Krisis Lahan Pemakaman di Jakarta: Hidup Susah, Mati pun Susah

Ilustrasi/kompas.id
Di Jakarta, bahkan kematian mulai kesulitan mencari tempat tinggal. Kalimat itu terdengar berlebihan sampai seseorang benar-benar berdiri di pemakaman umum kota ini; liang-liang rapat tanpa jarak, batu nisan miring saling berimpitan, jalan setapak sempit yang becek setelah hujan, makam lama dibongkar untuk memberi ruang bagi jenazah baru. Bau tanah basah bercampur aroma bunga tabur yang mulai membusuk di bawah matahari siang.

Jakarta sudah terlalu penuh bahkan untuk orang mati. Di TPU Karet Bivak, makam-makam berdiri rapat seperti apartemen kelas bawah yang dipaksa menampung penghuni melebihi kapasitas. Sebagian nisan retak. Sebagian nama mulai pudar dimakan hujan dan lumut. Di beberapa titik, makam lama “ditumpangi” anggota keluarga lain karena lahan baru makin sulit dicari. Dalam istilah pemakaman Jakarta, itu disebut sistem tumpang.

Kedengarannya administratif sekali. Praktiknya jauh lebih ganjil. Satu liang bisa diisi dua atau tiga jenazah dalam rentang tahun berbeda. Kuburan berubah menjadi ruang tinggal bertingkat bagi orang mati.

Jakarta memang punya hubungan yang aneh dengan ruang. Orang hidup berebut kontrakan, berebut rusun, berebut trotoar, berebut parkir, berebut gerbong KRL. Orang mati ikut terseret ke logika yang sama; siapa cepat dia dapat tanah.

Dulu kuburan terasa seperti sesuatu yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk ekonomi kota. Sekarang tidak lagi. Harga lahan pemakaman swasta di sekitar Jabodetabek bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Di beberapa memorial park mewah, makam dijual seperti properti premium lengkap dengan brosur hijau, lanskap rapi, dan skema cicilan.

Ada pemasaran yang terasa hampir absurd; “lingkungan asri”, “view danau”, “akses mudah dari tol”. Orang membeli tempat mati seperti membeli kavling vila.

Di sisi lain Jakarta, keluarga miskin masih sibuk mencari liang murah untuk anggota keluarganya yang baru meninggal pagi tadi. Kontrasnya kasar sekali.

Laporan jurnalistik tentang krisis makam Jakarta sering memperlihatkan detail yang lebih menghantam daripada angka statistik. Petugas gali kubur harus bekerja di area yang makin sempit. Makam lama dibongkar setelah masa sewa habis. Ahli waris yang tak mampu memperpanjang lahan harus rela jasad keluarganya dipindahkan atau ditumpangi.

Bayangkan situasinya. Seseorang kehilangan ayahnya, lalu beberapa tahun kemudian datang lagi bukan untuk ziarah, tapi untuk mengurus administrasi perpanjangan makam. Kalau telat bayar, ruang untuk orang mati itu bisa hilang. Kota modern memang punya kemampuan luar biasa untuk mengubah semua hal menjadi urusan tarif.

Masalah makam di Jakarta sebenarnya sudah lama tumbuh diam-diam. Penduduk terus membengkak sementara lahan menyusut. Beton naik ke mana-mana. Apartemen tumbuh. Ruko tumbuh. Jalan layang tumbuh. Kuburan tidak tumbuh cukup cepat untuk mengejar jumlah kematian.

Kematian tidak pernah berhenti. Kota yang kehabisan tanah tetap punya orang yang meninggal tiap hari.

Pandemi COVID-19 sempat memperlihatkan situasi itu secara brutal. Foto-foto pemakaman massal di TPU Rorotan menyebar luas. Peti-peti diturunkan cepat. Petugas memakai APD putih penuh lumpur. Ekskavator bekerja hampir tanpa jeda. Mata pedih melihatnya, bukan cuma karena tragedi kematian massal, tapi karena untuk pertama kalinya banyak warga Jakarta sadar; kota ini benar-benar tidak siap menghadapi ledakan jenazah. Kematian mendadak terlihat seperti krisis logistik.

Sebelum pandemi, banyak orang mungkin masih membayangkan makam sebagai ruang sakral yang relatif stabil. COVID mengubah semuanya jadi visual yang dingin dan mekanis. Lubang-lubang panjang. Plastik jenazah. Ambulans antre. Sirene. Angka harian kematian dibacakan seperti laporan cuaca.

Lalu pandemi mereda, tapi persoalan lahannya tetap tinggal.


Di Jakarta, kematian juga memperlihatkan ketimpangan kelas dengan cara yang telanjang. Orang kaya bisa membeli kavling keluarga di pemakaman elite, lengkap dengan marmer dan pepohonan tertata. Orang miskin bahkan sering tidak punya cukup uang untuk ambulans. 

Ada keluarga yang harus patungan hanya untuk membeli kain kafan dan membayar penggali kubur. Ada yang membawa jenazah ke kampung halaman karena tanah makam di Jakarta terlalu mahal atau terlalu sulit didapat. Jakarta seperti perlahan menolak tubuh manusia, bahkan setelah napasnya berhenti.

Saya pernah melihat foto seorang penggali kubur duduk sendirian di tepi makam sore hari. Bajunya penuh tanah merah kecokelatan. Sekop bersandar di sampingnya. Tangannya tampak kasar dan pecah-pecah. Orang-orang seperti itu mungkin paling paham bagaimana kota berubah. Mereka melihat ukuran lahan mengecil, jarak antarmakam makin rapat, keluarga makin panik ketika mencari liang.

Profesi penggali kubur sendiri punya ritme yang aneh. Mereka bekerja saat orang lain sedang shock, menangis, atau membaca doa. Ada yang bilang tangan mereka bisa menebak jenis tanah hanya dari ayunan pertama cangkul. Jakarta membuat pekerjaan memakamkan manusia bahkan jadi semakin teknis dan terburu-buru.

Kota ini sebenarnya penuh ironi kecil tentang ruang. Orang hidup di apartemen sempit dengan cicilan panjang, lalu nanti dikubur di lahan sempit dengan biaya tambahan lagi. Sebagian warga Jakarta menghabiskan hidup mengejar properti, lalu setelah mati keluarganya masih harus pusing mencari sebidang tanah dua meter.

Tidak semua budaya memandang makam dengan cara yang sama. Di beberapa negara, kremasi menjadi solusi dominan karena keterbatasan lahan. Di Jepang, kolumbarium bertingkat menyimpan abu jenazah secara efisien. Di Hong Kong, harga ruang makam bisa sangat mahal sampai-sampai abu kremasi disimpan di apartemen keluarga.

Jakarta perlahan menuju situasi serupa, tapi dengan kekacauan khas Indonesia; perencanaan setengah matang, populasi besar, birokrasi ruwet, dan sensitivitas agama yang tinggi.

Pembicaraan tentang kremasi atau pemakaman vertikal sering langsung berbenturan dengan keyakinan religius dan kultur masyarakat. Banyak orang Indonesia masih memandang kuburan sebagai ruang fisik penting untuk hubungan emosional dengan keluarga yang meninggal. Orang datang nyekar, menabur bunga, membaca doa, membersihkan rumput liar di sekitar nisan.

Kuburan bukan cuma tempat jasad dikubur. Ia juga tempat ingatan disimpan. Makanya krisis makam terasa lebih emosional dibanding sekadar krisis lahan biasa.

Ada sesuatu yang mengganggu ketika manusia mulai kesulitan mendapatkan tempat terakhir untuk berbaring. Kota modern menjanjikan kemajuan, tapi bahkan liang kubur sekarang tunduk pada logika pasar dan keterbatasan ruang.

Lucunya, banyak orang Jakarta mungkin lebih siap membicarakan cicilan rumah dibanding membicarakan biaya kematian. Padahal ongkos kematian di kota ini diam-diam mahal; rumah sakit, ambulans, pemulasaraan, tanah makam, tahlilan, transportasi keluarga.

Kematian kelas menengah urban sekarang terasa seperti paket pengeluaran mendadak. Dan semua itu terjadi di kota yang tiap hari dipenuhi baliho apartemen mewah bertuliskan “Live Above The City”. 

Sementara di bawah tanah, ruang makin habis. Di beberapa TPU, petugas sudah terbiasa melihat keluarga datang dengan wajah bingung sambil bertanya lirih soal ketersediaan makam. Kadang mereka baru sadar bahwa bahkan untuk menguburkan orang tua sendiri pun sekarang ada daftar tunggu, syarat administrasi, zonasi wilayah. Bayangan tentang kematian yang sederhana perlahan hilang dari kota besar.

Malam hari, Jakarta tetap menyala. Lampu apartemen, suara motor, klakson, kereta terakhir, warung kopi yang belum tutup. Orang-orang masih sibuk mengejar hidup. Di sudut lain kota, seorang penggali kubur mungkin sedang mengukur tanah dengan langkah pelan sambil menyorotkan senter ke liang yang baru selesai digali.

Besok pagi tempat itu sudah terisi.

Related

Indonesia 7123642419851971222

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

item