Gereja Merehabilitasi Joan of Arc, Tapi Gadis Itu Sudah Mati Terbakar

Ilustrasi/historyanswers.co.uk
Ada sesuatu yang nyaris lucu dalam cara sejarah memperlakukan Joan of Arc. Seorang gadis dibakar hidup-hidup sebagai bidah pada tahun 1431. Dua puluh lima tahun kemudian, institusi yang membiarkan pembakaran itu berlangsung mengadakan sidang resmi untuk menyatakan bahwa putusan tersebut keliru. 

Gadisnya sudah lama menjadi abu. Hakim-hakim yang menjatuhkan vonis sebagian besar sudah mati. Dunia bergerak terus. Lalu tiba-tiba muncul sekelompok rohaniwan yang duduk di meja, membuka dokumen lama, memanggil saksi-saksi tua, dan mencoba memperbaiki sesuatu yang secara fisik mustahil diperbaiki.

Sulit menemukan peristiwa lain yang begitu telanjang memperlihatkan bahwa pengadilan sering kali bukan mesin pencari kebenaran, tapi mesin pencari legitimasi.

Ketika Joan dibakar di Rouen pada pagi hari 30 Mei 1431, tujuan utama pengadilannya sebenarnya cukup jelas. Inggris sedang membutuhkan kemenangan politik. Perang Seratus Tahun masih berlangsung. Joan telah menjadi simbol yang sangat berbahaya. Seorang gadis desa dari Domrémy yang mengaku mendengar suara-suara surgawi berhasil melakukan sesuatu yang gagal dilakukan banyak bangsawan dan jenderal profesional: mengubah arah perang.

Ia muncul pada saat Prancis sedang berada dalam kondisi hampir putus asa. Tahun 1428, kota Orléans dikepung pasukan Inggris. Mahkota Prancis berada dalam posisi rapuh. Putra mahkota Charles—yang kelak menjadi Raja Charles VII—bahkan belum dinobatkan secara sah di Reims.

Joan datang dari sebuah desa kecil di perbatasan wilayah Lorraine. Ayahnya, Jacques d'Arc, adalah petani yang relatif makmur. Ibunya, Isabelle Romée, mengajarinya doa-doa Katolik. Tidak ada yang menunjukkan bahwa gadis remaja itu akan mengubah sejarah Eropa.

Kisah suara-suara yang didengarnya sering dibahas dalam nada mistis atau sinis. Orang beriman menganggapnya wahyu. Orang skeptis menganggapnya halusinasi. Saya lebih tertarik pada fakta lain: banyak orang yang benar-benar bertemu Joan tampaknya percaya bahwa ia memiliki sesuatu yang luar biasa, apa pun namanya.

Para tentara yang biasanya kasar mendadak disiplin di hadapannya. Para bangsawan mendengarkannya. Charles VII menerimanya. Penduduk Orléans memujanya. Sulit mempertahankan pengaruh seperti itu hanya dengan karisma kosong selama bertahun-tahun di tengah perang brutal.

Pengepungan Orléans pecah pada 1429. Setelah itu rangkaian kemenangan Prancis menyusul. Joan mendorong pasukan bergerak menuju Reims. Charles VII dinobatkan di Katedral Reims pada 17 Juli 1429. Dalam banyak lukisan, momen itu terlihat megah. Panji-panji berkibar. Cahaya masuk melalui jendela gereja. Uskup mengenakan jubah mewah.

Joan berdiri di sana. Gadis petani yang bahkan tidak bisa menulis namanya dengan lancar.

Inggris memahami ancaman simbolik tersebut dengan sangat baik. Seorang jenderal bisa dibunuh. Seorang pahlawan bisa digantikan. Simbol jauh lebih sulit dihancurkan.

Tahun 1430, Joan ditangkap oleh pasukan Burgundia di dekat Compiègne. Burgundia saat itu bersekutu dengan Inggris. Ia kemudian dijual kepada Inggris dengan harga sekitar 10.000 livre tournois.

Kata "dijual" terdengar kasar. Memang begitu kenyataannya.

Sidang terhadap Joan berlangsung di Rouen, pusat kekuasaan Inggris di Normandia. Tokoh utama dalam proses itu adalah Pierre Cauchon, Uskup Beauvais. Nama Cauchon tidak terlalu terkenal sekarang, tetapi pada saat itu ia merupakan figur penting yang sangat loyal kepada kepentingan Inggris.

Transkrip sidang Joan masih bertahan hingga hari ini, dan membacanya menghasilkan kesan yang aneh. Joan tidak terdengar seperti korban pasif. Ia berdebat. Ia menjawab dengan cepat. Kadang jawaban-jawabannya begitu tajam sehingga para hakim kesulitan menjebaknya.

Salah satu pertanyaan paling terkenal menyangkut keselamatan jiwanya. Mereka bertanya apakah ia yakin akan masuk surga. Jika ia menjawab ya, ia bisa dituduh sombong secara teologis. Jika menjawab tidak, ia dianggap mengakui dirinya berdosa.

Jawaban Joan: "Jika aku tidak berada dalam rahmat Tuhan, semoga Tuhan menempatkanku di sana; jika aku berada dalam rahmat-Nya, semoga Tuhan mempertahankanku di sana."

Usianya sekitar sembilan belas tahun. Banyak profesor teologi mungkin berharap memiliki ketenangan semacam itu saat berada di bawah tekanan.

Vonis akhirnya dijatuhkan. Joan dinyatakan bersalah. Salah satu tuduhan yang paling sering diangkat adalah kebiasaannya mengenakan pakaian laki-laki. Tuduhan itu terdengar ganjil bagi telinga modern, tetapi memiliki makna besar dalam konteks hukum gereja abad ke-15. Politik, teologi, perang, identitas, semuanya bercampur menjadi satu kekacauan.

Pagi eksekusi di Rouen tidak berlangsung heroik seperti yang digambarkan sebagian film. Catatan saksi menunjukkan ketakutan yang sangat manusiawi. Joan meminta salib. Seorang tentara Inggris membuat salib kecil dari dua batang kayu, dan memberikannya kepadanya. Ia memegang benda itu saat api mulai menyala.

Asap pembakaran manusia memiliki bau yang berbeda dari kayu. Saksi-saksi abad pertengahan tidak suka menuliskannya secara rinci, tetapi beberapa catatan cukup jelas untuk membuat pembaca modern merasa tidak nyaman.

Tubuh Joan terbakar. Jantungnya konon tidak habis dilalap api menurut sejumlah laporan sezaman, meskipun cerita itu sulit diverifikasi. Algojo kemudian membakar sisa-sisanya lagi dan lagi. Abu akhirnya dibuang ke Sungai Seine.

Penghancuran total. Tidak boleh ada makam. Tidak boleh ada relik. Tidak boleh ada tempat ziarah. Ironisnya, tindakan semacam itu hampir selalu gagal.

Charles VII, yang dulu dibantu Joan mencapai takhta, tidak segera bergerak membela namanya. Fakta itu sering membuat para pengagumnya kesal. Raja memiliki urusan politik yang lebih mendesak. 

Bertahun-tahun berlalu. Perang berubah arah. Kekuatan Inggris di Prancis melemah. Rouen kembali jatuh ke tangan Prancis pada 1449. Suasana politik berubah drastis.

Kondisi yang dulu membuat Joan berguna sebagai target propaganda Inggris sekarang menghilang. Sebaliknya, putusan terhadapnya mulai terlihat sebagai noda pada legitimasi Prancis sendiri. Jika Joan adalah bidah, bagaimana mungkin Charles VII menerima bantuannya? Jika Tuhan tidak bersama Joan, apa arti seluruh kisah penobatan di Reims?

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin tidak nyaman.

Tahun 1455, Paus Callixtus III mengizinkan penyelidikan ulang. Sidang rehabilitasi dimulai dan berlanjut hingga 1456. Para penyelidik mewawancarai puluhan saksi. Jumlahnya lebih dari seratus dalam berbagai tahap proses. Mereka mencari orang-orang yang pernah mengenal Joan sejak kecil.

Salah satu bagian paling menarik berasal dari kesaksian warga Domrémy. Mereka tidak berbicara tentang legenda. Mereka berbicara tentang gadis yang menggembalakan ternak. Gadis yang pergi ke gereja. Gadis yang membantu keluarganya.

Detail-detail kecil itu membuat Joan mendadak turun dari kuda putih yang selama berabad-abad ditempelkan padanya.

Seorang saksi mengingat wajahnya. Saksi lain mengingat kebiasaannya berdoa. Waktu telah berlalu seperempat abad, tetapi ingatan manusia masih menyimpan serpihan-serpihan yang aneh.

Pada 7 Juli 1456, pengadilan akhirnya membatalkan putusan tahun 1431. Vonis sebelumnya dinyatakan cacat, tidak sah, dan penuh kesalahan prosedural. Nama Joan dipulihkan secara resmi.

Saya selalu merasa bagian paling menarik dari kisah ini bukanlah rehabilitasinya, tapi keterlambatannya. Dua puluh lima tahun. Bayangkan seseorang dijatuhi hukuman mati hari ini, lalu seperempat abad kemudian negara mengumumkan bahwa proses hukumnya ternyata cacat.

Koreksi sejarah sering terdengar mulia dalam buku pelajaran. Saat diperiksa lebih dekat, sering terasa canggung. Dokumen diperbaiki. Nama dibersihkan. Gelar dipulihkan. Tubuh tetap berada di tempat yang sama.

Ketika sidang rehabilitasi berlangsung, beberapa saksi yang pernah melihat Joan hidup masih ada. Mereka duduk di ruangan pengadilan, menceritakan kembali wajah, suara, dan kebiasaannya. Sebagian sudah tua. Rambut memutih. Tangan mungkin bergetar saat memberikan kesaksian.

Rouen masih berdiri. Sungai Seine masih mengalir. Pierre Cauchon sudah lama mati. Joan tetap berusia sembilan belas tahun.

Related

Tokoh 6956676719013229575

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item