Kucing, Anjing, dan Merpati, Pernah Digunakan sebagai Alat Intelijen

Ilustrasi/seketika.com
Seekor kucing berjalan santai di trotoar. Tidak ada yang aneh. Ekornya bergerak pelan. Sesekali ia berhenti, menoleh, lalu melanjutkan langkah. Orang-orang lewat tanpa memperhatikannya. Kucing adalah bagian dari latar belakang kota; terlalu biasa untuk dicurigai.

Di suatu masa, seseorang di CIA memandang pemandangan seperti itu dan mendapat ide yang luar biasa sekaligus gila: bagaimana jika kucing dijadikan alat penyadap?

Begitulah salah satu hal yang membuat sejarah terasa lebih aneh daripada fiksi. Penulis novel mata-mata sering dituntut agar tetap masuk akal. Dunia nyata tidak memiliki kewajiban semacam itu.

Proyek tersebut dikenal sebagai Acoustic Kitty. Pada 1960-an, CIA menghabiskan jutaan dolar untuk sebuah eksperimen yang bertujuan mengubah seekor kucing menjadi perangkat pengintaian hidup. Mikrofon ditanam di telinganya. Pemancar radio ditempatkan di tubuhnya. Antena disembunyikan di sepanjang ekor. Para insinyur dan teknisi menghabiskan waktu bertahun-tahun mencoba memecahkan masalah yang mungkin terdengar konyol bagi siapa pun yang pernah hidup bersama kucing: hewan itu tidak suka diperintah.

Itulah inti persoalannya. Kucing bukan drone. Kucing memiliki agenda sendiri.

Seekor anjing mungkin bisa dilatih berlari menuju target tertentu. Seekor kucing mungkin berhenti di tengah jalan karena melihat serangga yang lebih menarik daripada misi intelijen internasional.

Menurut versi cerita yang paling sering beredar, pengujian lapangan pertama berakhir tragis ketika kucing tersebut ditabrak taksi tidak lama setelah dilepaskan. Sebagian detail kisah itu masih diperdebatkan para sejarawan intelijen. Dokumen-dokumen yang dideklasifikasi menunjukkan proyek itu memang ada, memang menghabiskan biaya besar, dan memang gagal. Bagian mengenai ditabrak taksi telah jadi semacam legenda dalam sejarah spionase.

Ruang rapat yang penuh orang-orang berpendidikan tinggi pernah digunakan untuk membahas cara memasang alat sadap pada seekor kucing. Pikiran itu terasa mengganggu, tapi faktanya benar-benar nyata.

Kisah merpati bahkan lebih aneh, karena justru berhasil. Selama Perang Dunia Kedua, psikolog terkenal B. F. Skinner mengembangkan sebuah proyek untuk militer Amerika Serikat, yang diberi nama Project Pigeon. Ide dasarnya terdengar seperti hasil percakapan larut malam yang seharusnya dilupakan keesokan harinya.

Seekor merpati ditempatkan di dalam rudal. Di bagian depan terdapat layar yang menampilkan gambar target. Burung itu dilatih untuk mematuk gambar sasaran. Setiap kali target bergeser, merpati akan terus mematuknya. Sistem mekanis kemudian menerjemahkan patukan tersebut menjadi koreksi arah rudal.

Kedengarannya agak geblek, tapi Skinner benar-benar membuktikan bahwa metode itu bekerja.

Foto-foto proyek tersebut masih ada. Burung-burung itu tampak serius menjalankan tugasnya. Ada sesuatu yang lucu sekaligus mengesankan ketika melihat seekor merpati yang tampaknya lebih fokus daripada sebagian manusia di ruang kantor modern.

Militer akhirnya membatalkan proyek itu, karena teknologi elektronik berkembang ke arah lain. Akan tetapi, eksperimen itu menunjukkan sesuatu yang sering terlupakan: batas antara kecerdasan biologis dan teknologi jauh lebih kabur daripada yang dibayangkan banyak orang.

Perang Dingin memperburuk kecenderungan itu. Ketika Amerika Serikat dan Uni Soviet saling mencurigai, hampir semua ide—bahkan yang terdengar gila—memperoleh kesempatan hidup. Ketakutan adalah bahan bakar yang sangat kuat bagi kreativitas. Ketika para pejabat percaya lawan mereka mungkin sedang mengembangkan teknologi revolusioner, gagasan yang dalam keadaan normal akan ditertawakan mendadak terlihat masuk akal.

Seekor kucing penyadap? Mengapa tidak. Merpati pemandu rudal? Coba saja. Lumba-lumba mata-mata? Sudah dilakukan.

Angkatan Laut Amerika melatih lumba-lumba hidung botol untuk mendeteksi ranjau laut dan penyusup bawah air. Program tersebut bukan eksperimen singkat. Sebagian masih berlanjut dalam bentuk tertentu hingga puluhan tahun kemudian. Lumba-lumba memiliki kemampuan sonar alami yang sangat sulit ditandingi teknologi manusia pada masa itu.

Anjing digunakan untuk berbagai tugas militer sejak lama. Burung merpati membawa pesan selama perang. Kuda mengangkut logistik. Gajah pernah digunakan dalam kampanye militer di berbagai wilayah Asia. Perbedaan antara alat dan makhluk hidup kadang jadi kabur ketika negara sedang berperang.

Di balik kisah-kisah ini, tersimpan sesuatu yang agak mengganggu. Manusia memiliki kecenderungan melihat setiap makhluk sebagai potensi teknologi. Seekor kuda bukan lagi kuda. Ia menjadi kendaraan. Seekor anjing bukan lagi anjing. Ia menjadi sensor. Lumba-lumba bukan lagi lumba-lumba. Ia menjadi sistem deteksi bawah laut. Pola pikir itu terasa sangat modern, padahal usianya jauh lebih tua daripada komputer.

Mesir kuno memanfaatkan kucing untuk mengendalikan populasi hama. Bangsa Mongol menggunakan kuda dengan efisiensi yang hampir tidak tertandingi dalam sejarah militer. Kekaisaran Romawi bergantung pada jaringan hewan untuk komunikasi dan transportasi. Perbedaannya hanya terletak pada tingkat kecanggihannya.

CIA memasang mikrofon. Skinner memasang mekanisme pelacak. Prinsip dasarnya tidak berubah: manusia melihat kemampuan alami hewan, dan mencoba mengubahnya menjadi keunggulan strategis.

Ada detail yang sering hilang ketika orang membaca kisah-kisah semacam itu. Sebagian besar proyek aneh tersebut lahir dari orang-orang yang sangat pintar. Skinner bukan ilmuwan pinggiran. Ia salah satu tokoh paling berpengaruh dalam psikologi abad ke-20. Para insinyur yang terlibat dalam Acoustic Kitty bukan orang bodoh. Banyak dari mereka memiliki keahlian teknis luar biasa.

Kecerdasan ternyata tidak membuat manusia kebal terhadap ide yang terdengar konyol. Kadang justru sebaliknya. Semakin besar sumber daya yang tersedia, semakin jauh seseorang dapat mengejar ide yang sebenarnya tidak masuk akal.

Membaca dokumen-dokumen lama mengenai proyek semacam itu menghasilkan sensasi yang aneh. Mata bergerak menyusuri halaman demi halaman laporan resmi. Bahasa yang digunakan sangat birokratis, sangat serius, sangat profesional. Tidak ada humor di dalamnya. Para penulis laporan itu sungguh percaya bahwa mereka sedang mengerjakan sesuatu yang penting bagi keamanan nasional.

Sementara pembaca modern berusaha menahan tawa karena laporan tersebut pada dasarnya membahas seekor kucing yang diubah menjadi alat sadap.

Perang dan spionase selalu menghasilkan cerita semacam itu. Sebagian mengerikan. Sebagian tragis. Sebagian absurd. Kadang ketiganya muncul sekaligus.

Seekor merpati duduk di pinggir gedung pada sore hari. Seekor kucing tidur di bawah mobil yang terparkir. Orang-orang lalu-lalang tanpa memikirkan apa pun selain urusan mereka sendiri.

Beberapa dekade lalu, seseorang memandang hewan-hewan yang sama, dan melihat rudal, mikrofon, antena, operasi rahasia, dan kemenangan geopolitik.

Seekor merpati mengepakkan sayap. Seekor kucing menguap. Ribuan halaman arsip intelijen tersimpan di rak-rak dokumen.


Related

Umum 2070964615921651018

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item