Kisah Elon Musk dan Sisi Buram Kejeniusan yang Jarang Dikatakan

Ilustrasi/techjunkie.pk
Dua puluh hari bahkan belum cukup untuk membuat sebagian proyek pemerintah Indonesia selesai dicetak proposalnya. Belum rapat koordinasi. Belum studi kelayakan. Belum konsumsi pastel dan air mineral di meja panjang ruang meeting.

Lalu muncul cerita bahwa instalasi cluster CPU dan GPU raksasa, untuk proyek AI milik Elon Musk, selesai hanya dalam 19 hari. Jensen Huang dari NVIDIA bahkan terdengar seperti setengah tidak percaya ketika membicarakannya. Infrastruktur sebesar itu biasanya butuh waktu bertahun-tahun; pendingin, jaringan listrik, kabel serat optik, sinkronisasi server, logistik ribuan chip bernilai miliaran dolar.

Tapi Elon Musk menyelesaikannya dalam sembilan belas hari.

Kalimat seperti itu langsung memicu fantasi modern tentang kejeniusan. Otak super cepat. Orang-orang yang berpikir seperti kilat, sementara manusia biasa masih sibuk membuka Excel dan salah mengetik password WiFi. 

Saya mengerti kenapa pikiran itu muncul. Kecepatan memang terasa seperti sihir.

Anak kecil yang bisa menyelesaikan teka-teki lebih dulu di kelas langsung dianggap pintar. Programmer yang debugging dalam sepuluh menit terasa lebih jenius daripada orang yang butuh dua hari. Pecatur seperti Magnus Carlsen bisa melihat pola papan catur hampir secepat orang membaca wajah. Ramanujan menulis rumus matematika seperti orang kesurupan angka. Terence Tao menyelesaikan soal yang membuat akademisi lain menggaruk kepala berbulan-bulan.

Kecepatan memberi kesan otak mereka hidup di frekuensi berbeda. Masalahnya, manusia sering salah memahami apa sebenarnya yang sedang mereka lihat.

Elon Musk sendiri bukan teknisi tunggal yang menyolder kabel server sambil minum kopi jam tiga pagi. Di belakang proyek super cepat seperti itu ada ribuan pekerja, rantai suplai brutal, tekanan ekstrem, modal nyaris tak terbatas, dan budaya kerja Silicon Valley yang kadang mendekati kultus. Orang-orang tidur di lokasi proyek. Shift nyaris tanpa jeda. Vendor dipaksa bergerak dengan ritme gila. “Cepat” sering merupakan hasil pembakaran manusia dalam skala industri.

Tentu saja, ada sesuatu yang nyata tentang kemampuan berpikir cepat. Beberapa orang memang tampak memiliki latensi mental lebih rendah. Mereka menangkap pola lebih awal. Menghubungkan ide lebih cepat. Melompati langkah yang bagi orang lain terasa perlu.

Saya kadang melihat tipe orang seperti itu di kehidupan biasa. Bukan miliarder. Bukan ilmuwan NASA. Kadang cuma anak sekolah yang kelihatannya malas, tapi bisa langsung paham inti pelajaran sebelum guru selesai menjelaskan. Matanya agak kosong, tangannya mencoret-coret meja. Tapi begitu diberi soal, jawabannya muncul terlalu cepat. 

Tipe otak seperti itu kadang membuat orang lain kesal. Karena kecepatan sering terlihat seperti kesombongan bahkan ketika tidak diniatkan begitu.

Psikolog kognitif sebenarnya sudah lama tahu bahwa expertise sering terlihat seperti intuisi ajaib, padahal sebenarnya hasil pengenalan pola super cepat. Pecatur grandmaster tidak menghitung semua kemungkinan langkah satu per satu seperti komputer murahan. Mereka melihat “bentuk”. Dokter senior di UGD kadang tahu pasien tertentu sekarat hanya dari cara bernapas dan warna kulit sebelum hasil laboratorium keluar.

Otak ahli bekerja dengan jalan pintas yang sangat efisien. Jadi jenius bukan sekadar “berpikir lebih cepat” dalam arti literal seperti prosesor Intel lebih mahal. Kadang mereka cuma membuang langkah-langkah mental yang tidak perlu. Mereka langsung menuju struktur inti masalah.

Orang biasa melihat labirin. Mereka melihat pintu keluar.

Ada detail kecil yang sering hilang dalam romantisasi kejeniusan; banyak orang super cerdas justru tampak lambat dari luar. Einstein terkenal sering bengong. Newton obsesif dan aneh. Grigori Perelman hidup seperti pertapa kusut di apartemen St. Petersburg. Mereka tidak selalu bergerak cepat secara fisik atau sosial. Kadang justru sebaliknya. Kecepatan mental tidak selalu menghasilkan kehidupan yang rapi.

Masyarakat modern terlalu memuja speed. Balas chat cepat. Konten cepat. Startup cepat. AI lebih cepat. Bahkan membaca pun sekarang diperlakukan seperti lomba. Orang bangga menyelesaikan 100 buku setahun sambil mungkin tidak benar-benar mengingat separuh isinya.

Kadang saya curiga, kita mulai salah mengartikan kecerdasan sebagai sekadar throughput.

Padahal ada jenis pikiran yang justru bekerja lambat tapi dalam. Jenis orang yang tampak biasa selama berminggu-minggu, lalu tiba-tiba mengeluarkan ide yang mengubah seluruh arah percakapan. Mereka seperti mesin diesel tua; lambat panas, tapi tenaganya besar.

Nietzsche menulis lambat. Tarkovsky membuat film dengan ritme nyaris menyiksa. Beethoven menggarap komposisi bertahun-tahun sambil telinganya rusak. Kejeniusan tidak selalu datang sebagai ledakan cepat.

Meski begitu, saya tetap percaya ada hubungan nyata antara kejeniusan dan kecepatan tertentu. Bukan cuma kecepatan berpikir, tapi kecepatan mengenali esensi. Orang jenius sering tampak tidak sabar terhadap proses yang menurut mereka tidak perlu. Mereka memotong birokrasi mental. Mereka alergi terhadap kelambanan konseptual.

Mungkin itu sebabnya banyak jenius terlihat sulit diajak hidup normal. Mereka bicara terlalu cepat. Melompat dari satu topik ke topik lain. Tidak tahan penjelasan panjang untuk hal-hal yang menurut mereka sudah jelas. Kadang orang seperti itu terasa melelahkan. Otaknya seperti motor overclocked yang terus meraung bahkan saat ruangan sudah sepi.

Saat menulis catatan ini, saya teringat cerita tentang John von Neumann. Fisikawan dan matematikawan legendaris itu konon bisa membaca halaman buku sekali lihat, lalu mengingatnya nyaris sempurna. Gara-gara itu, orang-orang di Los Alamos sampai merasa otaknya bukan manusia biasa. Ada ilmuwan yang bercanda bahwa von Neumann sebenarnya alien yang menyamar. Humor seperti itu muncul ketika kecerdasan seseorang terasa terlalu jauh dari rata-rata.

Tubuh manusia sendiri punya batas aneh dalam menghadapi kecepatan mental ekstrem. Banyak orang sangat cerdas justru mengalami insomnia, kecemasan, atau rasa terasing sosial. Pikiran yang bergerak terlalu cepat kadang sulit dimatikan. Jam dua pagi, otak masih muter. Ide muncul terus. Tangan dingin. Mata lelah tapi kepala seperti generator yang belum selesai berdengung.

Kejeniusan sering dibicarakan dengan nada glamor. Jarang dibahas sisi biologisnya yang melelahkan. Dan ada sesuatu yang lebih mengganggu lagi; kecepatan tidak selalu berarti kebijaksanaan.

Banyak orang sangat pintar membuat keputusan emosional yang bodoh. Banyak ilmuwan brilian punya kehidupan personal berantakan. Banyak founder startup visioner memperlakukan pekerja seperti baterai sekali pakai. Otak yang bekerja cepat bisa membangun roket dan sekaligus menghancurkan hubungan manusia paling sederhana.

Silicon Valley penuh orang jenius yang tampak seperti tidak pernah belajar tidur normal atau berbicara santai tanpa mengubah semuanya jadi optimisasi sistem.

Cerita tentang 19 hari Elon Musk juga punya sisi propaganda. Dunia teknologi modern menyukai narasi manusia super. “Impossible deadline”. “Hardcore mode”. “Move fast”. Semua itu membangun aura mitologis bahwa para titan teknologi hidup di level evolusi berbeda.

Narasi seperti itu efektif, karena manusia suka percaya ada segelintir orang yang bergerak lebih cepat dari spesies lain.

Kadang memang benar. Kadang cuma hasil PR bagus plus ribuan pekerja kelelahan di belakang layar.

Tetap saja, saya suka memikirkan momen kecil ketika seseorang menyelesaikan sesuatu jauh lebih cepat daripada yang lain. Anak SMP mengisi TTS sebelum teman-temannya selesai membaca petunjuk. Seorang montir langsung tahu sumber suara mesin hanya dari dengungan pendek. Penulis tertentu mengetik paragraf tajam hampir tanpa jeda seperti kalimatnya sudah jadi sebelum jari bergerak.

Ada sensasi fisik aneh ketika melihat orang seperti itu. Sedikit kagum. Sedikit iri. Sedikit takut juga.

Karena otak manusia normal diam-diam tahu ketika sedang berhadapan dengan seseorang yang ritme berpikirnya terlalu berbeda.

Di ruang server xAI di Memphis, kipas pendingin ribuan GPU meraung tanpa henti. Panasnya luar biasa. Kabel hitam tebal menjulur di lantai seperti akar pohon mekanis. Lampu-lampu kecil berkedip cepat dalam gelap.

Seseorang mungkin berdiri di sana jam empat pagi sambil menatap rak server dan berpikir; manusia seharusnya tidak bisa bergerak secepat ini.

Related

Iptek 7733293299608782221

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item