Bonus Demografi, Indonesia Emas: Antara Optimisme dan Realitas

Ilustrasi.kazokku.com
Layar ponsel menyala pukul dua pagi di kamar kos sempit. Seorang mahasiswa semester akhir sedang rebahan sambil menggulir video pendek tanpa suara. 

Video pertama, orang makan kulit ayam crispy sambil menyiram saus keju. Video kedua, motivator bisnis berteriak soal “mindset cuan”. Video ketiga, perempuan cantik menari 12 detik. Video keempat, potongan ceramah agama dengan subtitle besar dan musik sedih. Video kelima, tutorial dapat uang dari affiliate. Video keenam sudah lupa bahkan sebelum selesai ditonton.

Empat puluh menit hilang. Besok pagi ia akan kembali mengirim CV ke perusahaan yang bahkan mungkin tidak membuka lowongan sungguhan.

Bonus demografi Indonesia sering dipasarkan seperti trailer film superhero. Tahun-tahun emas. Usia produktif melimpah. Generasi muda mendominasi populasi. Presentasi pemerintah penuh grafik naik dan warna biru optimistis. Kalimat “Indonesia Emas 2045” dilempar seperti mantra pembangunan.

Masalahnya, populasi muda tidak otomatis berarti populasi siap tempur.

Di warung kopi dekat kampus-kampus swasta Semarang atau Yogyakarta, obrolan mahasiswa sekarang terdengar aneh campurannya; AI, resign, burnout, skincare, crypto gagal, pinjol, konten viral, sambil sesekali membahas skripsi yang belum disentuh dua minggu. Banyak yang terlihat lelah bahkan sebelum benar-benar masuk dunia kerja.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. Mesin besar internet memang dirancang untuk menghancurkan ketahanan perhatian manusia. TikTok, Reels, Shorts, semua bekerja seperti kasino digital kecil di saku celana. Tarik layar sekali, dapat rangsangan baru. Tarik lagi. Lagi. Lagi. Tubuh tidak bergerak, tapi otak seperti terus dikunyah. Mata pedih. Leher panas. Jempol tetap bergerak.

Orang tua generasi sebelum kita sering mengejek anak muda sekarang malas belajar. Kritik itu kadang terasa terlalu gampang. Mereka tumbuh di zaman ketika distraksi punya batas fisik. Televisi berhenti siaran tengah malam. Rental PlayStation tutup. Majalah habis dibaca ya sudah. Sekarang distraksi aktif mengejar manusia sampai ke tempat tidur.

Platform digital tidak dibangun untuk membuat manusia bijak. Platform dibangun untuk mempertahankan perhatian selama mungkin. Anak SMP yang awalnya membuka YouTube untuk mencari tutorial matematika bisa berakhir menonton drama influencer bertengkar soal endorse skincare dalam waktu dua puluh menit. Algoritma tahu kemarahan lebih laku daripada pengetahuan.

Kita juga hidup di negara yang sering memaksa pendidikan berjalan seperti ritual administratif. Banyak siswa menghafal demi ujian, bukan demi rasa ingin tahu. Ruang kelas penuh suara kipas angin tua dan spidol hampir habis tinta, sementara dunia luar menawarkan video dengan warna mencolok, musik cepat, dan hadiah dopamin tiap beberapa detik. Mana yang lebih menarik bagi anak 15 tahun?

Di Indonesia, kata “sarjana” dulu punya aura hampir magis. Keluarga rela menjual sawah supaya anak bisa kuliah. Foto wisuda dipajang besar di ruang tamu. Ada kebanggaan khusus melihat anak memakai toga. Sekarang, toga sering terasa seperti kuitansi mahal untuk memasuki antrean pengangguran.

Lulusan teknik melamar jadi admin. Sarjana hukum jualan parfum online. Anak komunikasi menjadi content creator yang kerjanya mengulas ayam geprek level pedas. Ribuan lowongan meminta pengalaman untuk posisi entry level. Banyak perusahaan memasang syarat “maksimal usia 25 tahun” sambil meminta pengalaman dua tahun dan kemampuan lima software sekaligus.

Saya pernah melihat seorang fresh graduate duduk di lobi hotel tempat job fair diadakan. Kemejanya basah di punggung karena keringat. Map lamaran kerja warna biru ada di pangkuannya. Ia terlihat pucat dan sangat muda. Di sekelilingnya, ratusan orang antre seperti sedang menunggu pembagian sembako.

Bonus demografi terdengar megah di pidato. Di lapangan, ia sering tampak seperti antrean panjang manusia membawa CV.

Ada hal lain yang jarang dibicarakan secara jujur; internet modern perlahan mengubah definisi sukses menjadi sesuatu yang sangat visual dan instan. Anak-anak sekarang tidak hanya ingin kaya. Mereka ingin kaya dengan cepat, sambil direkam kamera, dengan lighting bagus.

Profesi impian berubah. Dulu orang tua menyuruh anak jadi dokter, insinyur, dosen. Sekarang banyak anak SMP lebih hafal nama streamer gaming dibanding nama ilmuwan Indonesia. Mereka melihat orang berjoget bisa membeli mobil. Melihat prank receh menghasilkan puluhan juta views. Melihat selebritas internet hidup dari konflik dan sensasi. Usaha panjang terlihat membosankan dibanding ledakan viral semalam.

Ironisnya, negara ikut menikmati ekosistem itu. Politikus menari di TikTok. Institusi pemerintah membuat konten receh supaya engagement naik. Bahkan edukasi pun dipaksa mengikuti logika hiburan ekstrem; harus cepat, lucu, pendek, ringan. Pengetahuan yang butuh kesabaran perlahan kalah.

Coba duduk di angkringan dekat kampus UGM atau Unnes, dan dengarkan percakapan mahasiswa malam hari. Banyak yang terdengar cemas soal masa depan, tapi kecemasan itu bercampur aneh dengan ketidakmampuan fokus. Mereka tahu dunia makin kompetitif. Mereka juga tahu perhatian mereka sendiri sudah compang-camping.

Orang membuka laptop untuk belajar. Lima menit kemudian buka Twitter. Lalu YouTube. Lalu notifikasi WhatsApp. Tiba-tiba satu jam hilang. Tubuh generasi muda sekarang seperti selalu sedikit gelisah. Tidak tenang bahkan saat diam.

Saya tidak percaya narasi tua yang bilang semua anak muda Indonesia bodoh atau rusak. Itu cara berpikir yang malas. Banyak anak muda tetap bekerja keras diam-diam. Ada siswa SMK di Batang yang belajar coding dari warnet murah. Ada mahasiswi di Makassar yang jadi freelance desain sampai dini hari demi bayar UKT. Ada anak pesantren yang belajar bahasa asing lewat video bajakan. Mereka ada.

Cuma jumlah energi mental yang harus mereka keluarkan untuk tetap fokus sekarang jauh lebih brutal dibanding generasi sebelumnya.

Kapitalisme digital modern tidak cuma menjual produk. Ia menjual impuls. Semua dibuat cepat; makanan, hiburan, hubungan, berita. Bahkan kemarahan dipercepat. Orang membaca headline tanpa artikel. Menonton potongan podcast tanpa konteks. Mengomentari isu tanpa jeda berpikir.

Kemampuan menahan bosan mulai langka. Padahal hampir semua pencapaian serius dalam hidup dibangun dari fase membosankan; belajar statistik berjam-jam, mengulang coding error, membaca buku tebal, latihan desain berkali-kali, revisi skripsi sampai mata panas. Internet modern memusuhi ritme lambat seperti itu.

Indonesia sering terdengar seperti negara yang terpecah antara optimisme resmi dan kelelahan nyata. Di panggung konferensi, pejabat bicara soal generasi unggul. Di kamar-kamar kos murah dekat kampus, banyak anak muda tidur dengan video TikTok masih menyala sampai pagi karena terlalu capek menghadapi hidup.

Kadang saya melihat siswa SMA nongkrong di kafe sambil membuka laptop, dan sekilas tampak produktif. Setelah diperhatikan lebih lama, layar mereka berpindah terus; Spotify, Discord, TikTok, game, tugas sekolah, Instagram, balik lagi ke TikTok. Fokus mereka seperti kaca retak.

Internet memberi ilusi bergerak terus, padahal sering cuma muter di tempat. Suara notifikasi masuk lagi. Getar kecil di meja. Kepala otomatis menoleh.

Di sudut lain kota, seseorang mungkin sedang membuat presentasi seminar tentang bonus demografi Indonesia sambil berharap peserta tidak bosan sebelum slide ketiga selesai.

Related

Indonesia 424300753812603757

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item