Ulasan Novel The Doomsday Conspiracy Karya Sidney Sheldon

Ilustrasi/gqindia.com
Langit malam pecah oleh cahaya aneh. Sebuah objek jatuh di pegunungan Swiss. Orang-orang melihat sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan. Lalu dunia bergerak seperti biasa lagi—televisi tetap menyala, pesawat tetap terbang, para pejabat tetap tersenyum di depan kamera—sementara diam-diam beberapa saksi mulai mati satu per satu. 

Begitulah The Doomsday Conspiracy (Konspirasi Hari Kiamat) bekerja. Sidney Sheldon tidak membuka novel ini dengan filsafat panjang tentang alien, kosmos, atau nasib umat manusia. Ia membuka dengan rasa takut. Rasa takut yang sangat modern; ketakutan bahwa kebenaran terbesar di dunia justru disembunyikan oleh orang-orang yang paling berkuasa.

Novel ini lahir dari paranoia era Perang Dingin, ketika dunia dipenuhi teori konspirasi, operasi intelijen gelap, eksperimen rahasia pemerintah, serta ketegangan nuklir yang bisa menghapus bumi hanya lewat satu tombol. Tetapi membaca novel ini sekarang terasa aneh, sebab suasananya justru terasa semakin akrab. Dunia hari ini hidup dari konspirasi. Internet memelihara kecurigaan seperti peternakan raksasa. Orang tidak lagi bertanya “apa yang terjadi?”, tapi “apa yang disembunyikan?”

Sheldon menangkap denyut itu jauh sebelum media sosial berubah menjadi pasar paranoia global.

Tokoh utama novel ini, Robert Bellamy, adalah perwira intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat yang tampak seperti protagonis khas thriller; cerdas, tenang, disiplin, kompeten. Sidney Sheldon memang gemar menciptakan tokoh semacam itu. Lelaki yang bergerak cepat, berpikir cepat, tampan secukupnya, lalu dilempar ke dalam dunia penuh intrik. Tetapi Bellamy punya sesuatu yang berbeda dibanding tokoh-tokoh Sheldon lain; ia terlalu percaya pada sistem.

Kepercayaan itulah yang perlahan menghancurkannya.

Bellamy diberi tugas sederhana—atau setidaknya tampak sederhana. Ia harus menemukan dan membungkam saksi-saksi yang melihat insiden UFO di Swiss. Pemerintah Amerika tidak ingin informasi itu menyebar. Dari sana, novel berkembang seperti mesin yang terus dipacu; perjalanan lintas negara, pengejaran, pembunuhan misterius, agen rahasia, pengkhianatan, operasi militer tersembunyi. Sheldon menulis dengan ritme seperti orang yang takut pembacanya sempat bernapas.

Kemampuan terbesar Sidney Sheldon memang terletak pada kecepatan. Banyak penulis thriller mencoba terdengar pintar sampai lupa membuat cerita bergerak. Sheldon memilih sebaliknya. Ia membuat cerita melaju begitu deras sampai pembaca nyaris tidak punya waktu mempertanyakan logika-detail kecil di dalamnya. Teknik itu sering dianggap kelemahan oleh kritikus sastra serius. Padahal justru di situlah bakatnya berada. Ia memahami satu rahasia penting dalam dunia thriller; ketegangan lebih bergantung pada momentum daripada kerumitan.

Membaca The Doomsday Conspiracy terasa seperti menonton film tahun 1990-an larut malam—gelap, cepat, penuh bayangan hotel, bandara internasional, telepon rahasia, dokumen tersegel, orang-orang bersetelan jas yang berbicara setengah kalimat. Atmosfer semacam itu kini nyaris punah. Dunia digital membuat misteri kehilangan kabutnya. Semua orang membawa kamera di saku. Semua informasi bocor dalam hitungan detik. Novel ini datang dari zaman ketika rahasia masih terasa benar-benar rahasia.

Tetapi inti novel ini bukan UFO. Alien dalam cerita cuma pemantik. Yang lebih penting justru reaksi manusia terhadap kemungkinan bahwa kita tidak sendirian di alam semesta. Pemerintah dalam novel memilih menutupinya bukan demi stabilitas semata, tapi demi kekuasaan. Informasi adalah senjata. Kebenaran adalah komoditas. Orang yang mengendalikan narasi mengendalikan dunia. Gagasan itu terasa sangat kontemporer sekarang.

Kita hidup di masa ketika fakta bisa dibentuk, dipelintir, dikubur, atau dipasarkan seperti produk. Negara, media, perusahaan teknologi, buzzer politik—semuanya bertarung memperebutkan persepsi publik. Kadang orang tidak lagi tahu mana kenyataan, mana propaganda, mana kebohongan yang terlalu sering diulang. The Doomsday Conspiracy membaca kecemasan semacam itu jauh sebelum internet menjadikannya industri.

Bellamy perlahan menyadari bahwa dirinya hanyalah pion. Struktur kekuasaan dalam novel ini digambarkan seperti labirin tanpa pusat moral. Tidak ada institusi suci. Tidak ada patriotisme heroik ala film-film perang Amerika. Orang-orang di level tertinggi kekuasaan tampil dingin, pragmatis, bahkan sinis terhadap nyawa manusia biasa. Seorang saksi dibunuh bukan karena ia penting, tapi karena ia kebetulan tahu terlalu banyak. Kejam sekali. Juga realistis.

Sidney Sheldon memang tidak terlalu tertarik pada nuansa moral yang rumit. Tokoh baik dan jahat dalam novelnya sering terlihat jelas. Tetapi anehnya, kesederhanaan itu justru membuat novelnya efektif dibaca. Ia tahu bahwa ketakutan manusia sebenarnya sederhana; diburu, dikhianati, diperalat, dihapus tanpa jejak. Sheldon menekan tombol-tombol purba itu dengan sangat terampil.

Lalu ada tema yang diam-diam terasa lebih besar dibanding alien atau konspirasi; kesepian manusia modern. Bellamy bergerak dari satu negara ke negara lain, bertemu banyak orang, tidur di hotel-hotel asing, terus waspada, terus curiga. Dunia dalam novel ini terasa sangat luas sekaligus sangat sunyi. Teknologi canggih tidak membuat manusia lebih dekat. Kekuasaan besar tidak membuat manusia lebih tenang. Semua orang tampak hidup dengan rasa takut masing-masing. Bahkan ancaman alien terasa kalah menyeramkan dibanding manusia sendiri.

Beberapa bagian novel memang terasa melodramatis. Sheldon kadang terlalu mencintai sensasi. Plot twist tertentu muncul seperti ledakan film blockbuster; mengejutkan, cepat, sedikit berlebihan. Pembaca yang mencari realisme ketat mungkin akan mengeluh. Tetapi Sheldon sejak awal tidak bermain di wilayah itu. Ia bermain di wilayah kegelisahan populer—tempat pembaca ingin merasa dunia jauh lebih gelap daripada yang terlihat di permukaan. Dan jujur saja, bukankah dunia memang sering terasa seperti itu?

Novel ini juga memperlihatkan obsesi khas Amerika terhadap UFO dan teori konspirasi. Di banyak negara, alien hanyalah hiburan fiksi ilmiah. Di Amerika, UFO nyaris berubah jadi mitologi modern. Pemerintah menyembunyikan bangkai pesawat luar angkasa. Militer melakukan eksperimen rahasia. Area 51 menjadi simbol paranoia nasional. The Doomsday Conspiracy menyerap semua kecemasan budaya itu lalu mengubahnya menjadi thriller yang licin dan sangat mudah dibaca.

Mungkin itu alasan Sidney Sheldon bertahan begitu lama sebagai penulis populer. Ia tidak menulis untuk membuat pembaca kagum pada keindahan bahasa. Ia menulis untuk menyentuh saraf dasar manusia; rasa takut, rasa ingin tahu, rasa curiga. Buku-bukunya bergerak seperti mesin kasino—terus berbunyi, terus memancing pembaca untuk menarik tuas berikutnya.

Tetapi setelah novel selesai, yang tertinggal justru bukan adegan UFO atau operasi rahasia. Yang tertinggal adalah pertanyaan sederhana sekaligus mengganggu; berapa banyak hal dalam hidup kita yang sebenarnya cuma versi resmi dari sebuah cerita?

Mungkin itu sebabnya novel ini masih terasa hidup. Bukan karena aliennya. Bukan karena konspirasinya. Tapi karena manusia memang senang percaya bahwa seseorang sedang menyembunyikan sesuatu di balik pintu yang terkunci rapat.

Kadang-kadang, suara paling menakutkan bukan ledakan. Tapi bunyi kertas yang cepat disobek sebelum sempat dibaca orang lain.

Related

Buku 8867265935813875497

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item