Mengapa Wanita Sempurna Sulit Dapat Pasangan?

Ilustrasi/pixabay.com
Ada semacam keyakinan di dunia pria, tentang wanita, yang bisa jadi keliru tapi selama ini dianggap benar. “Keyakinan” itu kira-kira berbunyi, “Jika ada wanita sempurna tapi sulit dapat pacar, berarti ada yang tidak beres.”

“Wanita sempurna” yang dimaksud dalam hal ini berkisar “cantik, terkenal, kaya-raya”, dan semacamnya. Entah para wanita tahu tentang hal ini atau tidak, tapi banyak pria yang memegang keyakinan semacam itu. Karenanya, jika hal ini tidak diluruskan, lama-lama bisa muncul stigma.

Jadi, mengapa ada wanita-wanita cantik atau bahkan sempurna yang justru sulit dapat pacar atau pasangan? 

Disadari atau tidak, nyatanya kita hidup dalam kultur patriarki. Dan kultur patriarki menempatkan pria [harus] di atas wanita. Karenanya pula, rata-rata pria menginginkan wanita yang “lebih rendah” darinya, atau minimal sejajar. Dalam kultur patriarki, sangat jarang, bahkan langka, pria yang punya kemampuan untuk menerima wanita yang “lebih tinggi” darinya. Pria cenderung menilai wanita yang lebih tinggi darinya sebagai ancaman, alih-alih pasangan yang menawan.

Mari gunakan contoh sederhana. Rata-rata pria yang punya penghasilan Rp5 juta per bulan, misalnya, umumnya cenderung menginginkan wanita yang punya penghasilan setara, atau lebih rendah darinya. Contoh ini bisa diperluas pada hal-hal lain, dan kalian bisa memikirkannya sendiri; dari penampilan sampai gaya hidup.

Dengan pola pikir pria semacam itu, wanita yang sederhana atau biasa-biasa saja justru memiliki “pasar” yang luas; dalam arti kemungkinannya untuk mendapat pasangan jauh lebih mudah, karena ada banyak pria di luar sana yang mungkin tertarik menjadikannya pasangan. Karena sederhana, karena biasa-biasa saja.

Sebaliknya, wanita kaya yang menjalani kehidupan mewah justru memiliki “pasar” yang terbatas. Dalam arti; pria yang mungkin ingin menjadikannya pasangan akan semakin sedikit. Semakin “sempurna” seorang wanita, “pasar”nya akan semakin spesifik atau makin terbatas. Bukan berarti wanita-wanita itu tidak menarik. Mereka menarik! Tapi pria hanya sebatas tertarik, dan belum tentu punya mental untuk menjadikannya pasangan.

Kita bisa melihat kasus ini, misalnya, pada Syahrini. Dia contoh wanita yang sempurna; cantik, terkenal, kaya-raya, dan menjalani kehidupan mewah. 

Sebagai wanita, apakah Syahrini menarik? Jelas! Adakah pria yang tertarik kepadanya? Banyak! Tetapi... berapa banyak pria yang punya mental untuk menjadikan Syahrini sebagai pasangan? Jawabannya sangat sedikit, karena nyatanya sangat sedikit pria yang seperti Reino Barack!

Sudah melihat bagaimana “keanehan” ini terjadi? Wanita sederhana yang biasa-biasa saja justru lebih mudah mendapat pasangan, dibanding wanita yang sempurna. Masalah sebenarnya bukan pada si wanita, tapi pada mentalitas dan cara berpikir rata-rata pria. Di sisi lain, wanita yang sempurna juga tentu sangat selektif memilih pasangan—jauh lebih selektif dibanding wanita yang biasa-biasa saja.

Masih ingat tweet Selphie Usagi yang bikin heboh Twitter, gara-gara ia jujur mengatakan ingin punya pasangan yang berpenghasilan Rp30 juta per bulan?

Banyak pria yang “ngamuk” waktu itu, karena menganggap Selphie Usagi memasang kriteria pasangan yang “tak masuk akal”. Padahal, bagi sebagian kalangan, penghasilan Rp30 juta per bulan itu biasa-biasa saja. Tapi bahkan ketika wanita memasang kriteria “biasa-biasa saja” semacam itu, sudah banyak pria yang kebakaran jenggot! Masalahnya di sini tentu bukan pada Selphie Usagi atau Rp30 juta yang dikatakannya, tapi banyak pria yang diam-diam merasa “terancam”. 

Kenyataan semacam itu bahkan ada di negara barat dengan kebudayaan dan gaya hidup yang lebih liberal. Setidaknya, BeyoncĂ© Knowles pernah menyuarakannya. Dalam lirik lagu Flawless, dia menyenandungkan, “Kamu bisa memiliki ambisi, tapi jangan terlalu banyak. Kamu bisa jadi sukses, tapi jangan terlalu sukses. Karena jika iya, kamu bisa menjadi ancaman bagi pria.” 

Wanita menghadapi posisi serbasalah dalam hal ini, entah mereka sadar atau tidak. Di satu sisi, wanita ingin mandiri, ingin berpendidikan tinggi, ingin sukses, ingin kaya, dan lain sebagainya. Tetapi di sisi lain, semakin tinggi ia berada, semakin sedikit [calon] pasangan yang tersedia untuknya. 

Ada ketimpangan di dunia patriarki yang mungkin jarang diungkap. Ketika pria menempati posisi sempurna—dalam arti memiliki segalanya—semakin luas “pasar” yang dimilikinya, semakin mudah ia mendapat pasangan. Sebaliknya, ketika wanita menempati posisi sempurna, semakin sempit “pasar” yang tersedia untuknya, semakin sulit ia mendapat pasangan.

Kenyataan ini jelas tidak adil, tapi kita hidup dalam kultur semacam itu. 

Di dunia patriarki, banyak pria yang berpikir, “Jika ada wanita sempurna tapi sulit dapat pacar, berarti ada yang tidak beres.” Sebenarnya, “yang tidak beres” belum tentu wanitanya, tapi kultur yang mencengkeram kita.

Related

Hoeda's Note 2735752534533784411

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak dibaca

item