Pernikahan Anak di Iran dan Pertanyaan Paling Menggelisahkan

Ilustrasi/wncri.org
Sebuah kalimat pendek yang diucapkan seorang perempuan Iran di Swedia bisa terdengar lebih mengganggu daripada pidato politik selama dua jam. Ia berkata bahwa anak-anak perempuan dinikahkan dengan pria dewasa di Iran, bahwa mereka berusaha membangun kesadaran mengenai praktik itu, dan bahwa banyak feminis Barat memilih memalingkan wajah. 

Ia menyebut, “Pedofilia legal di Republik Islam Iran,” dan, “Kami berusaha menciptakan kesadaran, tapi para feminis Barat mengabaikan kami sepenuhnya.” 

Kalimat semacam itu membuat orang tergoda untuk langsung memilih kubu: percaya sepenuhnya atau menolaknya sebagai propaganda. Padahal kenyataan yang lebih menarik, dan lebih tidak nyaman, sering berada di wilayah yang memaksa kita memeriksa fakta terlebih dulu sebelum memeriksa ideologi.

Mari mulai dari hal yang paling penting. Pernyataan bahwa pernikahan anak masih menjadi persoalan serius di Iran bukanlah karangan media sosial. Hukum Iran memang menetapkan usia minimum pernikahan bagi perempuan pada 13 tahun, sementara pernikahan pada usia yang lebih muda tetap dimungkinkan dengan persetujuan wali dan hakim. Artinya, secara hukum, seorang anak perempuan di bawah 13 tahun masih dapat dinikahkan melalui mekanisme pengecualian yang tersedia dalam sistem hukum negara tersebut.

Kalimat "pedofilia legal" merupakan istilah polemis, bukan istilah hukum. Secara hukum, yang benar adalah bahwa Iran mengizinkan pernikahan anak dalam kondisi tertentu. Banyak organisasi hak asasi manusia menganggap praktik tersebut sebagai pelanggaran hak anak dan bentuk kekerasan struktural terhadap perempuan.

Di sinilah persoalannya jadi lebih rumit daripada sekadar pertengkaran antara Timur dan Barat.

Ketika orang mendengar kata "Iran", yang muncul sering kali adalah gambar rudal, ulama berjubah panjang, sanksi ekonomi, atau kerumunan massa di Teheran. Yang jarang muncul adalah seorang gadis berusia 12 tahun di sebuah kota kecil di Provinsi Sistan-Baluchestan atau Khorasan Razavi. Rambutnya mungkin masih dikepang. Ia mungkin masih menyukai boneka. Ia mungkin bahkan belum selesai memahami dirinya sendiri, ketika orang-orang dewasa di sekelilingnya mulai membicarakan pernikahan.

Data resmi Iran selama bertahun-tahun menunjukkan puluhan ribu pernikahan melibatkan anak perempuan di bawah usia 15 tahun. Peneliti yang menganalisis data sipil Iran menemukan lebih dari satu juta pernikahan anak perempuan terjadi dalam periode delapan tahun, dengan ribuan kasus melibatkan anak di bawah usia 13 tahun.

Angka-angka sering gagal menggambarkan suasana. Angka tidak menunjukkan suara sendok yang beradu dengan piring saat keluarga membicarakan calon suami. Angka tidak menunjukkan ruang tamu sempit dengan karpet usang tempat keputusan hidup seseorang ditentukan oleh orang lain. Angka tidak menunjukkan wajah seorang anak yang bahkan belum cukup umur untuk mengendarai mobil, tetapi dianggap cukup dewasa untuk memasuki pernikahan.

Bagian yang paling mengganggu justru bukan keberadaan hukum tersebut. Banyak negara memiliki hukum buruk. Banyak negara memiliki warisan hukum yang memalukan. Yang mengganggu adalah kemampuan manusia untuk membiasakan diri terhadapnya.

Kebiasaan adalah mesin yang sangat kuat. Orang bisa terbiasa melihat perempuan wajib mengenakan hijab. Orang bisa terbiasa melihat sensor. Orang bisa terbiasa melihat polisi moral. Orang bahkan bisa terbiasa melihat pernikahan anak jika praktik itu berlangsung cukup lama dan dibungkus oleh bahasa agama, tradisi, atau keluarga.

Sejarah penuh dengan kebiasaan-kebiasaan yang kemudian dianggap mengerikan oleh generasi berikutnya. Perbudakan pernah dianggap normal. Pekerja anak pernah dianggap normal. Pernikahan anak pernah dianggap normal hampir di seluruh dunia. Normalitas sering kali hanya berarti sesuatu telah berlangsung lama.

Lalu muncul tuduhan kedua yang lebih politis: feminis Barat diam. Kalimat itu jauh lebih sulit diukur daripada statistik pernikahan anak.

Sebagian aktivis perempuan di Barat memang sangat vokal mengenai Iran. Nama seperti Masih Alinejad memperoleh dukungan luas dari jaringan feminis internasional. Demonstrasi setelah kematian Mahsa Amini juga mendapat perhatian global yang sangat besar. Banyak kelompok perempuan di Eropa dan Amerika secara terbuka mengecam kebijakan Iran terhadap perempuan. Menyatakan bahwa seluruh feminis Barat diam jelas tidak sesuai dengan kenyataan.

Tetapi ada lapisan lain yang membuat kritik semacam itu tetap bertahan.

Sebagian aktivis pembangkang Iran selama bertahun-tahun mengeluhkan sesuatu yang berbeda. Mereka tidak mengatakan Barat sepenuhnya diam. Mereka mengatakan perhatian Barat sering selektif.

Sebuah isu dapat memperoleh liputan luar biasa selama beberapa minggu, lalu menghilang. Sebuah slogan dapat viral di media sosial. Sebuah tagar dapat memenuhi layar ponsel. Kehidupan sehari-hari para perempuan yang hidup di bawah sistem tersebut tetap berjalan setelah kamera pergi.

Banyak orang Iran di diaspora menyuarakan frustrasi semacam itu. Mereka melihat universitas-universitas Eropa mengadakan seminar besar mengenai representasi gender dalam film Hollywood, sementara praktik pernikahan anak di negara asal mereka terasa jauh lebih jarang menjadi pusat perhatian. Apakah kritik mereka sepenuhnya adil? Tidak selalu. Apakah kritik mereka sepenuhnya tanpa dasar? Juga tidak.

Politik identitas global kadang memiliki titik buta yang aneh. Orang bisa sangat sensitif terhadap satu bentuk ketidakadilan, dan nyaris tidak bereaksi terhadap bentuk lain.

Hal itu tidak hanya terjadi di kalangan feminis. Kaum konservatif melakukannya. Kaum progresif melakukannya. Kaum nasionalis melakukannya. Kaum religius melakukannya. Manusia sering lebih setia kepada narasi daripada kepada korban.

Itulah bagian yang membuat telinga berdenging ketika mendengar kesaksian perempuan-perempuan Iran yang hidup di pengasingan. Mereka sering berbicara dengan nada yang berbeda dari aktivis profesional. Nada mereka terdengar lebih kasar, lebih marah, kurang rapi. Kadang-kadang mereka bahkan tidak terdengar strategis. Mereka terdengar lelah.

Di Stockholm, Göteborg, Berlin, Paris, Toronto, Los Angeles, komunitas diaspora Iran telah bertahun-tahun membawa cerita-cerita yang jarang muncul dalam brosur wisata. Cerita tentang hakim yang memberi izin. Cerita tentang keluarga yang miskin. Cerita tentang gadis yang keluar dari sekolah lebih cepat daripada teman-temannya. Cerita tentang hukum yang tetap bertahan walaupun dunia berubah.

Sebagian orang akan membaca semua itu, dan segera menjadikannya senjata untuk menyerang Islam secara keseluruhan. Sebagian lagi akan buru-buru menganggapnya propaganda anti-Iran. Kedua reaksi itu terasa terlalu malas.

Seorang anak perempuan yang dinikahkan pada usia 12 tahun tidak berubah nasibnya hanya karena orang dewasa di internet sedang berdebat tentang geopolitik.

Di luar semua slogan, semua kubu, semua perang budaya yang tak ada habisnya, tetap ada pertanyaan yang sangat sederhana: mengapa pada abad ke-21 masih diperlukan izin hakim agar seorang anak bisa dinikahkan dengan orang dewasa?

Pertanyaan itu berdiri sendiri. Tidak membutuhkan tagar. Tidak membutuhkan teori. Tidak membutuhkan pembelaan yang panjang.

Di sebuah kantor pengadilan di Iran, seorang hakim menandatangani dokumen. Di tempat lain, ribuan kilometer jauhnya, seorang perempuan Iran di Swedia berbicara ke mikrofon tentang hal yang sama. Suaranya terdengar serak. Udara dingin Skandinavia tampaknya tidak banyak membantu.

Related

Internasional 2424414367586589594

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item