Ibu-ibu Naik Motor, Sein Kanan Menyala, tapi Malah Belok Kiri
https://www.belajarsampaimati.com/2026/07/ibu-ibu-naik-motor-sein-kanan-menyala.html
![]() |
| Ilustrasi/kumparan.com |
Lampu sein kanan berkedip tenang. Motor matik berjalan pelan, nyaris malas. Lalu mendadak belok ke kiri tanpa dosa. Anak kecil di depan memegang setang bagian tengah sambil berdiri, ibunya satu tangan memegang plastik kresek isi cabai dan bawang dari pasar. Helm? Tidak ada. Kaki si anak bahkan nyaris menyentuh aspal saat motor oleng melewati lubang dekat selokan. Anehnya, mereka selamat.
Bukan sekali dua kali melihat adegan seperti itu. Jalan raya di Indonesia penuh pengendara yang kelihatannya lolos dari maut bukan karena mahir, tetapi karena statistik sedang baik hati hari itu. Seolah-olah semesta sedang melempar dadu berkali-kali, lalu angka buruk belum juga keluar.
Pemandangan seperti itu terlalu biasa, sampai orang tidak lagi menganggapnya aneh. Di Jalan Kaligawe Semarang, di Ring Road Jogja, di jalur padat dekat Pasar Kliwon Solo, di gang-gang kecil Tangerang yang motor dan mobil berebut badan jalan sempit, pola yang sama terus muncul. Orang berkendara berdasarkan intuisi liar, bukan aturan. Sein jadi dekorasi. Marka jalan terasa seperti saran, bukan hukum. Helm kadang cuma dipakai kalau ada polisi. “Hebat”-nya, banyak yang benar-benar selamat bertahun-tahun.
Ada tetangga saya, ibu-ibu rumah tangga, sering naik Honda Supra tua warna hitam kusam. Dia punya kebiasaan legendaris; kalau mau belok, kepalanya yang bergerak dulu, bukan lampu sein. Jadi motor tetap lurus, tapi lehernya sudah nengok ke arah tujuan, seperti burung bingung. Orang di belakangnya harus menebak-nebak sendiri. Anehnya tidak pernah mengalami kecelakaan. Padahal, secara probabilitas, itu mestinya tinggal menunggu waktu.
Saya sering terpikir, jalan raya kita sebenarnya beroperasi memakai sistem kompromi kolektif yang absurd. Semua orang diam-diam sadar banyak pengendara tidak kompeten, lalu semua orang ikut menyesuaikan diri. Pengemudi mobil belajar mengantisipasi motor yang tiba-tiba pindah jalur tanpa aba-aba. Sesama pengendara motor otomatis menjaga jarak, karena tahu yang depan bisa mendadak berhenti beli es teh. Bahkan klakson di Indonesia bukan sekadar alat peringatan. Ia sudah jadi bahasa.
“Bip!” Artinya bisa; minggir, hati-hati, saya lewat, jangan belok, awas lubang, atau sekadar refleks gugup.
Di negara dengan disiplin lalu lintas tinggi, perilaku seperti itu mungkin langsung menghasilkan tabrakan beruntun. Jalan mereka dibangun di atas asumsi bahwa manusia mengikuti aturan. Jalan kita justru bertahan karena semua orang diam-diam sadar aturan sering diabaikan. Kacau, tapi lentur.
Pernah memperhatikan pengendara motor ibu-ibu yang membawa anak sekolah pagi hari? Biasanya sekitar jam 06.30. Anak berseragam sekolah duduk di depan sambil mengantuk. Kadang masih makan roti. Kadang anaknya belum benar-benar bangun. Ibunya menyelip di antara truk, angkot, dan mobil pikap sayur. Bau knalpot bercampur gorengan dari warung pinggir jalan. Mereka bergerak seperti orang yang tidak punya pilihan selain percaya semuanya akan baik-baik saja.
Masalahnya, rasa terbiasa itu sering menyamarkan betapa dekatnya kita dengan bencana kecil setiap hari. Banyak kecelakaan di Indonesia terasa “aneh” karena sebenarnya sejak awal sistemnya sudah aneh. Orang menyeberang tanpa lihat kanan kiri. Motor melawan arus dianggap normal kalau cuma “sebentar”. Anak SMP naik motor ke sekolah tanpa SIM sudah jadi rutinitas sosial yang diterima diam-diam.
Data Korlantas beberapa tahun terakhir menunjukkan motor mendominasi kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Angkanya puluhan ribu kasus tiap tahun. Korban meninggal juga paling banyak dari pengendara roda dua. Tapi angka statistik punya kelemahan; ia dingin. Ia tidak menunjukkan sandal yang tertinggal di aspal atau botol minum anak TK yang mental ke got setelah tabrakan.
Saya kadang heran kenapa banyak orang Indonesia bisa mengemudi tanpa benar-benar belajar mengemudi. Mereka belajar lewat imitasi. Melihat ayah naik motor. Melihat kakak muter gas. Lalu mencoba sendiri di jalan kampung sore hari. Tidak ada pemahaman soal blind spot, braking distance, atau defensive driving. Bahkan istilah itu terdengar asing bagi sebagian besar pengendara.
SIM pun sering terasa seperti formalitas administratif, bukan bukti kompetensi. Ada pengendara yang hafal jalan tikus seluruh kota, tapi tidak tahu cara memakai lampu hazard dengan benar.
Di internet, orang suka bercanda soal “insting emak-emak di jalan raya”. Meme beredar di mana-mana. Mobil belok mendadak, motor nyelonong sembarangan, lalu semua ditertawakan. Kadang lucu, memang. Sulit untuk tidak tertawa melihat motor yang spionnya cuma sebelah tapi dipakai membawa kasur lipat sebesar motornya.
Tapi di balik humor itu ada sesuatu yang agak suram. Kita hidup di lingkungan yang terlalu lama menoleransi ketidakamanan, sampai ketidakamanan berubah jadi budaya.
Anak kecil naik motor tanpa helm bukan lagi pemandangan mengejutkan. Padahal tengkorak anak jauh lebih rentan. Kepala mereka belum benar-benar siap menerima benturan keras. Dokter IGD mungkin punya cerita lebih mengerikan daripada yang muncul di berita. Bau darah bercampur bensin. Tangis panik keluarga. Aspal panas siang hari.
Orang sering bilang pengendara Indonesia punya “skill dewa” karena bisa selamat di lalu lintas se-chaotic ini. Saya tidak sepenuhnya setuju. Banyak yang selamat karena ada ribuan kemungkinan buruk yang kebetulan belum bertemu dalam satu titik waktu.
Probabilitas kadang bekerja seperti penjaga tak terlihat. Hari ini truknya sempat mengerem. Hari ini pengendara belakang cukup sigap. Hari ini anak kecil yang nyeberang sempat ditarik ibunya. Hari ini. Besok belum tentu.
Ironisnya, teknologi kendaraan makin maju sementara perilaku dasarnya tetap primitif. Motor sekarang punya ABS, traction control, bahkan konektivitas Bluetooth di beberapa model mahal. Pengendaranya tetap main HP sambil nyetir. Tetap pakai earphone dua-duanya. Tetap menaruh bayi di belakang setang.
Saya pernah lihat satu adegan di lampu merah yang sampai sekarang masih melekat. Seorang ibu naik skuter matik putih. Anak kecil tidur di depan, kepalanya terkulai kena dashboard motor. Si ibu membuka TikTok saat lampu merah. Jempolnya scroll video dengan ekspresi datar sekali. Di belakangnya, truk semen menggeram pelan. Knalpotnya mengeluarkan hawa panas menyengat. Lampu hijau menyala. Motor-motor langsung menyembur seperti air pecah dari bendungan. Anak itu masih tidur.
Jalan raya kita sebenarnya dipenuhi orang lelah. Orang terburu-buru. Orang yang hidupnya terlalu padat, sampai aturan lalu lintas kalah prioritas dibanding sampai tepat waktu atau pulang cepat. Itu yang bikin masalah jadi rumit. Tidak cukup hanya bilang “tertiblah berkendara”. Kehidupan banyak orang memang berantakan dari hulunya.
Orang kerja 12 jam. Pulang malam. Besok pagi antar anak sekolah. Jalan rusak. Transportasi umum buruk. Panas. Macet. Klakson tidak berhenti. Lalu kita berharap semua orang berkendara dengan rasional sempurna.
Kadang saya membayangkan kalau seluruh pengendara di Indonesia tiba-tiba diwajibkan tes mengemudi serius seperti di Jepang atau Jerman, mungkin jutaan orang langsung gagal dalam minggu pertama. Jalanan mendadak sepi. Separuh motor parkir permanen di rumah.
Tapi besok paginya orang-orang tetap akan keluar naik motor juga. Karena hidup harus jalan. Anak harus sekolah. Warung harus buka. Cicilan harus dibayar.
Lampu sein kanan masih berkedip-kedip di ujung jalan. Motor itu pelan sedikit. Lalu belok kiri lagi.


