Situs ‘Tolak Syariat Islam’ dan Channel ‘Sunnah Nabi’ Diblokir, Kenapa?
https://www.belajarsampaimati.com/2026/06/situs-tolak-syariat-islam-dan-channel.html
![]() |
| Ilustrasi/bangsaonline.com |
Pemblokiran selalu menciptakan efek samping yang aneh. Semakin keras sesuatu disembunyikan, semakin banyak orang ingin melihatnya. Semakin sering sebuah gagasan diberi label berbahaya, semakin besar rasa penasaran terhadap isi sebenarnya. Karena itu, ketika sebuah blog seperti tolaksyariatislam.wordpress.com atau kanal YouTube bernama Sunnah Nabi diblokir, reaksi pertama sebagian orang bukan merasa terlindungi. Reaksi pertama mereka justru: memangnya apa yang ada di sana?
Pertanyaan itu tidak lahir dari kebencian terhadap agama. Justru sering lahir dari rasa ingin tahu yang sangat biasa. Sebagian pengunjung situs semacam itu bukan ateis militan, bukan aktivis politik, bukan pula pembenci Islam. Mereka hanyalah orang-orang yang suatu hari menemukan hadis dalam Sahih Bukhari atau Sahih Muslim yang tidak pernah mereka dengar di mimbar Jumat, tidak pernah mereka baca dalam buku Pendidikan Agama Islam sekolah, dan tidak pernah mereka dengar dalam ceramah televisi.
Kejutan pertama biasanya muncul dari kesadaran sederhana: tradisi Islam klasik jauh lebih luas daripada versi Islam yang dipopulerkan kepada publik modern.
Seseorang membaca sebuah hadis sahih. Ia memeriksa nomor hadisnya. Ia membuka kitab digital. Ia menemukan teks Arabnya. Ia mencari syarah atau penjelasannya. Ia mendapati bahwa hadis tersebut memang ada. Tidak palsu. Tidak hasil editan Photoshop. Tidak dikarang oleh musuh agama. Hadis itu tercetak selama berabad-abad dalam kitab yang dianggap paling sahih setelah Al-Qur'an oleh mayoritas Sunni.
Rasa tidak nyaman mulai muncul. Bukan karena hadis itu otomatis salah. Tapi karena keberadaannya tidak cocok dengan gambaran yang selama ini dibangun.
Kebanyakan masyarakat beragama sebenarnya tidak hidup bersama kitab-kitab sumber. Mereka hidup bersama ringkasan dari kitab-kitab sumber. Mereka mengenal agama melalui proses penyaringan panjang yang dilakukan ulama, guru agama, lembaga pendidikan, penerbit, negara, bahkan algoritma media sosial. Ribuan halaman literatur klasik direduksi menjadi beberapa puluh tema yang dianggap aman, relevan, dan berguna untuk masyarakat kontemporer.
Proses penyaringan semacam itu bukan monopoli Islam. Kekristenan melakukannya. Buddhisme melakukannya. Hindu melakukannya. Hampir semua tradisi besar melakukannya. Tidak mungkin seorang jamaah biasa harus bergulat dengan seluruh isi literatur berusia seribu tahun sebelum ia bisa shalat atau beribadah.
Masalah muncul ketika seseorang menemukan bagian yang disaring itu. Reaksi pertama sering bukan bantahan. Reaksi pertama sering berupa kemarahan.
Bukan kemarahan terhadap isi hadisnya, tapi kemarahan terhadap orang yang mengangkat hadis tersebut ke permukaan.
Saya memahami mengapa itu terjadi. Sebuah komunitas membangun identitasnya melalui cerita yang dipilih. Identitas selalu bekerja dengan seleksi. Tidak ada bangsa yang mengajarkan seluruh sejarahnya kepada anak-anak sekolah. Tidak ada keluarga yang menceritakan seluruh rahasia leluhurnya kepada tamu. Tidak ada institusi yang hidup tanpa narasi resmi.
Tetapi ketika sebuah narasi resmi bertemu arsip asli, ketegangan tidak bisa dihindari. Pada titik seperti itulah pemblokiran terasa mengganggu.
Jika seseorang mengutip hadis palsu, bantahlah dengan menunjukkan bahwa hadis itu palsu. Jika seseorang memotong konteks, tunjukkan konteks yang hilang. Jika seseorang salah menerjemahkan teks Arab, hadirkan terjemahan yang lebih akurat. Jika seseorang menyembunyikan penjelasan ulama klasik, buka kitab syarah dan tunjukkan penjelasannya.
Mekanisme intelektual sebenarnya sudah tersedia.
Tradisi Islam bahkan memiliki perangkat yang sangat rumit untuk itu. Ada ilmu rijal. Ada ilmu jarh wa ta'dil. Ada ilmu musthalah hadis. Ada pembahasan sanad, matan, nasikh-mansukh, asbab al-wurud, hingga perdebatan panjang antara tokoh-tokoh seperti Ibn Hajar al-Asqalani, Al-Nawawi, dan Ibn Taymiyyah.
Ironis sekali ketika sebuah peradaban yang melahirkan ribuan jilid perdebatan memilih tombol blokir.
Pemblokiran memiliki logika politik yang sederhana: menghentikan penyebaran informasi. Masalahnya, internet tidak bekerja seperti perpustakaan abad pertengahan. Informasi yang diblokir tidak menghilang. Ia berpindah. Ia dicadangkan. Ia muncul dalam tangkapan layar. Ia muncul dalam salinan PDF. Ia muncul dalam forum anonim. Ia muncul dalam video reaksi terhadap video yang sudah dihapus.
Yang sering hilang justru kesempatan untuk membantah secara terbuka.
Ketika sebuah argumen diblokir, sebagian orang akan menganggap argumen itu kalah. Sebagian lainnya akan menganggap argumen itu terlalu kuat sehingga harus dibungkam. Dugaan kedua biasanya jauh lebih berbahaya.
Pernah ada momen ketika saya membaca perdebatan panjang mengenai sebuah hadis kontroversial. Mata terasa lelah karena terlalu lama menatap layar. Jari sudah lengket dengan mouse di meja. Malam hampir lewat. Yang menarik bukan isi hadisnya. Yang menarik adalah bagaimana para peserta diskusi sibuk menyerang karakter lawan bicara, sementara teks yang diperdebatkan berada tepat di depan mereka. Semua orang melihat kalimat yang sama. Semua orang membaca kitab yang sama. Perang justru terjadi pada penafsirannya.
Pemandangan semacam itu sebenarnya jauh lebih sehat daripada pemblokiran. Perdebatan yang buruk masih lebih berguna daripada pembungkaman yang rapi. Sebuah masyarakat yang percaya pada kekuatan argumen seharusnya tidak terlalu takut pada kutipan dari kitabnya sendiri.
Tentu saja, keberadaan hadis dalam kitab sahih tidak otomatis mengakhiri diskusi. Status "sahih" dalam tradisi hadis memiliki definisi teknis tertentu. Ulama juga berbeda pendapat mengenai cara memahami hadis tertentu, ruang lingkup penerapannya, hingga relasinya dengan ayat Al-Qur'an. Literatur Islam penuh dengan perdebatan semacam itu. Membaca satu hadis tanpa membaca komentar-komentarnya sering menghasilkan kesimpulan yang terlalu cepat.
Tetapi justru karena itulah diskusi dibutuhkan.
Saya sering merasa aneh ketika melihat orang yang sangat yakin bahwa masyarakat tidak boleh membaca sesuatu karena bisa salah paham. Logika semacam itu bisa diperluas tanpa batas. Jika masyarakat tidak boleh membaca hadis tertentu karena berpotensi salah paham, mengapa tidak sekalian melarang masyarakat membaca kitab hadis? Jika kitab hadis berpotensi membingungkan, mengapa tidak hanya memperbolehkan beberapa ulama membacanya? Jalur berpikir itu mengarah ke tempat yang cukup gelap.
Tradisi keilmuan tumbuh dari keberanian membuka teks, bukan menutupnya. Perpustakaan-perpustakaan besar Islam dulu dipenuhi naskah yang saling bertentangan. Di Baghdad, Damaskus, Kairo, Nishapur, Cordoba, para ulama membaca lawan-lawan intelektual mereka. Mereka menulis bantahan berlembar-lembar. Mereka menyerang argumen dengan argumen. Kadang kasar, kadang arogan, kadang tidak adil, tetapi mereka tetap menulis.
Hari ini sebuah situs diblokir. Besok sebuah video dihapus. Lusa sebuah buku dianggap terlalu berbahaya.
Orang-orang yang penasaran tetap akan mencari. Mereka selalu mencari. Mereka membuka arsip. Mereka mengunduh PDF tua. Mereka masuk forum yang aneh-aneh. Mereka membaca terjemahan yang kualitasnya meragukan. Mereka menyusun kesimpulan sendiri karena jalur resmi tidak memberi ruang untuk bertanya.
Komputer menyala lewat tengah malam. Tab browser bertambah jadi dua puluh. Di satu sisi terbuka Sahih Bukhari. Di sisi lain terbuka bantahan terhadap Sahih Bukhari. Kursor berkedip di kotak pencarian.
Pemblokiran tidak pernah benar-benar mengakhiri percakapan. Kadang ia hanya memindahkan percakapan ke tempat yang lebih gelap.


