbürg, bekerja di tambang batu selama berjam-jam, dipaksa berjalan dalam evakuasi maut, dan hampir mati di pinggir jalan. Semua itu bermula dari sesuatu yang oleh Nazi dianggap cukup berbahaya untuk dihukum: ia mencintai perempuan Jerman. Perempuan itu bernama Frieda Greinegger.
Frieda lahir pada 19 Oktober 1920 dan tumbuh di sebuah keluarga Katolik yang memiliki pertanian besar dekat Michaelnbach, Austria utara. Rumah keluarga Greinegger bukan tempat yang miskin. Mereka memelihara sapi, kuda, babi, dan unggas. Anak-anak ikut bekerja di ladang dan kandang.
Frieda meninggalkan sekolah ketika berusia 12 tahun untuk bekerja penuh waktu di pertanian keluarga. Ketika Austria dianeksasi Jerman pada Maret 1938 dan perang pecah setahun kemudian, kakaknya dipanggil masuk tentara Jerman. Tenaga kerja di pertanian semakin kurang. Ayah Frieda kemudian mengajukan permintaan untuk mendapatkan pekerja dari Polandia.
Dua pekerja Polandia datang pada Desember 1939. Salah satunya seorang lelaki yang lebih tua. Yang seorang lagi bernama Julian Noga.
Julian Noga lahir pada 1921 di wilayah Tarnów, Galicia Barat, dan sebelum perang bekerja sebagai tukang roti. Ketika Jerman menyerbu Polandia, hidupnya berubah menjadi rangkaian kejadian yang semakin tidak masuk akal. Ia pernah menyembunyikan senapan yang ditinggalkan tentara Polandia yang sedang mundur. Setelah dikhianati, ia dikirim ke Austria untuk bekerja di pertanian seorang pemilik tanah kaya dekat Linz.
Di pertanian Greinegger, Frieda dan keluarganya mengajari bahasa Jerman dan pekerjaan sehari-hari pada dua pekerja Polandia itu. Julian ternyata cepat belajar. Frieda kemudian mengingatnya sebagai lelaki yang ramah. Detail seperti itu terasa kecil ketika dibandingkan dengan sejarah perang yang biasanya memenuhi buku: invasi, tank, divisi, jenderal, konferensi. Padahal dari detail semacam itulah hubungan mereka bermula. Seorang perempuan muda di sebuah pertanian Austria bertemu seorang pekerja asing yang sebenarnya tidak memiliki kebebasan untuk berada di sana.
Mereka jatuh cinta.
Kalimat itu terdengar terlalu sederhana untuk menjelaskan akibatnya.
Hubungan romantis antara pekerja paksa Polandia dan perempuan Jerman dilarang oleh rezim Nazi. Larangan tersebut merupakan bagian dari sistem rasial yang mengatur siapa yang boleh berhubungan dengan siapa. Bagi Nazi, hubungan Julian dan Frieda bukan urusan dua orang muda. Tubuh mereka diperlakukan sebagai wilayah yang juga harus diawasi negara.
Ayah Frieda menentang hubungan tersebut. Frieda kemudian pindah ke pertanian lain untuk menjauhkan diri dari Julian sekaligus melindunginya. Jarak tidak menyelesaikan apa pun. Mereka terus bertemu diam-diam.
Gestapo kemudian memberikan peringatan kepada Julian: jika ia menemui Frieda lagi, ia akan digantung.
Kalimat itu mengubah ukuran risiko. Mereka tidak sedang bermain-main dengan larangan keluarga. Negara telah masuk ke dalam hubungan mereka, dan menyatakan bahwa pertemuan berikutnya dapat berakhir dengan tali di leher Julian.
Mereka tetap bertemu.
Pada 19 September 1941 Julian ditangkap. Frieda juga kemudian ditangkap setelah orang-orang di tempat kerjanya mengetahui hubungannya dengan Julian, dan melaporkannya pada Gestapo. Pada November 1941, Frieda dikirim sebagai tahanan politik ke Ravensbrück, kamp konsentrasi perempuan di Jerman. Ia baru dibebaskan pada Agustus 1943.
Julian mendapat nasib yang lebih buruk. Setelah menjalani masa tahanan, ia dikirim ke Flossenbürg pada 1942. Di sana ia pertama-tama bekerja di tambang batu. Dalam kesaksiannya kepada United States Holocaust Memorial Museum, ia mengingat ritme kerja yang nyaris tidak manusiawi: bangun sekitar pukul 4.30 pagi, bergegas ke tambang, bekerja selama 12 jam sehari, enam hari seminggu. Pada hari Minggu pun pekerjaan belum benar-benar berhenti.
Belakangan ia dipindahkan ke produksi pesawat untuk Messerschmitt.
Frieda berada di Ravensbrück. Julian berada di Flossenbürg. Dua orang yang beberapa waktu sebelumnya bertemu di sebuah pertanian kini dipisahkan oleh sistem kamp konsentrasi Nazi.
Ada detail kecil yang terasa jauh lebih manusiawi daripada banyak kisah perang yang sudah dipoles menjadi legenda. Setelah dibebaskan dari Ravensbrück pada 1943, Frieda mengetahui bahwa Julian masih hidup dan berada di Flossenbürg. Menurut kesaksian yang kemudian dikutip dalam kisah mereka, ia mengirimkan sebuah paket kepadanya melalui seorang pekerja Polandia, berisi apel, pir, dan bawang. Ia juga menyelipkan surat.
Apel, pir, bawang. Barang-barang dapur yang sangat biasa ketika diletakkan di meja makan. Di kamp konsentrasi, benda-benda itu memiliki ukuran yang berbeda. Makanan bukan lagi sekadar makanan. Surat bukan lagi sekadar surat. Orang yang mengirimkannya sedang mengambil risiko untuk mengatakan kepada seorang tahanan bahwa seseorang di luar masih mengingatnya.
Julian bertahan sampai April 1945, ketika perang di Eropa hampir berakhir. Pada 20 April, SS memaksa para tahanan Flossenbürg menjalani death march menuju Dachau. Julian dan beberapa tahanan lain sempat menggotong seorang rekan yang sudah tidak sanggup berjalan. Mereka sendiri nyaris tidak memiliki tenaga. Pada akhirnya mereka harus meninggalkannya. Dari jalan mereka mendengar suara tembakan ketika SS membunuh lelaki yang tidak mampu mengikuti barisan.
Tiga hari kemudian, 23 April, pasukan Amerika membebaskan Julian di dekat Cham, Bavaria. Ia kemudian mengatakan bahwa dirinya tidak akan bertahan satu hari lagi.
Perang bagi Julian seharusnya bisa selesai di sana. Ia sudah melewati kerja paksa, penjara, tambang, kamp konsentrasi, dan perjalanan maut. Tubuhnya memiliki alasan untuk berhenti. Ia justru memikirkan Frieda.
Setelah mendapatkan kembali kekuatannya, Julian kembali ke Austria dengan sepeda. Ia mencari perempuan yang telah membuatnya dikirim ke kamp konsentrasi.
Frieda masih hidup.
Keduanya menikah pada 24 April 1946, tepat satu hari setelah ulang tahun pembebasan Julian dari Flossenbürg, menurut catatan USHMM. Mereka kemudian beremigrasi ke Amerika Serikat pada 1948. Julian menetap di wilayah Utica, New York, dan bekerja sebagai tukang batu. Pernikahan mereka berlangsung selama 68 tahun. Frieda meninggal pada Mei 2014; Julian menyusul beberapa bulan kemudian, pada Oktober, keduanya berusia 93 tahun.
Kisah mereka sebenarnya sudah cukup lama terdokumentasi. USHMM menyimpan wawancara Julian dan Frieda dari 1990 dan wawancara lanjutan dari 2000. Memorial Flossenbürg juga memiliki catatan khusus mengenai Julian. Bahkan sebuah buku berjudul The Courtship of Julian and Frieda diterbitkan Krista Perry Dunn pada 2006. Jadi kisah ini bukan legenda yang ditemukan dari foto tua tanpa nama. Mereka benar-benar ada. Wajah mereka bahkan masih tersimpan dalam arsip: USHMM memiliki foto Frieda ketika masih muda, foto keluarga Greinegger, serta foto Julian dan Frieda setelah perang.
Yang membuat kisah ini mengganggu justru kesederhanaannya. Julian bukan jenderal. Frieda bukan anggota gerakan perlawanan yang namanya kemudian dicetak dalam buku pelajaran. Mereka tidak merancang operasi rahasia atau menyelamatkan ratusan orang. Mereka bertemu di sebuah pertanian di Austria, saling menyukai, kemudian mendapati bahwa negara memiliki pendapat tentang siapa yang boleh mereka cintai.
Negara tersebut memiliki polisi rahasia, penjara, kamp konsentrasi, dan tiang gantungan. Julian hanya memiliki sepeda ketika perang selesai. Ia mengayuhnya menuju Austria.
Frieda masih menunggu di sana. Mereka menikah sehari setelah Julian genap setahun lebih sedikit sejak dibebaskan dari Flossenbürg. Dua tahun kemudian mereka meninggalkan Eropa menuju Amerika. Di sana Julian menjadi tukang batu dan membangun kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupan yang pernah dirancang Nazi untuknya.
Foto mereka setelah perang memperlihatkan dua orang muda yang telah melewati sesuatu yang bahkan tidak seharusnya mereka selamatkan. Tidak ada seragam. Tidak ada kawat berduri. Tidak ada penjaga SS.
Hanya Julian dan Frieda. Kali ini tidak ada yang datang untuk menyuruh mereka berpisah.
Catatan terkait: Kisah Killing Fields, Ladang Pembantaian Khmer Merah di Kamboja
.jpg)

