Honour Killing, Nasib Tragis Anak-anak Perempuan di Pakistan

Ilustrasi/bbc.co.uk
Tubuh seorang gadis ditemukan di dalam mobil yang hangus terbakar di wilayah Balochistan. Orang-orang berdiri mengelilingi bangkai kendaraan itu sambil menutup hidung, karena bau daging terbakar punya aroma yang sulit dilupakan. Polisi datang terlambat seperti biasa. Nama gadis itu kemudian masuk statistik. Keluarganya menyebut kematian itu sebagai “kehormatan”.

Kata “kehormatan” terdengar begitu bersih dalam bahasa. Praktiknya sering lebih dekat ke barbarisme purba.

Di Pakistan, honour killing—pembunuhan demi kehormatan keluarga—masih terjadi meski dunia modern terus bergerak maju dengan AI, roket privat, dan operasi robotik. Seorang perempuan bisa dibunuh karena menikah tanpa izin keluarga, berbicara dengan laki-laki yang dianggap salah, menolak perjodohan, mengunggah video TikTok, atau sekadar dicurigai mempermalukan nama keluarga.

Kadang alasannya bahkan terasa nyaris tidak masuk akal. Di beberapa desa terpencil di Sindh atau Punjab, gosip bisa mematikan orang. Bukan metafora. Betul-betul mematikan. Seorang paman mendengar kabar dari tetangga. Kakak laki-laki mulai marah. Ayah merasa dipermalukan. Malam harinya tubuh seseorang dibuang ke sungai atau dikubur diam-diam.

Orang luar sering membayangkan pembunuhan kehormatan sebagai tindakan impulsif penuh emosi. Kenyataannya kadang justru dingin dan administratif. Keluarga berkumpul. Mereka berdiskusi. Nama baik. Martabat. Tradisi. Seolah sedang rapat bisnis kecil untuk memutuskan nasib seorang anak perempuan.

Yang membuat praktik itu lebih mengerikan adalah fakta bahwa pelakunya sering orang yang paling dekat dengan korban. Ayah sendiri. Saudara laki-laki sendiri. Paman sendiri. Orang yang dulu menggendong korban saat bayi.

Bayangkan rasa takut seorang gadis ketika menyadari rumahnya sendiri berubah jadi tempat paling berbahaya.

Pakistan sebenarnya punya hukum yang melarang honour killing. Pemerintah bahkan memperketat aturan setelah kasus Qandeel Baloch mengguncang dunia pada 2016. Qandeel adalah figur internet yang kontroversial, sensual, berisik, dan sadar betul bagaimana memainkan perhatian publik. Ia seperti tabrakan langsung antara budaya konservatif Pakistan dan era media sosial. Ia dibunuh oleh saudara laki-lakinya sendiri.

Saudaranya mengatakan, ia melakukannya demi kehormatan keluarga. Kalimat itu diucapkan dengan ketenangan yang mengerikan, dalam wawancara televisi. Tidak terdengar seperti pembunuh psikopat. Justru seperti orang yang yakin sedang melakukan kewajiban moral.

Itulah bagian paling menakutkan dari honour killing; pelakunya sering tidak merasa dirinya monster. Mereka merasa benar.

Banyak masyarakat modern gagal memahami kekuatan konsep “malu kolektif” dalam budaya tertentu. Di beberapa komunitas Pakistan yang sangat patriarkal dan tribal, perempuan diperlakukan seperti wadah reputasi keluarga. Tubuhnya bukan miliknya sendiri. Pilihannya bukan pilihannya sendiri. Cintanya bukan urusan pribadinya.

Ia menjadi simbol. Dan simbol biasanya diperlakukan lebih kejam daripada manusia biasa.

Saya membaca kisah-kisah korban honour killing, dan selalu terganggu oleh detail kecilnya. Ada perempuan yang dibunuh karena ketahuan punya ponsel. Ada yang dicekik setelah pulang dari sekolah. Ada yang ditembak di depan anaknya sendiri. Ada yang dilempari batu. Kadang mayat mereka bahkan tidak diberi upacara layak karena dianggap memalukan.

Di banyak kasus, ibu korban tahu apa yang akan terjadi, tapi tidak mampu menghentikannya. Bayangkan hidup bertahun-tahun dalam rumah yang penuh laki-laki marah dan tradisi keras. Orang luar sering gampang berkata, “kenapa ibunya diam?” Seolah semua perempuan punya ruang aman untuk melawan.

Tidak semua orang hidup dengan kemewahan keberanian. Di desa-desa tertentu, kehormatan laki-laki terasa rapuh sekali. Rapuh sampai bisa runtuh hanya karena seorang perempuan tersenyum pada orang yang salah. Ada obsesi mengontrol tubuh perempuan yang begitu ekstrem sampai terdengar hampir paranoid.

Lalu agama ikut diseret ke sana. Padahal banyak ulama Pakistan sendiri mengecam honour killing, dan menyatakan praktik itu tidak punya dasar legitimasi agama. Masalahnya, tradisi patriarki lokal sering jauh lebih kuat daripada ceramah moral resmi. Orang memilih tafsir yang mendukung kemarahan mereka.

Internet memperumit semuanya. TikTok di Pakistan seperti granat sosial kecil. Anak-anak muda desa sekarang bisa melihat dunia luar lewat layar murah buatan China. Gadis-gadis mulai merekam diri, menari, memakai filter, bicara ke kamera, tampil di ruang publik digital. Sesuatu yang dulu mustahil.

Reaksi konservatif muncul cepat dan brutal. Beberapa tahun lalu, dua gadis remaja di Pakistan dibunuh setelah video mereka beredar online. Dalam video itu, mereka cuma terlihat bersama seorang pria di pesta kecil. Tidak ada adegan vulgar. Tidak ada pornografi. Hanya keberadaan perempuan di ruang sosial yang dianggap salah.

Tubuh perempuan di banyak masyarakat memang terus diawasi seperti wilayah perang.

Saya kadang terganggu dengan cara sebagian orang Barat membahas honour killing, seolah barbarisme eksotis khas Timur Tengah atau Asia Selatan. Sikap moral superior seperti itu terasa malas juga. Dunia modern punya versi kekerasannya sendiri terhadap perempuan; femisida, kekerasan domestik, kontrol tubuh, pembunuhan pasangan. Bentuknya beda, akarnya sering sama—obsesi kepemilikan.

Tetap saja, honour killing punya kekejaman yang khas karena dibungkus moralitas keluarga. Pembunuhan berubah menjadi ritual pemulihan nama baik.

Nama baik siapa, sebenarnya?

Di beberapa wilayah Pakistan, istilah “karo-kari” dipakai untuk menyebut laki-laki dan perempuan yang dianggap mencemari kehormatan keluarga. Hukuman sosialnya bisa kematian. Sistem tribal dan feodal membuat hukum negara sering kalah oleh tekanan komunitas lokal. Polisi tahu. Tetangga tahu. Semua orang tahu sesuatu akan terjadi. Tidak ada yang bergerak cukup cepat.

Kadang mayat ditemukan di sumur. Kadang di gurun. Kadang dibakar agar jejak hilang.

Media Pakistan sendiri sering berada dalam posisi rumit. Aktivis perempuan dan jurnalis progresif terus bersuara, tapi ancaman nyata selalu ada. Membicarakan honour killing berarti menyentuh lapisan terdalam patriarki sosial. Orang tidak sekadar marah; mereka merasa identitas budayanya dihina.

Kita hidup di zaman aneh ketika seorang gadis Pakistan bisa menonton video konser K-pop lewat ponselnya, dan di saat yang sama hidup dalam rumah yang menganggap pilihan pasangan sebagai urusan hidup-mati keluarga. Dua dunia bertabrakan di kamar tidur sempit.

Saya pernah membaca kesaksian seorang aktivis Pakistan yang mendampingi korban selamat honour killing. Gadis itu lolos setelah ditembak ayahnya sendiri. Pelurunya tidak mematikan. Aktivis itu berkata, korban terus-menerus bertanya satu hal setelah sadar di rumah sakit, “Ayah saya di mana?”

Tubuh manusia punya kemampuan aneh untuk tetap mencintai orang yang menghancurkannya.

Orang sering mengira perubahan sosial datang cepat setelah hukum dibuat. Tidak. Tradisi keras bisa bertahan jauh lebih lama daripada undang-undang. Apalagi kalau didukung rasa takut kolektif, kontrol sosial, dan tafsir moral yang diwariskan turun-temurun.

Di beberapa tempat, kehormatan keluarga masih terasa lebih penting daripada nyawa anak perempuan sendiri.

Dan kalimat itu ditulis pada abad ke-21, saat manusia sudah mengirim wahana ke Mars dan melatih AI untuk meniru suara orang mati.

Sementara di sebuah desa di Pakistan, mungkin malam ini ada seorang gadis yang menyembunyikan ponselnya di bawah bantal... sambil mendengar langkah kaki ayahnya mendekat ke lorong rumah.


Related

Internasional 3901770194184423987

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item