Saari Amri, Lagu Malaysia Era ’90-an, dan Romantika Hidup Manusia

Ilustrasi/kumparan.com
Tape recorder National dua speaker diletakkan di atas lemari kaca. Lampunya kecil merah. Di luar rumah, hujan belum selesai. Bau tanah basah masuk dari ventilasi. Seorang buruh pabrik baru pulang kerja, duduk selonjoran sambil menyeruput teh yang masih panas. Lalu intro gitar muncul.

“Kusangkakan panas berpanjangan. Rupanya gerimis, rupanya gerimis mengundang...”

Orang-orang Indonesia mengenal suara itu sebelum mengenal siapa yang menulisnya. Mereka hafal liriknya di luar kepala, memutarnya di warung, di terminal, di acara hajatan, di bis malam jurusan Medan-Pekanbaru, di rumah-rumah petak yang cat temboknya mulai mengelupas. Tetapi nama Saari Amri jarang muncul di percakapan.

Ia bekerja seperti tukang tambal ban yang duduk di bawah pohon sambil menambal satu demi satu ban bocor kendaraan orang lain. Kendaraan itu lalu pergi jauh, dipakai ke mana-mana, sementara si penambal tetap di tempat.

Saari Amri bukan sekadar pencipta lagu produktif. Ia semacam arsitek emosional kelas pekerja Melayu tahun 1990-an. Lagu-lagunya menguasai udara Indonesia tanpa perlu kampanye budaya, tanpa seminar sastra, tanpa kritik musik koran yang sok pintar. Orang miskin menerimanya begitu saja. Orang patah hati memeluknya begitu saja.

Kita perlu jujur; musik Malaysia era itu sering dihina.

Anak-anak kota besar yang merasa modern menganggapnya cengeng. Terlalu melayu. Terlalu lurus. Terlalu banyak lelaki menangis di lagu. Majalah musik tertentu di Jakarta memperlakukan slow rock Malaysia seperti saudara kampung yang memalukan. Di televisi, musik Barat diposisikan sebagai sesuatu yang keren dan metropolitan, sementara lagu-lagu Malaysia cuma dianggap cocok untuk sopir truk atau pedagang onderdil.

Padahal coba dengar baik-baik cara Saari Amri menyusun melodi. Ada sesuatu yang sangat “licin” di sana.

Lagu-lagunya mudah diingat bahkan saat diputar sekali. Reff datang tepat ketika emosi mulai naik. Ia tahu kapan gitar harus menangis. Ia tahu kapan vokalis mesti terdengar seperti lelaki yang habis duduk tiga jam di depan rumah mantannya sambil tidak tahu mau ngapain.

Musik pop sering pura-pura rumit agar dianggap berkualitas. Saari Amri tidak peduli gengsi semacam itu. Ia ingin lagu masuk ke kepala orang di pasar, tukang las, anak STM, perempuan penjaga toko kain di Pasar Johor, Medan.

Dan berhasil.

Slam, UK’s, Exists, Spring, banyak sekali grup Malaysia hidup dari lagu-lagunya. Beberapa bahkan seperti dibangun di atas fondasi emosional ciptaan Saari Amri. Vokalis boleh berganti, mode rambut boleh berubah, tetapi pola melodinya tetap terasa.

Intro gitar bersih. Keyboard tipis. Lalu lirik yang langsung menuju luka tanpa malu-malu.

“Berapa lamakah lagi terpaksa aku menanti…”


Musik Indonesia masa itu sebenarnya jauh lebih beragam secara musikal. Ada pop kreatif, jazz fusion, rock progresif, alternative rock, bahkan eksperimen aneh-aneh. Tetapi lagu-lagu Saari Amri punya sesuatu yang lebih sulit dilawan; kedekatan emosional yang vulgar. Ia tidak takut terdengar sentimentil.

Orang Indonesia diam-diam menyukai sentimentalitas semacam itu, terutama di kota kecil.

Bayangkan masuk ke bengkel motor tahun 1996 di pinggir jalan Pantura. Kalender tergantung miring. Lantai hitam oleh oli bekas. Kipas angin berdebu mutar pelan sambil bunyi “krek-krek-krek”. Di sudut ruangan, kaset “Mencari Alasan” diputar berulang. Seorang montir membuka baut sambil ikut bernyanyi pelan.

Musik itu hidup di ruang-ruang panas semacam itu. Bukan di coffee shop ber-AC dengan diskusi teori musik.

Saari Amri memahami bahasa Melayu sebagai bahasa luka populer. Itu yang jarang dibicarakan. Banyak liriknya sederhana sekali, hampir seperti surat cinta anak SMA. Tetapi justru kesederhanaan itu membuatnya menempel.

“Di sana menanti, di sini menunggu.”

Kalimatnya bahkan terasa seperti percakapan orang di terminal.

Ada jenis kesedihan yang sangat Asia Tenggara dalam lagu-lagu itu. Lelaki-lelaki gagal mengendalikan hidupnya. Kekasih pergi tanpa penjelasan panjang. Orang menunggu sambil hujan turun. Tidak ada pemberontakan besar. Tidak ada kemarahan filosofis ala rock Barat. Kesedihan diterima seperti nasib cuaca.

Dan orang-orang tahun 1990-an akrab dengan rasa tidak berdaya semacam itu.

Krisis ekonomi belum datang ketika sebagian lagu itu populer, tetapi hidup kelas bawah Indonesia memang sudah keras sejak lama. Gaji kecil. Rumah sempit. Kadang harus nonton televisi di rumah tetangga. Ayah pulang kerja sore hari tampak lelah dan lusuh. Musik Malaysia memberi ruang aman untuk melankoli lelaki. Itu penting. Lelaki Asia Tenggara jarang diberi kesempatan menangis terang-terangan.

Jadi mereka bernyanyi.

Kadang sambil mabuk tuak. Kadang sambil memperbaiki mesin diesel. Kadang sambil menyetir truk malam.

Orang sering lupa bahwa sebelum media sosial, lagu punya fungsi sosial yang jauh lebih besar. Lagu menjadi tempat orang menitipkan perasaan yang tidak bisa diucapkan langsung. Di radio-radio lokal Indonesia, lagu-lagu Saari Amri dipakai untuk kirim salam.

“Buat Yanti di Kota Pinang, jangan marah lagi, ya.”

Penyiar radio membacanya dengan nada menggoda, lalu intro lagu dimainkan. Selesai. Satu kampung mendengar.

Hari ini, semua terasa terlalu cepat dan terlalu sadar citra. Orang patah hati bikin Instagram story dengan filter gelap dan kutipan bahasa Inggris klise. Era Saari Amri lebih polos. Sedikit norak, memang. Tapi kejujurannya brutal.

Lelaki pakai celana jeans ketat dan rambut belah tengah bisa menyanyikan lagu cinta dengan sungguh-sungguh tanpa takut ditertawakan komunitas maskulin internet.

Saya curiga itu sebabnya lagu-lagu tersebut bertahan jauh lebih lama daripada banyak musik yang dulu dianggap lebih keren.

Karena lagu-lagu Saari Amri tidak dibangun untuk kritik musik. Ia dibangun untuk dipakai hidup sehari-hari.

Makanya sampai sekarang, lagu-lagunya masih muncul di karaoke keluarga kecil di Purwodadi, di organ tunggal Lamongan, di truk malam Sumatra, di video TikTok bapak-bapak Malaysia yang merekam hujan dari warung kopi sambil memutar lagu lama dari speaker bluetooth murah.

Lucu juga memikirkan bagaimana karya-karya yang dulu diejek “kampungan” sekarang berubah menjadi arsip emosional satu generasi Asia Tenggara.

Orang yang dulu menghina musik Malaysia sebagai musik rendahan sekarang ikut menyanyikan lagu-lagu itu saat reuni sekolah sambil tertawa terlalu keras. Rambut mereka sudah menipis. Perut membesar. Sebagian sudah punya anak SMA. Tetapi begitu intro lagu “Gerimis Mengundang” keluar dari speaker, wajah mereka berubah sedikit. Ada jeda kecil di mata.

Saari Amri mungkin lebih memahami manusia dibanding banyak musisi yang sibuk ingin dianggap jenius.

Sebab hidup orang kebanyakan memang sering terdengar seperti lagu-lagu itu; tidak elegan, terlalu emosional, sedikit malu-malu, kadang murahan, kadang tulus sekali.

Kasetnya sering diputar sampai pitanya tipis dan suara vokalnya mulai bergelombang. Di warung kecil dekat terminal, lagu itu tetap dinyalakan. Hujan belum reda. Seorang sopir mengibaskan abu rokok ke lantai semen sambil ikut bernyanyi pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. 

Related

Entertainment 5987834235940739544

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item