Lady Diana, Brutalnya Paparazzi, dan Kamera yang Tak Pernah Mati

Ilustrasi/kompas.com
Flash kamera bisa terasa seperti hujan batu kalau jumlahnya cukup banyak. Klik-klik-klik bertabrakan di lorong hotel, di trotoar London, di depan gym Chelsea Harbour Club. Orang-orang berteriak memanggil nama perempuan yang bahkan tidak bisa berjalan lurus tanpa tubuhnya dipotong menjadi komoditas visual.

“Diana! Diana! Over here!”

Mata pedih kena lampu kilat. Sopir membuka pintu mobil sambil menunduk. Beberapa paparazzi hampir jatuh ke aspal demi satu frame tambahan.

Diana, Princess of Wales, akhirnya menemukan cara kecil untuk melawan. Cara yang hampir kekanak-kanakan saking sederhananya; memakai pakaian gym yang sama berulang-ulang.

Sweatshirt oversized Virgin Atlantic warna abu-abu. Celana biker hitam. Kacamata hitam besar. Kadang topi baseball. Kadang hoodie Northwestern University ungu yang kemudian jadi ikonik. Foto-foto jadi sulit dijual mahal, karena publik merasa sudah pernah melihatnya. Editor tabloid menyukai “variasi”. Diana menghilangkan variasi itu.

Ada sesuatu yang tragis sekaligus cerdas di situ. Seorang perempuan paling terkenal di dunia mencoba mengacaukan algoritma primitif media 1990-an dengan outfit yang monoton. Tubuhnya sudah berubah menjadi ladang ekonomi.

Paparazzi era itu bukan sekadar fotografer selebritas. Mereka lebih mirip pemburu hadiah. Di Riviera Prancis, di Kensington, di Saint-Tropez, mereka tidur di mobil, menyuap petugas hotel, mendengarkan scanner radio polisi. Foto Diana bersama pacar baru bisa bernilai ratusan ribu dolar. Foto putranya bermain di pantai bisa membiayai cicilan rumah fotografer selama bertahun-tahun.

Orang sering lupa betapa brutal budaya tabloid Inggris pada dekade 1980-an dan 1990-an. Surat kabar seperti News of the World atau The Sun hidup dari rasa lapar publik terhadap aib dan intimasi. Skandal kerajaan Inggris diperlakukan seperti serial televisi nasional.

Pernikahan Diana dengan Charles III sejak awal sudah terasa seperti kontrak dingin yang dibungkus parade kuda dan gaun pengantin raksasa. Diana masih sangat muda. Sembilan belas tahun. Charles tiga belas tahun lebih tua, dan masih terikat emosional dengan Camilla Parker Bowles. Seluruh dunia menonton kisah itu berkembang menjadi kecelakaan emosional publik.

Orang-orang menyebut Diana sebagai “Putri Rakyat”. Julukan yang terdengar hangat, tapi juga menyeramkan. Rakyat merasa memilikinya. Pers merasa berhak menguntitnya. Monarki merasa perlu mengendalikannya.

Di gym Chelsea Harbour, Diana mulai memahami ritme predator itu. Fotografer akan menunggu di luar sejak pagi. Mereka tahu jadwalnya. Tahu mobilnya. Tahu kapan ia selesai latihan. Keringat di lehernya, ekspresi lelahnya, sepatu sneakers yang ia pakai—semuanya punya nilai pasar. Ia pun memakai baju yang sama lagi. Dan lagi.

Ada kualitas hampir absurd dari detail itu. Perempuan yang pernah memakai salah satu gaun paling terkenal abad ke-20 justru melawan industri gambar dengan monoton.

Banyak orang hari ini melihat foto-foto gym Diana sebagai fashion aesthetic di Pinterest atau TikTok. Mereka lupa konteksnya. Foto-foto itu bukan candid lucu selebritas. Itu hasil pengejaran sistematis. Beberapa fotografer mengikuti mobilnya berjam-jam. Sebagian memotret memakai lensa panjang dari kejauhan seperti mengintai target militer.

Bau bensin Paris malam itu, Agustus 1997, masih terasa bahkan lewat rekaman dokumenter. Terowongan Pont de l’Alma tampak basah dan licin. Mercedes hitam melaju cepat. Paparazzi mengejar dengan motor dan mobil. Kamera menyala. Orang berteriak. Dalam hitungan detik, baja remuk. Tubuh manusia ternyata sangat rapuh dibanding obsesi publik.

Kecelakaan yang menewaskan Diana bersama Dodi Fayed dan sopir mereka, Henri Paul, menjadi salah satu momen paling mengganggu dalam sejarah budaya modern. Bukan cuma karena seorang putri mati muda. Cara kematiannya terasa seperti klimaks logis dari dunia yang sudah terlalu lama memperlakukannya sebagai tontonan.

Beberapa paparazzi bahkan tetap memotret setelah mobil hancur. Bagian itu sulit dibaca tanpa sedikit mual. 

Investigasi resmi Prancis dan Inggris menyimpulkan kecelakaan dipicu kecepatan tinggi dan kondisi sopir yang mabuk, bukan konspirasi pembunuhan seperti yang dipercaya sebagian orang. Tetapi media tetap punya darah di tangannya. Tekanan konstan dari kamera membuat pelarian menjadi gaya hidup. Diana hidup seperti hewan buruan global.

Di Kensington Palace setelah kematiannya, lautan bunga menumpuk sampai baunya berubah manis-busuk. Orang menangis di jalan. Boneka teddy bear basah kena hujan London. Surat-surat tulisan tangan ditempel di pagar istana. Inggris mendadak terlihat seperti negara yang baru kehilangan anggota keluarga sendiri.

Ratu Elizabeth II awalnya diam terlalu lama. Publik marah. Monarki tampak dingin. BBC menyiarkan suasana berkabung nyaris tanpa henti. Elton John menyanyikan ulang “Candle in the Wind”. Mata orang-orang merah di depan televisi.

Kamera-kamera yang dulu memburunya kini merekam kesedihan nasional. Ironinya kasar sekali.

Hari ini situasinya malah lebih aneh. Paparazzi tradisional mulai mati, tetapi semua orang berubah jadi paparazzi mini dengan smartphone. Selebritas tidak lagi sekadar dikejar fotografer profesional; mereka hidup di bawah jutaan mata digital yang selalu aktif. Kesalahan kecil bisa viral dalam lima menit. Foto makan siang bisa jadi bahan analisis internet global.

Diana mungkin akan membenci dunia itu. Atau mungkin ia akan sangat mahir memainkannya.

Sulit membayangkan Diana hidup di era Instagram tanpa merasa sedikit sesak di dada. Perempuan itu sudah kelelahan oleh kamera analog. Sekarang kamera ada di tangan semua orang, bahkan anak SMP di halte bus.

Ada adegan lama yang terus muncul di kepala; Diana duduk di depan reporter Martin Bashir dalam wawancara BBC Panorama 1995. Matanya tampak lelah, tetapi masih tajam. Ia mengucapkan kalimat terkenal tentang pernikahannya, “Well, there were three of us in this marriage.”

Kalimat itu meledak ke seluruh dunia. Monarki terguncang. Diana memahami kekuatan media, sekaligus dihancurkan olehnya. Ia menggunakan kamera untuk melawan istana, tetapi kamera juga perlahan menggerogoti hidupnya. Hubungan toksik sempurna.

Beberapa orang menganggap cerita soal outfit gym yang sama hanyalah trivia lucu selebritas. Padahal ada sesuatu yang sangat manusia di sana. Seorang perempuan mencoba mengambil kembali sedikit kendali atas tubuh dan citranya dengan metode paling sederhana yang bisa ia pikirkan. Mengurangi nilai jual dirinya sendiri. Tubuhnya capek. Wajahnya capek. Dunia tidak pernah capek melihatnya.

Terowongan Pont de l’Alma sekarang tampak biasa di siang hari. Mobil lalu-lalang tanpa drama. Wisatawan kadang berhenti sebentar. Sebagian menaruh bunga dekat Flame of Liberty yang tidak resmi berubah jadi monumen Diana. Suara kendaraan memantul di dinding beton. Paris terus berjalan seperti tidak terjadi apa-apa.

Lampu kilat kamera sudah lama padam malam itu. Tapi anehnya, dunia justru makin kecanduan melihat orang terkenal dari jarak terlalu dekat.


Related

Tokoh 7317114978162500197

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item