Saleem Iklim dan Karakter Suara yang Tak Tergantikan
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/saleem-iklim-dan-karakter-suara-yang.html
![]() |
| Ilustrasi/detik.com |
Beberapa suara terdengar bagus. Beberapa suara terdengar unik. Suara Saleem berada di wilayah yang lebih sulit dijelaskan.
Ketika pertama kali mendengarnya, kesan yang muncul bukan kekaguman terhadap teknik vokal, tapi rasa bahwa suara itu sudah membawa sejarahnya sendiri. Ada serak di sana, tetapi bukan serak yang dibuat-buat. Ada luka kecil yang terus terdengar bahkan ketika ia menyanyikan nada yang lembut. Banyak penyanyi berusaha terdengar emosional. Saleem terdengar seperti seseorang yang tidak punya pilihan selain membawa emosinya ke dalam lagu. Itulah sebabnya lagu-lagu Iklim sering terasa begitu pas di tenggorokannya.
Coba dengarkan "Suci Dalam Debu". Lagu itu sebenarnya berisiko jadi sangat melodramatis jika jatuh ke tangan penyanyi lain. Liriknya penuh kerinduan, penyesalan, dan idealisasi. Formula semacam itu bisa dengan mudah berubah jadi berlebihan. Ketika Saleem menyanyikannya, sesuatu yang aneh terjadi. Lagu itu terdengar wajar. Seolah memang hanya suara semacam itulah yang pantas membawakannya.
Keanehan itu tidak mudah direproduksi.
Banyak penyanyi mampu meniru teknik vokal Saleem. Banyak yang bisa menirukan seraknya. Banyak yang mampu menyalin lengkingannya. Hasilnya hampir selalu terdengar seperti imitasi. Seperti seseorang yang mengenakan pakaian milik orang lain yang ukurannya hampir pas, tetapi tetap terasa janggal.
Nama lengkapnya Saleem atau J. Saleem, lahir di Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia. Sebelum menjadi ikon musik Melayu, kehidupannya tidak dibentuk oleh jalur yang lurus dan rapi seperti biografi resmi yang biasa ditulis untuk tokoh terkenal. Kariernya penuh naik turun. Ia pernah mengalami masa kejayaan yang luar biasa, mengalami kemunduran, bangkit lagi, lalu kembali menghadapi berbagai kesulitan hidup. Dan itu membuat sosoknya menarik.
Musik Melayu populer pada akhir 1980-an dan awal 1990-an sedang mengalami ledakan besar. Grup-grup seperti Search, Wings, Exist, Slam, Ukays, dan Iklim, menjadi nama yang sangat dikenal bukan hanya di Malaysia, tetapi juga di Indonesia. Kaset-kaset mereka menyeberangi Selat Malaka tanpa perlu bantuan algoritma media sosial. Penjual kaset di Medan, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, hingga Makassar menjajakan album-album mereka berdampingan dengan musisi Indonesia. Iklim muncul dalam lanskap itu.
Banyak orang mengingat Iklim terutama melalui Saleem, dan saya rasa itu bukan kebetulan. Sebuah band bisa memiliki pemain gitar hebat, pemain drum hebat, aransemen hebat, tetapi publik biasanya melekat pada suara. Suara adalah wajah yang tidak terlihat.
Ketika "Suci Dalam Debu" meledak di pasaran, lagu itu seperti menemukan jalannya sendiri. Sampai hari ini masih diputar di radio-radio yang memainkan lagu nostalgia. Masih dinyanyikan di acara hajatan. Masih muncul dalam video-video karaoke di internet. Masih menjadi lagu wajib bagi penyanyi kafe yang ingin menguji kemampuan vokalnya.
Sebagian besar gagal mencapai efek yang sama. Saya tidak mengatakan mereka bernyanyi buruk. Persoalannya terletak pada karakter.
Karakter adalah sesuatu yang sangat tidak demokratis dalam musik. Teknik bisa dipelajari. Pernapasan bisa dilatih. Jangkauan nada bisa diperluas. Karakter datang dengan aturan yang lebih misterius. Saleem memiliki karakter yang hampir tidak masuk akal.
Suara seraknya bukan jenis suara rock yang agresif seperti yang sering ditemukan pada vokalis hard rock. Seraknya juga bukan serak tua yang muncul akibat usia. Ada kelembutan yang tetap bertahan di balik tekstur kasar tersebut. Kombinasi itu sangat jarang. Pendengar bisa merasakan kepedihan tanpa merasa sedang diteriaki.
Musik Melayu memang memiliki hubungan yang panjang dengan emosi yang terbuka. Sebagian kritikus menganggapnya terlalu sentimental. Sebagian lain menyebutnya berlebihan. Kritik itu sudah beredar selama puluhan tahun. Saya selalu merasa kritik tersebut sering datang dari orang yang terlalu takut terlihat emosional.
Lagu-lagu Melayu tidak terlalu peduli pada gengsi intelektual. Mereka langsung menuju sasaran. Cinta yang gagal. Rindu yang tidak selesai. Kesetiaan yang dihancurkan. Penyesalan. Kesunyian. Tema-tema itu muncul terus-menerus. Mungkin karena manusia juga mengalami hal yang sama terus-menerus.
Ketika Saleem menyanyikan lagu-lagu tersebut, ia tidak terdengar seperti aktor yang sedang memainkan peran. Ia terdengar seperti seseorang yang memang pernah hidup di dalam dunia yang penuh ketidakberesan itu. Kesan tersebut mungkin tidak sepenuhnya adil. Pendengar tidak benar-benar tahu kehidupan batin seorang penyanyi. Musik tidak selalu autobiografis. Tetap saja, telinga manusia sering mengambil keputusan emosional sebelum logika sempat bekerja.
Kita percaya pada suara tertentu. Kita tidak percaya pada suara yang lain.
Puncak popularitas Iklim di Indonesia menciptakan fenomena yang menarik. Banyak orang Indonesia sebenarnya tidak terlalu memikirkan bahwa mereka sedang mendengarkan musik dari negara lain. Bahasa Melayu Malaysia dan bahasa Indonesia cukup dekat sehingga batasnya jadi kabur. Lagu-lagu Iklim terasa akrab. Tidak terasa asing.
Kaset bajakan membantu penyebaran tersebut dalam skala yang hampir mustahil dihitung. Di pasar-pasar tradisional, album-album Iklim dijual dengan sampul yang kadang buram hasil cetak offset. Nama Saleem menyebar dari kota besar sampai daerah yang jauh dari pusat industri musik.
Saya masih menganggap itu salah satu kekuatan paling unik pada musik Melayu era itu. Mereka mampu menciptakan pasar lintas negara tanpa strategi global, tanpa kampanye digital, tanpa tim pemasaran yang rumit. Lagu yang cukup kuat akan menemukan jalannya sendiri.
Perjalanan hidup Saleem setelah masa kejayaan tidak selalu mudah. Berbagai laporan media Malaysia selama bertahun-tahun menggambarkan kehidupan yang kadang keras. Popularitas tidak otomatis menghasilkan kehidupan yang stabil. Dunia hiburan jarang memberi jaminan semacam itu.
Ketika ia wafat pada tahun 2018, banyak penggemar merasa kehilangan seseorang yang telah menemani sebagian hidup mereka. Reaksi tersebut muncul di Malaysia dan Indonesia. Radio-radio kembali memutar lagu-lagu Iklim. Potongan video konser lama beredar lagi. Orang-orang bernyanyi bersama melalui layar telepon genggam yang ukurannya bahkan lebih kecil daripada sampul kaset yang dulu mereka beli.
Bagian yang paling mengganggu saya justru muncul ketika mendengarkan rekaman-rekaman lama Saleem, setelah menyadari bahwa ia sudah tidak ada. Suaranya masih terdengar begitu hidup. Terlalu hidup. Napasnya masih terdengar jelas. Getaran kecil di ujung nada masih ada. Seraknya masih muncul pada bagian-bagian tertentu seperti bekas goresan yang tidak pernah sembuh sempurna.
Kematian biasanya membuat seseorang terasa jauh. Rekaman suara sering melakukan hal sebaliknya.
Malam hari, ketika "Suci Dalam Debu" diputar dari speaker yang kualitasnya biasa saja, ketika suara kendaraan masih lewat di luar jendela dan kipas angin menggerakkan udara panas perlahan-lahan, Saleem terdengar seperti seseorang yang sedang bernyanyi di ruangan sebelah.
Bagian lagu mencapai refrain. Seraknya muncul lagi. Tetap tak tergantikan.


