Pengadilan Penyihir Salem Dimulai, Bridget Bishop Digantung Pertama Kali

Ilustrasi/the-sun.com
Tali gantungan itu tidak terlalu panjang. Dan orang-orang tahu siapa yang akan digantung.

Bridget Bishop berdiri di Gallows Hill dengan tubuh yang sudah tidak muda lagi, gaun gelap, dan reputasi yang lebih dulu dihukum sebelum pengadilan menjatuhkan vonis resmi. Orang-orang Salem mengenalnya. Itu salah satu masalah terbesar. Kota kecil Puritan tidak pernah benar-benar memberi ruang bagi perempuan yang terlalu mencolok. Bishop memakai pakaian dengan renda. Kadang merah. Kadang hitam dengan detail yang dianggap “terlalu berani” untuk ukuran Massachusetts abad ke-17. Ia beberapa kali menikah. Mengelola kedai minum. Sering berdebat dengan laki-laki.

Banyak perempuan Puritan hidup nyaris tanpa warna. Bridget Bishop tidak.

Ketika tubuhnya digantung pada 10 Juni 1692, orang-orang mungkin merasa sedang membersihkan komunitas mereka dari kejahatan. Dari iblis. Dari sihir. Dari ancaman tak terlihat yang katanya berkeliaran di antara ladang jagung, ruang makan, kandang ternak, dan doa malam. Yang mereka lakukan sebenarnya lebih menyerupai pesta paranoia.

Salem waktu itu bukan kota tenang yang kemudian dibayangkan turis modern dengan dekorasi Halloween murahan dan toko suvenir penyihir. Wilayah itu penuh ketegangan. Cuaca buruk memukul panen. Wabah cacar pernah lewat. Perang melawan suku asli Amerika masih menghantui perbatasan utara. Pengungsi dari Maine berdatangan membawa cerita tentang desa dibakar dan tubuh yang ditemukan di salju. Orang Puritan hidup dengan keyakinan bahwa setan aktif bekerja setiap hari. Bukan simbolis. Bukan metafora. Benar-benar aktif.

Mereka percaya iblis bisa masuk lewat pintu rumah bersama angin malam. 

Lalu anak-anak mulai kejang-kejang.

Betty Parris, putri pendeta Samuel Parris, baru sekitar sembilan tahun. Sepupunya, Abigail Williams, sebelas atau dua belas. Mereka menjerit, menggeliat di lantai, mengeluh ada sesuatu menggigit kulit mereka. Seorang dokter lokal, William Griggs, tidak menemukan penjelasan medis. Diagnosisnya sederhana dan mengerikan; sihir.

Begitu kata “witchcraft” muncul, Salem seperti kehilangan rem. Nama pertama yang dituduh bukan Bridget Bishop. Ada Tituba, budak asal Karibia di rumah Pendeta Parris; Sarah Good, pengemis miskin yang berjalan dari rumah ke rumah; dan Sarah Osborne, perempuan tua yang jarang ke gereja. Polanya jelas sekali kalau dilihat sekarang; perempuan yang sudah dianggap aneh lebih dulu akan lebih mudah dijadikan wadah ketakutan.

Tituba dipukul sampai mengaku. Bagian itu sering dipoles dalam cerita populer, seolah pengakuannya muncul dramatis dari dunia mistik. Nyatanya lebih brutal dan lebih manusia. Samuel Parris diduga memukulnya berhari-hari. Tituba lalu mulai bercerita tentang anjing hitam, buku setan, perempuan terbang, makhluk-makhluk gelap. Salem haus cerita semacam itu. Orang-orang mendengarnya dengan mata membelalak.

Ketika masyarakat sudah lapar pada kepanikan, imajinasi berubah jadi bukti. Bridget Bishop masuk daftar berikutnya karena ia memang cocok dijadikan sasaran. 

Seorang laki-laki bernama Samuel Shattuck menuduh Bishop menyihir anaknya. Tetangga lain bilang hantu Bishop datang malam-malam ke rumah mereka. Beberapa perempuan bersumpah melihat sosoknya mencekik mereka saat tidur. Pengadilan menerima “spectral evidence”, kesaksian tentang roh atau bayangan gaib seseorang, sebagai bukti hukum yang sah. Itu bagian paling gila dari seluruh kasus Salem, dan mereka menganggapnya normal.

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Coba bayangkan ruang sidang itu. Gedung kayu sederhana. Udara pengap. Bau pakaian wol basah dan lilin lemak hewan. Hakim John Hathorne duduk memeriksa terdakwa dengan ekspresi keras seperti orang yang sudah memutuskan hasil sebelum sidang dimulai. Setiap kali Bridget Bishop menyangkal tuduhan, anak-anak perempuan di ruang sidang langsung menjerit dan kejang-kejang seolah diserang kekuatan gaib. Orang-orang menganggap itu konfirmasi.

Hathorne bertanya padanya berkali-kali, “Mengapa kau menyakiti mereka?”

Bridget menjawab ia tidak bersalah.

Mereka menemukan boneka kain kecil dengan jarum di rumahnya. Boneka tersebut ditemukan di balik dinding saat rumah tersebut sedang direnovasi. Itu dianggap alat sihir. Sejarawan modern bahkan belum yakin benda itu benar-benar miliknya atau sekadar barang rumah tangga biasa yang diubah jadi bukti kriminal karena suasana sudah terlalu mabuk tuduhan.

Perempuan itu tetap menyangkal sampai akhir. Tidak seperti banyak tertuduh lain yang akhirnya mengaku demi menyelamatkan diri sementara, Bridget Bishop menolak bermain dalam sandiwara kolektif Salem. Pengakuan kadang memberi penundaan hukuman. Penyangkalan justru membawa orang ke tiang gantungan lebih cepat.

Eksekusi dilakukan di Gallows Hill, dekat Salem Town. Orang-orang berjalan ke sana melewati rumput liar dan tanah berbatu. Tidak ada musik dramatis. Tidak ada pidato besar. Hanya prosedur kematian yang dijalankan dengan keyakinan moral penuh.

Tubuh yang digantung tidak langsung mati seketika seperti di film-film modern. Leher tidak selalu patah. Kadang orang tercekik perlahan selama beberapa menit. Lidah membengkak. Kaki bergerak refleks. Orang-orang menonton semua itu sambil percaya mereka sedang melayani Tuhan.

Salem kemudian berkembang jadi wabah sosial. Tuduhan menyebar cepat ke Andover, Ipswich, dan desa-desa sekitar Massachusetts Bay Colony. Total lebih dari 200 orang dituduh. Sembilan belas digantung. Giles Corey, lelaki tua berusia sekitar delapan puluh tahun, dihancurkan dengan batu-batu berat karena menolak memberi pengakuan. Menurut cerita, kata terakhirnya hanya, “More weight.”

Kalimat itu terlalu sinematik sampai terasa tidak nyata, tetapi banyak catatan memang menyebut begitu.

Hal yang membuat Salem mengganggu bukan jumlah korbannya. Eropa pernah membakar ribuan orang atas tuduhan sihir. Jerman, Swiss, Skotlandia—jauh lebih brutal. Salem justru terasa mengerikan karena skalanya kecil dan intim. Orang-orang saling mengenal. Tetangga menuduh tetangga. Anak menuduh ibu. Seorang gadis belasan tahun bisa membuat perempuan dewasa digantung hanya dengan berkata, “Rohnya datang kepadaku tadi malam.”

Masyarakat Puritan Massachusetts dibangun di atas obsesi terhadap kemurnian moral. Mereka ingin menciptakan komunitas ideal—“city upon a hill”, istilah terkenal John Winthrop. Kalimat itu kemudian dipakai politisi Amerika selama berabad-abad dengan nada bangga. Ironis sekali kalau mengingat masyarakat “ideal” itu sempat percaya mimpi buruk anak-anak sebagai bukti hukum.

Lalu semuanya runtuh cukup cepat. Beberapa pendeta mulai ragu. Increase Mather, tokoh agama berpengaruh dan ayah Cotton Mather, memperingatkan bahwa lebih baik sepuluh penyihir lolos daripada satu orang tak bersalah dihukum. Gubernur William Phips akhirnya melarang penggunaan spectral evidence. Pengadilan khusus dibubarkan.

Orang-orang yang dulu berteriak histeris mendadak diam. Sebagian hakim meminta maaf bertahun-tahun kemudian. Samuel Sewall bahkan melakukan penyesalan publik di gereja. Ia berdiri di depan jemaat dengan kepala tertunduk sambil membaca pengakuan rasa bersalahnya. Banyak keluarga korban menerima kompensasi uang dari pemerintah kolonial. Tidak besar.

Bridget Bishop tidak pernah direhabilitasi saat hidup, tentu saja. Tubuhnya dikubur di lokasi tak bertanda, kemungkinan dangkal dan terburu-buru. Salem tidak memberi pemakaman terhormat bagi “penyihir”.

Saya kadang merasa bagian paling menyeramkan dari Salem bukan fanatisme agamanya. Manusia modern suka merasa lebih pintar daripada orang abad ke-17. Kita menertawakan mereka karena percaya setan bersembunyi di antara ternak dan sumur air. Padahal mekanismenya masih sama sampai sekarang. Tuduhan berubah bentuk, itu saja. Publik tetap haus kambing hitam. Tetap menikmati kepanikan massal. Tetap tergoda menghukum lebih cepat daripada berpikir. Perempuan dengan pakaian berbeda masih membuat masyarakat tertentu gelisah.

Anak-anak perempuan yang dulu menjerit di ruang sidang Salem kemudian tumbuh dewasa. Abigail Williams menghilang dari catatan sejarah. Betty Parris menikah dan hidup cukup lama. Hakim John Hathorne meninggal tanpa pernah meminta maaf. Rumah-rumah kayu Salem berganti generasi. Rumput tumbuh lagi di Gallows Hill.

Turis modern membeli gantungan kunci penyihir, beberapa meter dari tempat orang pernah mati dicekik massa yang yakin mereka sedang membela kebaikan.

Related

Sejarah 556862264517798365

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item