Masa Bersiap, Sejarah Brutal Indonesia yang Tertutup Kata Revolusi
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/masa-bersiap-sejarah-brutal-indonesia.html
![]() |
| Ilustrasi/espos.id |
Asap masih keluar dari beberapa sudut kota Surabaya ketika perempuan-perempuan Belanda mulai memotong rambut mereka sendiri. Ada yang mengoles wajah dengan arang agar tampak kusam. Ada yang menyembunyikan gaun dan memakai kain seadanya. Nama-nama Eropa mendadak terasa berbahaya. Anak-anak diminta jangan berbicara bahasa Belanda terlalu keras. Orang-orang yang beberapa bulan sebelumnya hidup di lingkungan kolonial yang tertata, dengan klub dansa, sekolah Katolik, dan sore tenang di veranda rumah tropis, mendadak hidup seperti binatang buruan.
Di jalanan terdengar teriakan, “Bersiap!”
Kata itu pendek. Dalam sejarah Indonesia, ia sering dibungkus dengan nada heroik; semangat revolusi, amarah rakyat terjajah, ledakan energi kemerdekaan. Padahal di lapangan, suasananya jauh lebih kacau, lebih kotor, lebih liar dari poster-poster perjuangan yang rapi. Orang saling curiga. Anak muda membawa bambu runcing sambil mabuk pidato dan rumor. Bekas tahanan Jepang keluar dari kamp. Gudang senjata dijarah. Banyak yang bahkan belum pernah memegang senapan beberapa minggu sebelumnya.
Lalu darah mulai muncul di got.
Masa Bersiap berlangsung kira-kira dari akhir 1945 hingga awal 1946, setelah Jepang menyerah dan sebelum kekuasaan Republik Indonesia benar-benar stabil.
Kekosongan kekuasaan melahirkan sesuatu yang sering muncul dalam sejarah revolusi; massa yang merasa dunia lama runtuh dan apa pun boleh dilakukan. Di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, hingga daerah-daerah kecil di Jawa, kelompok-kelompok pemuda, laskar, milisi, bahkan gerombolan oportunis, bergerak dalam satu kabut yang sulit dibedakan. Sebagian benar-benar pejuang kemerdekaan. Sebagian sekadar menikmati kekacauan.
Korbannya bukan hanya tentara Belanda. Orang Indo-Eropa, perempuan Belanda, keluarga Ambon, orang Manado, warga Tionghoa, siapa pun yang dianggap dekat dengan kolonial, bisa menjadi sasaran. Di beberapa tempat, rumah-rumah diserbu malam hari. Orang diseret keluar. Ada pembunuhan dengan golok, penembakan, pemerkosaan, penyiksaan.
Di kawasan Simpang Club Surabaya, gedung-gedung yang dulu dipakai elite kolonial berubah menjadi tempat interogasi brutal. Nama seperti Sutomo atau Bung Tomo dikenang sebagai simbol perlawanan, tetapi, di level jalanan, banyak kekerasan bergerak tanpa komando yang jelas. Revolusi sering lebih liar daripada pidato pemimpinnya.
Catatan tentang perkosaan selama Masa Bersiap memang lebih jarang dibicarakan di Indonesia. Topik ini membuat banyak orang tidak nyaman. Narasi nasional lebih suka berbicara tentang heroisme pemuda daripada tubuh perempuan yang dihancurkan di tengah revolusi. Padahal arsip Belanda, kesaksian korban, dan beberapa penelitian sejarah menyebut kasus-kasus kekerasan seksual terhadap perempuan Eropa dan Indo terjadi di berbagai tempat. Sebagian korban bahkan masih remaja.
Sulit membayangkan ketakutan perempuan-perempuan itu. Mereka baru saja keluar dari kamp interniran Jepang setelah bertahun-tahun lapar dan sakit. Banyak yang mengira perang telah selesai. Lalu kekacauan baru dimulai.
Di Bandung, keluarga-keluarga Belanda berlindung di hotel atau kamp darurat sambil menunggu evakuasi Sekutu. Di luar pagar, pemuda membawa senjata rampasan Jepang berkeliaran sambil meneriakkan slogan revolusi. Kadang suara massa terdengar seperti pesta. Kadang seperti pemburuan.
Orang sering lupa bahwa revolusi tidak selalu melahirkan manusia yang lebih luhur. Kadang revolusi cuma membuka kandang.
Ada kesaksian perempuan Belanda yang dipaksa menyaksikan anggota keluarganya dipukul sebelum ia sendiri diperkosa. Ada yang diseret dari kendaraan pengungsi. Ada yang kemudian memilih diam seumur hidup karena malu atau trauma. Banyak cerita terkubur karena keluarga korban pindah ke Belanda dan memilih tidak membicarakannya lagi. Di Indonesia, kisah-kisah seperti itu sering dianggap “mengotori perjuangan”. Padahal sejarah yang terlalu steril biasanya hasil sensor emosional.
Di Belanda, istilah “Bersiap” menjadi medan perang politik sampai sekarang. Sebagian orang Indonesia menolak istilah itu karena dianggap dipakai untuk mendiskreditkan perjuangan kemerdekaan dan membesar-besarkan penderitaan orang Belanda. Sebagian pihak Belanda menganggap Indonesia sengaja mengecilkan kekejaman yang terjadi terhadap warga sipil Eropa dan Indo.
Perdebatan itu kadang terdengar absurd. Orang ribut soal istilah, sementara mayat-mayat lama tetap terkubur.
Sebuah memoar perempuan Indo bernama Lin Scholte menggambarkan suasana Surabaya yang panas, bau bensin, penuh ketegangan, dengan orang-orang yang tidur sambil menggenggam barang berharga di dada. Ada juga kesaksian dalam buku “An Indonesian Frontier” karya K’tut Tantri yang memperlihatkan betapa cepat manusia berubah ketika negara runtuh. Tetangga yang dulu menyapa sopan bisa mendadak membawa parang.
Kekerasan seksual dalam perang hampir selalu punya pola yang sama; tubuh perempuan dijadikan wilayah penaklukan. Jepang melakukannya di Nanking. Tentara Merah melakukannya di Berlin. Milisi Serbia di Bosnia. Tentara Pakistan di Bangladesh tahun 1971. Orang sering berbicara perang dalam bahasa peta dan strategi, padahal perang sering berakhir di kamar sempit, di gudang, di lantai rumah, di tubuh seseorang yang tidak punya senjata. Indonesia tidak kebal dari itu.
Yang membuat Masa Bersiap lebih rumit adalah posisi moralnya tidak nyaman. Ini bukan kisah hitam-putih sederhana. Indonesia memang baru keluar dari penjajahan brutal selama ratusan tahun. Kemarahan terhadap Belanda nyata. Kebencian sosial menumpuk lama sekali. Banyak pemuda tumbuh dalam kemiskinan kolonial, melihat orang Eropa hidup nyaman sementara mereka sendiri hidup sebagai rakyat kelas bawah di negeri sendiri.
Kemarahan historis itu mudah berubah menjadi pembenaran. Orang mabuk revolusi sering merasa dirinya otomatis suci.
Padahal banyak korban Masa Bersiap bahkan tidak punya hubungan langsung dengan kebijakan kolonial. Anak-anak Indo, perempuan sipil, keluarga campuran. Sebagian bahkan lahir di Hindia dan tidak pernah melihat Belanda sebagai “tanah air”. Mereka tetap diburu karena wajah, bahasa, atau nama keluarga.
Di beberapa tempat, tentara Inggris yang datang untuk melucuti Jepang menemukan kondisi kamp pengungsi yang mengerikan. Brigadir Aubertin Mallaby, yang kemudian tewas di Surabaya, sempat melihat sendiri betapa cepat situasi berubah menjadi kekerasan massal. Kota-kota di Jawa waktu itu seperti kabel telanjang yang memercikkan listrik ke mana-mana.
Lalu propaganda ikut memperkeruh segalanya. Radio-radio revolusi memompa semangat anti-Belanda. Selebaran beredar. Rumor tentang mata-mata, NICA, pengkhianat, menyebar tiap hari. Dalam suasana seperti itu, seorang perempuan pirang bisa berubah menjadi simbol musuh hanya karena warna kulit. Tubuh manusia gampang sekali berubah jadi lambang politik.
Ada foto-foto lama pengungsi Eropa pada masa itu. Wajah mereka tampak kotor, tegang, kurus. Anak kecil duduk diam sambil memegang koper. Mata mereka kosong. Foto-foto hitam putih sering gagal menangkap bau sebenarnya dari masa perang; keringat, darah, kain lembap, mayat yang mulai membusuk di udara tropis.
Sejarah Indonesia modern lahir dari periode yang juga berisi adegan-adegan seperti itu. Ini yang jarang mau diakui secara jujur. Orang lebih nyaman dengan versi revolusi yang bersih, gagah, heroik, penuh musik latar orkestra.
Padahal di gang-gang sempit Surabaya dan Batavia waktu itu, manusia saling membunuh sambil panik, marah, lapar, bingung, dan kadang hanya ikut arus massa karena takut dianggap tidak revolusioner.
Seorang perempuan Belanda bernama Miep Diekmann pernah menulis tentang perempuan-perempuan yang tidur sambil menggenggam gunting atau pisau dapur kecil. Bukan untuk melawan tentara. Untuk bunuh diri kalau keadaan memburuk.
Di luar sana orang meneriakkan kemerdekaan. Di dalam kamar-kamar gelap, beberapa perempuan cuma berharap pintunya tidak diketuk malam itu.
Catatan terkait: Rensselaerwyck, Kolonialisme Elite Eropa di Amerika Utara


