Bernard Lewis dalam Polemik Sejarah Armenia dan Holocaust
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/bernard-lewis-dalam-polemik-sejarah.html
![]() |
| Ilustrasi/britannica.com |
Mata seorang sejarawan bisa mengubah nasib satu kata. Kadang hanya satu kata. Pembantaian. Deportasi. Tragedi. Genosida.
Ketika korban sudah lama menjadi tulang di bawah tanah Anatolia, ketika para pelaku sudah lama hilang dari dunia, pertempuran justru berpindah ke arsip, ruang kuliah, dan halaman buku. Orang berdebat bukan lagi tentang siapa yang mati, namun tentang apa nama yang harus diberikan kepada kematian itu. Di situlah nama Bernard Lewis muncul.
Lewis bukan sembarang akademisi. Selama puluhan tahun ia dianggap salah satu pakar paling berpengaruh mengenai dunia Islam dan Kekaisaran Ottoman. Ketika ia berbicara tentang sejarah Turki, banyak orang mendengarkan. Ketika ia berbicara tentang Armenia tahun 1915, dunia langsung terbelah.
Ada polemik yang terus hidup di dunia nyata maupun di dunia maya, yang menyentuh salah satu perdebatan sejarah paling panas dalam satu abad terakhir. Bukan soal apakah orang Armenia mati. Hampir tidak ada sejarawan serius yang menyangkal kematian massal itu.
Perdebatan terletak pada pertanyaan yang jauh lebih sempit sekaligus lebih eksplosif; apakah kematian tersebut merupakan hasil kebijakan pemusnahan yang disengaja oleh pemerintah Ottoman, ataukah akibat deportasi besar-besaran dalam kondisi perang yang berubah menjadi bencana kemanusiaan raksasa?
Untuk memahami posisi Lewis, kita perlu masuk ke Anatolia tahun 1915. Bau mesiu ada di mana-mana. Kekaisaran Ottoman sedang sekarat.
Selama berabad-abad, Ottoman adalah salah satu kekuatan terbesar di dunia. Pada awal abad ke-20, kekaisaran itu mulai retak dari segala arah. Balkan lepas. Wilayah Arab bergolak. Rusia mengintai dari utara. Perang Dunia I datang seperti palu godam terakhir.
Di wilayah timur, dekat kota Van, memang terdapat kelompok-kelompok Armenia yang bekerja sama dengan pasukan Rusia atau mengangkat senjata melawan Ottoman. Pemberontakan Van pada 1915 adalah fakta sejarah yang tidak diperdebatkan secara serius. Pasukan Armenia membantu mempertahankan kota sampai tentara Rusia tiba.
Lewis berangkat dari titik itu.
Menurutnya, pemerintah Ottoman menghadapi ancaman keamanan nyata di wilayah perbatasan. Deportasi penduduk Armenia dari zona perang merupakan keputusan keras dan brutal, tetapi masih berada dalam logika perang. Lewis berpendapat tidak ada bukti langsung yang menunjukkan adanya keputusan pusat untuk memusnahkan seluruh bangsa Armenia, sebagaimana Nazi memutuskan "Solusi Akhir" terhadap Yahudi Eropa.
Perhatikan kata yang sering ia gunakan; bukti. Bagi Lewis, dokumen perintah eksplisit sangat penting.
Ia menerima bahwa ratusan ribu bahkan lebih dari satu juta orang Armenia meninggal. Ia menerima adanya pembantaian. Ia menerima adanya kekejaman luar biasa. Yang ia tolak adalah kesimpulan bahwa pemerintah Ottoman memiliki niat resmi untuk memusnahkan bangsa Armenia sebagai kelompok etnis.
Di situlah perdebatan berubah menjadi pertarungan intelektual yang nyaris mustahil diselesaikan. Karena banyak sejarawan lain melihat bukti yang sama, lalu sampai pada kesimpulan berbeda.
Mereka menunjuk konvoi-konvoi deportasi yang dipaksa berjalan ratusan kilometer menuju gurun Suriah. Mereka menunjuk laporan diplomat Amerika seperti Henry Morgenthau Sr. Mereka menunjuk kesaksian para penyintas. Mereka menunjuk pola pembunuhan yang berulang dari satu provinsi ke provinsi lain. Mereka menunjuk dokumen-dokumen yang menurut mereka menunjukkan adanya koordinasi pusat.
Bagi kelompok itu, justru mustahil menjelaskan skala kematian tersebut tanpa adanya niat penghancuran.
Perdebatan jadi semakin panas karena Holocaust selalu menghantui diskusi tersebut. Lewis berkali-kali menolak penyamaan langsung antara tragedi Armenia dan Holocaust. Menurutnya, kasus Yahudi di bawah Nazi memiliki karakter berbeda. Orang Yahudi Jerman tidak sedang memberontak, tidak bekerja sama dengan tentara asing yang menyerang Jerman, dan tidak berada dalam situasi perang perbatasan seperti yang terjadi di Anatolia Timur. Ia menganggap analogi itu menyesatkan.
Argumen tersebut terdengar masuk akal bagi sebagian orang. Bagi sebagian lain, argumen itu justru mengganggu.
Karena jika sebuah kelompok memang memberontak, apakah seluruh populasi sipilnya dapat diperlakukan sebagai ancaman? Apakah keberadaan pemberontak membatalkan kemungkinan terjadinya genosida? Pertanyaan itu membuat ruang kuliah berubah seperti arena tinju.
Saya selalu merasa perdebatan ini menarik bukan karena siapa yang benar, tapi karena memperlihatkan bagaimana sejarah bekerja di dunia nyata.
Orang sering membayangkan sejarah sebagai kumpulan fakta yang sudah selesai. Padahal sejarah sering lebih mirip ruang sidang tanpa hakim. Dokumennya tidak lengkap. Sebagian arsip hilang. Sebagian saksi berbohong. Sebagian saksi lupa. Sebagian saksi sudah mati. Lalu generasi berikutnya mencoba menyusun potongan-potongan itu menjadi narasi yang masuk akal.
Dalam kasus Armenia, persoalannya semakin rumit karena sejarah tersebut tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.
Di Armenia, peristiwa 1915 adalah luka nasional. Di Turki, isu itu menyentuh identitas negara modern yang lahir dari reruntuhan Ottoman. Dalam diaspora Armenia di Los Angeles, Marseille, atau Beirut, perdebatan ini masih terasa pribadi. Nama keluarga, foto leluhur, desa yang hilang, gereja yang hancur—semuanya masih hidup dalam ingatan kolektif.
Karena itulah Bernard Lewis menjadi tokoh yang begitu kontroversial. Bagi para pendukungnya, ia adalah sejarawan yang menolak tunduk pada tekanan politik dan bersikeras membedakan antara tragedi perang dan genosida.
Bagi para pengkritiknya, ia telah mengecilkan bukti-bukti yang bertentangan dengan tesisnya, dan memberikan legitimasi akademis bagi penyangkalan genosida. Kritik semacam itu datang dari banyak sejarawan lain dan bahkan berujung pada gugatan hukum di Prancis pada 1990-an.
Ada sesuatu yang agak ironis dalam semua ini. Bernard Lewis meninggal pada 2018. Sebagian besar pelaku dan korban peristiwa 1915 sudah lama meninggal jauh sebelum itu. Perdebatan masih berjalan. Arsip masih dibuka. Buku baru masih diterbitkan. Pidato politik masih dibuat.
Di suatu ruang baca yang sunyi, seseorang masih membalik halaman laporan tua dari Van atau Erzurum, mencoba mencari satu kalimat yang mungkin mengubah seluruh perkara.
Kertas tua berwarna kecokelatan. Tinta mulai pudar. Nama-nama orang yang tak lagi memiliki kuburan yang bisa dikunjungi.


