Ibrahim al-Fazari, Tukang Batu Pertama di Balik Mercusuar Islam

Ilustrasi/historymath.com
Malam di Baghdad pada abad kedelapan tampak bercahaya, meski tidak seterang neon modern. Di istana khalifah, lampu minyak menyala. Di ruang-ruang kerja para juru tulis, lembaran perkamen terbuka. Orang-orang memperdebatkan gerak planet, panjang tahun matahari, dan angka-angka yang datang dari negeri yang bahkan belum pernah mereka lihat dengan mata sendiri. Di tengah keramaian intelektual itu, berdiri seorang tokoh yang aneh nasibnya: Ibrahim al-Fazari. Hampir semua orang yang menikmati hasil kerjanya melupakan namanya.

Saya selalu menganggap Ibrahim al-Fazari sebagai salah satu korban terbesar dari cara sejarah memilih pahlawan. Ia hidup pada masa ketika fondasi ilmu pengetahuan Islam sedang dicor, tetapi generasi setelahnya menghasilkan gedung yang jauh lebih megah. Orang mengingat gedungnya. Tukang batu pertama sering hilang dari cerita.

Nama lengkapnya Ibrahim ibn Habib al-Fazari. Ia hidup pada abad kedelapan Masehi, masa transisi yang sangat penting dalam sejarah dunia Islam. Kekuasaan Bani Umayyah baru saja runtuh. Dinasti Abbasiyah sedang membangun pusat pemerintahan baru di Irak. Baghdad masih muda. Jalan-jalannya belum memiliki aura kota legendaris. Belum ada kisah Seribu Satu Malam. Belum ada observatorium-observatorium besar yang kemudian muncul pada masa berikutnya.

Keluarga Al-Fazari berasal dari suku Fazarah, salah satu cabang besar konfederasi Ghatafan di Arabia. Sumber-sumber biografi klasik seperti karya Ibn al-Nadim dan al-Qifti menyebutnya sebagai astronom sekaligus penyair. Kombinasi itu terdengar ganjil bagi pembaca modern. Kita terbiasa memisahkan ilmuwan dan sastrawan ke dalam dua dunia berbeda. Abad kedelapan tidak mengenal pemisahan semacam itu. Orang yang menghitung posisi Saturnus bisa saja menulis syair pada malam yang sama.

Ibrahim bekerja pada masa Khalifah Abbasiyah kedua, Abu Ja’far al-Mansur. Al-Mansur adalah penguasa yang keras, penuh kecurigaan politik, tetapi memiliki ketertarikan yang sangat serius terhadap ilmu pengetahuan. Ia mendirikan Baghdad pada tahun 762 dan menjadikannya proyek ambisius yang menyedot tenaga, uang, dan kecerdasan dari berbagai wilayah kekaisaran.

Kisah paling terkenal dalam hidup Ibrahim dimulai dari India. Sekitar tahun 770-an, sebuah delegasi dari Sindh atau wilayah India Barat tiba di istana Abbasiyah. Mereka membawa teks astronomi yang berasal dari tradisi matematika India. Naskah itu kemungkinan besar terkait dengan karya besar astronom India bernama Brahmagupta. Bagi para intelektual Arab, isi buku tersebut seperti benda asing yang jatuh dari langit.

Hari ini kita menganggap astronomi sebagai bahasa universal. Kenyataannya tidak begitu. Setiap peradaban memiliki sistem perhitungan sendiri, istilah sendiri, asumsi sendiri. Menerjemahkan astronomi India ke dalam bahasa Arab bukan sekadar mengganti kata demi kata. Seluruh kerangka berpikir harus dipindahkan. Ibrahim al-Fazari mendapat tugas itu.

Bersama ilmuwan lain bernama Ya’qub ibn Tariq, ia menerjemahkan karya tersebut ke dalam bahasa Arab. Hasilnya dikenal sebagai Sindhind, adaptasi Arab dari istilah Siddhanta. 

Banyak sejarawan ilmu pengetahuan menganggap peristiwa itu sebagai salah satu momen paling penting dalam sejarah intelektual Islam awal. Karena pengaruhnya tidak langsung terlihat. Tidak ada ledakan. Tidak ada penemuan spektakuler yang membuat masyarakat Baghdad berteriak kagum. Yang terjadi adalah sesuatu yang jauh lebih menentukan; sebuah peradaban membuka pintu terhadap pengetahuan asing. Angka, metode hitung, model astronomi, tabel pergerakan benda langit, mulai mengalir ke dalam bahasa Arab.

Ketika membaca kisah itu, saya sering membayangkan suasana ruang kerja penerjemahan tersebut. Bau tinta yang tajam. Cahaya lampu minyak yang membuat mata perih setelah berjam-jam membaca. Perdebatan tentang istilah yang tidak memiliki padanan tepat dalam bahasa Arab. Tangan yang kram karena terus menyalin angka. Pekerjaan semacam itu hampir tidak pernah mendapat monumen.

Sumber-sumber klasik juga mengaitkan Ibrahim dengan pembuatan astrolab pertama di dunia Islam. Astrolab merupakan perangkat astronomi yang luar biasa rumit. Bentuknya menyerupai piringan logam berlapis-lapis dengan jaringan garis dan penanda sudut. Alat itu dapat digunakan untuk menentukan waktu, arah, posisi bintang, bahkan membantu navigasi.

Ketika memegang replika astrolab modern di museum, benda itu terasa berat di tangan. Kuningannya dingin. Tepi logamnya halus karena dipoles. Sulit membayangkan betapa revolusionernya alat semacam itu bagi masyarakat abad kedelapan. Di zaman ketika tidak ada GPS, tidak ada jam digital, tidak ada kalkulator, sebuah piringan logam bisa membantu seseorang memahami langit.

Nama Ibrahim juga muncul dalam sejumlah karya astronomi dan astrologi. Ya, astrologi.

Pembaca modern sering terganggu ketika mengetahui banyak astronom abad pertengahan juga mempelajari astrologi. Mereka menganggapnya kontradiktif. Pada masa Abbasiyah awal, batas antara keduanya belum sekeras sekarang. Menghitung posisi Mars dan mencoba memahami pengaruhnya terhadap urusan manusia sering dianggap bagian dari spektrum intelektual yang sama.

Baghdad sendiri dibangun di bawah bayang-bayang keyakinan semacam itu. Sejumlah sumber menyebut bahwa waktu pendirian kota dipilih setelah konsultasi astronomis. Langit diperlakukan sebagai teks yang dapat dibaca.

Ibrahim al-Fazari bergerak dalam dunia seperti itu. Ironisnya, sebagian besar karyanya hilang. Nasib itu menimpa banyak ilmuwan awal Islam. Kita mengenal mereka melalui kutipan, daftar pustaka, atau komentar penulis yang hidup ratusan tahun kemudian. Kadang-kadang sebuah buku yang mungkin menghabiskan sepuluh tahun hidup seseorang hanya tersisa dalam dua kalimat katalog. 

Putranya, Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari, kemudian menjadi ilmuwan terkenal juga. Hubungan ayah-anak itu menimbulkan kebingungan panjang bagi para sejarawan. Beberapa manuskrip menyebut Al-Fazari tanpa menjelaskan apakah yang dimaksud Ibrahim atau Muhammad. Beberapa penemuan bahkan pernah salah atribusi selama berabad-abad.

Keadaan itu membuat sosok Ibrahim terasa semakin kabur. Ia hadir di mana-mana dan sekaligus sulit ditangkap.

Saya kira ada alasan mengapa tokoh seperti Ibrahim al-Fazari menarik untuk dibaca hari ini. Sejarah populer sangat menyukai penemu tunggal. Kita menyukai kisah seorang jenius yang mengubah dunia seorang diri. Kenyataannya jauh lebih berisik dan lebih tidak teratur. Peradaban biasanya bergerak karena ribuan orang melakukan pekerjaan yang tidak glamor. Menerjemahkan tabel angka. Menyalin manuskrip. Mengoreksi kesalahan hitung. Membandingkan pengamatan bintang dari kota yang berbeda. Ibrahim termasuk kelompok pekerja intelektual seperti itu. 

Ketika nama-nama besar seperti Al-Khwarizmi muncul beberapa dekade kemudian, mereka tidak memulai dari ruang kosong. Ketika astronom-astronom Islam menyusun tabel yang lebih canggih pada abad kesembilan dan kesepuluh, mereka tidak memulai dari nol. Ketika angka India menyebar ke dunia Islam dan kemudian ke Eropa, jalurnya sudah dibuka lebih dulu.

Sosok Ibrahim al-Fazari muncul sebentar dalam sumber-sumber sejarah, lalu menghilang lagi. Tidak ada kisah heroik yang rapi. Tidak ada anekdot terkenal yang terus diulang dari generasi ke generasi. Yang tersisa hanya jejak-jejak tipis di dalam bibliografi kuno, nama yang muncul di sela-sela pembahasan astronomi India, dan bayangan seorang intelektual yang duduk di Baghdad sambil mengutak-atik angka-angka dari negeri jauh.

Ketika malam turun di kota itu, planet-planet tetap bergerak di atas Sungai Tigris. Para khalifah berganti. Dinasti berganti. Perpustakaan terbakar. Naskah hilang. Nama-nama besar bermunculan dan tenggelam. Ibrahim al-Fazari masih dapat ditemukan kalau seseorang cukup keras kepala menggali lapisan-lapisan debu sejarah, tepat sebelum jejaknya menghilang lagi ke dalam kegelapan rak-rak manuskrip.

Related

Tokoh 4097377191679440914

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item