Seorang Perempuan Kesepian Mencari Cinta dan Pasangan di Internet
https://www.belajarsampaimati.com/2026/08/seorang-perempuan-kesepian-mencari.html
![]() |
| Ilustrasi/suarasurabaya.net |
Foto-fotonya dulu bertebaran di Facebook seperti selebaran yang dilempar dari kendaraan bergerak. Pose selfie di kamar dengan tembok hijau muda. Caption panjang tentang kesepian. Kadang pakai emoji menangis, kadang terlalu terang-terangan sampai orang merasa malu membacanya. Ia menulis bahwa dirinya ingin menikah. Sangat ingin. Bukan sekadar status galau satu malam, tapi proyek publik yang dijalankan terus-menerus. Orang-orang menertawakannya.
Internet Indonesia memang punya kebiasaan aneh terhadap perempuan yang terlalu jujur soal kebutuhan emosionalnya. Lelaki yang terang-terangan bilang ingin istri sering dianggap lucu atau wajar. Perempuan usia awal dua puluhan yang menulis “tolong lamar saya” dianggap memalukan, murahan, putus asa. Dan ia memang terdengar putus asa.
Halaman Facebook-nya dulu ramai. Ia unggah foto memakai baju panjang warna peach, lalu besoknya foto dengan filter bunga-bunga ala aplikasi kamera murah zaman awal Android. Komentar masuk ratusan. Sebagian menggoda. Sebagian menghakimi. Sebagian menawarkan diri dengan cara menjijikkan. Ada lelaki yang terang-terangan menulis syarat; tinggi badan, berat badan, kemampuan masak, keperawanan. Internet Indonesia sangat cepat berubah jadi pasar ternak kalau perempuan mulai bicara soal menikah.
Tapi perempuan itu tetap aktif. Kadang tengah malam ia membuat status panjang tentang teman-temannya yang satu per satu menikah. Tentang undangan pernikahan yang terus datang. Tentang rasa malu datang sendirian ke acara keluarga. Tentang ibu-ibu yang suka bertanya, “Kapan nyusul?”
Orang sering meremehkan tekanan sosial terhadap perempuan lajang di Indonesia, terutama di kota kecil dan lingkungan religius. Tekanan itu nyata, kasar, dan sangat harian. Bukan cuma datang dari keluarga, tapi juga dari tetangga, reuni sekolah, pengajian, bahkan kasir minimarket yang bertanya basa-basi.
Usia 23 di banyak negara mungkin masih dianggap sangat muda. Di sebagian lingkungan Indonesia, perempuan 23 yang belum menikah sudah mulai diperlakukan seperti alarm sosial kecil.
Ia lalu menjadi semacam tokoh mini internet. Orang membagikan screenshot status-statusnya. Ada yang simpati. Banyak yang menjadikannya hiburan. Facebook Indonesia era itu memang brutal. Sangat brutal. Belum terlalu dipoles seperti Instagram sekarang. Orang masih menulis panjang tanpa malu. Drama pribadi ditaruh mentah-mentah di timeline. Ia seperti membuka isi kepalanya di tengah pasar malam digital.
Lalu sesuatu terjadi; ia benar-benar menikah. Foto akadnya muncul di timeline dengan bunga melati, sofa ukiran cokelat emas, karpet merah marun khas gedung pernikahan kelas menengah Indonesia. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding foto-foto masa galau dulu. Orang-orang yang dulu mengejek mendadak memenuhi komentar dengan ucapan selamat. Internet punya ingatan pendek sekaligus ingatan abadi. Kombinasi yang ironis.
Suaminya tampak biasa saja. Bukan selebgram. Bukan pengusaha kaya. Hanya lelaki yang terlihat kalem dalam foto-foto keluarga. Mereka kemudian punya anak. Lalu anak kedua. Isi media sosialnya berubah total. Dari status galau menjadi foto bubur bayi, stroller, ulang tahun anak, baju couple keluarga, screenshot chat romantis receh.
Transformasi itu sangat khas internet Indonesia. Perempuan lajang yang dulu dianggap “terlalu haus menikah” tiba-tiba berubah menjadi figur ibu muda domestik yang aman dikonsumsi publik.
Orang-orang suka narasi semacam itu. Ending rapi. Perempuan sedih bertemu jodoh, lalu hidup bahagia. Seperti sinetron Ramadan.
Tapi kehidupan nyata jarang serapi algoritma. Beberapa tahun kemudian, akunnya mulai sepi. Status berkurang. Foto suami menghilang pelan-pelan. Lalu akun Facebook-nya lenyap. Instagram hilang. Twitter hilang. Foto-foto lama sulit ditemukan kecuali repost orang lain di forum atau grup nostalgia internet lama. Ia seperti menghapus dirinya sendiri.
Lalu gosip mulai muncul. Katanya bercerai. Katanya rumah tangganya hancur. Katanya suaminya pergi. Tidak ada yang tahu pasti karena sumbernya hanya bisik-bisik internet. Tapi justru itu yang membuat kisahnya terasa muram. Dulu hidupnya terlalu terbuka. Semua orang tahu ia kesepian. Semua orang tahu ia menikah. Ketika kehancuran datang, ia memilih hilang total. Mungkin lelah dilihat.
Internet modern sering bicara soal “digital footprint” seolah itu konsep teknis dingin. Padahal jejak digital kadang terasa seperti hantu emosional. Bayangkan perempuan itu suatu malam membuka kembali posting lama dirinya memohon dilamar. Ribuan komentar. Candaan. Hinaan. Meme. Orang asing membicarakan tubuh dan desperation-nya seperti sedang mengulas barang diskon.
Lalu ia melihat foto pernikahannya sendiri. Foto anak-anaknya. Foto keluarga yang mungkin sekarang sudah pecah. Berapa banyak orang sanggup hidup normal sambil membawa arsip publik seperti itu?
Ada generasi pengguna internet Indonesia yang tumbuh tanpa benar-benar paham bahwa unggahan bisa bertahan sangat lama. Facebook awal terasa seperti ruang nongkrong santai, bukan museum permanen. Orang menulis status emosional jam dua pagi tanpa membayangkan belasan tahun kemudian masih bisa dicari orang. Perempuan itu menjadi semacam artefak zaman internet yang lebih polos sekaligus lebih kejam.
Saya ingat bagaimana budaya online Indonesia dulu memperlakukan perempuan yang terlalu terbuka secara emosional. Mereka dijadikan karakter. Bukan manusia utuh. Ada istilah-istilah ejekan. Ada akun-akun repost khusus untuk mempermalukan status galau perempuan. Komentar lelaki sering sadis sekali. Campuran nafsu, penghinaan, dan rasa superior moral.
Ironisnya, publik yang sama juga memuja foto-foto pernikahan dan keluarga setelah ia “berhasil”. Seolah semua rasa malu sebelumnya lunas begitu seorang lelaki resmi menikahinya.
Dan perempuan itu sendiri tampaknya percaya penuh pada ide bahwa pernikahan akan menyelesaikan kesepian. Itu sangat Indonesia. Sangat sosial-media-era-2010-an. Menikah diperlakukan seperti pintu keluar universal dari kecemasan hidup. Film, sinetron, dakwah, status motivasi, semuanya mengarah ke sana.
Padahal banyak orang justru mulai benar-benar kesepian setelah menikah. Apalagi kalau kehidupan rumah tangga ternyata biasa saja. Tagihan datang. Bayi menangis dini hari. Tubuh berubah. Pertengkaran muncul. Romantisme internet tidak pernah menampilkan bau minyak telon basi di sofa atau mata sembab kurang tidur.
Dan publik internet cepat bosan. Mereka menyukai fase pencarian jodoh karena dramatis. Menyukai fase pernikahan karena estetik. Mereka jarang tertarik pada fase retak. Mungkin itu sebabnya ia menghilang.
Tidak semua orang sanggup menjalani perceraian sambil disaksikan ribuan mata yang dulu mengikuti kisah cintanya dari awal. Internet membuat orang merasa punya hak emosional atas hidup orang lain. Followers merasa mengenal. Merasa ikut memiliki cerita. Padahal mereka cuma penonton.
Yang paling aneh dari internet sebenarnya bukan kebenciannya, tapi kemampuannya menghapus orang hidup-hidup. Seseorang bisa sangat terkenal selama bertahun-tahun, lalu hilang total seperti toko tua yang tutup dan dibongkar diam-diam malam hari. Tinggal jejak kecil di screenshot, repost, atau komentar orang yang berkata, “Eh, dulu ada cewek itu, ingat nggak?”
Perempuan itu mungkin sekarang menjalani hidup biasa di kota kecil entah di mana. Mungkin mengantar anak sekolah pagi-pagi sambil pakai hoodie lusuh dan sandal swallow. Mungkin bekerja. Mungkin tinggal dengan orang tua lagi. Mungkin akun media sosial barunya anonim tanpa foto wajah.
Atau mungkin ia sesekali mencari namanya sendiri di Google, lalu buru-buru menutup browser.
Catatan terkait: Menikah di Zaman Sekarang Lebih Sulit daripada Sepuluh Tahun Lalu


