Chicken Soup for the Soul, Kisah-kisah Menyentuh yang Pernah Populer

Ilustrasi/chickensoup.com
Rak buku Gramedia punya aroma khas; pendingin ruangan yang terasa adem, plastik sampul buku baru, sedikit bau lem. Awal 2000-an, di antara novel-novel teenlit berwarna pastel dan buku motivasi bisnis dengan pria berkacamata di cover, ada deretan buku dengan judul yang terdengar seperti resep orang sakit: Chicken Soup for the Soul.

Sampulnya sederhana. Kadang putih dengan ilustrasi mangkuk sup, kadang bunga, kadang foto keluarga. Tidak terlihat “keren”. Tidak terasa intelektual. Tapi buku-buku itu menyebar ke mana-mana seperti virus yang sopan. Ruang tunggu dokter gigi. Meja guru. Tas ibu-ibu arisan. Perpustakaan sekolah. Bahkan di rak buku rumah orang yang sebenarnya jarang membaca.

Konsepnya memang aneh kalau dipikir sekarang. Sekumpulan cerita pendek sentimental yang dikirim orang biasa, lalu dikurasi, disunting, dibukukan. Ada cerita tentang ayah yang diam-diam bekerja dua shift demi membelikan sepeda untuk anaknya. Perawat yang menemani pasien kanker. Anjing tua yang menunggu pemiliknya pulang. Anak kecil yang menabung receh untuk membeli hadiah Natal buat ibunya. Cerita-cerita pendek yang dirancang untuk membuat dada hangat selama tiga menit.

Jack Canfield dan Mark Victor Hansen membaca pasar dengan sangat tepat. Mereka mengerti bahwa banyak orang sebenarnya tidak ingin “sastra”. Mereka ingin validasi emosional yang cepat dan mudah dicerna. Chicken Soup for the Soul seperti fast food untuk perasaan manusia. Hangat, ringan, gampang ditelan, meski kadang terlalu asin.

Penerbit besar Amerika awalnya menolak naskah itu berkali-kali. Lebih dari seratus penolakan, menurut cerita yang terus diulang dalam wawancara motivasi. Ironis sekali. Buku tentang harapan justru lahir dari industri penerbitan yang tidak percaya buku itu akan laku. 

Ketika akhirnya terbit pada 1993 lewat Health Communications Inc. di Florida, ledakannya gila. Seri-serinya menjamur: Chicken Soup for the Teenage Soul, Chicken Soup for the Mother’s Soul, Chicken Soup for the Teacher’s Soul, sampai versi untuk pencinta hewan peliharaan. Mereka menemukan formula industri emosional yang nyaris sempurna.

Penulisnya tidak perlu terkenal. Bahannya nyaris tak pernah habis, karena semua orang punya pengalaman sedih atau mengharukan. Ongkos produksinya murah dibanding novel besar. Pembaca merasa “dekat” karena kisahnya datang dari orang biasa. Seorang ibu dari Ohio, sopir bus dari Texas, guru SD dari Nebraska. Dunia penerbitan tiba-tiba terasa demokratis.

Tentu saja itu juga ilusi.

Cerita-cerita yang masuk tetap dipilih sangat ketat. Kesedihan harus cukup aman. Kehangatan harus universal. Konflik tak boleh terlalu politis, terlalu seksual, atau terlalu brutal. Orang miskin boleh muncul, tapi kemiskinannya harus tetap punya aroma inspirasi. Bahkan duka dalam Chicken Soup terasa sudah diseterika rapi. Air mata yang higienis.

Saya ingat membaca salah satu versinya waktu SMP, duduk dekat jendela saat hujan sore. Ada cerita tentang seorang anak yang malu karena ayahnya bekerja sebagai petugas kebersihan sekolah. Di akhir cerita, sang ayah ternyata diam-diam menyimpan semua piagam anaknya dalam laci tua. Saya masih ingat detail laci itu, karena penulisnya menyebut aroma kayu cedar dan suara engsel berkarat saat dibuka. Mata sempat panas sedikit. Lima menit kemudian saya lupa nama tokohnya. Itu kekuatan sekaligus kelemahan Chicken Soup. Efek emosinya cepat, tapi sering tidak tinggal lama.

Buku itu muncul di masa ketika dunia belum terlalu sinis. Era Oprah Winfrey sedang besar-besarnya. Talk show siang penuh kisah penyembuhan trauma dan pelukan keluarga. Amerika tahun 1990-an sedang mabuk self-help. Orang percaya luka emosional bisa dipulihkan lewat cerita inspiratif dan afirmasi positif. Bahkan font di sampul buku motivasi era itu tampak optimistis.

Memasuki era internet awal 2000-an, model seperti Chicken Soup justru makin cocok dengan kultur baru. Cerita pendek. Mudah dibagikan. Emosi instan. Kalau dipikir-pikir, buku itu sebenarnya nenek moyang thread viral Facebook tentang “pengemudi ojek yang diam-diam menyekolahkan anak yatim” atau video TikTok yang sengaja diberi piano melankolis agar orang menangis sebelum scroll berikutnya.

Bedanya, Chicken Soup masih punya proses editorial. Sekarang semua orang bisa menjadi pabrik sentimentalitas sendiri.

Pernah ada fase ketika seri-seri itu terasa muncul tanpa rem. Judulnya makin spesifik dan agak lucu. Chicken Soup for the Golfer’s Soul. Chicken Soup for the NASCAR Soul. Industri yang awalnya tampak tulus perlahan berubah seperti supermarket emosi. Tinggal pilih kategori kesedihan dan kehangatan yang diinginkan.

Jack Canfield kemudian bergerak ke proyek-proyek self-help lain, termasuk The Success Principles. Wajahnya mulai lebih identik dengan seminar motivasi mahal dan ballroom hotel dibanding buku hangat tadi. Mark Victor Hansen juga masuk ke dunia pembicara profesional. Ada sesuatu yang agak ironis saat kisah-kisah sederhana tentang cinta keluarga akhirnya bermuara pada industri motivasi korporat.

Banyak cerita Chicken Soup sebenarnya ditulis dengan teknik yang sangat manipulatif. Detail-detail kecil dipasang seperti jebakan emosional. Kursi roda tua. Jaket lusuh milik ayah. Surat tulisan tangan. Sepasang sepatu usang. Penulisnya tahu persis kapan harus membuat pembaca berhenti sebentar dan menarik napas. Tetapi kadang manipulasi itu berhasil, karena manusia memang lapar pada rasa diperhatikan.

Dunia sekarang bergerak lebih keras. Timeline media sosial penuh perang, ejekan, algoritma kemarahan. Humor makin sinis. Orang muda lebih cepat curiga pada sentimentalitas. Kisah mengharukan gampang dituduh cringe atau fake. Kalau Chicken Soup muncul pertama kali hari ini, mungkin akan dihancurkan netizen dalam seminggu.

“Fake story.”

“Boomer content.”

“Things that never happened.”

Padahal internet modern diam-diam masih memakai mesin emosi yang sama. Video pria menyuapi anak difabel. Kurir kehujanan. Nenek penjual bunga. Semua komponen dalam Chicken Soup masih berfungsi. Orang tetap menangis di depan layar kecil sambil rebahan tengah malam. Bedanya sekarang emosinya diperas lebih cepat dan dibuang lebih cepat juga.

Saya agak rindu pada dunia ketika orang membeli buku setebal 200 halaman hanya untuk membaca cerita pendek tentang guru tua yang memberi makan murid miskin.

Tidak semua cerita di Chicken Soup bagus. Sebagian terasa klise. Sebagian lain seperti drama sinetron siang. Ada kisah yang begitu manis sampai hampir membuat gigi ngilu. Tapi sesekali muncul satu cerita yang anehnya menancap. Bukan karena tulisannya hebat, justru karena terasa biasa. Orang biasa memang jarang bicara seefisien penulis profesional. Kalimat mereka kadang kepanjangan, detailnya melantur, emosinya canggung. Mungkin itu yang membuat buku tersebut dulu terasa hidup.

Penerbitan Indonesia sempat ikut demam format serupa. Buku-buku kisah nyata inspiratif membanjiri toko. Sampul dengan foto matahari pagi, bangku taman, atau tangan saling menggenggam. Sebagian besar gagal bertahan lama. Formula mudah ditiru, tapi sulit membuat orang benar-benar peduli.

Chicken Soup juga kebetulan datang di masa ketika membaca masih punya ritme berbeda. Orang duduk lebih lama dengan satu buku. Sekarang perhatian manusia seperti lampu sein motor rusak; berkedip terus pindah arah. Cerita tiga halaman pun terasa panjang kalau tidak memberi kejutan dalam tujuh detik pertama.

Kadang saya membuka lagi cerita-cerita lama dari seri itu, dan menemukan sesuatu yang agak mengganggu; banyak kisahnya sebenarnya sangat Amerika. Gereja kecil. Veteran perang. Thanksgiving. Rumah suburban dengan halaman rumput. Tapi buku itu bisa laku di Indonesia, India, Brasil, Filipina. Mesin sentimental manusia ternyata tidak terlalu peduli konteks budaya selama tombol emosinya tepat.

Rak-rak toko buku sekarang lebih penuh novel thriller, manga, buku finansial, atau self-improvement dengan judul agresif tentang produktivitas. Chicken Soup tampak seperti artefak dari masa yang lebih lambat dan sedikit naif.

Tetap saja, jutaan orang pernah duduk diam sambil membaca cerita-cerita kecil itu. Ada yang sambil menunggu kereta. Ada yang di ruang rawat rumah sakit. Ada yang habis bertengkar dengan pasangan. Buku itu berpindah tangan berkali-kali, sudut halamannya terlipat, beberapa bagian digarisbawahi pakai spidol biru.

Di sebuah rumah entah di mana, mungkin masih ada satu eksemplar Chicken Soup for the Teenage Soul yang menguning, terselip di rak paling belakang, diapit buku pelajaran komputer Windows 98 dan album foto lama dengan plastik yang mulai lengket.


Related

Buku 8751616990880996207

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item