Rambo IV, Sylvester Stallone Mengamuk di Myanmar dengan Brutal

Ilustrasi/porostimur.com
Perut seorang tentara Myanmar meledak dihantam peluru kaliber .50. Tubuhnya tercerai-berai seperti karung daging yang dilempar ke kipas industri. Kamera tidak memotong adegan dengan sopan. Sylvester Stallone membiarkan serpihan tubuh beterbangan di layar selama beberapa detik yang terasa terlalu lama untuk ukuran film studio Hollywood.

Bioskop penuh suara setengah jijik, setengah puas. Lalu John Rambo terus menembak dengan wajah datar.

Banyak film perang modern sibuk terlihat “kompleks”. Mereka memberi ruang untuk trauma, dilema moral, abu-abu politik. Rambo IV tidak peduli semua itu. Film ini seperti dihantam palu godam dari awal sampai akhir; tentara junta Myanmar memperkosa, membakar, membantai warga sipil Karen, lalu Rambo datang dan menggiling mereka menjadi bubur merah. 

Selesai.

Karena itulah film ini terasa begitu memuaskan bagi banyak orang.

Film yang dirilis tahun 2008 ini sebenarnya datang dengan ekspektasi rendah. Stallone sudah dianggap dinosaurus aksi era VHS. Wajahnya sudah mulai menua, tubuhnya seperti dipahat dari ban truk bekas. Banyak orang mengira seri Rambo sudah selesai sejak Rambo III melawan Soviet di Afghanistan tahun 1988. Tiga film sebelumnya bahkan sudah berubah jadi karikatur perang era Reagan; ledakan besar, otot mengilap, patriotisme murahan.

Lalu Stallone membuat film paling brutal sepanjang seri. Bukan brutal gaya superhero Marvel yang steril dan penuh CGI. Kekerasan di Rambo IV terasa lengket. Basah. Ada adegan anak kecil Karen dilempar ke api. Ada perempuan diperkosa di sawah berlumpur. Kepala dipenggal. Tubuh diinjak. Mata saya bahkan sempat pedih waktu pertama menontonnya dulu, karena film ini nyaris tidak memberi ruang bernapas. Udara di film terasa panas dan amis.

Stallone menyutradarai sendiri film ini. Kelihatan sekali ia sengaja menghilangkan glamor perang. Tentara junta Myanmar di film bukan penjahat elegan dengan pidato ideologis panjang. Mayor Pa Tee Tint, tokoh antagonisnya, tampil seperti predator kampung berseragam; wajah dingin, mata kosong, mulut santai saat memerintahkan pembantaian. Itu yang bikin film ini terasa dekat dengan realitas Burma waktu itu.

Myanmar, yang dulu lebih sering disebut Burma, memang hidup puluhan tahun di bawah junta militer. Sejak kudeta Ne Win tahun 1962, negara itu seperti dikunci dalam paranoia bersenjata. Konflik dengan kelompok etnis berlangsung terus-menerus; Karen, Kachin, Shan, Rohingya. Desa dibakar. Warga sipil dipaksa kerja paksa. Tentara Tatmadaw punya reputasi buruk dalam penyiksaan dan pemerkosaan di daerah konflik.

Film Rambo IV mengambil latar di wilayah Sungai Salween dekat perbatasan Thailand-Myanmar, area yang memang lama menjadi zona perang antara junta dan kelompok Karen National Union.

Rambo sendiri hidup tenang di Mae Sot, Thailand, waktu itu. Menangkap ular, menyewakan perahu, minum sendirian. Stallone memainkan Rambo seperti pria yang sudah lelah menjadi manusia. Dialognya sedikit sekali. Wajahnya bahkan sering terlihat bosan terhadap dunia.

Sekelompok misionaris Kristen datang meminta bantuannya menyebrangi sungai menuju Burma untuk mengirim bantuan medis. Sarah Miller dan Michael Burnett percaya bahwa kemanusiaan bisa mengubah keadaan. Rambo memandang mereka seperti orang yang terlalu lama hidup nyaman.

“Burma is a war zone.” Kalimat itu keluar pendek, kasar, tanpa romantisme.

Misionaris-misionaris itu tetap memaksa pergi. Mereka kemudian ditangkap tentara junta. Sebagian diperkosa, sebagian disiksa. Seorang bocah dilempar ke ladang ranjau untuk hiburan tentara. Stallone benar-benar memfilmkan adegan itu tanpa malu-malu. Ledakan kecil. Tubuh bocah hancur. Sunyi sesaat. Hollywood jarang berani sekejam itu sekarang.

Banyak orang menganggap Rambo IV sebagai seri terbaik, justru karena film ini berhenti berpura-pura. John Rambo di sini bukan lagi pahlawan patriotik Amerika. Ia lebih mirip roh dendam tua yang kebetulan membawa senapan mesin berat. Tidak ada misi penyelamatan demokrasi. Tidak ada bendera Amerika berkibar dramatis. Yang ada cuma kebencian terhadap pembantaian sipil.

Junta Myanmar marah besar terhadap film ini. Rezim militer saat itu menganggap film Stallone sebagai propaganda anti-pemerintah yang mencemarkan citra militer Burma. Filmnya resmi dilarang beredar di Myanmar. Lucunya, DVD bajakannya malah laku keras di Yangon dan Mandalay. Orang-orang mencarinya diam-diam di pasar gelap, seperti barang terlarang yang terlalu memuaskan untuk diabaikan. 

Ada sesuatu yang ironis di situ; pemerintah takut pada film aksi berdurasi 90 menit. Tapi ketakutan itu sebenarnya masuk akal. Kekerasan di Rambo IV memang eksploitif, kadang nyaris seperti film grindhouse, tapi inti emosinya jelas sekali; tentara Myanmar digambarkan sebagai mesin pembunuh brutal yang pantas dihancurkan. Buat junta yang terbiasa mengontrol narasi, film seperti ini tentu terasa berbahaya. Apalagi Stallone tidak memberi ruang penebusan.

Saya masih mengingat adegan ketika Rambo mengoperasikan senapan mesin Browning M2 di belakang jip. Itu mungkin salah satu adegan pembantaian paling terkenal dalam sejarah film aksi modern. Peluru kaliber besar menghancurkan tubuh tentara Myanmar satu demi satu. Kepala pecah. Lengan copot. Dada terbuka. Kamera tidak malu memperlihatkan semuanya.

Sebagian kritikus menyebutnya sadistik. Ya, memang sadistik. Itu inti daya hantamnya. Film ini seperti mengatakan; kalian ingin melihat monster dibunuh? Baik, lihat sampai puas.

Sensasi itu sulit dipisahkan dari frustrasi dunia nyata. Banyak orang tahu laporan-laporan kekejaman junta Myanmar bukan fiksi Hollywood. Amnesty International, Human Rights Watch, berbagai organisasi kemanusiaan, sudah lama mendokumentasikan kekerasan Tatmadaw terhadap warga sipil. Desa-desa Karen dibumihanguskan. Perempuan diperkosa. Anak-anak direkrut paksa.

Lalu muncul John Rambo membawa panah peledak.

Kadang manusia memang menikmati fantasi penghukuman yang telanjang seperti itu. Orang-orang bisa pura-pura luhur di media sosial, menulis bahwa kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah. Tetapi ketika melihat tentara yang tadi memperkosa perempuan lalu tubuhnya robek oleh ledakan mortir, ada bagian primitif dalam otak yang diam-diam lega. Film ini tidak menyembunyikan dorongan itu.

Stallone sendiri pernah bilang bahwa ia sengaja membuat kekerasan di film ini “terasa nyata”, karena perang memang mengerikan. Ia bahkan sempat menunjukkan potongan film kepada jurnalis untuk menjelaskan bahwa konflik Burma jarang mendapat perhatian dunia internasional. Sebelum Rambo IV, banyak penonton Barat bahkan nyaris tidak tahu apa yang terjadi di Myanmar selain nama Aung San Suu Kyi yang sesekali muncul di berita.

Film ini memang tidak akurat sepenuhnya. Kelompok misionaris Amerika digambarkan agak naif, karakter-karakternya tipis, dan konflik politik Burma disederhanakan menjadi pertarungan baik-versus-jahat. Tapi ada energi mentah yang membuat semua itu tidak terlalu penting saat menonton.

Rambo tua berjalan di lumpur sambil membawa panahnya yang mematikan. Keringat bercampur darah di wajahnya. Hutan Burma di film tampak seperti tempat yang dipenuhi nyamuk ganas dan bau tanah basah. Bahkan suara pelurunya terasa berat di telinga. 

Lalu ada hal lain yang jarang dibahas; Rambo IV sebenarnya film yang sangat pesimis. Tidak ada kemenangan besar. Setelah semua pembantaian selesai, perang Burma tetap berlangsung. Junta tetap ada. Konflik etnis tetap menyala bertahun-tahun sesudahnya. Bahkan sampai kudeta Myanmar tahun 2021, dunia kembali melihat tentara menembaki warga sipil di jalan-jalan Yangon dan Mandalay.

John Rambo tidak mengubah sejarah. Ia cuma datang, membunuh banyak orang, lalu pergi.

Adegan terakhir memperlihatkan Rambo berjalan menuju rumah ayahnya di Bowie, Arizona. Jalan tanah panjang. Langkah lambat. Musik pelan mengalun. Wajah Stallone terlihat capek sekali, seperti pria yang sudah terlalu lama hidup bersama mayat.

Film selesai beberapa menit kemudian. Tidak ada pidato. Tidak ada monolog penebusan.

Cuma debu jalanan dan lelaki tua yang masih membawa perang di punggungnya.

Related

Entertainment 7348963168025032750

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item