Mengapa Nabi Muhammad Menempati Peringkat 1 dalam Daftar Michael Hart

Ilustrasi/tintaputih.net
Banyak orang membaca daftar Michael H. Hart dengan cara yang keliru. Mereka melihat nama Nabi Muhammad di peringkat pertama, lalu mengira buku itu sedang menyelenggarakan semacam kompetisi kesucian. Seolah-olah Michael Hart sedang mengangkat papan skor raksasa dan mengumumkan: inilah manusia terbaik yang pernah hidup. 

Padahal buku itu tidak pernah dirancang untuk menjawab pertanyaan tentang siapa yang paling baik. Judul buku itu sudah cukup jelas, “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan jadi “100 Orang Paling Berpengaruh dalam Sejarah”). Kata yang dipakai adalah “influential”, berpengaruh. Bukan suci. Bukan benar. Bukan mulia.

Kesalahpahaman itu bisa dimengerti. Dalam budaya populer, pengaruh sering dianggap sebagai hadiah bagi kebajikan. Kita terbiasa berpikir bahwa orang yang paling berpengaruh pasti orang yang paling layak dikagumi. 

Sejarah justru penuh contoh yang berlawanan. Adolf Hitler mempengaruhi dunia secara luar biasa besar. Genghis Khan mengubah peta Eurasia. Joseph Stalin membentuk nasib ratusan juta manusia. Pengaruh dan kebajikan adalah dua jalur yang sering berpotongan, tetapi sama sekali tidak identik.

Michael Hart memahami itu. Karena itulah daftar yang ia susun terasa ganjil bagi banyak orang. Isaac Newton berada di atas Yesus. Nabi Muhammad berada di atas Newton. Albert Einstein tidak menempati posisi pertama. Nama-nama yang bagi sebagian orang terdengar lebih agung justru berada di bawah tokoh yang tidak selalu dianggap paling luhur oleh semua orang.

Penjelasan Hart tentang Nabi Muhammad sebenarnya cukup spesifik. Ia melihat Nabi Muhammad sebagai sosok yang berhasil membangun pengaruh keagamaan sekaligus politik dalam skala yang sangat besar. 

Di Nazaret, Yesus tidak memimpin negara. Di Yerusalem, ia tidak membangun sistem pemerintahan. Gereja berkembang setelah kematiannya melalui kerja panjang para rasul, para uskup, para kaisar Romawi, para teolog. Kekristenan menjadi agama dunia melalui proses berabad-abad yang melibatkan Konstantinus, Theodosius, Agustinus, Gregorius Agung, dan banyak tokoh lain. 

Nabi Muhammad berbeda. Ketika wafat pada tahun 632 di Madinah, fondasi agama sudah berdiri, komunitas politik sudah terbentuk, sistem hukum mulai dirumuskan, pasukan sudah terorganisasi, jaringan loyalitas antar-kabilah sudah terjalin. Hart melihat konsentrasi pengaruh yang jarang muncul dalam sejarah. Seorang nabi, legislator, panglima, kepala negara, dan pemimpin sosial, terkumpul dalam satu pribadi.

Belakangan, saya menemukan penafsiran lain yang jauh lebih keras. Nabi Muhammad ditempatkan di posisi pertama, kata sebagian orang, karena dampak konflik yang berasal dari dirinya terus berlangsung hingga abad ke-20, bahkan abad ke-21. Perang Arab-Israel. Konflik sektarian Sunni-Syiah. Perdebatan tentang syariat. Benturan politik antara dunia Islam dan Barat. Jejak sejarah yang tidak pernah benar-benar berhenti. 

Argumen itu terdengar provokatif. Juga mengandung sebagian kebenaran.

Peperangan memang merupakan bagian dari sejarah Islam sejak masa awal. Perang Badar terjadi pada tahun 624. Uhud setahun kemudian. Khandaq menyusul. Penaklukan Makkah terjadi pada 630. Setelah Nabi Muhammad wafat, pasukan Arab bergerak ke luar Jazirah Arab dengan kecepatan yang hampir sulit dipercaya. Damaskus jatuh. Yerusalem jatuh. Ctesiphon, ibu kota Persia Sasaniyah, jatuh. Dalam waktu kurang dari satu abad, kekuasaan Islam membentang dari Spanyol hingga Asia Tengah. 

Tidak perlu menjadi pengkritik Islam untuk mengakui fakta itu. Sejarah memang seperti itu adanya.

Tetapi ada sesuatu yang mengganggu dari gagasan bahwa Hart menempatkan Nabi Muhammad di urutan pertama terutama karena peperangan.

Kalau ukuran utamanya adalah perang yang dampaknya panjang, Genghis Khan memiliki klaim yang sangat kuat. Kota-kota dari Nishapur sampai Kiev pernah dihancurkan pasukan Mongol. Sejumlah sejarawan memperkirakan puluhan juta orang meninggal akibat ekspansi Mongol. Wabah politik dan demografis yang ditimbulkannya terasa selama berabad-abad. Hitler bahkan memicu perang terbesar dalam sejarah manusia. Stalin membentuk geopolitik abad ke-20 hampir setara dengan siapa pun.

Tapi Michael Hart tidak menempatkan mereka di puncak. Karena perang saja rupanya tidak cukup.

Pengaruh Nabi Muhammad jauh lebih rumit daripada deretan pertempuran. Lima kali sehari, dari Banda Aceh sampai Casablanca, jutaan orang mengarahkan tubuh mereka ke arah Ka'bah. Pada bulan Ramadan, ritme hidup kota-kota besar berubah. Di Kairo, pedagang kurma memenuhi trotoar. Di Surabaya, warung-warung memasang tirai menjelang siang. Di Karachi, jalanan macet menjelang waktu berbuka. Di Istanbul, dentuman meriam tradisional masih dipakai untuk menandai akhir puasa di beberapa kesempatan seremonial. 

Pengaruh semacam itu tidak bekerja melalui tank atau pedang. Ia bekerja melalui kebiasaan.

Michael Hart tampaknya lebih tertarik pada hal-hal seperti itu. Pengaruh yang masuk ke dalam kehidupan sehari-hari manusia. Pengaruh yang mengatur kapan seseorang makan, bagaimana seseorang menikah, bagaimana warisan dibagi, bagaimana kalender dihitung, bagaimana doa diucapkan. 

Seorang petani di Jawa abad ke-19 mungkin tidak pernah mendengar nama Newton. Ia mungkin juga tidak tahu apa itu gravitasi universal. Tetapi ia tahu kapan Ramadan dimulai. Ia tahu arah kiblat. Ia tahu nama Muhammad.

Angka-angka kadang membantu menjelaskan persoalan ini. Lebih dari satu miliar manusia hidup dengan referensi keagamaan yang secara langsung terhubung kepada Nabi Muhammad. Tidak banyak tokoh sejarah yang dapat mengklaim kedekatan semacam itu dengan kehidupan sehari-hari manusia yang hidup seribu empat ratus tahun setelah kematiannya.

Saya curiga sebagian pembaca modern merasa tidak nyaman dengan fakta tersebut, karena mereka terbiasa memandang sejarah melalui kacamata moral. Mereka ingin daftar orang paling berpengaruh sekaligus menjadi daftar orang paling baik. Dunia tidak bekerja serapi itu. Pengaruh adalah kategori yang dingin. Hampir mekanis. Kadang bahkan brutal.

Siapa pun bisa tidak setuju dengan Nabi Muhammad. Siapa pun bisa mengaguminya. Siapa pun bisa memandangnya sebagai nabi, reformis sosial, panglima perang, negarawan, atau kombinasi semuanya. Michael Hart tidak sedang meminta pembacanya memilih salah satu posisi itu. Ia sedang menghitung amplitudo gelombang sejarah yang ditinggalkan seseorang. 

Ketika membaca alasan Hart, saya justru sampai pada kesimpulan yang berbeda dari yang dulu saya bayangkan. Nabi Muhammad berada di peringkat pertama bukan karena ia manusia paling sempurna. Buku itu tidak sedang berbicara tentang kesempurnaan. Nabi Muhammad juga tidak berada di sana semata-mata karena peperangan yang berlangsung panjang. Perang hanyalah satu komponen dari pengaruh yang jauh lebih luas.

Hart tampaknya terkesan oleh sesuatu yang lebih sederhana dan lebih aneh: begitu banyak orang dalam sejarah pernah mendirikan agama, memimpin pasukan, menyusun hukum, atau membangun negara, tapi sangat sedikit yang berhasil melakukan semuanya sekaligus.

Di rak buku saya, salinan “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” selalu terasa sedikit mengganggu. Daftar itu tidak memuji siapa pun. Daftar itu juga tidak menghukum siapa pun. Ia hanya menunjukkan ukuran jejak yang ditinggalkan manusia di permukaan sejarah. 

Kadang jejak itu berupa katedral. Kadang berupa observatorium. Kadang berupa kuburan massal. Kadang berupa jutaan orang yang bangun sebelum fajar, membasuh wajah dengan air dingin, lalu mengucapkan nama seseorang yang meninggal di Madinah hampir empat belas abad lalu.

Related

Tokoh 1010709385261983065

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item