Secara Ilmiah, Mengapa Seks Itu Nikmat?

Ilustrasi/detik.com
Apa tujuan manusia hidup di muka bumi? Menurut agama, manusia hidup untuk beribadah kepada Tuhan. Tapi kalian tidak ingin mendengar jawaban seperti itu, kan? Jadi, mari lihat secara biologi, karena pertanyaannya memang menuntut jawaban ilmiah.

Dalam kerangka biologi, tujuan manusia hidup di bumi adalah untuk berevolusi dan bereproduksi. Untuk berkembang dan beranak pinak. Jadi, secara ilmiah, tujuan utama biologis makhluk hidup adalah bertahan dan bereproduksi. Dan bereproduksi, kita tahu, membutuhkan hubungan seks.

Yang jadi masalah, reproduksi itu “mahal” sekaligus rumit, dan tidak semua individu akan melakukannya tanpa dorongan kuat. Maksudnya begini; untuk dapat bereproduksi, seseorang harus memiliki pasangan, yang artinya melibatkan pencarian, pengejaran, sampai mendapatkan. Setelah seseorang memiliki pasangan, dia dan pasangannya bisa mulai bereproduksi. Tapi proses itu membutuhkan waktu, energi, dan sumber daya lain, dan tidak semua orang mau buang-buang waktu untuk hal-hal begituan.

Jadi, evolusi menggunakan cara “licik”, yaitu “menjebak” manusia agar mau melakukan hal yang rumit itu. Bagaimana caranya? Buat aktivitas seks jadi menyenangkan!

Seks adalah sarana untuk bereproduksi, karena lahirnya makhluk baru (anak) tidak bisa dibuat dengan mengaduk tepung terigu!

Evolusi tahu kenyataan itu. Jadi, ketika sepasang manusia melakukan aktivitas seks, otak melepaskan zat kimia seperti dopamin yang memicu rasa senang dan motivasi, oksitosin yang menimbulkan rasa kedekatan, dan endorfin yang menumbuhkan rasa nyaman. Itu bagian dari sistem reward otak; sesuatu yang penting untuk bertahan hidup dibuat terasa menyenangkan agar diulang. 

Sebenarnya, kalau mau mikir lebih jauh, bukan hanya seks yang terasa nikmat. Makan pun terasa nikmat, dan sebenarnya evolusi sengaja membuat aktivitas makan jadi enak, agar kita suka makan, agar tidak kelaparan, agar kita bertahan hidup, dan agar kita punya kesempatan untuk berkembang biak. Tapi kenapa seks terasa “lebih” nikmat?

Karena reproduksi adalah inti keberlanjutan spesies, jadi evolusi memberi “bonus lebih besar” agar individu termotivasi kuat, dan tetap mencari pasangan. Tanpa reproduksi, spesies akan punah.

Tetapi, terkait seks, manusia tidak sesederhana itu, dan di situlah sesuatu yang pada mulanya sederhana—hanya tuntutan evolusi—berubah jadi lebih kompleks. Pada manusia, seks tidak hanya soal reproduksi, tapi juga keintiman, emosi, identitas, dan hubungan sosial. Artinya, sistem biologis dasar diperluas oleh psikologi dan budaya.

Di zaman sekarang, manusia tetap melakukan seks meski tanpa niat punya anak. Kontrasepsi tidak menghilangkan kenikmatan, bahkan fantasi dan imajinasi bisa memicu respons yang sama. Kenyataan itu menunjukkan bahwa sistemnya “terlepas” dari tujuan awalnya.

Jadi, mengapa seks itu nikmat? Karena evolusi “menghubungkannya” dengan sistem reward otak. Tujuannya agar manusia terdorong untuk bereproduksi. Organisme yang menikmati seks lebih mungkin bereproduksi, dan sifat itu lalu diwariskan. Fenomena itu bukan hanya terjadi pada manusia, tapi juga pada hewan. Bedanya, manusia mengembangkan seks jauh melampaui fungsi biologisnya, karena juga menjadi pengalaman psikologis dan sosial yang kompleks.

Hmm... ada yang mau menambahkan?

Related

Biologi 6530496036495493657

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item