Soal Larangan Burqa di Belanda, Ini Fakta yang Terjadi Sebenarnya
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/soal-larangan-burqa-di-belanda-ini.html
![]() |
| Ilustrasi/theatlantic.com |
Kondektur trem di Utrecht sempat bingung harus melakukan apa. Seorang perempuan bercadar duduk diam di kursi dekat jendela, tangannya memegang tas kain warna abu-abu, sementara beberapa penumpang mulai melirik satu sama lain. Aturan baru sudah berlaku; penutup wajah dilarang di transportasi publik, sekolah, rumah sakit, dan gedung pemerintah Belanda. Masalahnya, tidak ada yang benar-benar siap menjadi polisi kain.
Kondektur itu akhirnya memilih berjalan terus. Trem tetap bergerak melewati kanal Oudegracht. Orang-orang kembali melihat ponsel.
Begitulah rupa sebagian besar “perang budaya” di dunia nyata; canggung, setengah hati, dan sering kali terlihat jauh lebih kusam dibanding pidato politik di televisi.
Belanda resmi memberlakukan larangan cadar atau penutup wajah pada Agustus 2019. Pemerintah menyebutnya “gedeeltelijk verbod gezichtsbedekkende kleding”—larangan parsial pakaian penutup wajah. Kata “burqa ban” lebih gampang dijual ke media internasional, lebih dramatis, lebih mudah mengundang amarah.
Aturannya sebenarnya tidak berlaku di jalan umum. Orang masih bisa memakai niqab atau burqa di trotoar Amsterdam, pasar Rotterdam, atau dekat toko keju turis di Volendam. Larangan berlaku di tempat-tempat yang dianggap membutuhkan “komunikasi terbuka”; sekolah, rumah sakit, kantor pemerintah, bus, kereta, trem. Dendanya sekitar 150 euro, kalau melanggar.
Masalah kecil mulai muncul hampir seketika; banyak institusi lokal tidak tertarik menegakkan aturan itu.
Rumah sakit di Amsterdam menyatakan, mereka tidak ingin pasien perempuan takut datang berobat hanya karena pakaian mereka. Polisi di beberapa wilayah bilang mereka tidak akan secara aktif memburu perempuan bercadar. Pemerintah kota Amsterdam bahkan memberi sinyal dingin terhadap implementasi aturan tersebut. Wali kota Femke Halsema terang-terangan mengatakan prioritas polisi bukan mengurusi pakaian perempuan.
Ada sesuatu yang ironis saat negara membuat larangan nasional, sementara aparat lokal mengangkat bahu dan tampak malas menjalankannya.
Belanda memang aneh kalau dilihat dari jauh. Negara itu sering dipasarkan sebagai negeri liberal; ganja legal di coffee shop, distrik lampu merah di De Wallen, pasangan sesama jenis menikah sejak lama. Orang luar membayangkan Belanda seperti eksperimen sosial progresif raksasa dengan sepeda dan bunga tulip.
Kenyataannya jauh lebih rumit, lebih keras, dan kadang lebih sinis.
Politik Belanda beberapa dekade terakhir dipenuhi ketegangan soal identitas nasional dan imigrasi Muslim. Nama Pim Fortuyn masih menghantui diskusi itu. Fortuyn, politisi flamboyan berkepala plontos yang gay secara terbuka, dibunuh pada 2002 setelah berkampanye keras melawan imigrasi Islam. Theo van Gogh, pembuat film yang mengkritik perlakuan terhadap perempuan dalam komunitas Muslim, dibunuh di jalan Amsterdam dua tahun kemudian. Tubuhnya ditembak dan ditusuk. Surat ancaman ditancapkan di dadanya.
Mata orang Belanda berubah setelah itu. Tidak semuanya, tapi cukup banyak.
Geert Wilders lalu naik seperti api kecil yang tak pernah benar-benar padam. Rambut pirangnya yang aneh itu terus muncul di televisi sambil menyebut Islam sebagai ancaman terhadap nilai-nilai Belanda. Ia mendorong larangan masjid, larangan Al-Qur’an, larangan imigrasi Muslim. Burqa menjadi simbol yang sangat berguna secara politik karena visualnya kuat. Kamera suka benda yang hitam dan menutup wajah. Politisi juga.
Jumlah perempuan yang benar-benar memakai burqa atau niqab di Belanda sebenarnya sangat kecil. Beberapa estimasi menyebut hanya ratusan orang di seluruh negeri. Negara berpenduduk lebih dari 17 juta orang membuat undang-undang nasional untuk pakaian yang dipakai segelintir perempuan.
Tubuh perempuan sering dijadikan papan pengumuman politik. Negara sekuler memaksa membuka wajah. Negara teokratis memaksa menutupnya. Dua-duanya sama-sama sibuk mengatur kain.
Orang-orang suka membingkai debat itu sebagai pertarungan sederhana antara “kebebasan” melawan “penindasan agama”. Dunia nyata tidak sesederhana poster demonstrasi.
Sebagian perempuan Muslim memang merasa niqab adalah kewajiban religius yang mereka pilih sendiri. Sebagian lain mungkin berada dalam tekanan keluarga atau komunitas. Dua kenyataan itu bisa hidup berdampingan sekaligus, dan justru itu yang bikin diskusinya kacau. Publik modern sangat tidak nyaman menghadapi situasi yang tidak hitam-putih.
Saya ingat foto seorang perempuan bercadar berdiri di stasiun Den Haag Centraal, beberapa hari setelah aturan berlaku. Ia memakai sarung tangan hitam, hanya matanya terlihat. Di belakangnya ada papan iklan raksasa parfum Dior dengan model perempuan pirang berwajah terbuka lebar. Kontras visualnya terlalu sempurna sampai terasa seperti satire murahan. Tubuh mana yang dianggap “bebas” biasanya ditentukan oleh siapa yang memegang kamera.
Pemerintah Belanda berkali-kali menegaskan aturan itu bukan serangan terhadap Islam. Mereka mengatakan helm motor, topeng ski, dan balaclava juga dilarang di tempat-tempat tertentu. Kalimat itu terdengar rapi dalam konferensi pers. Di lapangan, semua orang tahu siapa target simboliknya. Tidak ada politisi membuat debat nasional tentang orang memakai helm motor di bus.
Rumah sakit menjadi bagian paling ganjil dalam cerita ini. Dokter dan perawat di beberapa tempat mengeluh aturan tersebut justru bisa merusak hubungan dengan pasien. Seorang dokter di Rotterdam mengatakan kepada media lokal bahwa ia lebih peduli pasien datang tepat waktu daripada urusan cadar. Logika medis sering terasa jauh lebih praktis dibanding logika politik identitas. Tubuh sakit tidak terlalu peduli perang budaya.
Pemandangan lucu muncul setelah aturan berjalan. Operator transportasi publik mengatakan staf mereka bukan polisi moral. Sebagian sopir bus merasa tidak nyaman menegur perempuan bercadar karena takut konflik. Polisi nasional pun tampak setengah malas. Energi negara besar dipakai untuk sesuatu yang dalam praktik sehari-hari bahkan aparatnya sendiri enggan menyentuh.
Di titik tertentu, larangan itu mulai terlihat seperti teater politik; simbol harus diproduksi agar publik merasa negara “bertindak”.
Eropa memang sedang demam simbol selama dua dekade terakhir. Jilbab, menara masjid, daging halal, kartun Nabi Muhammad, migran di Laut Mediterania. Semua berubah jadi semacam layar proyeksi rasa takut kolektif. Serangan teror di Paris, Brussels, Berlin, meninggalkan bekas psikologis yang nyata. Orang-orang ingin sesuatu yang bisa dilihat, sesuatu yang bisa ditunjuk dengan jari. Cadar memenuhi kebutuhan visual itu.
Wajah tertutup membuat sebagian orang Eropa gelisah secara naluriah. Mereka bicara tentang “keterbukaan” dan “komunikasi”, tapi kadang saya curiga yang lebih mengganggu sebenarnya adalah rasa asing. Tatapan mata tanpa wajah di bawahnya memicu sesuatu yang primitif.
Orang Belanda sendiri terkenal langsung dan blak-blakan. Budaya mereka menghargai keterusterangan hampir agresif. Mereka suka kontak mata. Suka bicara to the point. Dalam masyarakat seperti itu, wajah tertutup terasa seperti gangguan kecil pada tata sosial sehari-hari.
Kereta Intercity dari Amsterdam ke Eindhoven pagi hari penuh orang menatap laptop dan meminum kopi kertas, sementara hujan tipis memukul jendela. Seorang perempuan bercadar duduk di pojok gerbong. Tak ada yang bicara. Seorang anak kecil sempat menatap terlalu lama sebelum ibunya menarik tangannya pelan.
Judul berita sering membuat semuanya terdengar lebih besar daripada kenyataan. “Benturan peradaban”. “Krisis identitas Eropa”. “Ancaman terhadap nilai Barat”. Di lapangan, yang sering terjadi cuma petugas tiket lelah yang tidak ingin ribut jam tujuh pagi.
Larangan cadar di Belanda masih berlaku sampai sekarang. Dunia tidak runtuh sesudahnya. Demokrasi Belanda juga tidak tiba-tiba menjadi fasis total seperti ketakutan sebagian orang. Perempuan bercadar tetap ada, meski jumlahnya kecil. Orang tetap naik sepeda melintasi kanal sambil membawa bunga atau roti.
Politik modern punya kebiasaan aneh; mengambil sesuatu yang sangat kecil secara statistik, lalu membesarkannya sampai memenuhi layar nasional. Kain hitam beberapa meter bisa memakan jam debat parlemen, siaran televisi, kolom opini, dan kemarahan internet berbulan-bulan.
Musim dingin di Den Haag membuat udara menusuk hidung. Trem berderit pelan dekat Binnenhof. Orang-orang membungkus leher dengan syal wol tebal, wajah setengah tertutup karena angin.
Tak ada yang mempersoalkan itu.

.png)

