Kasus Julius dan Ethel Rosenberg: Resep Bom Atom yang Bocor ke Soviet

Kasus Julius dan Ethel Rosenberg: Resep Bom Atom yang Bocor ke Soviet
Ilustrasi/thecollector.com
Kursi listrik di Penjara Sing Sing mengeluarkan bau yang sulit dibayangkan orang modern. Campuran kain terbakar, rambut hangus, dan sesuatu yang lebih mengganggu karena berasal dari tubuh manusia sendiri. Petugas penjara sudah terbiasa dengan eksekusi, tapi malam itu suasananya lain. Reporter berdiri di luar. Demonstran membawa poster. Doa dibacakan. Kabel dipasang ke kepala Ethel Rosenberg beberapa kali karena arus pertama tidak langsung membunuhnya.

Salah satu saksi mengatakan asap tipis masih naik dari rambutnya.

Amerika Serikat sedang demam ketakutan waktu itu. Ketakutan yang lengket, paranoid, dan kadang tampak seperti penyakit saraf nasional. Setelah Perang Dunia II berakhir, musuh berganti wajah. Nazi sudah kalah. Uni Soviet muncul sebagai ancaman baru. Orang-orang mulai takut pada sesuatu yang tidak terlihat; sel komunis, penyusup, tetangga yang mungkin diam-diam loyal pada Moskow.

Ketakutan semacam itu punya suara khas. Suara mesin tik FBI. Suara sidang Kongres. Suara televisi hitam-putih yang memutar pidato Senator Joseph McCarthy sambil menuduh ada komunis di mana-mana.

Di tengah suasana seperti itu, Julius dan Ethel Rosenberg berubah dari pasangan biasa di Lower East Side menjadi simbol pengkhianatan nasional.

Julius Rosenberg lahir dari keluarga Yahudi miskin di New York. Ia cerdas, ambisius, kuliah teknik elektro di City College of New York—kampus yang waktu itu penuh diskusi kiri, serikat buruh, idealisme anti-fasis. Banyak mahasiswa Yahudi kelas pekerja tertarik pada sosialisme dan komunisme pada era Depresi Besar. Bagi mereka, komunisme tidak selalu tampak seperti monster Stalin di poster propaganda Amerika. Kadang terlihat seperti janji dunia yang lebih adil setelah kapitalisme gagal memberi makan orang miskin.

Ethel Greenglass juga datang dari lingkungan serupa. Ia pernah bekerja sebagai sekretaris dan aktif di serikat buruh. Mereka menikah tahun 1939. Foto-foto lama mereka terlihat sangat biasa; pasangan muda dengan senyum canggung khas era itu, pakaian formal sederhana, wajah yang sulit dibayangkan akan masuk buku sejarah.

Perang Dunia II mengubah segalanya. Amerika membangun Proyek Manhattan secara rahasia untuk menciptakan bom atom. Kota-kota seperti Los Alamos di New Mexico dijaga ketat. Fisikawan jenius berkumpul di sana; J. Robert Oppenheimer, Richard Feynman, Enrico Fermi. Dunia sains bercampur dengan dunia militer. Orang-orang menghitung reaksi nuklir sambil dijaga tentara bersenjata.

Bom atom lalu dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Foto-foto korban Jepang membuat mata perih bahkan sekarang. Kulit terbakar menggantung dari tubuh. Bayangan manusia tercetak di dinding. Uni Soviet sangat ingin mengetahui bagaimana Amerika membuat senjata itu.

Julius Rosenberg memang terlibat jaringan mata-mata Soviet. Dokumen Venona, yang dibuka puluhan tahun kemudian, memperkuat tuduhan itu. Ia merekrut kontak, mengirim informasi industri dan militer kepada Soviet. Nama sandinya disebut “Liberal”. Jadi, narasi bahwa Julius sepenuhnya tidak bersalah sulit dipertahankan sekarang.

Masalah mulai jauh lebih rumit saat membahas Ethel. Pemerintah AS menuduh pasangan Rosenberg membantu memberikan rahasia atom kepada Soviet melalui David Greenglass, adik Ethel sendiri, yang bekerja sebagai teknisi di Los Alamos. Greenglass mengaku memberikan sketsa dan informasi terkait bom atom kepada jaringan Julius. Lalu ia bersaksi melawan kakak kandungnya sendiri di pengadilan.

Ada sesuatu yang dingin dalam detail itu. Seorang adik duduk di ruang sidang federal, menunjuk kakaknya sebagai bagian dari konspirasi mata-mata internasional. Belakangan, Greenglass mengakui bahwa sebagian kesaksiannya—terutama soal Ethel mengetik dokumen rahasia—dibesar-besarkan untuk melindungi istrinya, Ruth Greenglass. Jadi ada kemungkinan besar Ethel tidak memainkan peran sebesar yang dituduhkan jaksa. Tetap saja, pemerintah Amerika waktu itu sedang ingin memberi contoh keras. Sangat keras.

Sidang Rosenberg berlangsung pada 1951 di Foley Square Courthouse, Manhattan. Hakim Irving Kaufman berbicara dengan nada hampir apokaliptik. Ia menyalahkan Rosenberg bukan hanya atas spionase, tapi secara tidak langsung atas Perang Korea dan kematian tentara Amerika. Kalimatnya terdengar seperti pidato perang, bukan sekadar putusan hukum.

Jaksa Roy Cohn ikut menjadi figur penting di sana—orang yang kelak terkenal karena hubungan dekatnya dengan McCarthy, dan kemudian menjadi mentor Donald Trump muda puluhan tahun setelahnya. Cohn haus kemenangan publik. Haus sorotan. Atmosfer ruang sidang penuh histeria Perang Dingin.

Kita perlu mengingat konteksnya. Uni Soviet baru saja berhasil menguji bom atom pada 1949, lebih cepat dari perkiraan Amerika. Washington panik. Banyak pejabat AS percaya kebocoran rahasia atom mempercepat kemampuan nuklir Soviet secara drastis. Ketakutan terhadap perang nuklir terasa sangat nyata. Anak-anak sekolah Amerika latihan berlindung di bawah meja, seolah kayu tipis bisa melindungi mereka dari ledakan atom. Dalam suasana seperti itu, Rosenberg bukan cuma terdakwa. Mereka dijadikan simbol.

Eksekusi mereka pada 1953 memecah opini dunia. Jean-Paul Sartre menyebutnya “pengorbanan legal manusia”. Paus Pius XII meminta grasi. Demonstrasi muncul di Paris, London, New York. Sebagian orang melihat Rosenberg sebagai martir kiri yang dibunuh negara paranoid. Sebagian lain melihat mereka pengkhianat yang pantas dihukum mati. Kasus itu terus terasa kotor karena hukumannya tampak begitu ekstrem.

Amerika sebenarnya punya mata-mata lain. Klaus Fuchs, fisikawan Jerman yang benar-benar memberi informasi penting tentang bom atom kepada Soviet, dihukum penjara di Inggris, bukan mati. Greenglass sendiri mendapat hukuman lebih ringan setelah bekerja sama dengan jaksa. Julius dan Ethel justru masuk kursi listrik.

FBI di bawah J. Edgar Hoover memainkan peran besar membangun atmosfer pengejaran itu. Hoover bukan sekadar pejabat penegak hukum; ia semacam pengarsip paranoia nasional Amerika. Ia menyimpan file tentang politisi, artis, aktivis, siapa saja. Kantor FBI dipenuhi map-map tebal dan rasa curiga permanen.

Hoover sendiri kabarnya sempat ragu soal hukuman mati untuk Ethel, karena bukti terhadapnya lebih lemah. Jaksa tetap maju.

Di titik itu, kasus Rosenberg berubah menjadi sesuatu yang lebih suram daripada sekadar spionase. Negara membutuhkan wajah untuk ketakutannya. Pasangan muda dengan latar kiri cocok dijadikan simbol ancaman internal. Ada elemen teatrikal yang sangat Amerika dalam semua itu; pengkhianatan, atom, keluarga, eksekusi publik.

Media ikut membangun drama itu. Foto Julius dan Ethel sering dicetak dengan kontras tajam, wajah serius, hampir seperti poster kriminal noir. Dua anak mereka, Michael dan Robert, menjadi yatim piatu dan kemudian diadopsi keluarga lain. Nama belakang mereka diganti menjadi Meeropol. Bayangkan tumbuh besar sambil terus membaca debat dunia tentang apakah orang tuamu monster atau korban.

Dokumen Venona yang dipublikasikan setelah Perang Dingin memang menunjukkan Julius aktif dalam jaringan Soviet. Banyak sejarawan sekarang menerima itu. Tapi soal Ethel, debat belum benar-benar mati. Beberapa peneliti percaya keterlibatannya minimal, dan ia dihukum mati terutama untuk menekan Julius agar mengaku.

Amerika era McCarthy sering tampak seperti negara yang ketakutan pada bayangannya sendiri. Orang kehilangan pekerjaan hanya karena dicurigai simpati kiri. Hollywood membuat daftar hitam. Penulis dan aktor diinterogasi soal keyakinan politik mereka. Lagu-lagu folk, pertemuan serikat, bahkan percakapan makan malam, bisa terasa berbahaya. Di tengah semua itu, kursi listrik Sing Sing bekerja seperti mesin propaganda negara.

Ada detail kecil yang sulit hilang dari kepala setelah membaca arsip kasus ini. Sebelum eksekusi, Ethel Rosenberg menulis surat kepada kedua anaknya. Bahasa surat itu tenang, nyaris terlalu tenang untuk seseorang yang tahu tubuhnya akan dialiri listrik beberapa jam lagi. Ia bicara tentang cinta, tentang martabat, tentang tidak menyerah pada rasa takut.

Penjaga penjara kemudian menggambarkan Julius berjalan menuju ruang eksekusi dengan langkah yang relatif mantap.

Malam di Ossining, New York, terasa lembap. Kabel dipasang. Saklar ditarik. Orang-orang di luar penjara masih berteriak membawa poster, sementara asap tipis naik di dalam ruang eksekusi.

Related

Sejarah 7209032132650447479

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item