Al-Khwarizmi, Raksasa Pengetahuan yang Mengubah Wajah Dunia

Ilustrasi/prokal.co
Sebagian besar manusia memakai warisan Al-Khwarizmi setiap hari tanpa pernah mendengar namanya. Orang-orang mengetik PIN ATM, menghitung diskon, membuka spreadsheet, mengirim uang lewat aplikasi perbankan, atau sekadar melihat kalkulator di telepon genggam. Nama ilmuwan lain mungkin melekat pada teori tertentu. Nama Al-Khwarizmi melekat pada cara manusia modern berpikir tentang angka. Pengaruhnya begitu menyebar sehingga jadi tidak terlihat. 

Kita bahkan menyebut salah satu konsep terpenting dalam dunia komputer dengan nama yang telah berubah bentuk berkali-kali selama lebih dari seribu tahun. Kata “algorithm” berasal dari pelafalan Latin atas namanya: Algoritmi. Nama seorang ilmuwan dari Asia Tengah berubah menjadi salah satu kata paling berkuasa dalam peradaban digital.

Ironisnya, kehidupan orang yang melahirkan warisan sebesar itu justru kabur.

Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi. Julukan Al-Khwarizmi menunjukkan hubungan dengan Khwarazm, wilayah yang terletak di sekitar delta Sungai Amu Darya, dekat Laut Aral, kawasan yang sekarang masuk Uzbekistan dan Turkmenistan. Daerah itu jauh dari pusat kekuasaan Arab. Angin gurunnya berbeda dari angin Hijaz. Bahasa yang terdengar di pasar-pasarnya bukan bahasa Arab. Pedagang datang dari Persia, Transoxiana, India, dan stepa Eurasia.

Kita tidak mengetahui tahun kelahirannya secara pasti. Para sejarawan biasanya memperkirakan ia lahir sekitar tahun 780 M. Tahun wafatnya pun tidak jelas, kemungkinan sekitar 850 M. Sebagian besar hidupnya tenggelam dalam kabut arsip. Tidak ada catatan tentang wajahnya. Tidak ada deskripsi tentang tinggi badannya. Tidak ada kisah cinta. Tidak ada surat pribadi yang tersisa. Yang bertahan adalah hasil kerja otaknya.

Pada masa mudanya, dunia Islam sedang mengalami sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah; ledakan rasa ingin tahu yang didukung oleh uang negara. Kekhalifahan Abbasiyah tidak hanya menaklukkan wilayah, mereka juga mengumpulkan pengetahuan. Di Baghdad, khalifah-khalifah seperti Harun al-Rashid dan terutama Al-Ma’mun membiayai penerjemahan karya-karya Yunani, Persia, dan India, dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Al-Khwarizmi tumbuh tepat di tengah pusaran itu.

Tempat kerjanya yang paling terkenal adalah Bayt al-Hikmah, Rumah Kebijaksanaan, di Baghdad. Banyak gambaran romantis tentang institusi itu beredar di internet. Sebagian berlebihan. Sebagian lagi meremehkan. Yang jelas, Bayt al-Hikmah merupakan pusat penelitian, penerjemahan, penyimpanan manuskrip, dan aktivitas ilmiah yang luar biasa untuk zamannya. Di sana berkumpul ahli matematika, astronom, penerjemah, ahli geografi, dan juru hitung.

Saya sering merasa orang modern kurang menghargai betapa anehnya proyek itu. Kekaisaran yang dipimpin elite berbahasa Arab menghabiskan uang untuk menerjemahkan teks Yunani kafir, astronomi India, dan ilmu Persia kuno. Banyak penguasa dalam sejarah lebih suka membangun istana. Al-Ma’mun membangun perpustakaan. Di lingkungan seperti itulah Al-Khwarizmi bekerja.

Karyanya yang paling terkenal memiliki judul panjang: Kitab al-Jabr wa al-Muqabala. Dari kata “al-jabr” itulah lahir istilah “algebra” atau aljabar. Banyak buku pelajaran matematika menyebut fakta itu lalu segera beralih ke rumus-rumus. Padahal yang lebih menarik adalah mengapa buku itu ditulis.

Al-Khwarizmi tidak sedang menciptakan matematika demi matematika. Ia mencoba menyelesaikan masalah sehari-hari. Pembagian warisan. Sengketa tanah. Perdagangan. Perhitungan utang. Urusan hukum Islam. Ia ingin menyediakan metode sistematis agar orang tidak perlu terus-menerus mengandalkan tebakan.

Ketika membaca bagian-bagian yang masih bertahan dari karya itu, terasa sekali bahwa Al-Khwarizmi bukan sedang bermain-main dengan simbol abstrak seperti matematikawan modern. Ia berbicara tentang bidang tanah, jumlah dirham, dan bagian warisan keluarga. Aljabar lahir dari lumpur kehidupan sehari-hari.

Salah satu hal yang membuat saya terkesan adalah kenyataan bahwa Al-Khwarizmi belum menggunakan simbol aljabar seperti yang kita kenal sekarang. Tidak ada x, y, atau tanda sama dengan (=) modern. Semua dijelaskan dengan kata-kata. Persamaan kuadrat diuraikan dalam kalimat panjang. Bayangkan mengerjakan soal matematika rumit tanpa notasi singkat yang biasa kita gunakan. Otak saya ruwet hanya membayangkannya.

Buku itu kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin pada abad ke-12. Dari sana, pengaruhnya menjalar ke Eropa.

Kisah lain yang sama pentingnya justru datang dari karya yang lebih sedikit dibicarakan publik. Al-Khwarizmi menulis buku tentang sistem angka India. Naskah Arab aslinya hilang, tetapi versi Latinnya bertahan. Melalui karya itulah angka Hindu-Arab menyebar lebih luas.

Angka yang sekarang terlihat biasa—0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9—sebenarnya pernah dianggap asing oleh banyak masyarakat. Orang Romawi memakai sistem berbeda. Coba bayangkan menghitung pajak kerajaan besar menggunakan angka Romawi. Coba kalikan MCCLXVIII dengan DCCXLII tanpa sistem posisi dan tanpa nol. Otak saya makin ruwet membayangkan kerepotannya.

Nol sering mendapat sorotan paling besar. Memang layak. Nol terdengar sederhana sampai seseorang mencoba membangun matematika modern tanpa nol. Sistem nilai tempat runtuh. Akuntansi jadi rumit. Komputasi digital modern nyaris mustahil berkembang dalam bentuk yang kita kenal sekarang.

Al-Khwarizmi bukan penemu nol. Konsep itu berasal dari tradisi matematika India. Yang ia lakukan adalah membantu memindahkan gagasan tersebut ke dalam dunia Islam, mengolahnya, menjelaskannya, lalu menyebarkannya. Peradaban bergerak bukan hanya karena penemu. Kadang penyebar gagasan sama pentingnya.

Bidang lain yang ia geluti adalah astronomi. Ia menyusun tabel astronomi yang dikenal sebagai Zij al-Sindhind. Pengaruh India masih terlihat kuat di dalamnya. Planet, gerhana, dan posisi benda langit, dihitung dengan metode yang merupakan hasil percampuran berbagai tradisi ilmiah. Dunia Islam saat itu sedang mengumpulkan pengetahuan dari banyak arah sekaligus. Tidak ada obsesi terhadap kemurnian budaya. Yang dicari adalah hasil yang bekerja.

Ia juga menulis buku geografi. Salah satu proyek besar yang melibatkannya adalah revisi terhadap karya Claudius Ptolemaios. Dalam bukunya, Kitab Surat al-Ard atau Gambaran Bumi, Al-Khwarizmi memperbaiki sejumlah koordinat geografis yang diwariskan dari tradisi Yunani. Kota-kota, sungai, pegunungan, dan wilayah perdagangan, dicatat ulang. Ada sesuatu yang terasa sangat konkret di situ. Sementara sebagian orang membayangkan ilmuwan abad pertengahan sebagai sosok yang terus menatap langit, Al-Khwarizmi juga sibuk mengukur bumi.

Catatan sejarah bahkan menyebut bahwa pada masa Al-Ma’mun, tim ilmuwan Abbasiyah melakukan pengukuran panjang satu derajat lintang di dataran Sinjar dan kawasan dekat Palmyra. Tujuannya untuk memperkirakan keliling bumi. Al-Khwarizmi adalah salah satu otak di lapangan yang ikut mengukur bentangan gurun tersebut.

Gambaran yang muncul dari semua itu jauh lebih menarik daripada stereotip ilmuwan jenius yang bekerja sendirian. Al-Khwarizmi tampak sebagai bagian dari jaringan besar. Ia membaca karya India. Ia mengoreksi Yunani. Ia bekerja di bawah patronase khalifah Arab. Ia hidup di kota yang dipenuhi orang Persia, Suriah, Yahudi, Kristen, dan Muslim. Baghdad pada zamannya adalah mesin pencampur ide.

Banyak ilmuwan besar datang sesudahnya: Al-Biruni, Ibn al-Haytham, Omar Khayyam. Sebagian mengembangkan bidang yang sudah disentuh Al-Khwarizmi. Sebagian memperbaikinya. Sebagian lagi membongkar dan membangun ulang.

Nama Al-Khwarizmi tetap bertahan dengan cara yang aneh. Banyak kerajaan runtuh. Rumah Kebijaksanaan dihancurkan ketika pasukan Hulagu Khan menyerbu Baghdad pada 1258. Manuskrip tenggelam di Sungai Tigris. Rak-rak perpustakaan hancur. Orang-orang yang hidup sezamannya sudah lama menjadi debu.

Nama itu masih bersembunyi di dalam kata “algoritma”. Seorang pelajar yang mengeluh karena tugas pemrograman, seorang analis keuangan yang membuat model spreadsheet, seorang pengemudi ojek daring yang aplikasinya menentukan rute tercepat—semuanya sedang bersentuhan dengan bayangan Al-Khwarizmi tanpa menyadarinya.

Dan di suatu tempat di Baghdad abad kesembilan, seorang ilmuwan yang wajahnya tidak pernah kita kenal sedang membungkuk di atas lembaran kertas, menggoreskan angka demi angka dengan pena buluh yang ujungnya mulai aus.

Related

Tokoh 3153475264567962927

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item