Muhammad al-Fazari dan Batu-bata Pertama Zaman Keemasan Islam
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/muhammad-al-fazari-dan-batu-bata.html
![]() |
| Ilustrasi/bincangsyariah.com |
Nama Muḥammad ibn Ibrahim al-Fazari jarang muncul dalam percakapan sehari-hari tentang sejarah Islam. Orang lebih mengenal Al-Khwarizmi, Ibn Sina, atau Al-Biruni. Padahal tanpa figur-figur seperti Al-Fazari, sangat mungkin panggung tempat para raksasa itu berdiri tidak pernah selesai dibangun.
Sulit membayangkan suasana Baghdad pada abad kedelapan tanpa debu. Kota itu masih muda. Jalan-jalannya belum dipoles oleh berabad-abad sejarah. Di tepi Sungai Tigris, para tukang, pedagang, pejabat, tentara, penerjemah, dan pengembara dari segala penjuru dunia, saling bertabrakan dalam sebuah eksperimen politik bernama Kekhalifahan Abbasiyah. Di tengah kekacauan yang produktif itulah nama Muḥammad ibn Ibrahim al-Fazari muncul. Ia hidup pada masa ketika dunia Islam belum dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Justru sebaliknya, dunia Islam sedang sibuk belajar dari peradaban lain.
Al-Fazari biasanya disebut sebagai astronom, matematikawan, filsuf, dan penerjemah. Informasi tentang kehidupannya tidak banyak. Bahkan asal-usul etnisnya masih diperdebatkan. Sebagian sumber menyebutnya Arab, sebagian lain menganggapnya Persia. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Tahun wafatnya pun hanya diperkirakan sekitar 796 atau 806 Masehi, kemungkinan di Baghdad.
Kekaburan biografi semacam itu sebenarnya cukup umum dalam sejarah ilmu pengetahuan Islam awal. Banyak ilmuwan yang meninggalkan karya besar tetapi hampir tidak meninggalkan jejak pribadi. Kita tahu apa yang mereka hitung, apa yang mereka terjemahkan, apa yang mereka tulis. Kita tidak tahu bagaimana suara mereka terdengar ketika berbicara, makanan apa yang mereka sukai, atau apakah mereka mudah marah ketika muridnya melakukan kesalahan.
Ayahnya, Ibrahim Al-Fazari, juga seorang astronom yang bekerja di lingkungan istana Abbasiyah. Hubungan antara karya sang ayah dan karya sang anak begitu bertumpang-tindih sehingga beberapa sejarawan berabad-abad kemudian kesulitan membedakan mana yang ditulis oleh siapa. Sebagian naskah menyebut Ibrahim. Sebagian lagi menyebut Muḥammad. Ada pula karya yang tampaknya merupakan hasil kerja kolektif keluarga. Situasi itu membuat Al-Fazari tampak seperti sosok yang berdiri di balik kabut arsip. Wajahnya tidak pernah benar-benar terlihat jelas.
Yang membuat namanya penting bukanlah teori revolusioner atau penemuan spektakuler. Perannya lebih mendasar dan, justru karena itu, sering diremehkan. Ia hidup pada saat Kekhalifahan Abbasiyah mulai membuka pintu besar-besaran terhadap ilmu asing. Khalifah Al-Mansur, pendiri Baghdad, memiliki minat yang tidak biasa terhadap astronomi, matematika, dan ilmu pengetahuan dari negeri-negeri lain. Di istananya berkumpul cendekiawan Persia, India, Suriah, dan Arab. Buku-buku mulai bergerak melintasi bahasa. Pengetahuan mulai bermigrasi.
Pada suatu titik di dekade 770-an, sebuah karya astronomi India sampai ke Baghdad. Karya itu berasal dari tradisi astronom besar India, Brahmagupta. Judul aslinya adalah Brahmasphuṭasiddhanta. Bagi telinga Arab saat itu, nama tersebut berubah menjadi Sindhind.
Sulit merasakan betapa asingnya teks itu bagi pembaca Arab abad kedelapan. Bahasa berbeda. Sistem angka berbeda. Cara memahami langit berbeda. Bahkan konsep-konsep matematikanya membawa tradisi intelektual yang tumbuh ribuan kilometer jauhnya. Al-Fazari bersama astronom lain, bernama Yaqub ibn Tariq, mendapat tugas untuk menerjemahkan dan mengolah karya tersebut ke dalam bahasa Arab. Hasilnya dikenal sebagai Zij al-Sindhind.
Di situlah letak keanehan sejarah. Banyak orang membayangkan ilmu pengetahuan berkembang karena seorang jenius menemukan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Kenyataannya sering jauh lebih berantakan. Peradaban bergerak karena seseorang mau duduk berjam-jam menghadapi istilah asing, mengonversi tabel angka, memecahkan ambiguitas bahasa, dan memastikan sebuah gagasan bisa dipahami oleh orang yang lahir dalam budaya berbeda. Al-Fazari termasuk jenis manusia seperti itu.
Terjemahan Sindhind jadi salah satu saluran utama masuknya astronomi India ke dunia Islam. Bersama astronomi Persia dan warisan Yunani yang datang kemudian, tradisi tersebut membentuk fondasi astronomi Islam klasik. Banyak metode perhitungan yang kemudian dipakai ilmuwan Muslim berutang pada proses transfer pengetahuan itu. Beberapa sejarawan bahkan menganggap jalur semacam itulah yang membantu penyebaran sistem angka India—yang sekarang dikenal sebagai angka Hindu-Arab—ke dunia Islam dan kemudian ke Eropa.
Pekerjaan menerjemahkan kadang terdengar membosankan sampai kita mengingat konsekuensinya. Tanpa penerjemah, sebuah gagasan bisa terkurung dalam satu bahasa selamanya. Tanpa penerjemah, angka nol mungkin menempuh perjalanan yang jauh lebih lambat. Tanpa penerjemah, tabel astronomi India mungkin tetap menjadi milik India saja.
Al-Fazari juga terkenal karena dikaitkan dengan pembuatan astrolab pertama di dunia Islam. Astrolab adalah instrumen astronomi yang tampak seperti gabungan antara jam, peta, dan teka-teki logam. Alat itu digunakan untuk menentukan posisi bintang, mengukur ketinggian benda langit, membantu navigasi, hingga menghitung waktu.
Ketika membaca deskripsi astrolab kuno, mudah membayangkan jari-jari yang menghitam karena logam, permukaan kuningan yang dingin saat disentuh sebelum fajar, serta lingkaran-lingkaran ukiran yang harus dipahami seperti bahasa rahasia. Tradisi ilmiah Islam nantinya menghasilkan astrolab yang sangat rumit dan indah, tetapi nama Al-Fazari sering muncul di titik awal cerita tersebut.
Ia juga menulis sejumlah karya astronomi tentang astrolab, bola armiler, dan kalender. Sebagian besar karya itu tidak bertahan utuh. Itu salah satu tragedi terbesar dalam sejarah intelektual manusia; begitu banyak buku hilang sehingga kita sering hanya mengenalnya melalui kutipan orang lain. Kadang sebuah karya besar menyusut menjadi satu kalimat dalam katalog abad pertengahan.
Ada detail kecil yang menarik. Salah satu sumber menyebut bahwa Al-Fazari pernah menyinggung Ghana sebagai “negeri emas”. Bagi saya, potongan informasi itu lebih hidup daripada banyak uraian akademik panjang. Tiba-tiba dunia abad kedelapan terasa nyata. Seorang ilmuwan di Baghdad mengetahui keberadaan wilayah jauh di Afrika Barat. Informasi bergerak melalui pedagang, diplomat, pelaut, dan cerita yang berpindah dari mulut ke mulut. Langit yang diamati Al-Fazari sama dengan langit di atas Ghana, Sindh, dan Baghdad, tetapi manuskrip-manuskripnya menunjukkan bahwa jaringan pengetahuan manusia sudah jauh lebih luas daripada yang sering kita bayangkan.
Ketika orang membicarakan Zaman Keemasan Islam, perhatian biasanya tertuju pada observatorium raksasa, nama-nama besar, atau buku-buku monumental. Al-Fazari berdiri sedikit lebih awal dari semua itu. Ia hidup pada fase pondasi, ketika batu pertama sedang diletakkan. Fase pondasi selalu kurang fotogenik dibanding bangunan yang sudah jadi.
Banyak ilmuwan besar datang sesudahnya. Mereka mengembangkan aljabar, memetakan bintang, mengukur bumi, memperbaiki teori planet, dan menulis ensiklopedia yang tebalnya membuat pergelangan tangan pegal hanya dengan mengangkatnya. Di belakang mereka berdiri generasi penerjemah abad kedelapan yang membuka gerbang pengetahuan dari India, Persia, dan Yunani.
Nama Muḥammad ibn Ibrahim al-Fazari termasuk di antara mereka. Sosoknya samar. Riwayat hidupnya berlubang di sana-sini. Karyanya banyak yang hilang. Tetapi ketika sebuah angka ditulis di atas kertas, ketika posisi planet dihitung dengan tabel astronomi, ketika ilmuwan Baghdad mulai memandang langit dengan perangkat intelektual yang lebih kaya daripada generasi sebelumnya, jejak Al-Fazari masih tertinggal di sana, tipis dan nyaris tak terlihat, seperti bekas goresan pena pada naskah yang sudah berumur seribu dua ratus tahun.


