Portal Web, Bisnis Besar yang Tutup karena Kehilangan Relevansi

Ilustrasi/nevaweb.id
Kalau orang mulai menggunakan internet sekitar akhir 1990-an hingga awal 2000-an, nama Astaga hampir mustahil dilewatkan. Saat itu, internet Indonesia belum memiliki banyak "gerbang masuk". Belum ada Facebook, belum ada YouTube, Google belum sedominan sekarang, dan media online masih sedikit.

Astaga menjadi salah satu halaman yang hampir selalu dikunjungi. Bersama Detik, Satunet, KlikBCA, Yahoo!, dan beberapa portal lain, Astaga membentuk peta internet Indonesia waktu itu.

Yang menarik, Astaga bukan sekadar portal berita. Ia campuran yang aneh. Berita hiburan. Humor. Foto-foto unik. Artikel ringan. Email gratis. Chat. Direktori situs Indonesia. Kadang gosip. Kadang teknologi. Kadang hal-hal yang sekarang mungkin akan disebut "viral".

Kalau hari ini kita melihat homepage seperti itu, mungkin terasa berantakan. Pada zamannya, justru itulah yang dicari orang. Internet masih kecil. Orang ingin satu halaman yang bisa membawa mereka ke mana-mana. Masalahnya, model bisnis seperti itu tidak bertahan.

Google perlahan mengambil fungsi direktori. Yahoo kehilangan dominasinya. Facebook mengambil fungsi komunitas. YouTube mengambil video. Kompas dan Detik memperkuat berita. Kaskus menguasai forum. Tokopedia dan Bukalapak mengambil jual beli. 

Internet yang dulu membutuhkan "portal" berubah menjadi internet yang langsung menuju tujuan. Kita tidak lagi membuka satu gerbang untuk masuk ke internet. Kita langsung mengetik alamat tujuan. Atau sekarang, bahkan tidak mengetik—cukup membuka aplikasi. Menurut saya, di situlah Astaga kehilangan alasan untuk ada.

Yang membuat saya sedikit sedih, Astaga sebenarnya bukan situs kecil. Pada awal 2000-an, ia termasuk nama besar internet Indonesia. Nama "Astaga" sendiri sangat mudah diingat. Branding-nya kuat. Banyak orang mengenalnya bahkan sebelum mengenal Google. Ironisnya, generasi yang lahir setelah 2005 mungkin bahkan tidak pernah mendengar namanya. 

Kalau dipikir-pikir, Astaga mengajarkan sesuatu tentang teknologi. Orang sering berkata bahwa perusahaan mati karena gagal berinovasi. Saya rasa itu tidak selalu benar. Kadang perusahaan mati karena dunia menghapus kategori tempat ia hidup. Portal internet adalah contoh terbaik. 

Bahkan kalau Astaga dijalankan dengan sangat baik sekalipun, saya tidak yakin konsep "portal internet" masih memiliki masa depan setelah mesin pencari menjadi gerbang utama internet.

Hal yang sama pernah terjadi pada Yahoo di tingkat global. Yahoo dulu bukan sekadar mesin pencari. Ia portal. Berita, email, cuaca, saham, direktori, horoskop, game, semuanya ada di satu tempat.

Lalu Google datang. Google tidak berusaha menjadi portal. Google hanya menjawab satu pertanyaan: "Mau ke mana?" 

Sesudah itu, konsep portal perlahan kehilangan relevansi. 

Astaga berada di sisi sejarah yang sama. Kalau Kaskus mati karena komunitasnya berpindah. Kalau Multiply mati karena perdagangan pindah ke marketplace. Kalau GeoCities mati karena homepage pribadi kehilangan fungsi. Kalau Yahoo! Answers mati karena pola mencari jawaban berubah. Astaga mati karena cara orang memasuki internet berubah.

Menurut saya, itu salah satu kematian paling menarik dalam sejarah internet Indonesia. Situsnya tidak kalah oleh pesaing yang lebih bagus. Ia kalah karena pintu depan internet dipindahkan ke tempat lain. Dan ketika pintunya hilang, rumah sebesar apa pun mendadak sepi.


Related

Internet 2282363021100552581

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item