Ulasan Novel A Stranger in the Mirror Karya Sidney Sheldon

Ilustrasi/amazon.com
Lampu-lampu panggung menyala terlalu terang. Tepuk tangan terdengar seperti hujan logam. Orang-orang tertawa, berteriak, meminta tanda tangan. Seorang komedian berdiri di tengah semua itu, terkenal, dipuja, kaya raya—tetapi kesepian seperti kamar hotel setelah tengah malam. Di sudut lain, seorang perempuan cantik yang seharusnya hidup nyaman justru perlahan tenggelam ke dalam kehampaan yang dingin. 

Sidney Sheldon membuka A Stranger in the Mirror (Sosok Asing dalam Cermin) seperti membuka pintu belakang dunia hiburan Amerika; gemerlap di depan, busuk di belakang.

Novel ini sering disebut thriller psikologis, kadang drama Hollywood, kadang kisah cinta yang pahit. Semua label itu benar, sekaligus kurang tepat. Sebab yang paling terasa dari novel ini bukan sekadar plotnya, tetapi rasa lapar yang menjalar di setiap halaman; lapar untuk dicintai, lapar untuk diakui, lapar untuk menjadi seseorang. Sheldon menulis manusia-manusia yang terus bergerak karena takut berhenti. Begitu berhenti, mereka harus berhadapan dengan diri sendiri.

Tokoh utama novel ini, Toby Temple, berasal dari masa kecil yang penuh penghinaan. Tubuhnya kecil, wajahnya biasa saja, hidupnya dipenuhi ejekan. Anak-anak menertawakannya. Orang dewasa meremehkannya. Dalam banyak novel, latar seperti itu dipakai untuk menciptakan tokoh “pejuang” yang inspiratif. Sheldon tidak tertarik membuat tokoh suci semacam itu. Toby tumbuh menjadi manusia yang lucu di depan publik, tetapi rusak di bagian dalam. Ia belajar satu hal penting sejak kecil; orang akan mencintaimu kalau mereka tertawa.

Kalimat itu terdengar sederhana. Kenyataannya mengerikan.

Banyak pelawak besar memang hidup dengan kutukan serupa. Mereka menjadi mesin hiburan bagi orang lain, sementara kehidupan pribadinya dipenuhi depresi, paranoia, kecanduan, atau kesepian. Sheldon seperti memahami anatomi luka semacam itu. Toby tampil di panggung seperti dewa, tetapi, di luar panggung ia berubah menjadi sosok manipulatif, egois, haus validasi. Kesuksesan tidak menyembuhkan masa kecilnya. Kesuksesan cuma memperbesar ruang kosong di dalam dirinya.

Di titik itu, A Stranger in the Mirror terasa lebih relevan sekarang dibanding ketika pertama kali terbit. Dunia modern dipenuhi Toby Temple versi baru; influencer, selebritas internet, kreator konten, streamer, orang-orang yang hidup dari perhatian publik. Mereka tersenyum di kamera, bercanda, tampil penuh energi, lalu diam-diam hancur setelah layar dimatikan. Sidney Sheldon menulis novel ini jauh sebelum media sosial lahir, tetapi ia sudah memahami penyakit dasarnya; ketenaran sering kali hanyalah bentuk lain dari rasa takut diabaikan.

Lalu muncul Jill Castle.

Jill bukan perempuan polos yang ditakdirkan menjadi penyelamat laki-laki rusak. Ia datang dari kehidupan yang keras, penuh kekecewaan, penuh kompromi pahit. Sheldon memberinya kecantikan, ambisi, juga kerentanan yang membuat karakternya terasa hidup. Jill ingin jadi aktris terkenal, tetapi Hollywood dalam novel ini bukan tempat mimpi tumbuh. Hollywood adalah mesin penggiling manusia. Orang-orang datang dengan harapan, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing bahkan bagi diri mereka sendiri.

Judul A Stranger in the Mirror terasa penting di sini. “Orang asing di cermin” bukan cuma satu tokoh. Hampir semua karakter dalam novel ini mengalami momen ketika mereka melihat diri sendiri dan merasa tidak mengenali siapa yang berdiri di depan mereka. Toby berubah menjadi monster yang dulu ia benci. Jill kehilangan arah di tengah kemewahan. Karakter-karakter pendukung pun bergerak dalam orbit kehancuran yang sama.

Sidney Sheldon sering diremehkan dalam dunia sastra “serius”. Ia dianggap terlalu populer, terlalu mudah dibaca, terlalu sinematik. Kritik semacam itu muncul terus-menerus terhadap penulis bestseller. Padahal justru di situlah kemampuan Sheldon berada. Ia tahu cara membuat pembaca terus membalik halaman tanpa terasa sedang “digiring”. Ritme novelnya cepat, dialog-dialognya tajam, perpindahan adegannya seperti potongan kamera film. Ia tidak menulis untuk membuat pembaca kagum pada kecerdasannya; ia menulis agar pembaca tenggelam.

Banyak penulis gagal memahami perbedaan itu.

Sheldon juga punya keberanian untuk memperlihatkan sisi buruk industri hiburan tanpa menjadikannya ceramah moral. Tidak ada pidato panjang tentang korupnya Hollywood. Tidak ada tokoh bijak yang datang membawa pencerahan. Semua ditampilkan lewat tindakan manusia; pengkhianatan, eksploitasi, hubungan yang dibangun demi kepentingan, cinta yang berubah menjadi transaksi. Dunia dalam novel ini terasa glamor sekaligus pengap. Orang-orang hidup di mansion mewah, tetapi batinnya seperti terjebak di lorong sempit tanpa jendela.

Kadang novel ini terasa kejam. Sheldon tidak terlalu tertarik memberi kenyamanan emosional kepada pembaca. Beberapa keputusan tokohnya menyakitkan, bahkan membuat frustrasi. Tetapi hidup memang sering bergerak seperti itu—tidak elegan, tidak puitis, tidak selalu adil. Ada bagian-bagian ketika pembaca mungkin berharap Toby berubah menjadi manusia yang lebih baik. Harapan itu perlahan runtuh. Sheldon tampaknya percaya bahwa luka masa kecil tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Kadang luka justru berkembang menjadi racun.

Hal lain yang membuat novel ini bertahan adalah kemampuannya menangkap absurditas ketenaran. Toby Temple memiliki semua yang biasanya dianggap simbol keberhasilan; uang, popularitas, kekuasaan, perempuan cantik, rumah mewah. Tetap saja ia lapar. Selalu lapar. Novel ini seperti membisikkan sesuatu yang tidak nyaman; manusia sering mengira penderitaannya berasal dari “belum punya”, padahal setelah memiliki semuanya pun kehampaan itu masih tinggal.

Di internet sekarang, orang gemar memamerkan kehidupan ideal. Foto liburan, tubuh sempurna, hubungan romantis, karier gemilang. A Stranger in the Mirror seperti antitesis dari semua itu. Sheldon menguliti ilusi bahwa sorotan publik identik dengan kebahagiaan. Sorotan justru bisa berubah menjadi penjara. Semakin besar ketenaran seseorang, semakin besar pula jarak antara persona publik dan manusia asli di dalamnya.

Meski begitu, novel ini tidak terasa dingin. Ada kesedihan yang sangat manusiawi di dalamnya. Kesedihan karena orang-orang terus mencari cinta dengan cara yang salah. Toby ingin dipuja karena ia takut diremehkan. Jill ingin sukses karena ia takut hidup tanpa arti. Mereka bergerak saling mendekat, lalu saling melukai. Seperti dua orang yang tenggelam sambil berusaha berpelukan.

Gaya Sheldon dalam novel ini sangat efektif karena ia tidak bertele-tele. Ia tahu kapan harus berhenti menjelaskan. Banyak emosi dalam novel ini justru terasa kuat karena tidak diumumkan secara dramatis. Sebuah tatapan, jeda percakapan, perubahan nada suara—hal-hal kecil semacam itu bekerja lebih baik daripada paragraf panjang penuh metafora.

Barangkali itu yang menjadikan novel ini masih terus dibaca puluhan tahun setelah terbit. Orang datang untuk menikmati thriller dan drama Hollywood, lalu diam-diam menemukan sesuatu yang lebih mengganggu; cermin. Pembaca melihat betapa mudah manusia berubah menjadi asing bagi dirinya sendiri saat terlalu sibuk mengejar pengakuan orang lain.

Setelah halaman terakhir ditutup, yang tertinggal bukan cuma cerita tentang selebritas, cinta, atau ambisi. Yang tertinggal justru suasana sunyi setelah tepuk tangan berhenti. Suasana ketika seseorang pulang ke kamar, berdiri di depan cermin, lalu sadar bahwa wajah di sana tampak familiar sekaligus jauh.

Related

Buku 6535058688719104406

Posting Komentar

emo-but-icon

Terbaru

Banyak Dibaca

Ebook BSM

Mengapa Dunia Seperti Sekarang? 100 Peristiwa yang Membentuk Dunia Kita

Pernah bertanya-tanya, mengapa dunia seperti sekarang? Mengapa dunia terbagi-bagi dalam banyak negara? Mengapa ada orang-orang yang sangat k...

item