Perampokan Bank Dar Es Salaam, Uang Jutaan Dolar Lenyap Tanpa Bekas

Ilustrasi/disway.id
Baghdad waktu itu punya terlalu banyak pria bersenjata untuk membuat orang benar-benar terkejut melihat truk melewati pos keamanan. Seragam ada di mana-mana. Polisi. Tentara. Milisi. Penjaga swasta. Kadang orang yang sama bisa memakai identitas berbeda tergantung siapa yang membayar hari itu.

Di kota seperti itu, uang tunai dolar Amerika punya aura hampir mistis.

Tumpukan dolar bukan sekadar alat transaksi. Ia berarti jalan keluar. Generator listrik. Senjata. Visa. Kesempatan kabur. Kesempatan membeli loyalitas. Setelah invasi Amerika Serikat ke Irak, dolar mengalir deras ke Baghdad bersama kontraktor asing, proyek rekonstruksi, korupsi, dan pasar gelap. Banyak bank swasta menyimpan cadangan dolar dalam jumlah besar karena masyarakat lebih percaya uang hijau Amerika daripada dinar Irak yang berkali-kali hancur oleh perang dan inflasi.

Bank Dar Es Salaam termasuk salah satu tempat itu. Bangunannya berdiri di Baghdad yang masih compang-camping akibat perang, ledakan bom, dan pos pemeriksaan beton. Kota itu hidup dengan ritme yang melelahkan; suara generator listrik, debu panas menempel di wajah, helikopter berdengung rendah di kejauhan. Orang bisa sarapan sambil mendengar ledakan mortir tanpa lagi menghentikan kunyahan.

Perampokan terhadap Bank Dar Es Salaam terjadi nyaris tanpa drama publik. Tidak ada baku tembak besar. Tidak ada pengejaran mobil yang terekam televisi. Yang muncul justru kejanggalan yang terlalu bersih untuk ukuran Baghdad masa itu.

Uang lenyap. Pelaku tidak jelas. Pos-pos keamanan dilewati tanpa hambatan berarti. Itu membuat banyak orang langsung curiga; ini pekerjaan orang dalam.

Rumor berkembang cepat di Baghdad. Penjaga bank diduga terlibat. Sebagian polisi mungkin membantu. Di Irak pasca-invasi, batas antara aparat negara dan kelompok bersenjata sering kabur seperti cat yang terkena panas hujan. Banyak polisi punya koneksi milisi. Banyak milisi punya orang di kementerian. Banyak pejabat hidup dari jaringan loyalitas yang tidak tertulis. 

Kalau ingin memindahkan uang tunai dalam jumlah sangat besar melewati Baghdad tahun 2007, orang tidak hanya cukup punya senjata. Tapi juga harus punya izin tak resmi dari orang-orang di jalan. 

Kasus ini selalu terasa lebih menyeramkan bagi saya, justru karena terlalu sunyi. Perampokan besar biasanya meninggalkan jejak visual dramatis; kaca pecah, darah, alarm. Dar Es Salaam lebih seperti lubang gelap dalam sistem keuangan Irak. Uang menghilang, dan kota bergerak terus seolah tidak cukup energi untuk terkejut.

Nilai pastinya tidak pernah diumumkan resmi, tetapi diyakini mencapai puluhan juta dolar AS. Sebagian laporan menyebut sekitar US$282 juta jika digabung dengan kasus terkait bank lain di Irak pada periode serupa, walau angka pastinya tetap kabur. Kabut informasi memang ciri khas Irak saat itu. Bahkan kematian harian sering tidak punya hitungan pasti.

Saya pernah membaca kesaksian wartawan asing yang bekerja di Baghdad pada pertengahan 2000-an. Ia menggambarkan bagaimana mata selalu terasa pedih karena debu dan asap terbakar. Kota itu panas, tegang, dan dipenuhi beton anti-ledakan yang mengubah jalan-jalan jadi labirin. Dalam suasana seperti itu, perampokan bank besar terasa hampir seperti detail tambahan dari kekacauan yang lebih luas.

Orang-orang di Baghdad waktu itu punya prioritas bertahan hidup yang lebih mendesak daripada mengikuti investigasi finansial.

Tetapi justru di situlah kasus ini menarik secara brutal. Perampokan Dar Es Salaam memperlihatkan bagaimana perang mengubah arti kriminalitas. Di kota normal, pencurian bank adalah gangguan terhadap sistem. Di Baghdad pasca-invasi, sistemnya sendiri sudah setengah runtuh. Orang sulit membedakan mana operasi kriminal, mana operasi politik, mana sekadar transaksi antar kelompok bersenjata. Bahkan istilah “perampok” terasa tidak cukup.

Beberapa dugaan menyebut uang itu dipakai mendanai milisi atau jaringan politik tertentu. Dugaan lain mengatakan itu murni operasi korupsi internal. Ada yang percaya aparat sengaja membiarkan kendaraan lewat karena takut atau karena dibayar. Hampir semua kemungkinan terdengar masuk akal di Irak saat itu.

Saya membayangkan malam ketika uang itu dipindahkan. Suara mesin kendaraan diesel berat. Bau bensin dan debu. Lampu checkpoint menyinari wajah-wajah letih pria bersenjata yang mungkin bahkan tidak lagi bertanya terlalu banyak. Satu kendaraan lewat, lalu berikutnya.

Baghdad punya terlalu banyak rahasia bergerak di malam hari.

Perang Irak menciptakan ekonomi aneh dan uang tunai menjadi benda fisik yang sangat penting. Banyak transaksi besar dilakukan dengan koper dolar. Kontraktor membawa tumpukan uang. Politisi menyimpan dolar di bunker atau rumah pribadi. Ada cerita terkenal tentang miliaran dolar AS yang diterbangkan ke Irak dalam bentuk palet uang tunai setelah invasi. Sebagian uang itu kemudian lenyap tanpa jejak jelas.

Di lingkungan seperti itu, perampokan bank besar bukan terasa mustahil. Justru terasa seperti kelanjutan logis dari sistem yang bocor di semua sisi.

Kasus Dar Es Salaam juga menunjukkan sesuatu yang sering membuat saya terganggu tentang perang modern; kriminalitas dan pemerintahan mulai memakai metode yang sangat mirip. Pos pemeriksaan. Konvoi kendaraan. Orang bersenjata dengan dokumen resmi. Dalam kondisi kacau, legitimasi berubah jadi kostum.

Tidak banyak nama pelaku yang muncul jelas dalam kasus ini. Tidak ada sosok flamboyan seperti gangster film. Tidak ada Valerio Viccei dengan Ferrari merahnya. Hanya bayangan-bayangan pria bersenjata dalam kota yang sudah terlalu penuh bayangan. 

Uangnya pun hilang seperti ditelan kota. Sebagian mungkin keluar negeri lewat Yordania atau Suriah. Sebagian mungkin berubah jadi properti, senjata, rekening rahasia, bisnis konstruksi, suap politik. Dolar Amerika sangat fleksibel dalam perang. Ia bisa membeli generator rumah sakit dan sekaligus membiayai pembunuhan.

Ada sesuatu yang ironis tentang fakta bahwa Irak yang dihancurkan atas nama membangun demokrasi dan stabilitas, justru menjadi tempat pencurian ratusan juta dolar bisa menguap tanpa penjelasan pasti.

Saya tidak bisa membaca kasus ini sebagai kisah kriminal biasa. Terlalu banyak lapisan darah dan geopolitik menempel di sekitarnya. Bank Dar Es Salaam hanyalah satu titik kecil dalam kota yang waktu itu setiap harinya memproduksi ketidakpercayaan baru.

Orang-orang Barat sering membayangkan Baghdad hanya sebagai medan perang. Padahal kota itu juga tetap menjalani hidup sehari-hari. Pedagang teh. Penjual roti pipih. Anak-anak sekolah. Sopir taksi yang mengeluh soal bensin. Kehidupan sipil tetap berjalan sambil dikepung bunker dan ledakan.

Mungkin itu sebabnya perampokan seperti ini bisa terjadi hampir diam-diam. Ketika kekacauan sudah menjadi cuaca harian, bahkan hilangnya puluhan atau ratusan juta dolar tidak lagi terdengar luar biasa.

Beberapa tahun setelah kasus itu, Baghdad perlahan berubah. Sebagian tembok beton dibongkar. Kafe mulai buka lagi. Tetapi bekas masa itu masih terasa di banyak tempat. Ketidakpercayaan terhadap institusi tidak hilang begitu saja setelah perang mereda.

Bank Dar Es Salaam sendiri tetap menjadi nama yang muncul sesekali dalam daftar perampokan terbesar dunia, sering tanpa detail jelas. Seperti catatan kaki dari sebuah kota yang terlalu lelah untuk menjelaskan dirinya sendiri.

Dan di suatu titik pada malam perampokan itu, kendaraan pembawa uang melewati checkpoint Baghdad tanpa dihentikan terlalu lama. Lampu senter mungkin menyapu sebentar ke kaca depan, lalu bergerak pergi.


Related

Peristiwa 2243405669444641640

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item