‘Why Islam Makes You Stupid’, Buku Kotor yang Ditulis Penulis Kotor

Ilustrasi/books.imprint.co.uk
Judul buku itu terasa seperti sengaja dirancang untuk membuat orang marah sebelum membuka halaman pertama. “Why Islam Makes You Stupid... but Also Means You’ll Conquer the World”. Bahkan kalau diletakkan di rak toko buku biasa, orang kemungkinan sudah bereaksi hanya dengan lewat di depannya. Ada yang tertawa sinis. Ada yang langsung tersinggung. Ada yang penasaran karena kebrutalannya terlalu telanjang untuk diabaikan.

Lalu media sosial bekerja seperti biasa; potongan judul disebar tanpa konteks, screenshot beterbangan, orang bertengkar bahkan sebelum tahu siapa Edward Dutton sebenarnya.

Dutton bukan penulis arus utama yang bersih reputasinya. Ia antropolog Inggris yang lama berkecimpung di dunia akademik, pernah mengajar di University of Oulu, lalu perlahan berubah menjadi figur kontroversial internet. Ia sering masuk wilayah yang dianggap tabu; IQ, ras, perbedaan biologis populasi, agama, evolusi budaya. Nama Dutton sering muncul berdampingan dengan istilah “human biodiversity”, wilayah diskusi yang dianggap pseudo-science berbahaya oleh sebagian akademisi, tapi pendukung Dutton merasa sedang melawan sensor politik modern.

Judul buku tadi sebenarnya sudah memberi petunjuk tentang strategi utama Dutton; provokasi sebagai alat pemasaran.

Orang modern suka berpura-pura membenci provokasi, padahal algoritma hidup dari sana.

Buku seperti itu tidak akan ramai kalau judulnya netral dan akademis seperti The Sociological Dynamics of Contemporary Islam. Tidak ada yang akan ribut di Twitter, karena judul seperti itu terdengar seperti buku wajib kuliah yang bahkan tidak dibaca mahasiswanya sendiri. Dutton paham pasar internet. Ia tahu kemarahan adalah mesin distribusi paling murah.

Tetap saja, di balik judul bombastis itu ada gagasan yang lebih spesifik. Dutton mencoba berargumen bahwa budaya Islam, menurut versinya, cenderung menekan individualisme, skeptisisme, dan kreativitas intelektual tertentu, tetapi justru menghasilkan solidaritas kelompok yang kuat, tingkat religiusitas tinggi, dan daya reproduksi sosial yang membuat Islam terus berkembang secara demografis.

Kalimat-kalimat seperti itu langsung memicu ledakan, karena menyentuh wilayah paling sensitif; agama dan kecerdasan.

Masalahnya, buku-buku seperti itu sering berdiri di antara dua kutub ekstrem. Di satu sisi ada orang yang menolak membaca sama sekali hanya karena judulnya ofensif. Di sisi lain ada orang yang menganggapnya kitab kebenaran alternatif hanya karena berani menabrak tabu.

Dunia internet sekarang memang aneh. Banyak orang tidak lagi membaca buku untuk memahami sesuatu, tetapi untuk mencari amunisi identitas.

Saya melihat cuplikan wawancara Dutton, dan ada sesuatu yang terasa sangat khas akademisi Inggris tertentu; dingin, tenang, seolah sedang membicarakan statistik cuaca, padahal topiknya bahan peledak sosial. Ia bicara soal IQ nasional, budaya kolektivis, dan sejarah peradaban Islam dengan nada profesor yang terlalu santai.

Nada seperti itu sering lebih memancing kemarahan daripada teriakan.

Lalu pertanyaan besarnya muncul; kenapa buku seperti itu justru ramai?

Karena banyak orang diam-diam merasa ada sesuatu yang tidak bisa dibicarakan secara terbuka tentang agama, terutama Islam, tanpa risiko sosial besar. Buku Dutton masuk ke celah itu. Ia menawarkan sensasi “mengatakan hal yang dilarang”. Internet sangat menyukai produk semacam itu.

Di Eropa, percakapan tentang Islam memang sudah lama tegang. Imigrasi massal, serangan teror, segregasi sosial di kota-kota seperti Paris, Brussels, atau Birmingham membuat sebagian masyarakat Barat merasa liberalisme mereka sedang diuji. Ada ketakutan soal integrasi. Ada kemarahan terhadap sensor sosial. Ada juga rasisme murni yang menyamar sebagai kritik budaya. Semua bercampur.

Dutton muncul di tengah kekacauan itu seperti orang yang sengaja menuang bensin ke api sambil tersenyum tipis.

Masalah lain, sebagian kritik terhadap dunia Islam sebenarnya punya dasar realitas tertentu. Negara-negara mayoritas Muslim memang menghadapi persoalan besar dalam kebebasan berpikir, sains independen, otoritarianisme, atau konservatisme sosial. Sulit menyangkal fakta bahwa banyak intelektual Muslim modern hidup dalam tekanan politik atau agama. Kasus penistaan agama, sensor, hingga kekerasan terhadap pembangkang, memang nyata.

Tapi Dutton sering melompat terlalu jauh dari kritik budaya menjadi generalisasi biologis atau psikologis yang problematis. Di situlah banyak akademisi mulai mengernyitkan dahi.

Peradaban Islam sendiri terlalu besar dan terlalu rumit untuk direduksi menjadi satu kalimat clickbait. Dunia Islam melahirkan Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, Ibnu Rushd, observatorium astronomi, tradisi filsafat, dan pusat-pusat ilmu pengetahuan saat sebagian Eropa masih berkubang konflik feodal.

Lalu dunia Islam juga melahirkan rezim brutal, sensor agama, polisi moral, dan kekerasan sektarian.

Kedua hal itu bisa benar sekaligus.

Orang di internet sering terlalu malas menerima kompleksitas seperti itu. Mereka maunya satu narasi bersih; Islam sempurna atau Islam penyebab semua masalah dunia. Tidak ada ruang abu-abu. Tidak ada ruang untuk mengakui bahwa agama bisa memberi makna hidup sekaligus menghasilkan tekanan sosial yang mencekik.

Indonesia menarik kalau dimasukkan ke percakapan ini. Negara kita sering dipromosikan sebagai wajah Islam moderat, tapi di saat bersamaan juga punya paranoia religius yang makin tebal. Buku disensor. Diskusi dibatalkan. Orang takut bicara jujur soal agama karena risiko sosial nyata. Bahkan kritik kecil bisa berubah jadi urusan polisi.

Lalu muncul buku seperti karya Dutton, dan sebagian orang Indonesia diam-diam menikmatinya bukan karena mereka setuju penuh, tetapi karena buku itu terasa seperti tindakan vandal terhadap wilayah yang selama ini dianggap terlalu sakral untuk disentuh. Provokasi punya kenikmatan psikologis sendiri.

Saya juga curiga banyak orang yang membaca buku itu sebenarnya tidak tertarik pada argumennya. Mereka tertarik pada rasa “nakal” saat membacanya. Sensasi membuka sesuatu yang dianggap terlarang. Sama seperti orang membeli buku ateisme garis keras atau manifesto politik ekstrem. Pasar ide modern sering lebih dekat ke industri hiburan daripada pencarian kebenaran.

Lucunya, judul buku itu sendiri memperlihatkan kontradiksi menarik. Dutton mengatakan Islam membuat orang “bodoh”, tapi juga akan “menaklukkan dunia”. Kalimat itu hampir terdengar seperti ketakutan laten Barat sendiri; bahwa liberalisme modern kehilangan daya reproduksi, kehilangan solidaritas, kehilangan keyakinan mendalam, sementara komunitas religius justru tetap bertahan karena punya identitas yang keras dan jelas.

Ketakutan soal demografi Muslim di Eropa sudah lama jadi obsesi kelompok kanan. Statistik kelahiran diperlakukan seperti medan perang peradaban. Padahal kenyataan sosial jauh lebih kacau daripada teori benturan peradaban ala YouTube.

Anak-anak muda Muslim di London sekarang bisa shalat lima waktu sambil main Tinder, mendengar drill UK, nonton anime, lalu debat feminisme di TikTok. Identitas modern tidak lagi lurus. Orang hidup dalam campuran kontradiksi.

Dutton kadang terdengar seperti masih membayangkan peradaban sebagai blok-blok besar yang rapi. Padahal internet sudah menghancurkan banyak batas itu.

Tetap saja, buku kontroversial seperti yang ia tulis akan terus laku. Dunia modern sedang lapar pada suara-suara ekstrem. Algoritma tidak memberi hadiah pada kehati-hatian. Orang yang bicara rumit kalah viral dibanding orang yang bicara brutal dan sederhana.

Maka seorang antropolog Inggris bisa mendadak jadi bahan ribut global hanya karena satu judul buku yang terdengar seperti komentar anonim forum internet tahun 2008.

Dan entah di kamar kos kecil, warung kopi, atau grup Telegram penuh debat agama, seseorang sekarang mungkin sedang membaca buku itu sambil merasa menemukan “kebenaran tersembunyi”, sementara orang lain bahkan belum selesai marah hanya karena membaca sampulnya.


Related

Buku 6877681441088226236

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item